MORALITAS ZAMAN MODERN

Kita hidup dalam era digital di mana kita dibanjiri oleh informasi, pandangan, dan tindakan dari berbagai arah. Media mendorong kita untuk mengekspresikan kita kepada dunia luar. Dampaknya, kadang kita sulit membedakan mana sensasi, mana realita, bahkan mengaburkan moral yang benar dan salah. Kita mulai bingung dengan standar moralitas. Apa yang dulunya tabu dan salah secara moral, sekarang malah kita dianggap salah jika kita menentangnya. 

Nabi Yesaya pernah meramalkan bahwa akan ada waktunya manusia menyatakan yang jahat itu baik, gelap itu terang, dan sebaliknya (Yes 5:20). Sepertinya kita melihat itu terjadi sekarang. Ukuran moralitas tentang apa yang benar dan salah menjadi relatif dan spekulatif, hasil dari logika manusia dan perkembangan teknologi. “Benar” atau “salah” ditentukan oleh pandangan mayoritas, jika banyak yang melakukan berarti itu benar.  Padahal, sesuatu yang bernilai moral nol, meski dikalikan jutaan orang melakukannya, hasilnya tetap nol, artinya tetap salah. Kadangkala moral itu ditentukan oleh perasaan atau cinta, artinya selama kita senang melakukannya dan dimotivasi cinta, berarti kita benar. Tragisnya,  karena cintanya Adolf Hitler kepada kaumnya Bangsa Arya, ia sudah membunuh jutaan orang Yahudi. Ada juga, moral ditentukan oleh hasil dan tujuan, bahasa baratnya: “the end justifies the means.” Selama bertujuan baik, apapun motif dan cara kita mencapainya, itu bisa dibenarkan. Dalam dunia medis, berapa banyak embrio bayi dibuang (dibunuh) dalam praktek IVF bayi tabung demi mendapatkan keturunan? Berapa banyak orang di-euthanasia demi meringankan sakit pasien dan keluarganya?  Terakhir, moral ditentukan oleh hukum adat atau negara, jika negara sudah melegalkan suatu tindakan, berarti itu benar secara moral. Meskipun beberapa negara sudah melegalkan homoseksual, poligami, aborsi, dan euthanasia, namun itu tetap salah menurut moral dari Alkitab.

Menurut Alkitab, manusia diciptakan dalam image Allah. Salah satu buktinya adalah Tuhan meng”instal”  hati nurani kepada setiap manusia sehingga kita menjadi makhluk hidup yang memiliki moral, bisa membedakan mana yang baik dan salah. Itulah sebabnya orang yang hidup dalam peradaban terpencil sekalipun bisa memiliki kesadaran moral: misalnya tidak membunuh, mencuri, berbohong, atau menanam pohon sebagai ganti yang ditebang. Melalui Alkitab, kita belajar tentang standar moral yang Allah tunjukkan kepada manusia, sampai kepada kehidupan Tuhan Yesus yang adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).   Moral di dalam Alkitab selalu menguji motif, cara, dan hasil. Motif kita adalah kasih, cara kita mesti benar di hadapan Tuhan, dan tujuan kita adalah kemuliaan Tuhan (aplikasi 1 Kor 10:31). Tuhan peduli dengan  apa dan bagaimana  yang kita lakukan sekarang, bukan sekedar pada hasil. Tindakan yang sesuai dengan standar Alkitab adalah benar meskipun hasilnya gagal. Sebaliknya tindakan yang bertentangan dengan standar Alkitab, akan tetap salah meski hasilnya sukses. Hasil dari tindakan kita, meski tidak mungkin kita tahu hasilnya segera, namun jika kita lakukan dengan standar Tuhan, maka kita percaya apapun hasilnya adalah bagian dari campur tangan Ilahi (Rom 8:28). 

Banyak orang menentang moralitas Kekristena karena kita merasa tidak nyaman dengan standar itu, merasa dikekang dan tidak bebas, dan menilai bahwa moralitas Alkitab tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Toh juga kalaupun moralitas itu kita langgar, tidak ada ganjaran hukuman langsung. Padahal sesungguhnya Tuhan itu penuh belas kasihan dan sabar kepada kita supaya kita bertobat dan berbalik kepadaNya, sampai pada waktunya Ia akan meminta pertanggungjawaban dari semua perbuatan kita.

@bagiterang020521