Merenungkan Kado Natal

Dua minggu lalu, anak kami Aaron yang berusia 3 tahun menanyakan mengapa di rumah tidak ada pohon natal. Untuk memenuhi keinginan hatinya, kami mengambil kotak kardus berisikan pohon cemara yang tersimpan di dalam gudang. Lalu bersama-sama, kami merangkai pohon natal sampai berdiri tegak dan menghiasinya dengan berbagai ornamen natal. Si anak begitu senang melihat pohon natal sudah jadi dengan lampu yang berkelap kelip. Namun beberapa saat kemudian, ia terlihat sedih karena ia tidak melihat ada bungkusan kado di bawah pohon natal itu, seperti yang ia lihat di tv. Sejak itu ia selalu memohon agar kami  membeli Christmas gift (kado natal) untuk diletak di bawah pohon natal itu.

Permohonan lugu dari anak  kami tersebut membuat saya merenungkan tentang apakah kado natal yang terbaik? Saat bulan Desember tiba, kita melihat nuansa natal dengan berbagai pernak-pernik, musik, termasuk komersialisasinya hadir di berbagai tempat di seluruh dunia. Bahkan banyak orang dengan latar belakang non-Kristen juga ikut merayakan natal. Orang merencanakan banyak hal dalam merayakan natal: cuti dari kantor untuk liburan ke tempat wisata, pulang kampung bertemu keluarga asal, merayakan bersama teman dan bertukar kado natal, dan lainnya. Tentu itu hal yang baik saat kita menikmati kebersamaan bersama orang yang kita kasihi.

Namun sebagai orang percaya, kita mesti mengingat bahwa natal adalah tentang Yesus. Mungkin banyak orang tahunya cerita natal adalah tentang kelahiran seorang bayi, tetapi sesungguhnya di balik semua itu adalah tentang kematian.  Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia menghadapi kutukan  dosa: kematian dan hukuman kekal. Yesus adalah Tuhan yang mengambil rupa manusia, lahir ke dunia ini untuk memenuhi janji keselamatan yang Tuhan pernah janjikan (Kej 3:15). Yesus yang tiada berdosa itu menyerahkan diriNya di salibkan sebagai ganti hukuman dosa manusia, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya tidak mengalami kematian kekal melainkan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal bersama Kristus (Yoh 3:16). Ini adalah karunia yang luar biasa dan kado natal terbesar yang Allah berikan kepada kita.

Setelah kita menerima anugerah kado natal itu, maka kita juga mau mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Mungkin kita tidak mesti seperti orang Majus yang membawa semua perhiasan mahal kepada bayi Yesus, tetapi kita bisa mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan untuk menjadi saksiNya dalam  menceritakan kado natal yang Yesus berikan bagi dunia ini. Jika kitapun ingin berbagi rezeki dengan orang lain dalam bentuk bingkisan natal, maka kita akan lebih bersukacita  dalam membungkus kado natal itu dan  membagikannya karena kita tahu bahwa kita telah menerima kado natal yang kekal dari Kristus. Selamat Natal..!

~BT211219