Mengatasi Sifat Materialistis

Salah satu tantangan orang Kristen untuk hidup berkenan kepada Allah adalah sifat materialistis yang banyak menggoda kehidupan kita. Materialistis merupakan sikap mental yang menganggap harta, kemewahan, dan kenikmatan yang kita miliki bisa memberi kebahagian dan kesejahteraan hidup. Materialistis bukanlah hanya terjadi pada orang kaya, tetapi bisa juga pada orang miskin. Orang kaya: semakin banyak yang ia punya, semakin banyak ketidakpuasan. Orang miskin: merasa hidup tidak adil karena mereka punya sedikit dibandingkan orang lain. Mengapa orang selalu ingin lagi dan lagi dalam mengejar uang dan harta? Bisa saja karena kita terpengaruh oleh konsep yang salah tentang kebahagiaan. (1) banyak harta akan membuat saya bahagia dan tenang karena semua bisa saya beli. (2) kekayaan membuat  saya lebih eksis dan diakui orang. Apalagi di zaman media sosial sekarang:  ukuran kehidupan dan status sosial kita dilihat dari materi: berapa banyak uang yang kita punya, harta apa yang kita miliki,  jabatan dan posisi apa yang kita pegang. 

Alkitab tidaklah melarang kita untuk memiliki harta kekayaan atau keinginan kita untuk menikmati hidup dari hasil kerja keras kita. Tentu harta adalah salah satu bentuk berkat dari Tuhan kepada kita (Ula. 28:8). Namun Yesus pernah mengingatkan kekayaan yang berlimpah  akan menyulitkan kita untuk mengikut Tuhan. Ia memberi perumpamaan yang agak ekstrim: Akan lebih gampang unta lewat lubang jarum, daripada orang kaya masuk surga (Luk 18:25). Ada dua dampak buruk dari sikap materialistis yang kita punya: (1) mencintai materi daripada Tuhan.  Segala sesuatu yang menjadi idaman, keinginan, dan keterikatan batin kita melebihi kasih kita kepada Tuhan adalah dosa. (2) terpengaruh oleh tipu daya kekayaan. Kita berpikir bahwa kepuasan batin, kebahagiaan hidup, dan ketenangan jiwa akan kita peroleh jika kita memiliki harta kekayaan yang berlimpah. Sifat materialistis yang ingin memperoleh lebih banyak lagi dan tidak pernah merasa cukup akan membuat semua pikiran, tenaga, dan waktu kita terpusat pada bagaimana menghasilkan uang dan membeli harta yang banyak.  Karena mengejar kekayaan itu, kita seringkali menempuh segala cara tak peduli halal-haram yang penting kita bisa dapat uang. Selain itu kita sering mengorbankan banyak hal yang lebih penting dari kekayaan, misalnya: keluarga, hubungan dengan Tuhan. Akibatnya, kita menjadi lelah secara emosional dan mengalami kekosongan spiritualitas. 

Sebenarnya, kalau materi bisa memberi kebahagiaan, pastilah raja yang paling kaya itu, Salomo sudah menceritakannya kepada kita. Sebaliknya ia mengatakan: Siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Semua yang ada di kolong langit ini adalah sia-sia (Pkh. 2:11). Justru Salomo menemukan kunci kebahagiaan: takutkah akan Tuhan dan peganglah perintahNya (Pkh.12:13). Untuk mengatasi sifat materialistis dalam diri kita:  (1) sandarkan hidupmu kepada Tuhan karena Ia yang memelihara hidupmu; (2)  kembangkan rasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Alkitab mengatakan adalah suatu keuntungan bagi kita jika kita bisa merasa cukup. (1 Tim. 6:6);  (3)  mau berbagi dan memberi.

Yesus meminta kita untuk menjaga hati kita dari sifat materialistis, bahwa hidup dan kebahagiaan kita tidaklah bergantung pada kekayaan (Luk 12:15).  Uang, harta dan kekayaan  bisa berkurang dan hilang dalam sekejap. Karena itu janganlah menaruhkan hati dan kebahagiaan kita pada sesuatu yang sementara dan bisa lenyap, namun seharusnya kepada yang bersifat kekal. Hanya Kristus yang pasti,  tidak pernah hilang, dan kekal. Harta orang Kristen yang benar adalah Kristus! Di mana hartamu berada, disitulah hatimu berada!

~BT20230903