JOANNA : DOA YANG DIKABULKAN TUHAN
Minggu ini adalah hari-hari yang membahagiakan bagi keluarga kami. Akhirnya kami dikaruniai anak ke-4, bayi perempuan: Joanna Diaz Hasugian. Sebelumnya kami sudah memiliki 3 anak laki-laki: Andrew (10), Joel (8), Aaron (2). Meski kami tidak terobsesi untuk memiliki baby girl, tetapi ada kerinduan untuk punya bayi lagi. Tentu kami juga berhitung secara materi dan kesanggupan fisik kami jika kami ingin memiliki anak keempat. Kami menyadari bahwa setiap anak tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini, tetapi jika ia sudah lahir, maka kita sebagai orang tua mesti bertanggung jawab dan berjuang membesarkannya secara fisik dan spiritual.
Akhirnya kami berdua sepakat dan bersama anak-anak kami mendoakan anak keempat. Kami melibatkan anak-anak kami dalam berdoa ini karena kami mau mengajarkan kepada mereka bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang mendengar doa kami. Dalam doa pribadi, saya juga bergumul dengan Tuhan: “Tuhan, Engkau tahu doa kami, saya mempertaruhkan iman saya kepadaMu, kiranya engkau menjawab doa kami untuk bayi perempuan, supaya anak-anak kami mengerti bahwa Engkau adalah Tuhan yang menjawab doa kami.”
Kami senang pada bulan April lalu istri saya hamil lagi. Saya ingat satu ketika Andrew dengan kepolosan bertanya kepada saya: “Ayah, kita ‘kan berdoa untuk baby girl, bagaimana kalau nanti jadi baby boy”? Saya jawab: kalau jadi baby boy, ya gak apa-apa, kita tetap puji Tuhan. Tetapi selama kita belum tahu jawabannya, kita boleh terus meminta kepada Tuhan baby girl.
Beberapa bulan kemudian, setelah cek USG, dokter menginformasikan ke kami bahwa bayi itu kemungkinan cewek, kami senang sekali. Kami ceritakan kepada anak-anak kami bahwa bayi itu perempuan, merekapun senang dan kami menemukan namanya: Joanna, diambil dari Alkitab, sebagai perempuan yang disembuhkan Yesus, dan selanjutnya ia terus mengikut dan melayani Tuhan Yesus (Luk 8:3, 24:10).
Saat melahirkan di Rumah sakit, saya untuk keempat kalinya berdiri di samping istri saya, menyaksikan perjuangannya melahirkan bayi itu dengan segala kesakitannya. Saya hanya berusaha menguatkannya dan terus berdoa supaya bayi itu segera lahir. Saya percaya bahwa setiap ibu yang melahirkan, pasti menghadapi perjuangan yang berat, kadang sampai mempertaruhkan nyawanya. Makanya bagi para suami, marilah kita terus mengasihi istri kita dengan mengingat perjuangannya melahirkan anak-anak kita.
Saya juga mengingat keluarga yang masih terus mendoakan keturunan ataupun yang menjalani hidup berdua saja sebagai suami istri. Saya tahu ini bukan perkara mudah untuk menjalaninya di tengah lingkungan yang sering bertanya: sudah berapa anaknya? Tetaplah mendoakannya kepada Tuhan (1 Tes 5:17), sambil terus mencari kehendak Tuhan dan taat kepada pimpinan dalam kehidupan kita (1 Yoh 5:14). Teruslah mengasihi istri dan suami dalam segala keadaan, karena inilah yang Tuhan inginkan dari kita semua: kita tetap mengucap syukur dan memuliakan Tuhan dalam segala keadaan (1 Tes 5:18).
@bagiterang.com210117