Toleransi Tanpa Kompromi
Sebagai orang Kristen yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk, tentunya kita seringkali menghadapi situasi yang menguji sikap toleransi kita kepada orang lain yang berbeda keyakinan. Sampai sejauh mana kita dapat berkompromi dalam hal toleransi beragama? Dulunya, definisi toleransi beragama adalah mengakui bahwa setiap individu memiliki hak dan kebebasan untuk memegang dan mempraktekkan kepercayaannya tanpa kita perlu mempercayai hal yang sama. Namun dengan perkembangan teknologi dan media sosial seperti sekarang ini, sepertinya ada perubahan pengertian toleransi: tidak hanya menghormati keyakinan yang berbeda namun juga menerima keyakinan yang berbeda itu sebagai suatu kebenaran. Artinya, kebenaran itu bersifat relatif: jalan kamu benar, jalan saya benar, dan semua jalan itu benar adanya. Semua kepercayaan akan membawa jalan kepada Tuhan dan karena itu semua kepercayaan adalah kebenaran. Seseorang akan dianggap intoleran jika dia tidak setuju dengan pandangan ini.
Alkitab mengajarkan tidak ada dua atau lebih banyak jalan kebenaran, melainkan hanya satu jalan kebenaran yang absolut: Yesus (Yoh 14:6). Manusia bisa mengenal Kebenaran (Yesus) itu karena Ia yang mengundang kita (Mat 11:28), Kebenaran itu akan membebaskan manusia dari dosa (Yoh 8:32), dan Kebenaran itu menjamin kita untuk hidup yang kekal (1 Yoh 5:11). Ini adalah kebenaran sejati iman Kristen. Jika kita sebagai orang Kristen mulai meragukan, mempertanyakan, mengkompromikan atau bahkan sudah tidak percaya kepada kebenaran absolut itu, maka kita sebaiknya menelaah kembali Alkitab.
Dengan klaim kebenaran itu, apakah orang Kristen bisa hidup damai dan bertoleransi di tengah komunitas yang majemuk dan berbeda keyakinan? Ya bisa dong dan kita harus melakukannya setiap hari dengan dasar kasih. Toleransi dalam arti mengasihi dan menghormati orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita tetapi itu tidak berarti berkompromi bahwa kebenaran iman kita adalah relatif dibandingkan iman yang berbeda. Kita tidak mengkompromikan doktrin kebenaran iman kita hanya demi diterima orang lain, menyenangkan orang lain ataupun demi keharmonisan. Kebenaran itu bukanlah berdasarkan apa yang kita pikirkan, rasakan, inginkan, atau bahkan simpati kepada orang lain, tetapi berdasarkan Alkitab.
Meski kita seringkali mengalah untuk bertoleransi namun kadang kita tidak mendapatkan rasa respek yang sama dari orang lain. Tentu kita tidak perlu berkecil hati dan tetaplah mengasihi orang lain. Ingatlah pesan dan janji Kristus kepada kita: berbahagialah kamu jika orang membenci kamu karena Kristus, sebab upahmu besar di sorga (Luk 6:22-23). Orang Kristen haruslah bertoleransi kepada orang yang berbeda keyakinan dan mengasihi mereka dengan kasih Tuhan Yesus yang sudah kita terima. Dengan begitu, kita akan membawa kemuliaan bagi Sang Kebenaran dan menjadi terang di tengah dunia ini.
@bagiterang.com/210531