Hidup Bukanlah Kesia-siaan

Rasanya mencari kebahagiaan adalah tujuan hidup bagi banyak orang. Kita sibuk bekerja, mengejar karir, investasi sana sini, dan memperoleh hasil yang gemilang baik berupa materi maupun kesuksesan lainnya. Namun ada banyak orang yang menyadari di pengujung hidupnya bahwa semua pencapaian gemilang itu tidak dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian batin. Di sisi lain, ada banyak orang yang merasa gagal dalam menggapai apa yang bisa membuat mereka bahagia. Akibatnya, kita bisa saja melihat hidup ini hanyalah kesulitan, masalah, dan penderitaan.  Jika kita hanya fokus kepada masalah hidup sendiri, kita bisa mengalami depresi, kehilangan akal sehat dan merasa tak ada alasan lagi untuk hidup. Lalu ketika kita mengalami salah satu dari kegemilangan atau kegagalan dalam hidup, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita mesti membenci hidup kita? Tentu tidak. 

Raja Salomo dalam Kitab Pengkhotbah memiliki pergulatan yang sama di pengujung hidupnya. Padahal sepanjang hidupnya, ia memiliki segala apa yang kita idamkan di zaman modern ini: kekayaan, kekuasaan, kesenangan, dan kebijaksanaan yang tiada tanding. Apa lagi sih yang kurang dalam hidupnya? Namun ia menyadari bahwa semua pencapaian dan kegemilangannya itu adalah sia-sia.  Ia telah menyaksikan bahwa apapun yang dikerjakan di bawah matahari ini adalah sia-sia (Pkh 1:14). Sepertinya Salomo begitu pesimis dengan hidup ini. Namun ia tahu bahwa di dalam Tuhanlah, manusia bisa menikmati hidupnya (Pkh 2:25; 12:13).

Salomo mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini singkat waktunya, kematian itu suatu yang pasti datang, kehampaan dan kesia-siaan tanpa Tuhan. Kita sudah belajar bahwa dosalah  yang membawa kesia-siaan dan kejahatan dalam kehidupan manusia. Kristus yang adalah Allah itu hadir ke dunia ini untuk menebus kesia-siaan hidup kita dan menjadikan kita ciptaan baru. Hidup kita jadi punya arti karena Kristus!  Jika kita sekarang masih hidup di dunia ini, itu karena anugerah Allah. Ia memiliki rencana yang baik buat kita asalkan kita mau hidup di dalam Tuhan.

Tujuan hidup orang percaya  bukanlah mencari kesenangan dunia ini, mengumpulkan banyak harta, popularitas,  atau bukan lari dari kesulitan dan penderitaan hidup. Kebahagiaan dan sukacita hidup kita berasal dari mengenal Allah, menjalani hidup bersama dengan Allah, dan menjadi terang di tengah dunia yang gelap ini. Praktisnya, kita selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita termasuk tentang cara hidup, keluarga, pekerjaan, bisnis, pelayanan, dan hal yang lainnya. Segala sesuatu dalam hidup kita tidak akan sia-sia jika apa yang kita pikirkan dan kerjakan melibatkan Tuhan dan membawa hubungan kita lebih dekat dengan Tuhan.

~BT20220522