Israel Sejati Dalam Kristus

Setiap ada eskalasi konflik yang melibatkan Israel di Timur Tengah, orang Kristen kembali merenungkan hubungan antara Israel dan iman Kristen. Ini karena iman Kristen berasal dari Perjanjian Lama dan Baru yang narasinya dominan tentang orang Yahudi. Yesus adalah orang Yahudi, namun ironisnya mayoritas orang Yahudi tidak percaya kepada Yesus.

Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa di Taman Eden, Allah menjanjikan seorang Penebus yang akan datang ke dunia ini. Allah memilih bangsa yang akan melayani dan mempersiapkan datangnya sang Penebus itu.  Sekitar 2,000 tahun sebelum kedatangan Juruselamat, Allah datang kepada  Abraham dan membuat tiga janji kepada Abraham (Kej. 12:1-3, 13:15): (1) memberikan Abraham tanah untuk didiami; (2) menjadikan Abraham bangsa yang besar; (3) keturunannya akan memberkati semua orang

Allah telah memenuhi semua janji itu!  Itu memerlukan waktu hampir 2000 tahun untuk digenapi dan melalui berbagai dinamika hubungan putus sambung Allah dan umat pilihanNya yaitu keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub yang disebut Israel.  Sekitar tahun 1460 SM, bangsa  Israel kembali ke Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Jumlah mereka ada sekitar 2 juta orang. Itu adalah jumlah bangsa yang besar. Ini adalah pemenuhan janji pertama dan kedua Allah.

Ketika Yesus hadir ke dunia ini, Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi hukum taurat (Mat 5:17) dan  Ia adalah Mesias (Mar 14:62). Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga adalah karya penggenapan janji Tuhan yang ketiga  kepada Abraham bahwa keturunannya (yaitu Yesus) menjadi berkat bagi semua orang yang percaya padaNya. Kematian Yesus menandai Perjanjian Baru antara Allah dan manusia bahwa Yesus menjadi jaminan bagi manusia berdosa untuk menerima janji keselamatan Allah.

Dalam Perjanjian Baru, “Israel” sejati sebagai umat pilihan Allah didefinisikan melalui Yesus. Alkitab menyatakan bahwa setiap orang percaya Kristus adalah umat pilihan Allah  (1 Pet. 2:9).  Jika kita percaya Kristus kita adalah keturunan Abraham, pewaris janji Allah (Gal. 3:29). Kalau di perjanjian lama: Israel terikat pada etnis dan garis keturunan Yahudi, namun dalam perjanjian Baru,  umat pilihan Allah mencakup semua orang yang ada di dalam Kristus, baik bangsa dan ras apapun.  Orang Israel sejati adalah orang yang memiliki iman dalam Kristus. 

Lalu bagaimana dengan orang Israel secara etnik? Allah tetap mengasihi orang Israel dan menginginkan semua orang Israel percaya Kristus. Dalam Roma 11, Paulus mengilustrasikan pohon zaitun Israel untuk menggambarkan umat pilihan Allah. Orang non-Yahudi yang percaya Kristus diibaratkan seperti ranting yang dicangkokkan ke pohon zaitun itu. Orang Yahudi yang tidak percaya Kristus dibersihkan dari pohon itu.  Namun, janji Tuhan bahwa jika ada orang Yahudi menjadi percaya kepada Kristus, maka Allah pun akan mencangkokkan mereka ke pohon zaitun itu, sebagai umat pilihan Allah.

~BT20260510

Kebangkitan Kristus dalam kehidupan sehari-hari

KuburNya sudah kosong! Ini adalah  catatan sejarah bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib, dikuburkan di sebuah makam dengan ditutup batu besar, diberi materai dan dijaga ketat oleh tentara Romawi, namun tiga hari kemudian terjadi keajaiban yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Tanpa disadari oleh tentara penjaga itu, batu besar penutup makam terguling, kain kafan rapi tertinggal di makam, namun jasad Yesus sudah tidak ada!. Malaikat menyatakan: Yesus sudah bangkit!!. Para rasul memberitakan bahwa mereka melihat dan berinteraksi dengan Yesus yang telah bangkit itu. Kebangkitan Kristus telah menginspirasi para murid Yesus untuk menjadi saksi Kristus dan memberitakan kebangkitanNya meski mereka harus menderita bahkan mati dipersekusi oleh orang-orang yang menyangkal kebangkitan Kristus, yaitu orang Yahudi dan tentara Romawi.

Kebenaran Kekristenan secara tegas adalah berdasarkan kebangkitan Kristus.  Kubur kosong itu telah membuktikan bahwa Yesus sudah menggenapi apa yang sudah dinubuatkan para nabi di Perjanjian Lama dan klaim Yesus  adalah Mesias (Mar. 14:62). Begitu pentingnya kebangkitan Kristus, sehingga Rasul Paulus menjelaskan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sia pula imanmu….kamu masih berada dalam dosa-dosamu” (1 Kor. 15:14, 17).

