Berhikmat dalam Mendukung Pilpres

Adalah hal yang patut kita syukuri bahwa kita hidup di negeri demokrasi yang melibatkan partisipasi rakyatnya dalam memilih pemimpinnya yaitu presiden. Ikut dalam pemilu adalah hak istimewa bagi kita untuk ikut membentuk pemerintahan di mana Allah perintahkan kita untuk tunduk kepadanya (1 Pet. 2:13). Dalam pemilu tentu ada kontestasi kandidat yang akan memberi tantangan bagi kita untuk mempertimbangkan calon pemimpin yang akan kita pilih.

Alkitab mengatakan bahwa jika kita kekurangan hikmat (termasuk dalam memilih pemimpin), hendaklah kita meminta hikmat dari Allah dan Ia akan memberikannya kepada kita (Yak. 1:5). Sama seperti hal lainnya dalam memutuskan segala sesuatu, Allah menuntun kita kepada hikmat melalui FirmanNya (Alkitab), Roh Kudus (keyakinan kita dalam berdoa), dan gerejaNya (nasihat orang percaya lainnya). Meskipun demikian, tidak berarti bahwa semua orang percaya akan memilih kandidat yang sama. Banyak faktor yang mempengaruhi pertimbangan kita untuk memilih pemimpin.  Perbedaan budaya, motivasi, pengalaman maupun kepentingan di antara kita dapat mempengaruhi keputusan untuk memilih kandidat tertentu. Pengaruh dosa dalam kehidupan kita termasuk dalam dunia politik bisa menimbulkan perbedaan persepsi dan menghalangi kita untuk merasakan pimpinan Tuhan.  Kita semua bisa sepakat untuk beriman kepada Yesus, tetapi kita tidak mungkin selalu sepakat dalam  segala isu kehidupan lainnya termasuk dalam pemilu. Itu memang bawaan alamiah kita sebagai manusia.

Tuhan bukanlah partisan politik namun dengan kemahakuasaanNya, Ia telah menetapkan pemimpin suatu negeri (Rom. 13:1). Rakyat adalah instrumen alamiah dalam menggenapi keputusan Allah. Hal ini tidak mudah untuk kita mengerti karena keberadaan, kuasa dan rencana Allah di luar pemahaman kita. Siapakah yang dapat mengetahui pikiran dan rancangan Allah? (Yes 55:8-9). Yang pasti Tuhan dapat memakai  cara manusia (termasuk sistem demokrasi)  untuk menggenapi rencanaNya itu. Ini tidak berarti bahwa kita tidak peduli akan pilihan kita dan sembarangan saja  memilih calon pemimpin. Kita tetap memiliki tanggung jawab untuk memilih calon pemimpin yang memiliki standar yang baik misalnya kompetensi, moralitas, sejarah hidup, maupun visi dan misi ke depan.

Namun jika kandidat yang tidak kita dukung menjadi pemenang atau bahkan yang terpilih adalah kandidat yang kelihatannya buruk, kita tidak perlu panik dan takut. Suka tidak suka kepada presiden yang terpilih nantinya, kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah menempatkan dia dalam posisi itu dan kita diminta untuk mendoakan pemimpin kita (1 Tim. 2:1-2). Allah tetap berdaulat dan Ia akan tetap pegang kendali terhadap apapun hasil pemilu.  Ia sanggup mengubah apa yang awalnya kelihatan buruk untuk menjadi kemuliaan namaNya dan kebaikan umatNya. Orang percaya bertumbuh imannya dan berkembang pesat di abad pertama di bawah pemerintahan Kaisar Nero yang zalim. Ironisnya, di abad modern dengan kebebasan demokrasi dan pemimpin yang baik, malah banyak orang Kristen meninggalkan gereja.

Kita mungkin saja berbeda pandangan dalam memilih calon pemimpin negeri ini. Meski demikian, marilah kita saling menghormati dengan prinsip kasih yang utama. Ingatlah keselamatan dan sukacita kita tidaklah bersumber dari pemimpin negeri melainkan dari Tuhan yang berdaulat atas alam semesta ini. Presiden silih berganti, datang dan pergi, tetapi pemerintahan Allah tetap selama-lamanya. 

`~BT20231105