MEMBANGUN IMAN YANG BENAR
Setiap orang memiliki keyakinan atau “iman” dalam mempercayai sesuatu atau seseorang. Iman itu diperlukan untuk diyakini karena banyak hal dalam hidup yang belum pasti, tidak bisa terlihat, tidak diketahui atau dirasakan. Kalau sesuatu yang sudah pasti dan terlihat, orang tak perlu lagi membutuhkan iman. Keyakinan itu bisa dilatarbelakangi oleh nilai leluhur, agama, ilmu pengetahuan, dan logika. Bisa saja orang beriman kepada kejeniusan manusia, benda keramat, atau kekuatan supranatural di luar diri manusia. Dalam dunia yang serba relatif ini, kita mungkin memahami iman seperti es krim: kita memilih apa yang kita suka, bukan apa yang benar. Seringkali iman didasarkan pada apa yang menjadi keinginan pribadi kita, meminta Tuhan untuk memberkati kita, mendatangkan kesejahteraan, dan mewujudkan mimpi kita. Banyak orang berprinsip bahwa iman adalah mempercayai hal yang tidak mungkin atau tidak bisa dipercaya. Bagaimana iman yang benar menurut Alkitab?
Menurut Ibrani 11:1, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman yang benar itu memiliki dasar dan bukti yang kuat, bukan sekedar keinginan atau angan-angan. Dasar iman kita adalah janji Allah kepada kita yang berharap kepadanya. Janji Allah utama dalam hidup kita adalah pengampunan dosa, penyertaan Tuhan, dan hidup yang kekal. Iman mempunyai kepastian dan bukti yang kita percayai dengan apa yang Allah telah kerjakan di dalam dunia ini. Bukti itu begitu banyak dan luar biasa. Contohnya: Allah menciptakan dunia ini, Dia melakukan berbagai mukjizat yang kadang bertentangan dengan hukum alam, Diapun sanggup mengubah apa yang kelihatan buruk menjadi sesuatu yang baik bagi manusia. Meski kita tidak melihatnya namun kita percaya bahwa seluruh narasi Alkitab adalah benar dan nyata. Jika pikiran kita tidak mempercayai apa yang tertulis dalam Alkitab maka kita tidak memiliki iman yang benar.
Dari mana datangnya iman? “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus,” (Roma 10:17). Kita mesti mendengar Firman, lalu Firman itu akan menimbulkan kepercayaan yaitu iman dalam hati. Telinga mendengar, hati percaya. Oleh karena itulah iman yang benar mesti dibangun oleh pengenalan dan hubungan yang erat antara kita dengan Allah. Orang yang benar beriman adalah orang yang memiliki waktu pribadi dengan Tuhan baik dalam doa maupun perenungan Firman Tuhan. Ingatlah iman orang Kristen berpusat pada Allah, kita mempercayai janji Allah meskipun keadaan kita terlihat sulit. Allah peduli akan hidup kita.
@BT20230312