Teologi Utang Piutang

Sastrawan Inggris, William Shakespeare dalam drama Hamlet punya ungkapan yang terkenal: “Janganlah menjadi pemberi utang dan jangan pula menjadi pengutang. Karena menjadi pemberi utang, kamu bisa kecewa kehilangan uangmu dan teman. Kalau jadi pengutang, kamu menunjukan kelemahanmu dalam mengurus dirimu.” Seringkali ungkapan ini nyata dalam kehidupan kita, khususnya dalam masalah pinjam meminjam uang atau utang piutang. Utang sudah menjadi gaya hidup orang kekinian namun seringkali berdampak  buruk kepada diri sendiri dan orang lain. Artikel singkat ini membahas bagaimana pandangan Alkitab terhadap utang-piutang.

Firman Tuhan tidaklah melarang atau menganggap kita berdosa karena berutang. Namun Alkitab mendorong kita sebisa mungkin untuk menghindari utang (Rom. 13:8) karena motif dan dampak negatifnya. Kita seringkali mengabaikan Tuhan dalam mengelola keuangan kita. Mengejar keinginan materi  menjadi awal terjebaknya kita dalam utang. Kebutuhan pokok kita adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal tetapi seringkali kita menginginkan lebih dari itu semua.  Apa yang tadinya keinginan semata  menjadi kebutuhan utama yang harus dimiliki dan akhirnya  kita membelinya meski itu berutang!.  Tentunya, selama kita membelanjakan uang lebih daripada pendapatan kita, kita akan terus terjerat dengan utang. Berutang membuat kita kehilangan martabat dan kebebasan serta terikat kepada pemberi utang. Orang yang berutang menjadi budak dan ekor dari orang yang mengutangi yang menjadi kepala (Ams. 22:7; Ula. 28:44). Banyak orang tidak lagi sukacita dalam pelayanan oleh karena keterikatan dan jerat utang. Tentunya kontribusi keuangan kepada pelayanan pun bisa berkurang.  Selain itu, asumsi dalam berutang adalah utang kita belanjakan hari ini dan kita berjanji akan bayar di kemudian hari. Seolah-olah hari esok ada di tangan kita, padahal kita tidak pernah tahu akan hari esok (Ams. 27:1).  

Selama kita bisa mengelola keuangan dengan bijaksana,  jumlah nilai aset dan pendapatan bisa melunasi utang, maka dalam hal yang sangat mendesak dan perlu, kita boleh saja berutang. Kita mesti sadar jika kita berutang maka kita mesti punya perencanaan yang jelas dan sanggup membayar utang seperti yang kita janjikan. Ingatlah,  utang adalah uang yang dipinjamkan,  bukanlah hadiah atau jackpot. Uang itu dimiliki oleh pemberi utang, yang sementara saja dipinjamkan kepada kita, dan kita mesti mengembalikan uang itu pada waktunya. Alkitab sangat jelas menyatakan apa yang kita pinjam .mesti dikembalikan (Kel. 22:14), bayarlah utang (Roma 13:7). Jika kita tidak membayar utang maka kita adalah orang fasik atau jahat. (Maz. 37:21).  

Bagi kita pemberi utang (kreditur), tujuan utama kita meminjamkan uang adalah menjadi berkat dan menolong orang lain yang membutuhkan pinjaman, bukan untuk menagih bunga atau keuntungan. Alkitab melarang kita mengambil bunga pinjaman kepada saudara dan orang miskin  (Kel. 22:25; Ula. 23:19). Namun utang yang bertujuan kepada komersial (meraih keuntungan), kita bisa menerapkan bunga pinjaman untuk menutupi penurunan nilai uang karena inflasi dan berbagi keuntungan. Uang 100 ribu sekarang bisa membeli pizza, tetapi mungkin 5 tahun kemudian hanya bisa membeli kerupuk.  Tuhan Yesus bahkan memberikan ilustrasi tentang talenta yang mendorong kita untuk mendapatkan bunga dari investasi atau modal kita. (Mat 25:27). 

Tuhan Yesus sudah membebaskan kita dari perbudakan dosa melalui kematianNya di kayu salib. Tentunya Iapun menginginkan  kita lepas dari jeratan utang. Sebisa mungkin kita mesti menghindari meminjam uang dari orang lain. Ketika kita bebas dari utang maka hidup kita terasa lebih ringan, lebih bebas, dan tidur lebih nyenyak.  Selanjutnya kita pun bisa lebih bermurah hati  menjadi berkat bagi orang lain.

~BT20220910.