Bekerja dengan Teologi Kerja

Kalau kita ditanya “apa sih tujuan kita bekerja”? Mungkin banyak dari kita menjawabnya “untuk mendapatkan uang demi membeli kebutuhan hidup.” Jika tujuan kita bekerja hanyalah alasan ekonomi semata maka tidaklah mengherankan jika banyak orang tidak happy dengan pekerjaannya sekarang di tengah tuntutan zaman yang serba hedonis. Namun kenapa kita tetap ada di sana? Ya bisa jadi karena tidak ada pilihan lain (mesti bekerja untuk mendapatkan uang) atau menunggu ada tawaran yang lebih baik. Makanya pekerjaan yang kita lakukan bisa terasa rutinitas, membosankan, melelahkan, bahkan stress. Dampaknya bisa menurunkan produktivitas kerja kita dan mengganggu hubungan interpersonal dengan atasan maupun rekan kerja. Untuk mengatasi itu, kita bisa belajar apa yang Tuhan ajarkan kepada kita tentang teologi kerja.
Sesungguhnya bekerja adalah bagian dari rancangan Allah bagi manusia sejak semula. Kitab Kejadian menceritakan Allah bekerja untuk menciptakan alam semesta ini termasuk Adam dan Hawa. Setelah tercipta, perintah pertama Allah kepada manusia pertama adalah bekerja menjadi pengusaha taman (Kej. 2:15). Allah menciptakan manusia untuk berkarya dan bekerja. Sayangnya kejatuhan Adam dalam dosa membuat dunia ini tidak lagi ideal seperti yang Allah rancangkan semula. Namun Allah tetap meminta manusia untuk bekerja karena itulah yang akan menopang kelangsungan hidup manusia. Dampak dosa dalam dunia kerja adalah tanah menjadi sulit diolah karena banyak semak duri (Kej 3:18). Itulah sebabnya usaha dan pekerjaan kita tidak pernah menjadi mudah, justru penuh tantangan, kesulitan, persaingan, dan tidak ada jaminan bahwa semua usaha kita membawa keberhasilan.
Dalam rancangan Allah, bekerja adalah panggilan mulia bagi orang Kristen. Melalui pekerjaan kita, Allah memberkati kita untuk memenuhi kebutuhan dasar kita misalnya makanan dan tempat tinggal. Bekerja juga sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah atas anugerahnya misalnya kesehatan dan kecerdasan, lalu kita memakai semua itu dalam pekerjaan kita. Kita juga dapat menjadi garam dan terang yaitu saksi Kristus dengan menunjukkan karakter Kristus di tengah tekanan dan tantangan pekerjaan. Yesus pernah mengingatkan bekerja bukan hanya untuk makanan saja, namun yang paling utama adalah bekerja dengan nilai-nilai surgawi karena kita sudah diselamatkan (Yoh 6:27). Bekerja bukan utamanya mengejar kesuksesan materi, namun bekerja dengan motivasi memenuhi panggilan Kristus menjadi berkat bagi keluarga, tempat pekerjaan, maupun bagi orang lain.
Dengan mengingat panggilan Tuhan, mari kita bekerja lebih semangat esok hari, penuh gairah, dan berusaha menjadi karyawan terbaik, manajer terbaik, bos terbaik, atau apapun yang kita kerjakan, lakukan yang terbaik. Semua pekerjaan yang kita lakukan adalah anugerah Tuhan dan berharga di mata Tuhan jika kita melakukan pekerjaan itu seperti untuk Tuhan (1 Kor. 10:31).
~BT20230430
