BERINVESTASI DENGAN HIKMAT

Sekarang ini ada begitu banyak promosi, tawaran, dan ajakan untuk menginvestasikan uang kita, mulai dari wujudnya yang terlihat sampai kepada yang tak telihat alias virtual. Banyaknya testimoni dari orang-orang yang sukses dalam berbagai investasi tersebut kadang membuat kita termotivasi untuk segera ikut berkecimpung. Namun, tak dapat dipungkiri juga bahwa lebih banyak orang yang mengalami kerugian dan kehilangan uang dalam tempo singkat  hanya karena mengejar kekayaan dengan cara instan atau berinvestasi di jalur yang salah. 

Berinvestasi adalah kegiatan menanamkan uang, aset, atau modal kepada pihak lain dengan harapan akan mendapat nilai lebih dan keuntungan di masa depan. Jenis investasi apapun, tentu semua ada resikonya. Dalam dunia yang penuh dosa dan tidak pasti ini, banyak hal di luar kendali kita. Uang yang kita investasikan di perusahaan, bisa jadi perusahaan itu merugi dan bangkrut. Bahkan, uang yang kita simpan di bawah bantalpun, bisa hilang karena ada pencuri. Oleh karena itu, mengelola keuangan termasuk investasi memerlukan hikmat Ilahi. 

Yang menarik, Alkitab sebenarnya mendorong kita untuk berinvestasi daripada menyimpan uang di bawah kasur. Dalam perumpamaan talenta  (Mat.25)  dan perumpamaan uang mina (Luk.19), Yesus memuji hamba  pertama dan kedua yang sukses melipatgandakan modal awal yang diberikan. Sebaliknya, Yesus mengkritik hamba ketiga yang tidak melipatgandakan modal, malah mengubur uangnya di tanah dan sapu tangan. Perumpamaan itu mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang setia dan bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas yang Tuhan berikan,  dengan menggunakan semua berkat yang Tuhan berikan dan melipatgandakannya untuk kemuliaan Tuhan.

Berinvestasi adalah salah satu cara kita melipatgandakan berkat Tuhan untuk mendukung kehidupan kita sekarang dan masa depan. Ada beberapa pedoman berinvestasi yang kita bisa kita jalankan berdasarkan Alkitab. (1) Sadar akan kemampuan kita dalam berinvestasi dengan memakai dana di luar kebutuhan utama kita.  Kita juga mesti mengerti benar produk atau tempat kita berinvestasi dengan segala resikonya. (2) berinvestasi dalam bisnis atau perusahaan yang memiliki nilai moralitas yang sama dengan Kekristenan.  Kita dapat berinvestasi pada perusahaan yang berdampak positif bagi banyak orang khususnya Kerajaan Allah.  Hendaknya kita menghindari berinvestasi kepada hal yang jahat dan merusak kehidupan manusia (bdk Ula. 23:18). Contohnya perusahaan judi dan kasino, alkohol, industri sex,  tembakau, senjata, dll.  (3) Bukan investasi spekulasi yang menawarkan “profit” kaya mendadak ataupun investasi yang mengutamakan faktor “lucky” (keberuntungan). Kita juga mesti menghindari skema investasi: “Zero-Sum Game” di mana selisih keuntungan dan kerugian adalah nol. Keuntungan yang kita dapatkan berasal dari kerugian orang lain. Kita tentunya tidak ingin bergembira di atas penderitaan orang lain, bukan? Ini akan menjebak kita kepada mentalitas “hasrat cepat kaya” tanpa kerja keras, cinta uang dan membawa ekses kepada dosa (1 Tim 6:9-10).

Apapun jenis investasi yang ingin kita lakukan, prinsip Alkitab tetap berlaku. Investasi bagi orang Kristen tidaklah melulu soal melipatgandakan uang, namun bagaimana kita memuliakan Tuhan yang sebenarnya adalah pemilik dari semua kekayaan kita. Berinvestasi adalah baik adanya selama kita menjalankannya bersama Tuhan demi masa depan kita, anak-anak kita, maupun berkat bagi sesama. Teruslah berkomunikasi dengan Tuhan supaya kita berhikmat dalam mengelola investasi kita

~BT20220306.