SAINS YANG MENINGGIKAN IMAN

Mungkin kita pernah mendapatkan pertanyaan dari anak kita mengapa pelajaran ilmu pengetahuan alam (sains) sepertinya bertentangan dengan Alkitab dan iman Kristen? Misalnya teori penciptaan, asal usul manusia, dinosaurus, dll. Karena kebingungan, banyak orang menganggap bahwa sains dan iman adalah dua kutub yang berbeda, bertentangan, dan jangan dikaitkan. Bahkan, seorang tokoh atheis, Richard Dawkins mengatakan bahwa sains adalah proses pencarian fakta sedangkan iman berdasarkan mitos dan tahayul. Menurutnya, iman dan sains itu bertentangan dan kita harus memilih salah satunya. Iapun mengolok orang Kristen sebagai orang bodoh dan sakit mental.
Sebenarnya iman dan sains tidaklah bertentangan, tidak terpisah satu sama lain dan saling berkaitan. Tetapi karena keberdosaan manusialah yang membuat keduanya terpisah, apalagi dosa menyangkal keberadaan Tuhan. Sains merupakan usaha manusia untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dan akurat melalui metode penelitian dan pengukuran terhadap objek alam semesta yang Tuhan ciptakan. Lalu, manusia mengembangkan sains itu untuk kebaikan hidup manusia misalnya mengatasi penyakit, menciptakan teknologi yang membuat hidup manusia lebih mudah dan nyaman. Namun kita mesti mengingat bahwa sains diformulasikan oleh manusia yang tidak sempurna, berdosa dan terbatas. Akibatnya, sains tidaklah selalu mutlak benar dan tidak dapat menjelaskan semua aspek kehidupan manusia. Apa yang dulunya sudah disepakati menjadi teori dalam sains, di kemudian hari bisa direvisi kembali. Sepanjang sejarah sains sudah terbukti bisa salah dalam banyak hal, misalnya dulu bumi dianggap sebagai poros tata surya, planet Pluto yang tidak lagi menjadi anggota tata surya kita. Artinya kita tidak bisa menggantungkan seluruh kehidupan kita kepada sains.
Iman Kristen berdasarkan Alkitab. Namun, Alkitab bukanlah buku manual tentang sains dan teknologi. Kita mengimani bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Tuhan adalah Roh dan pribadi yang agung yang melebihi dimensi waktu, ruang, dan materi. Itulah sebabnya Ia dapat menciptakan alam semesta ini dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Namun, keagunganNya itu tidak membatasi cinta kasihNya kepada manusia yang Ia ciptakan. Tuhan menjadi manusia yaitu Yesus yang pernah hidup di dunia ini dan mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup berdamai dengan alam, orang lain dan penciptanya. Sains tidak akan pernah bisa memahami dimensi spiritualitas ini karena tidak dapat diobservasi dan diukur secara kasat mata.
Alkitab mendeklarasikan bahwa sesungguhnya Tuhanlah pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah meminta manusia mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketika Allah memberi perintah tugas pertama kepada Adam dan Hawa: “penuhilah dan taklukkanlah bumi dan berkuasalah atas seisinya” (Kej. 1:28); dan juga pernyataan Daud: “Besar perbuatan Tuhan dan layak kita pelajari, teliti” (Maz 111:2). Ini adalah petunjuk kuat Allah memberi mandat kepada manusia untuk mengeksplorasi, menyelidiki dan mengembangkan apa yang telah Allah ciptakan. Jadi orang Kristen tidak perlu takut untuk mempelajari sains dengan tetap meninggikan Alkitab. Kebenaran Firman Tuhan akan tetap berdiri tegak menghadapi tantangan sains sampai kapanpun.
Louis Pasteur (1822 -1895), seorang ilmuwan biologi dan kimia pernah berujar: semakin saya belajar sains, semakin saya kagum dengan karya Tuhan, dan sains bisa membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.
~BT250302