MUDIK KE RUMAH YANG KEKAL

Hidup adalah sebuah perjalanan. Kita semua ada dalam suatu perjalanan hidup sejak kita lahir dan berakhir saat kita meninggalkan dunia ini. Perjalanan itu tidak selalu menyenangkan, ada jalan yang berliku-liku, bergelombang, berbatu dan tidak nyaman untuk dilalui.  Jalan hidup kita dipengaruhi oleh banyak hal, baik dari keputusan pribadi kita maupun banyak hal di luar kendali kita.  Kadang kita perlu berhenti di “rest area” untuk melihat kembali peta perjalanan hidup kita. Kita perlu merenungkan apakah ini jalan hidup yang dulunya saya harapkan? Lalu, kemanakah arah dari tujuan hidup saya?

Perjalanan hidup orang Kristen adalah menapaktilasi jejak yang telah dibuat oleh Kristus. Yesus dari surga singgah sebentar ke dunia ini, menyerahkan nyawaNya sebagai jalan pendamaian bagi kita. Setelah menggenapi karya keselamatan agung itu, Yesus mudik kembali ke surga. Ia sedang mempersiapkan tempat bagi kita di surga sebagai akhir destinasi hidup orang percaya. Kita mesti menyadari bahwa hidup kita di dunia ini bersifat sementara dan tidak akan tinggal di dunia ini selamanya. Ibarat dalam suatu perjalanan liburan, meski  kita melihat  dan menikmati pemandangan alam yang indah, taman bunga yang  semerbak, tempat makan yang enak,  dan penginapan yang nyaman,  namun kita tidak akan tinggal tetap di tempat rekreasi itu.  Karena itu bukan tempat kita berasal dan bukan rumah kita, makanya kita kembali ke rumah kita. Sebagai orang Kristen, kita tidak berasal dari dunia ini melainkan anak-anak Allah. Kita merantau sementara di dunia ini dan akan kembali ke tempat asal kita, yaitu warga kerajaan Sorga (Fil 3:20). Tujuan akhir perjalanan hidup kita adalah surga yang menjadi tempat sempurna dan kekal bagi kita untuk hidup bersama Tuhan dan orang yang kita kasihi. 

Dalam perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan tidak berjanji bahwa semua akan berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Jikalau Tuhan memberkati kita dengan berbagai kesuksesan materi, karir, keluarga, maka kita tentu saja boleh menikmati itu semua. Namun itu bukanlah tujuan perjalanan hidup kita. Kita mesti berpikir bahwa semua yang ada pada kita bersifat sementara dan kita mesti siap untuk meninggalkan semua itu pada waktunya Tuhan. Sebaliknya jikalau Tuhan mengijinkan kita mengalami kesusahan, penderitaan,  dan sakit, maka kita tidak menjadi lesu dan menyalahkan Tuhan. Percayalah, Tuhan ada bersama kita sepanjang perjalanan hidup kita, dalam segala keadaan. Ia sedang melatih,  membentuk kita menjadi pribadi tangguh supaya Ia bisa memakai kita menjadi berkat bagi dunia ini dan mempersiapkan kita memasuki hidup kekal bersamaNya di surga. Maka itu, marilah kita memikul salib, menyangkal diri, dan mengikut Kristus. Dengan identitas kita sebagai warga kerajaan surga,  Allah memanggil kita untuk hidup sebagai perantau di dunia ini dengan fokus hidup kita kepada hal surgawi bahwa kita sedang dalam perjalanan mudik ke rumah yang kekal bersama Kristus. ~BT220424

MENGAPA PERLU PENEBUSAN DOSA

Konsep penebusan dosa sering dipertanyakan banyak orang, mengapa mesti ada penebusan dosa? Jika memang Allah itu maha kasih, maka seharusnya mudah bagi Allah untuk sekedar mengampuni dan menerima manusia tanpa perlu adanya penebusan dosa. Kadang kita sering lupa bahwa karakter Allah bukan hanya kasih, tetapi juga adalah kudus dan adil. Dosa itu sangat bertentangan dengan kekudusan Allah, dan karena Allah itu adil, maka Allah murka akan  keberadaan dosa,  dan setiap dosa mesti dihukum. Kita semua adalah pendosa, dan upah dosa adalah kematian. Ini tidak enak didengar tapi begitulah kata Firman Tuhan dalam Roma 3:23 dan 6:23.  Sepanjang zaman, manusia mencari jalan pendamaian dan jalan keluar  atas rasa bersalah  dan dosa kepada Tuhan.  Misalnya  dengan cara hidup saleh, ibadah, persembahan uang dan materi, atau bahkan lari dan menyangkal keberadaan Tuhan. 

Saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mata mereka tercelik dan tersadar dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka,  lalu mereka  mencari jalan keluar dari rasa bersalah dan dosa dengan langsung menutupi diri mereka dengan cawat dari daun pohon ara dan bersembunyi dari Tuhan yang menciptakan mereka.  Pada momen itu,  Allah berinisiatif mencari Adam dan Hawa dan memakaikan kulit hewann untuk menutupi tubuh berdosa mereka.  Allah tidak langsung menghukum mati Adam dan Hawa, meski Allah bisa saja me-reset manusia dengan produk baru. Malah Allah membuat cara pendamaian dosa dengan penumpahan darah dari hewan yang tidak bersalah atas dosa itu. Allah membutuhkan pengorbanan darah untuk menghapus dosa manusia. Darah dianggap sebagai tanda hidup atau nyawa, dan pada saat darah itu dipersembahkan akan menjadi pendamaian agar hubungan manusia dan Allah bisa dipulihkan (Ima. 17:11). Pendamaian  atas dosa manusia ditegakkan saat  darah hewan kurban dicurahkan dan kematian hewan tersebut sebagai ganti kematian akibat dosa seseorang. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan orang Israel untuk mempersembahkan hewan dengan kualitas terbaik  di untuk disembelih di mezbah Bait Allah, sebagai cara mendapatkan pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah. 

Persembahan korban hewan hanyalah bersifat sementara dan tidak bisa menghapuskan dosa selamanya (Ibr. 10:1-4). Ritual pengorbanan hewan dalam Perjanjian Lama  adalah gambaran bahwa pada waktuNya, Allah yang penuh kasih itu akan menyediakan Anak Domba yang terbaik sebagai persembahan yang sempurna dan kekal dalam diri Yesus. Karena Yesus dilahirkan dari kandungan Roh Kudus, maka Yesus tidak membawa dosa alamiah seperti kita, sehingga Ia menjadi satu-satunya persembahan yang tak bercacat  untuk penebusan dosa manusia.  Keadilan Allah untuk menghukum dosa manusia sudah ditegakkan dan ditanggung saat Kristus menumpahkan darahNya dan menyerahkan nyawaNya di kayu salib. Pengorbanan Kristus di salib membebaskan kita dari kuasa dosa dan hukuman dosa yang seharusnya kita terima. Kita mendapatkan penebusan dosa melalui darah Kristus (Efe. 1:7). Inilah Perjanjian Baru yang Allah berikan kepada setiap orang yang mau percaya bahwa penebusan dosa, jalan pendamaian, dan keselamatan jiwa kita yang kekal hanya melalui Kristus saja. ~BT20220403