Dari birthday menuju deathday

Happy Birthday..! Kebanyakan orang bersukacita saat ulang tahun tiba dan merayakan dengan tiup lilin, makan cake, dan mendapatkan hadiah. Itu tidak salah dan baik selama perayaan itu berfokus kepada rasa syukur terhadap sang pemberi hidup kita.  Beberapa lainnya melalui birthday dengan kesedihan dan airmata karena kedukaan atau karena menghadapi krisis di tengah kehidupan. Saya tentu bersyukur berulang tahun namun hari-hari ini saya juga berduka mendengar beberapa teman telah dipanggil pulang oleh Tuhan dan di antaranya akibat Covid-19. Sungguh berat merayakan birthday dan di saat yang sama berduka untuk kematian (deathday). Rasanya hidup ini begitu sebentar, seperti rumput di pagi hari berbunga, dan di malam hari layu dan gugur.. 

Dalam buku harian Raja Salomo, raja yang memiliki hikmat dan kebijaksanaan yang melebihi kita semua, ia menuliskan bahwa hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran; lebih baik pergi ke rumah duka daripada menghadiri pesta (Pengkhotbah 7:1-2).   Ini dua even yang sangat kontras. Di satu even, hari kelahiran dipenuhi oleh kegembiraan dan pesta  dalam merayakan kehadiran seorang bayi. Sementara di even lainnya di hari kematian, saat kita ditinggalkan oleh orang terkasih, yang ada adalah tangis dan kesedihan. Bagaimana mungkin hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran? Bagaimana bisa menghadiri pemakaman lebih baik daripada menghadiri pesta?

Hari lahir kita adalah permulaan hidup kita di dunia ini. Kita memiliki  1001 pilihan dan punya kehendak bebas dalam kehidupan ini. Yang pasti bagaimana kita menghabiskan waktu hidup kita di dunia ini akan menentukan arah tujuan kita saat kematian.  Sebab dalam kematian kita hanya punya dua pilihan kekekalan: hidup bersama Kristus atau dihukum bersama Iblis.

Ini tidaklah berarti kita tidak boleh bergembira dan berpesta dalam beberapa momen hidup kita ini. Bahkan Tuhan Yesus ikut bergembira dalam menghadiri pesta. Hal positifnya, perayaan ulang tahun bisa menjadi momen untuk merenungkan perjalanan hidup kita. Sebagai  musafir, kita hidup sementara dan memiliki limit waktu di dunia ini,  bahkan Metusalah sebagai orang yang tertua yang pernah hidup, tidak melewati usia 970 tahun! Karena itulah  kita mesti mempersiapkan diri untuk menghadapi momen yang tak terelakkan itu yaitu hari kematian kita yang bisa datang kapan saja.

Dengan mengingat kematian, sesungguhnya kita akan lebih banyak belajar tentang kehidupan ini. Pergi ke tempat duka mengajarkan: bahwa ada kesudahannya bagi kita semua, karena itu kita mesti lebih bijaksana dalam hidup dan mempersiapkan hari kematian kita. Ingatlah bagi kita yang sungguh hidup dalam Kristus bahwa di hari kematian kita, kita akan hidup kekal bersama Kristus di surga.

Kita bersyukur bisa berulang tahun. Tak ada satupun kita yang tahu akan hari esok. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak lagi sisa waktu kita di dunia ini. Jika kita masih hidup hari ini,  maka itu untuk kemuliaan Tuhan.. Life is all about Him, not about me!

@bagiterang.com/210626