ALLAH YANG KASIH DAN ADIL

Siapa sih yang tidak senang mendengar bahwa Allah itu penuh kasih dan menerima kita masuk ke rumahNya di surga.  Banyak orang yang mempercayai kepada Tuhan yang maha pengasih tanpa adanya keadilan dalam penghukuman atas dosa. Salah satunya adalah aliran Saksi Yehuwa. Mereka berkata: “Tidak mungkin Tuhan yang penuh kasih itu akan menghukum orang di neraka.”  Namun, pernahkah kita memikirkan seperti apa dunia ini jika benar bahwa  Tuhan itu penuh kasih tanpa keadilan dalam menghakimi kejahatan? Sepertinya orang-orang akan merasa bebas berbuat jahat tanpa adanya rasa takut karena tidak akan ada hukuman dari Tuhan.  Bisakah kita menerima bahwa penjahat perang seperti Hitler akan disambut di surga sama seperti Bunda Teresa yang menyelamatkan dan melayani korban perang sepanjang hidupnya? Tentu hati nurani kita berkata ini tidak benar dan tidak adil.

Di sisi lainnya, bagaimana jika Tuhan hanyalah Allah yang menunjukkan keadilanNya dalam menghakimi saja tanpa adanya kasih?  Pastilah tak seorang pun dari kita akan selamat dan bahagia karena kita sudah pasti dihukum dan mati oleh karena dosa kita setiap hari.

Benar Alkitab berkata, “Tuhan itu penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Maz. 145:8). Namun, kasih Tuhan bukanlah berarti Ia mengasihi segalanya. Ia mengasihi apa yang baik dan benar di mataNya. Sama seperti kita, jika kita mengasihi dan menyayangi sesuatu maka kita harus membenci apa yang menghancurkan rasa sayang kita. Suami yang mengasihi istri mesti membenci perselingkuhan karena perselingkuhan itu menghancurkan kasih dalam rumah tangga. Hal yang sama berlaku untuk Tuhan. Alkitab yang sama memberitahu kita bahwa Allah juga membenci kejahatan dan dosa (Maz. 5:5). Dosa adalah pemberontakan yang menghancurkan dan merusak apa yang Allah kasihi. Allah membenci dan menanggapi dosa dengan serius dengan menghakimi dan menghukum  setiap  dosa kita. Meskipun sekarang Ia sedang bersabar untuk memberi waktu agar orang-orang bertobat (2 Pet. 3:9). Yang pasti di akhir zaman, kita akan menghadapi pengadilan Allah dan ganjaran dosa kita dalam kekekalan.

Tuhan adalah hakim tertinggi, penuh kasih dan sangat adil. Dan penghakiman Allah bisa mengejutkan. Dari Alkitab kita membaca peristiwa di mana Allah menunjukkan keadilanNya dengan menghukum dosa seperti air bah zaman Nuh, malapetaka tulah di Mesir, pembuangan bangsa Israel, dan banyak lagi yang lain. Ia menghakimi karena keadilan-Nya menuntut agar Dia menghukum dosa, tetapi kasih-Nya memotivasi Allah untuk menawarkan cara mengampuni orang berdosa. Inilah kabar baik sebagai  inti iman Kristen:  bukan hanya Allah menghakimi dosa, tetapi Ia telah menyediakan jalan untuk menyelamatkan kita dari penghakimanNya.  Penghakiman terakhir Tuhan atas kejahatan umat manusia dicurahkan, bukan kepada kita, tetapi kepada diri-Nya sendiri dalam pribadi Yesus. Pada saat Yesus mati di kayu salib,  di situlah kasih dan keadilan Tuhan yang sempurna berpadu, menghasilkan kasih karunia kekal bagi mereka yang percaya kepada Yesus.

Tuhan itu adalah kasih sekaligus adil. KasihNya ditunjukkan melalui keadilanNya.  Alih-alih mempertanyakan  “Mengapa Tuhan mengadili dan menghakimi orang-orang yang katanya dikasihi-Nya?” mungkin kita seharusnya bertanya, “Supaya saya lepas dari penghakimanNya, apakah saya sudah menerima kasih Tuhan di kayu salib?

~BT 20250907