Pentakosta Sebagai Hari Panen jiwa
Dalam kalender gereja, minggu ini kita memperingati hari Pentakosta dalam konteks Perjanjian Baru yaitu pencurahan Roh Kudus sebagaimana dinarasikan dalam Kisah Para Rasul 2. Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus menjanjikan Roh Kebenaran bagi murid-muridNya (Yoh. 14:16-17) dan meminta para murid menunggu janji itu digenapi. Pencurahan Roh Kudus sebenarnya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yoel (Yoe. 2:28) sekitar 900 tahun sebelum penggenapannya, yaitu Roh Kudus turun pada para murid Tuhan Yesus pada hari Pentakosta, yang aslinya merupakan hari raya Yahudi.
Kata “Pentakosta” berasal dari bahasa Yunani sebagai bahasa asli Perjanjian Baru yang artinya ke-limapuluh. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk merayakan “Hari Raya Tujuh Minggu” atau “Hari Raya Menuai”, yang dirayakan pada hari ke-limapuluh sesudah Hari Raya Paskah (Kel. 23:16; 34:22; Bil. 28:26), makanya dikenal juga sebagai Pentakosta. Pada hari raya ini, orang Yahudi mempersembahkan hasil panen ke bait Allah. Pentakosta juga menjadi peringatan hari di mana Allah memberikan dua loh batu Hukum Taurat kepada bangsa Israel melalui Musa di Gunung Sinai, lima puluh hari setelah orang Israel keluar dari Mesir (Kel. 19). Demi perayaan Pentakosta ini, orang Yahudi dari seluruh dunia hijrah ke Yerusalem membawa panen untuk dipersembahkan ke bait Allah sebagai ucapan syukur atas berkat Allah. Namun mereka belum percaya kepada Kristus sebagai juruselamat.
Jadi bukanlah suatu kebetulan jika Roh Kudus turun pada hari perayaan Pentakosta bagi orang Yahudi. Dalam rancangan Allah yang hebat itu, Allah menurunkan Roh Kudus dalam bentuk lidah api kepada 120 orang percaya, yang merupakan pengikut Kristus mula-mula. Manifestasi Roh Kudus pada murid-murid adalah karunia lidah yaitu karunia berbahasa asing yang tidak pernah dipelajari oleh si pengucap tetapi merupakan bahasa lokal si pendengar dan tentunya dapat dipahami si pendengar. Banyak orang Yahudi dari luar Yerusalem takjub mendengar perbuatan ajaib Allah dalam bahasa lokal mereka sendiri. Ini bukanlah bahasa lidah yang dapat dipelajari, dibuat terasa asing di telinga, ditiru dan diulang-ulang dalam ibadah. Dalam Pentakosta itu, Roh Kudus berkarya dalam membuka hati orang yang belum percaya dan 3000 orang Yahudi menjadi percaya dan dibaptis (Kis. 2:41). Lalu orang percaya itu berkumpul dan bersekutu membentuk gereja mula mula. Ini adalah hari Minggu, hari lahirnya gereja Perjanjian Baru yang percaya kepada karya keselamatan Kristus, bukan kepada kesalehan dan ritual. Setelah peristiwa ini, meski melalui penganiayaan, namun Injil tersebar ke seluruh dunia.
Meski Pentakosta yang awalnya adalah tradisi Yahudi untuk merayakan panen, namun Allah mengubahnya menjadi hari “memanen” jiwa baru untuk percaya kepada Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Setiap orang Kristen yang sungguh percaya kepada Kristus pasti memiliki Roh Kudus. (Kis. 2:38). Dengan Roh Kudus kita semua dibangun untuk menghasilkan buah Roh dan menjadi saksi Kristus di manapun kita berada.
~BT20230528