KARUNIA BAHASA ROH

Di dalam perkembangan gereja masa kini, pembahasan tentang bahasa roh menjadi salah satu topik yang selalu hangat. Karunia bahasa roh adalah kemampuan berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari oleh penuturnya namun dapat dimengerti oleh pendengarnya. Berasal dari bahasa Yunani “glossolalia,” yang artinya menuturkan bahasa tertentu (bahasa yang dikenal). Ini adalah  karunia yang  diberikan oleh Roh Kudus untuk memberitakan injil ataupun membangun jemaat, dan bukan karena usaha kita dalam meniru dan berlatih. Dari beberapa kejadian bahasa roh di Alkitab, ada dua kategori: (1) bahasa asing bagi penutur, dikenal dan dimengerti pendengarnya; (2) bahasa asing bagi penutur dan pendengarnya, bisa jadi bahasa ketiga sehingga diperlukan penterjemah. Atau ucapan komat kamit yang tidak ada padanan dengan bahasa apapun di dunia ini. 

Kategori pertama adalah kejadian berbahasa roh di hari Pentakosta setelah Kristus naik ke surga (Kis. 2:1-4). Dalam perkumpulan orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai bahasa nasionalnya, murid-murid Yesus yang tidak pernah kursus bahasa asing itu, dengan kuasa Roh Kudus dapat berbicara berbagai bahasa asing supaya pengajaran tentang kabar keselamatan itu  dapat dimengerti oleh orang-orang asing keturunan Yahudi itu. Dan lihatlah hasil dari pekerjaan Roh Kudus itu, ada 3.000 jiwa baru yang percaya Yesus dan dibaptis!

Kategori kedua bahasa roh adalah yang terjadi di jemaat Korintus. Mereka adalah orang baru percaya, masih bayi dalam iman (1 Kor. 3:1), masih bergumul dalam perselisihan, berhala, dan percabulan.  Paulus melihat jemaat Korintus tidak bertumbuh dalam kasih, malah berdebat soal karunia Roh dan menimbulkan perpecahan.  Dalam 1 Kor. 12-14 Rasul Paulus menegur jemaat tentang penggunaan bahasa roh yang tidak benar dan bahkan ada anggapan bahasa roh adalah karunia Roh terbesar.  Ini juga fenomena yang terjadi di masa sekarang, bukan?  Paulus menyatakan bahasa roh akan bernilai jika orang lain mengerti apa yang kita ucapkan, lebih baik  jika itu diterjemahkan. Jika tidak ada menterjemahkan, lebih baik orang tersebut berbahasa roh secara pribadi kepada Tuhan dalam hati.  Ia bahkan menyatakan dalam persekutuan lebih baik mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti dan membangun daripada ribuan kata bahasa roh. (14:19). Sebab dalam persekutuan, Allah tidak menginginkan kebingungan dan kekacauan, tetapi damai sejahtera. Paulus juga menyatakan bahwa kasih tidak berkesudahan, bahasa roh, dan nubuatan akan berakhir (1 Kor. 13:8). Kasih Allah pada kita bersifat kekal. Mestinya, bagaimana kita mengasihi Allah dan orang lain menjadi tolok ukur pertumbuhan iman kita.

Bahasa roh bukanlah tanda wajib bagi orang Kristen pada saat dibaptis (mengaku percaya). Alkitab menyatakan bahwa setiap orang Kristen otomatis menerima Roh Kudus pada saat ia menerima dan percaya pada Kristus (Kis. 2:38; Gal. 3:2), karena ia dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bahasa roh juga bukan tanda “dipenuhi Roh Kudus”. Tiga hal tanda dipenuhi Roh Kudus: memuji Tuhan, mengucap syukur, rendah hati (Efe. 5:18-21). Tidak ada disebutkan bahasa roh. 

Kita tentu percaya bahwa Tuhan masih terus menunjukkan kuasaNya sepanjang zaman karena dunia ini adalah milikNya. Ia masih melakukan mukjizat termasuk menyembuhkan,, menampakkan diriNya dalam mimpi dan penglihatan, memampukan kita berbahasa roh, dan mukjizat lainnya. Tentu semuanya itu terjadi berdasarkan kehendakNya, waktuNya, dan untuk kemuliaan namaNya. Ada baiknya kita waspada dan selalu menguji segala sesuatunya berdasarkan Firman Tuhan karena Iblispun bisa dan sering meniru apapun yang Allah kerjakan untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. ~BT220605