Menjadi Kristen Yang Berbudaya
Kita perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, kita adalah bagian dari sebuah kebudayaan dan tidak bisa menutup diri dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Kebudayaan ini bisa mencakup bahasa, identitas, adat istiadat, tradisi,maupun cara hidup. Memang ada berbagai adat dan tradisi dari nenek moyang kita yang menjadi kontroversi dan bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Lalu bagaimana kita menyikapi adat istiadat dan tradisi tersebut? Apa kita mesti menolak semua tradisi itu?, atau apakah kita mesti menerima semua adat?, atau apakah kita bisa menyesuaikan adat dengan prinsip iman Kristen.
Singkatnya budaya adalah cara kita menyesuaikan diri baik secara fisik maupun spiritual dengan lingkungan dan memperlakukan apa yang Tuhan telah ciptakan. Hasilnya muncullah berbagai banyak bahasa, kepercayaan, tradisi, adat yang mengatur kehidupan manusia di dalam satu komunitas. Peristiwa terpencarnya manusia dengan perbedaan bahasa ke segala penjuru dunia setelah runtuhnya menara Babel adalah bagian dari rancangan Allah menjadikan dunia yang penuh warna tradisi dan budaya.
Tidak ada salahnya untuk mengikuti dan menjalankan beberapa tradisi yang ada di sekitar kita. Beberapa tradisi yang baik dapat memberi identitas yang unik kepada kita, memberi pengajaran moral, dan menjaga keharmonisan kehidupan dalam suatu komunitas. Alkitab tidaklah anti terhadap adat, tradisi, dan kebiasaan manusia. Allah kita adalah Tuhan yang berbudaya. Dalam berkomunikasi dan menunjukkan kehendakNya, Allah menggunakan bahasa, tradisi, dan cara yang dapat dimengerti manusia. Bahkan, kedatangan Kristus ke dunia ini juga menunjukkan bagaimana Tuhan hadir di tengah kehidupan manusia ciptaannya dengan adat dan tradisi yang ada pada saat itu. Dalam status kemanusiaannya, Yesus bersuku bangsa Yahudi dan hadir dalam berbagai kegiatan yang menjadi tradisi orang Yahudi. Melalui kehadiranNya terebut, Yesus mengajarkan orang Yahudi yang terlalu mengagungkan tradisi buatan manusia untuk berfokus kepada Allah dan menunjukkan bahwa Kerajaan Allah melebihi dari semua adat dan tradisi yang manusia ciptakan.
Rasul Paulus menerima dan menyesuaikan dirinya dengan budaya bangsa lain demi mengabarkan Injil. (1 Kor. 9:19-23). Tentu setiap tradisi budaya mesti dipertimbangkan untuk diterima atau ditolak dengan menggunakan standar Alkitab. Firman Tuhan bersifat kekal, benar, dan mengikat. Sedangkan tradisi adalah buatan manusia secara turun temurun yang bisa berubah atau tidak relevan lagi dengan kondisi zaman. Misalnya, orang Kristen mesti menolak tradisi persembahan kepada berhala (bertentangan Imamat 19:4, karena Tuhan tidak ada bandingannya), ritual berkaitan roh orang mati ( bertentangan Imamat 19:31, karena orang mati tidak ada urusan lagi dengan dunia ini), dan lainnya. Panggilan orang Kristen adalah meskipun kita hidup dengan tradisi dan budaya tertentu, namun kita mesti dapat mentransformasi dan menerangi budaya itu dengan berita Injil.
~BT20240915