“POSITIVE THINKING” YANG NEGATIF

Kita sering mendengar ungkapan seperti ini bukan? “hati-hati dengan perkataanmu, sebab ucapan adalah doa,” “awas lho kata-katamu punya kuasa berkat atau kuasa kutuk.” Seolah-olah kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan dan kuasa spiritual yang dapat berdampak dalam hidup kita. Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh ajaran “New Age Movement” tentang “positive thinking.” Pandangan ini mengajarkan adanya aura berkaitan dengan pikiran dan perkataan kita. Apa yang kita pikirkan dan fokuskan dapat membawa energi ke dalam otak kita dan itu dapat mengubah situasi hidup kita. Kalau kita berpikir positif dan berkata-kata yang optimis maka kita akan menarik energi positif yang membawa hasil yang baik, dan juga sebaliknya. Ada banyak seminar, buku, pelatihan motivasi dan meditasi (yoga) untuk membangkitkan kekuatan berpikir positif manusia.
Ajaran “positif thinking” sudah banyak merambat kepada ajaran gereja, dan sulit dibedakan karena prakteknya pikiran positif itu dibungkus di “dalam nama Yesus”. Kita diajarkan untuk berpikir positif, mengatakan hal-hal rohani, mengklaim berkat Tuhan, dan jika cukup beriman maka harapan dan keinginan kita akan menjadi kenyataan. Tentu harapannya adalah secara fisik kita sehat, secara materi kita kaya, dan secara pribadi kita bahagia. Mereka menyalahgunakan ayat: Apa saja yang kamu minta dan doakan, ..hal itu akan diberikan padamu (Mar 11:24). Iman dianggap sebagai tombol untuk mengontrol Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan. Seolah Tuhan itu adalah jin dalam botol yang jika kita bacakan mantra (doa) maka ia akan memenuhi permohonan kita. Kalau anda punya iman yang cukup, seharusnya hal buruk dan kesulitan tidak terjadi padamu dan anda akan sejahtera. Supaya banyak jemaat datang ke gereja, maka pendeta mesti mengajarkan hal-hak positif yang membangkitkan gairah, semangat yang berapi-api dan memotivasi jemaat untuk mengejar impian dan keinginannya, dan mesti menghindari berbicara hal negatif misalnya dosa, neraka, dan penderitaan. Apa yang akan membuat jemaat betah (dan memberikan uangnya) di dalam gereja, maka ajarkan apa yang mereka mau dengar di telinga mereka.
Pikiran dan perkataan kita tidak memiliki daya magis atau spiritual, namun kata-kata (firman) Tuhanlah yang memiliki kuasa apapun yang Tuhan mau. Manusia tidak memiliki kontrol atas apapun dalam realitas hidupnya. Berkat kita tidaklah bergantung kepada pikiran atau perkataan positif kita, tetapi bergantung pada kehendak dan waktunya Tuhan. Alkitab tidak pernah mengajarkan mengikut Yesus adalah hidup yang penuh dengan kelimpahan, kesehatan, kemakmuran. Yesus adalah model terbaik orang Kristen! Meskipun Ia memiliki segala kuasa dan kekayaan, Ia tidak hidup dalam kelimpahan dan kemakmuran, bahkan sebaliknya Ia hidup penuh rintangan, menderita, bahkan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita orang berdosa. Jika kita membaca pahlawan iman dalam Ibrani 11, mereka dipuji karena imannya, bukan karena kuasa dari pikiran atau perkatan positif mereka.
Mari memikirkan Firman Tuhan dengan benar, mengungkapkan cinta kasih dan ketundukan kita kepada Allah. Kita mempercayai semua kebijaksanaan dan kebaikan Allah terlepas apapun jawaban doa dan situasi hidup kita.
~BT20230806