September Ceria

Begitu memasuki bulan September, maka kita akan sering mendengar tentang ungkapan “September Ceria”, yang aslinya adalah sebuah lagu yang populer sejak tahun 1980an. Pencipta lagu ini, James Sundah menceritakan latar belakang lagu itu sebagai ungkapan sukacita karena di bulan sept-ember, musim hujan datang setelah musim kemarau yang panjang.  Saat mendengarkan lagu indah ini, ironisnya kita masih hidup dalam suasana pandemik Covid-19. Beberapa hari ini saya mendapatkan berita dukacita secara langsung maupun dari media sosial. Mungkin banyak di antara kita melalui hal yang berat: kita mengalami sakit penyakit, kita berduka karena kehilangan orang terkasih, keluarga kita mengalami guncangan ekonomi karena kita kehilangan pekerjaan ataupun bisnis yang drop bahkan bangkrut, kita mesti mengatur waktu bagaimana bekerja dan mengajar anak di rumah, dan masih panjang daftar penderitaan yang mesti kita hadapi akibat pandemik Covid-19 yang telah mengubah hidup kita secara drastis, dan kita belum tahu sampai kapan semua ini akan berlangsung.

Bagi banyak orang rasanya keceriaan dan sukacita tidak cocok dengan penderitaan. Salah satu mesti menghilangkan yang kedua. Namun Alkitab banyak mengajarkan bahwa sukacita dan penderitaan bisa berjalan beriringan. Orang Kristen dipanggil tidak hanya  percaya Kristus, namun juga menderita karena mengikut Kristus (Fil 1:29). Yesus mengingatkan bahwa hidup kita di dunia akan mengalami penderitaan  (Yoh 16:33). Kita diminta bersukacita ketika kita menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan dalam hidup kita. (Rom 5:3).

Sukacita dalam penderitaan itu  bukanlah membawa kita kepada dua kutub ekstrim yang salah: Makosisme yang menikmati rasa sakit untuk kesenangan, semakin sakit semakin senang ataupun Stoikisme yang pasrah karena penderitaan adalah takdir, yang penting kita berpikiran positif. Ini bisa membawa kita berpura-pura happy di hadapan orang lain padahal di dalam diri kita merasakan penderitaan. Ini bukanlah sukacita yang Alkitab ajarkan. 

Rasa sakit, dukacita, dan frustasi itu nyata adanya, tetapi kita memilih bertahan dan berjuang bersama Tuhan. Sama seperti seorang ibu yang akan melahirkan mesti mengalami kesakitan dan perjuangan yang berat tetapi si ibu tetap semangat berjuang dengan sukacita dalam kesakitannya karena ia tahu ia akan segera melihat bayinya lahir. Kita bersukacita saat mengalami penderitaan karena kita tahu penderitaan akan membuat kita lebih bergantung pada Tuhan, kita akan dibentuk memiliki karakter Kristus, dan pengharapan kita bersama dengan Kristus dalam kekekalan.  Tentu ketika kita menderita kita bisa meratap kepada Tuhan yang mengerti penderitaan kita karena Ia sendiri pernah menderita demi penebusan dosa kita. Tuhan  akan menghiburkan kita di manapun kita meratap termasuk di rumah sakit dan di pemakaman. 

Sukacita kita selalu bersandar pada Kristus, bukan pada perasaan emosional kita. Karena itu bersukacitalah jika kita menghadapi berbagai kesulitan dan  penderitaan. Kita hidup sementara di dunia ini dan kita tahu bahwa suatu hari nanti, semua sakit dan penderitaan kita akan berlalu. Selagi kita masih di sini, teruslah berjuang dalam hidup yang memuliakan Tuhan. September ceria milik kita bersama!

~BT20210905