Akuntabilitas Kepemimpinan Pelayanan

Dua minggu lalu  majalah Kristen www.christiantoday.com mempublikasikan laporan investigasi atas tuduhan perzinahan yang dilakukan oleh seorang pengkhotbah Kristen yang terkenal di dunia dan telah meninggal dunia tahun lalu.  Banyak orang tidak percaya dan kaget atas laporan yang membenarkan tuduhan itu: masa’ sih orang sekaliber, serohani, sebaik dia bisa jatuh dalam dosa perzinahan? Sebenarnya, tidak ada yang baru di bawah kolong langit ini. Kejatuhan para pemimpin rohani sudah terjadi sejak zaman kuno hingga sekarang. Ketika kita mendengar skandal dan dosa di dalam pelayanan, respon kita bisa sedih, kecewa, dan marah. Bagaimanapun, kita tidak seharusnya kepahitan dan kehilangan fokus iman kita: Yesus Kristus – yang adalah guru moral yang pernah hidup di dunia ini dengan tak berdosa dan menyerahkan nyawaNya bagi tebusan dosa manusia. Yesuslah pemimpin iman kita yang tertinggi.

Tentu kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa kelam dan mencegah supaya peristiwa serupa tidak terjadi lagi. Jika kita terlibat dalam pelayanan apapun, apalagi yang memegang kepemimpinan, maka kita harus sadar bahwa kita sedang membawa panji Kristus untuk berkibar di dunia ini. Iblis tentu tidak senang dan akan berusaha menjatuhkan kita supaya kita gagal dalam pelayanan dan hidup kita. Meskipun kita sudah ditebus oleh Kristus, semua kita yang masih hidup di dunia ini masih mungkin berbuat dosa. Para pemimpin pelayananpun tidak kebal terhadap godaan dan dosa: entah itu berupa uang, jabatan, maupun seks. 

Seringkali penyimpangan yang dilakukan pemimpin pelayanan terjadi karena dua hal yang jalan beriringan. Di satu sisi, popularitas dan kharisma dari pemimpin membuat para anggota (baik secara sukarela maupun terpaksa) menaruh rasa hormat, kagum, dan rasa percaya yang berlebihan hingga para anggota enggan untuk mengkritisi pemimpin meskipun melihat ada penyimpangan yang dilakukan para pemimpin. Di sisi lain, pemimpin bisa berpikiran karena mereka telah bekerja keras untuk melayani dan memajukan organisasi maka mereka mulai merasa besar, layak mendapatkan penghormatan, dan tidak pantas untuk dikritisi. Ini menyebabkan pemimpin tidak lagi merasa perlu menunjukkan akuntabilitas, integritas, dan transparansi dalam pelayanannya. Saat para pemimpin pelayanan mengeksklusifkan dirinya, selalu merasa benar dan mengharapkan semua orang mempercayai tindakannya meskipun menyimpang,  maka artinya dia menolak akuntabilitas dan dia sebenarnya tidak layak dalam kepemimpinan pelayanan.

Alkitab memperingatkan kita bahwa peperangan kita adalah melawan kekuatan Iblis (Ef 6:12) yang mengaum siap menerkam kita,  karena itulah kita mesti selalu waspada (1 Pet 5:8). Iblis bersiasat untuk cepat menghancurkan gereja dan pelayanannya, maka mereka menyerang para pemimpinnya. Karena itu para pemimpin pelayanan mesti terus waspada terhadap godaan Iblis dengan memegang teguh integritas dan akuntabilitas di hadapan Tuhan maupun manusia. Kita yang menjadi anggota, dapat terus mendukung pemimpin kita dengan mendoakan mereka dan juga dengan bijaksana menyampaikan pendapat jika ada hal yang menyimpang terjadi. Dengan demikian baik para pemimpin dan anggota saling menjaga satu sama lain dan mengingat bahwa yang kita layani adalah Kristus.

@bagiterang.com/210228