TEOLOGI UANG
Ada yang bilang: “uang bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang.” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang, justru kita membutuhkan uang dalam hidup kita sebagai alat tukar yang sah untuk membeli kebutuhan yang tidak bisa kita penuhi sendiri. Dengan uang, kita juga bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Namun di dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini, segala sesuatu yang awalnya baik bisa jadi disalahgunakan.
Topik uang banyak dibahas di Alkitab di dalam lebih dari 2000 ayat, dan bahkan perumpamaan dalam pengajaran Yesus lebih banyak menyinggung masalah uang. Uang sejatinya tidak jahat, tetapi cinta uanglah yang menjadi akar segala kejahatan (1 Tim 6:10). Uang adalah salah satu tanda berkat Tuhan kepada kita, tetapi jika kita sudah menempatkan uang di atas segalanya termasuk melebihi kasih kita kepada Tuhan maka uang bisa menjadi bencana. Jika keinginan menjadi kaya adalah hal yang paling utama yang kita kejar dalam hidup ini, maka kita bisa terobsesi untuk mendapatkan uang yang banyak dan mungkin membawa kita terjerumus kepada kejahatan. Karena cinta uang, kita bisa dikuasai hasrat untuk mendapatkan uang dengan cara instan. Kita cenderung mengabaikan standar moral Firman Tuhan demi mendapatkan uang dan materi. Uang yang banyakpun dapat membuat kita menjadi tamak, sombong, dan narsis. Pengelolaan uang yang sembrono membuat kita boros dan bisa terjerat dalam belenggu utang. Kadang kejahatan manusia tidak terbatas oleh karena cintanya kepada uang.
Oleh sebab itulah, ada baiknya kita belajar sedikit tentang teologi uang. Hal ini dapat mengubah pola pikir dan tindakan kita yang berkaitan dengan uang. Beberapa prinsip dalam teologia uang: (1) Tuhan adalah pemberi berkat materi kepada kita (Fil 4:19), sehingga kepada Tuhanlah kita memohon dan menyerahkan segala aktivitas kita dalam mencari uang. (2) Tuhan adalah pemilik segalanya termasuk uang yang ada pada kita (Maz. 24:1) dan kita hanyalah pengelolanya. Oleh karena itu cara kita membelanjakan, menabung atau menginvestasikan uang mesti mengingat bahwa uang itu adalah titipan saja dan kita mesti bertanggung jawab kepada pemilik aslinya. (3) Semakin banyak uang yang kita miliki, mestinya kita semakin murah hati dalam memberi (Kis 20:35). (4) hidup kita tidak bergantung pada banyaknya uang (Luk 12:15). Uang bukanlah ukuran kebahagiaan hidup kita. Raja Salomo menemukan sumber kebahagiaan: takutkah akan Tuhan dan pegang perintahNya (Pengk 12:13).
Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus meminta kita untuk menjaga hati terhadap harta dan kekayaan karena di mana harta kita, disitulah hati kita berada. Harta orang Kristen yang sejati adalah Kristus, kepadaNya kita menaruhkan hati dan tindakan kita termasuk soal uang. Marilah kita bekerja dengan rajin untuk mendapatkan uang, menabung dan menginvestasikan uang dengan bijaksana, membelanjakan uang dengan efisien, dan memberi sebagian uang kita dengan hati yang gembira untuk mendukung pelayanan dan menolong orang lain.
~BT220213