Merohanikan Kegagalan

Kita terbiasa menghargai   orang lain yang berhasil, sukses, populer, punya jabatan, dan banyak uang. Slogan rohani seperti: “kita adalah pemenang”, “kita adalah kepala bukan ekor”, “bersama Tuhan kita raih kesuksesan” jamak kita dengar seolah menjadi ajaran bahwa tidak ada kegagalan, kekalahan, keterpurukan bagi orang Kristen. Namun realitanya: manusia tidak kebal dari kegagalan, bisa terjadi dan bagian dari hidup kita.  Bagi orang Kristen ada dua jenis kegagalan yang berbeda: Pertama, kegagalan dalam menaati Firman Tuhan dan berdosa. Kedua, kegagalan yang tidak berkaitan dengan hal rohani  dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya orang punya bisnis lalu bangkrut, orang yang salah dalam berinvestasi dan membawa kerugian, orang kehilangan pekerjaan dan belum mendapatkan yang baru, murid yang tidak lulus ujian, atlet yang kalah dalam pertandingan, dsb.  

Orang Kristen yang taat dan bersungguh dalam imanpun bisa mengalami kegagalan. Kita bisa mengalami kegagalan dalam rencana, harapan, impian yang kita ingin raih. Kegagalan bisa saja diakibatkan oleh  karena pilihan dan keputusan kita, kesempatan yang tidak memihak kita, atau hal lain di luar kendali kita karena kita adalah manusia yang terbatas. Tentu kita tidak bisa meremehkan kegagalan tersebut karena kalau kita tidak menanganinya dengan baik akan berdampak buruk kepada kehidupan kita: kepahitan, kekecewaan, putus asa, depresi, dan meninggalkan Tuhan!

Saya  sedikit “radikal” berpikir  bahwa kehendak Tuhan dalam hidup kita bisa juga termasuk kegagalan. Tuhan mengizinkan kita mengalami kegagalan karena Ia  mau mengajarkan sesuatu kepada kita yang tak bisa kita pelajari melalui kesuksesan. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu (termasuk kegagalan) untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28).   Kegagalan bagi orang Kristen bukanlah untuk menghancurkannya tetapi mengembangkannya!  Kita mungkin mengalami kebangkrutan, kerugian, kekalahan, dan merasa gagal dalam banyak hal, tetapi jika kita merespon kegalalan itu dengan iman dan ketergantungan kepada Tuhan maka kegagalan itu bisa jadi menjadi bagian yang sukses di mata Tuhan. Kesuksesan sejati tidaklah dilihat dari kekayaan materi, jabatan, maupun popularitas namun dari sisi spiritualitas, mengenal Tuhan lebih dalam, dan itu membuat kita adalah pribadi yang sukses.

Kita mesti dapat menerima kegagalan yang terjadi dalam hidup kita  meski itu bukan yang kita harapkan.  Yang membesarkan hati kita adalah Tuhan menerima kita apa adanya termasuk jika kita gagal. Kasih karunia Allah jauh lebih besar dari semua dosa, kelemahan, dan kegagalan kita. Janji Tuhan kepada kita: tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasihNya, termasuk kegagalan kita dalam hidup ini. Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah: (1) Bersyukurlah di dalam setiap keadaaan (1 Tes 5:18). Itulah kehendak Tuhan. Mungkin berat untuk berterimakasih saat kegagalan dan keterpurukan terjadi, tetapi kita bisa bersyukur untuk berkat Tuhan yang lain, terutama untuk keselamatan jiwa kita yang kekal karena Kristus telah menebus kita! Hati yang gembira adalah obat kepada kepahitan; (2) belajar dari kegagalan. Kita dapat belajar mengembangkan karakter Kristus dari kegagalan itu, mungkin juga kita perlu menganalisa atau mengubah rencana di masa depan; (3) Jangan menyerah. Kegagalan semestinya tidak mengakhiri keberadaaan kita. Tetap berpengharapan dan berjuang bersama Tuhan di arena kehidupan ini.

~BT20211003