Refleksi atas Reformasi Gereja

Tanggal 31 Oktober, sebagian besar orang tahunya adalah perayaan Halloween yang merupakan perayaan berhala. Bagi orang Kristen, itu adalah hari Reformasi Gereja, yang  berawal dari aksi Martin Luther yang memakukan 95 pasal Maklumat Protes atas Gereja Katolik Roma di pintu gereja Wittenberg, Jerman pada 31 Oktober 1517.  Mengingat Reformasi Gereja, kita dapat melihat Tuhan bekerja di dalam sejarah gerejaNya. Saat terjadi penyimpangan ajaran gereja, Allah turut bekerja melalui orang-orang pilihanNya untuk membawa orang Kristen kembali kepada ajaran murni Alkitab.

Setelah masa Para Rasul berakhir,  dalam 1000 tahun, Kekristenan ada dalam satu hirarki gereja yang berpusat di  Roma yaitu Gereja Katolik yang juga membawahi Gereja Orthodox Timur yang berpusat di Konstantinopel Turki. Pada masa ini ada banyak tradisi dan ajaran yang berkembang di gereja meskipun tidak berdasarkan Alkitab, misalnya: otoritas absolut pemimpin tertinggi gereja Paus, pemujaan terhadap Bunda Maria, pembaptisan anak sebagai anggota gereja, pengkultusan orang-orang kudus, dan lainnya. Perselisihan kedua pemimpin gereja dan perbedaan pandangan teologis dan tradisi gereja menyebabkan perpecahan gereja pada tahun 1054, gereja Orthodox Timur berpisah dari gereja Katolik Roma. 

Perpecahan ini tidak membuat Gereja Katolik merubah tradisinya. Malahan moralitas para pemimpin gereja menurun khususnya dalam hal keuangan. Puncaknya saat Paus Leo X menjual surat pengampunan dosa. Martin Luther menganggap ini suatu penyesatan dari iman Kristen. Ia yang adalah pendeta di Gereja Katolik Wittenberg, Jerman memulai gerakan protestan untuk menyerukan reformasi gereja Katolik kembali kepada ajaran Alkitab. Gerakan reformasi  ini meluas ke seluruh daratan Eropa. Selain Luther, ada banyak tokoh reformasi lainnya: John Calvin, Ulrich Zwingli, John Knox, Raja Henry VIII, dll.

Para reformator Gereja menyerukan doktrin 5 Sola untuk mereformasi gereja yang yaitu: (1) Sola Scriptura, “hanya Firman Tuhan” yang menjadi dasar ajaran dan praktek iman Kristen. (2) Sola Gratia, “hanya anugerah” Allah yang menyelamatkan kita orang berdosa, bukan amal saleh atau apapun pekerjaan baik kita. (3) Sola Fide, “hanya iman” dalam Kristus yang membawa kita kepada Tuhan.  (4) Sola Christus, “hanya Kristus” juru selamat, tidak ada yang lain. (5) Soli Deo Gloria, “hanya untuk kemuliaan Tuhan” adalah tujuan hidup orang Kristen.

Reformasi Gereja  menandai awal pergerakan baru untuk kembali kepada ajaran Alkitab yang murni seperti yang diajarkan oleh Para Rasul.  Namun ini tidak berarti bahwa gerakan reformasi ini sempurna. Berbagai latar belakang, kepentingan dan doktrin di antara reformator juga membawa perbedaan dalam mengaplikasi reformasi gereja. Konsekuensinya ada beberapa aliran gereja baru yang muncul di awal reformasi gereja, yaitu: pengikut Martin Luther memulai gereja Lutheran, pengikut John Calvin mendirikan gereja reformed, pengikut John Knox dengan gereja Presbyterian, dan Raja Inggris Henry VIII mendirikan Gereja Anglikan. Ini mengajarkan kita bahwa manusia tidaklah sempurna, dan tidak ada gereja yang sempurna, hanya Tuhan saja yang sempurna. 

Ketika gereja sudah dipengaruhi oleh ajaran yang menyimpang dari Alkitab,  terlibat intrik politik, uang, korupsi, maupun kepemimpinan yang otoriter maka orang Kristen yang masih setia kepada ajaran Alkitab harus bangkit dan menyerukan agar gereja kembali kepada ajaran Alkitab. Gereja mesti terus mengingat semangat reformasi  5 Sola. Para pemimpin reformasi gereja sudah membuktikan bahwa mereka rela menanggung semua konsekuensi sampai hukuman mati karena mereka percaya bahwa kebenaran Alkitab lebih berharga dari kenyamanan apapun yang bisa mereka dapatkan (Kis. 20:24).

Soli Deo Gloria!

~BT20241027