Mewaspadai Scam Rohani di Media Sosial

Belakangan ini ribuan postingan di media sosial khususnya facebook yang menargetkan, menarik emosional (perasaan) orang Kristen untuk meresponnya. Ada yang memakai gambar rohani, orang yang sakit, orang kelaparan, dan lainnya dan diberikan narasi tertentu untuk menarik simpati kita. Para pembuat postingan itu memahami betul kalau postingan berbau “rohani” maka kita akan susah untuk menolak dan mengabaikannya. Kita terdorong merespon postingan itu karena mungkin berharap berkat dan menolak mengabaikan postingan karena takut akan kutukan. Namun mohon maaf, hampir semua postingan tersebut adalah scam atau clickbait yang sering disebut “Like-Farming.”
Singkatnya like-farming adalah proses pengumpulan follower melalui postingan atau konten yang berisikan berita atau informasi palsu untuk menggugah simpati kita lalu membujuk kita untuk memberikan respon “like”, “share,” atau mengetik kata rohani seperti seperti: “Amen”, “Haleluyah,” Puji Tuhan”, dan lainnya. Begitu mendapatkan respon dari pembaca dan penonton maka follower bertambah dan algoritma facebooknya berubah menjadi terkenal dan viral, yang pada akhirnya dipergunakan untuk keuntungan pribadi pemilik postingan seperti membobol data pribadi dan keuangan. Yakinlah orang-orang itu (para scammer) sebetulnya tidak peduli dengan kerohanian kita, yang mereka peduli adalah bagaimana mendapat keuntungan dari kita.
Sayangnya banyak orang Kristen sering mengabaikan akal budi dan hikmatnya dalam menggunakan media sosial, termasuk dalam menjawab postingan scam “rohani.” Padahal Alkitab mengajarkan kita untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16), dan menguji segala sesuatunya seperti orang Berea (Kis. 17:11). Beberapa hal yang bisa kita uji: (1) Apakah kita sudah mencari fakta dan kebenaran isi postingan itu? Kalau kita tidak yakin maka sebaiknya kita mengabaikannya saja. Jika kita men-share, me-like, dan menjawab postingan itu maka kita sudah turut menyebarkan kebohongan dan membantu secara tidak langsung para scammer dalam melakukan kejahatannya.
(2) Apakah ada bujukan, janji manis berkat, kesembuhan jika kita merespon dengan kata amin atau sejenisnya? Ingatlah Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup kita yang mudah sim-salabim untuk mendapat berkat atau kesembuhan seperti yang banyak diajarkan dalam Teologi Kemakmuran. Malahan Tuhan menjawab penderitaan hidup Rasul Paulus: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (1 Kor. 12:9-10). Sabarlah dalam penderitaan, bertekunlah dalam doa (Rom. 12:12). Melalui penderitaan sekalipun, kita tetap bisa memuliakan Tuhan.
(3) Apakah ada paksaan, ketakutan, dan ancaman jika kita mengabaikannya? Jangan takut, kita sudah ditebus oleh Kristus maka orang Kristen tidak akan kena kutuk (Rom 8:1). Percayalah tidak akan ada terjadi apa-apa dalam hidup kita, tidak akan ada kesialan atau kutukan jika kita mengabaikan postingan scam “rohani” tersebut.
Sebelum kita memposting atau merespon apapun di dalam media sosial, ada baiknya kita menarik napas sejenak, merenungkan apakah yang akan kita posting itu benar, baik, dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. (Kol. 3:23).
~BT20230122