membangun spiritualitas melalui pemilu

Pemilu di Indonesia sebentar lagi akan digelar. Tentunya sesuatu yang wajar jika pembicaraan politik meningkat baik melalui media sosial maupun interaksi sehari-hari, khususnya mengenai siapa calon presiden yang akan memimpin bangsa ini 5 tahun mendatang. Banyak orang menjadi militan begitu semangat dan berapi-api mengungkapkan opini dan dukungan politiknya kepada kandidat tertentu. Dalam hal yang lebih serius, dampaknya sampai menciptakan mentalitas yang membelah: “antara saya melawan anda” dengan mereka yang berbeda pandangan dan pilihan dengan kita. Opini sayalah yang paling benar karena didukung berbagai fakta dan opini anda adalah salah dan keliru.
Sebenarnya orang yang berbeda pandangan dengan kita bukanlah musuh yang mesti ditaklukkan supaya memiliki pandangan yang sama dengan kita. Ingatlah musuh utama kita adalah si Iblis yang berusaha membutakan, menipu, mengusik kedamaian, dan memecah persatuan kita. Kita tidak perlu terlalu terobsesi dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan sementara. Pemilu itu hanyalah rutinitas 5 tahunan, sedangkan kita adalah pribadi yang diciptakan Tuhan untuk hal yang kekal. Jika kita merasa kandidat tertentu bertentangan dengan hati nurani dan prinsip yang kita pegang, tentu kita tidak perlu memilihnya. Namun kita juga tidak perlu marah, benci dan membentuk opini yang belum tentu kebenarannya hanya karena kita tidak suka kepadanya.
Di dalam masa pemilu dengan diskusi politik semakin hangat ini, ada baiknya kita merenungkan kehidupan pribadi kita: apakah hidup kita lebih bergantung kepada Tuhan atau kepada pemimpin negara? Apakah kita bisa menjadi saksi Kristus yang memberi teladan kepada orang sekitar dalam menyuarakan aspirasi politik kita? Apakah kita sering berdoa untuk kondisi negeri ini? Orang Kristen mesti mengingat bahwa Kekuasaan Tuhan tidak akan pernah diganti oleh pemerintahan manapun. Loyalitas paling utama kita adalah kepada Tuhan bukan kepada manusia maupun partai politik. Alkitab meminta kita mengusahakan kedamaian dan kesejahteraan negeri dimana kita tinggal (Yer. 29:7) dan berdoa bagi para pemerintah dan pembesar (1 Tim. 1-2) agar kita hidup tenang dan tenteram. Kita juga mesti menghindari saling serang dalam perdebatan politik, dan kita mesti belajar untuk rendah hati, lemah lembut, sabar, dan menjaga kesatuan (Efe. 4:1-3).
Marilah kita gunakan hak pilih kita dalam pemilu ini sebagai warga negara yang baik dan mensyukuri anugerah Tuhan karena kita hidup di negeri ini. Indonesia tetap ada dalam anugerah Tuhan meski siapapun yang Tuhan ijinkan untuk menjabat wakil rakyat maupun Presiden. Kita tidak perlu takut dengan hasil dari proses politik atau pemilu karena kita percaya tidak ada yang terjadi di luar kendali Tuhan dan Dia bekerja dalam segala hal termasuk kondisi negara ini pasca pemilu unutk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya (Rom. 8:28).
~BT20240204