Kepercayaan akan kebangkitan Kristus bukanlah sekadar doktrin yang hanya kita dengar setiap tahun. Namun harus menjadi realitas hidup kita yang meresap dan mengubah kehidupan kita, sama seperti murid-murid Yesus dan jemaat mula-mula.  Kebangkitan Kristus memberi harapan yang dapat menopang kita di saat-saat sulit, penderitaan, dan bahkan kematian. Kebangkitan Kristus dari kubur yang gelap itu memberikan kita harapan bahwa kitapun bisa bangkit dan menang melawan kegelapan situasi hidup kita.  Kebangkitan juga meyakinkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kehidupan yang lebih penuh di dalam Kristus (1 Tes. 4:14). 

Kebangkitan Kristus memberikan jaminan bahwa tubuh kita akan dibangkitkan dan dimuliakan kelak. Ini  menunjukkan bahwa tubuh jasmani kita adalah ciptaan yang mulia. Kebangkitan Kristus mestinya mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan tubuh kita yang adalah juga bait Allah. Oleh karena itu, kita mesti menjaga kekudusan tubuh dan kesehatan kita.

Kebangkitan  Kristus juga memberikan makna dan tujuan baru bagi rutinitas kita sehari-hari. Mengetahui bahwa jerih payah kita di dalam Tuhan tidak sia-sia (1 Kor. 15:58), kita termotivasi untuk hidup dan bekerja untuk kemuliaan Allah.  Di dalam keluarga, tempat kerja, dan dimanapun kita berada, semoga kita menjadi orang yang membawa pengharapan kebangkitan Kristus.  Marilah kita menjalani kehidupan kita setiap hari dalam terang kebangkitan Kritus, hidup  sebagai orang-orang yang penuh harapan dan menjadi saksi kuasa Kristus yang telah bangkit. Selamat Paskah!

BT~20260405

Mengapa Kita Menyembah Tuhan?

Pernahkah kita bertanya kenapa sih Tuhan menginginkan kita untuk memuji dan menyembah Dia? Apakah Tuhan kurang percaya diri dengan keberadaanNya? Apakah Ia membutuhkan pengakuan dari manusia untuk meningkatkan harga diri-Nya? Bahkan salah satu tuduhan dari orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan adalah bahwa Dia itu narsis, gila hormat, egosentris dan sombong. Bagi mereka, Tuhan kok memaksa semua orang memuji-Nya dan menghukum jika tidak mau tunduk kepadaNya.

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta seluruh alam semesta ini. Karakter Tuhan itu adalah sempurna, kekal, tak terbatas, mandiri dan  tidak berkekurangan. Dia  tidak membutuhkan apa pun di luar Diri-Nya untuk mempertahankan eksistensi-Nya. (Kis. 17:24-25). Tuhan sesungguhnya tidak membutuhkan pujian dan penyembahan kita untuk mempertahankan statusNya. Kalaupun manusia menyembah-Nya, tidak ada yang ditambahkan kepada-Nya. Pun jika manusia menolak menyembah-Nya, tidak ada juga yang hilang dari-Nya. Lalu Mengapa Tuhan meminta manusia untuk menyembah-Nya? 

Manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki naluri untuk memuji dan menyembah (Wah. 4:11). Buktinya, kita suka menghargai dan memuji sesuatu yang bernilai, indah, bagus, dan menyenangkan. Selain itu kita juga suka menyembah dan memuliakan sesuatu di luar diri kita yang bisa kita jadikan pegangan spiritualitas kita. Orang primitif yang tinggal di hutan belantara sekalipun, akan menyembah sosok atau benda tertentu yang dianggap sakral sebagai pegangan hidupnya.  Apa yang diyakini seseorang tentang sosok sakral atau Tuhan akan menjadi landasan dari semua pemikiran dan perbuatannya dalam kehidupan ini.  Jika kita gagal menyembah Tuhan yang benar, maka kita akan menyembah sesuatu yang lainnya.

Sesungguhnya Tuhan menginginkan yang terbaik bagi ciptaan-Nya.  Segala hukum dan perintah Tuhan adalah semata untuk kebaikan manusia. Tuhan tahu bahwa sukacita kehidupan manusia tidak didapat dari keterikatan dengan dunia yang sementara dan fana ini.  Kebahagiaan manusia terletak pada pengenalan akan Tuhan dan memiliki hubungan pribadi dengan Dia. Dalam Ulangan 6:24, Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah kepadaNya supaya Ia memelihara hidup kita. Selain itu, jika kita merenungkan kasih, kebaikan, kemurahan pengampuan Tuhan kepada kita manusia berdosa ini, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak memuji dan menyembah Dia. Inilah ibadah kita yang sejati ketika kita memberikan memberikan penghormatan, pujian, ketundukan kepada Allah dan menyerahkan semua keberadaan hidup kita kepadaNya. Kesempatan untuk memuji Allah adalah sebuah hak istimewa dan Dia layak menerima pujian dan penyembahan kita!

~BT260117