Kedaulatan Allah dan Kehendak Bebas Manusia

Banyak orang mempercayai bahwa hidupnya  sepenuhnya dikendalikan oleh takdir, keberuntungan, ataupun nasib. Takdir sering dianggap sebagai rangkaian peristiwa yang telah ditentukan sebelumnya oleh dewa atau Tuhan dan semuanya berada di luar kendali manusia. Kepercayaan pada takdir membuat  orang menjadi “pasrah” dan berpikiran bahwa “kita tidak dapat berbuat apapun untuk mengubah takdir” atau “apapun yang terjadi, terjadilah”. Itulah sebabnya banyak orang yang terjebak oleh kesalahan masa lalu, takut mengambil keputusan dalam hidupnya, takut akan masa depan yang gelap.

Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat dan manusia memiliki kehendak bebas. Kedaulatan Allah artinya Allah secara mutlak dan tak terbatas dalam mengendalikan dan mengarahkan segala sesuatu di alam semesta ini (Dan. 4:35).  Meskipun Allah berdaulat, Alkitab juga menegaskan manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab dalam menentukan tindakan atau jalannya sendiri (Ula. 30:19 ). Sejak awal umat manusia digambarkan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan. Ketika Allah menciptakan  Adam, Allah memberikan perintah kepadanya: Adam boleh makan buah dari setiap pohon di taman ini kecuali  pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, karena pada hari Adam memakannya, ia akan mati. Perintah ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kemampuan kepada Adam untuk memilih tindakannya dan ada tanggung jawab yang menyertainya.

Bagaimana  kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia bisa benar keduanya dan berjalan bersama  memang tidak mudah untuk dipahami. Terkadang orang mengambil salah satu dari dua ekstrem yang bertentangan dengan Alkitab. Di satu sisi, beberapa orang  menekankan kedaulatan Allah yang mengesampingkan pilihan manusia. Bagi mereka, manusia tidak lebih dari sekedar robot yang hanya melakukan apa yang telah diprogram secara kedaulatan Tuhan untuk mereka lakukan. Sementara di sisi ekstrim lainnya, sebagian orang menekankan kehendak bebas manusia yang sepenuhnya independen dari Allah dan menganggap Tuhan tidak memiliki kendali penuh dan pengetahuan atas segala sesuatu. 

Mustahil bagi kita untuk sepenuhnya memahami hubungan antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas serta tanggung jawab manusia.  Ini seperti dua sisi mata uang, yang harus berjalan bersama. Di satu sisi, Tuhan berdaulat sepenuhnya untuk membentuk dan mengarahkan kehendak manusia. Di sisi lain, manusia memiliki kehendak bebas dan sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka.  Kebebasan manusia terbatas dan manusia tidak berdaulat atas kehidupannya.  Hanya Allah yang berdaulat.

Alkitab tidak meminta kita untuk memilih antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Malah kita seharusnya merangkul keduanya. Allah adalah Raja yang berdaulat yang mengarahkan seluruh sejarah, namun Tuhan juga mengundang kita untuk membuat pilihan yang benar dalam mengikuti-Nya. Kebebasan sejati manusia  ditemukan bukan dalam melakukan apa pun yang kita inginkan, tetapi dalam menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah melalui kuasa Kristus.

~BT20260607

Israel Sejati Dalam Kristus

Setiap ada eskalasi konflik yang melibatkan Israel di Timur Tengah, orang Kristen kembali merenungkan hubungan antara Israel dan iman Kristen. Ini karena iman Kristen berasal dari Perjanjian Lama dan Baru yang narasinya dominan tentang orang Yahudi. Yesus adalah orang Yahudi, namun ironisnya mayoritas orang Yahudi tidak percaya kepada Yesus.

Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa di Taman Eden, Allah menjanjikan seorang Penebus yang akan datang ke dunia ini. Allah memilih bangsa yang akan melayani dan mempersiapkan datangnya sang Penebus itu.  Sekitar 2,000 tahun sebelum kedatangan Juruselamat, Allah datang kepada  Abraham dan membuat tiga janji kepada Abraham (Kej. 12:1-3, 13:15): (1) memberikan Abraham tanah untuk didiami; (2) menjadikan Abraham bangsa yang besar; (3) keturunannya akan memberkati semua orang

Allah telah memenuhi semua janji itu!  Itu memerlukan waktu hampir 2000 tahun untuk digenapi dan melalui berbagai dinamika hubungan putus sambung Allah dan umat pilihanNya yaitu keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub yang disebut Israel.  Sekitar tahun 1460 SM, bangsa  Israel kembali ke Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Jumlah mereka ada sekitar 2 juta orang. Itu adalah jumlah bangsa yang besar. Ini adalah pemenuhan janji pertama dan kedua Allah.

Ketika Yesus hadir ke dunia ini, Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi hukum taurat (Mat 5:17) dan  Ia adalah Mesias (Mar 14:62). Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga adalah karya penggenapan janji Tuhan yang ketiga  kepada Abraham bahwa keturunannya (yaitu Yesus) menjadi berkat bagi semua orang yang percaya padaNya. Kematian Yesus menandai Perjanjian Baru antara Allah dan manusia bahwa Yesus menjadi jaminan bagi manusia berdosa untuk menerima janji keselamatan Allah.

Dalam Perjanjian Baru, “Israel” sejati sebagai umat pilihan Allah didefinisikan melalui Yesus. Alkitab menyatakan bahwa setiap orang percaya Kristus adalah umat pilihan Allah  (1 Pet. 2:9).  Jika kita percaya Kristus kita adalah keturunan Abraham, pewaris janji Allah (Gal. 3:29). Kalau di perjanjian lama: Israel terikat pada etnis dan garis keturunan Yahudi, namun dalam perjanjian Baru,  umat pilihan Allah mencakup semua orang yang ada di dalam Kristus, baik bangsa dan ras apapun.  Orang Israel sejati adalah orang yang memiliki iman dalam Kristus. 

Lalu bagaimana dengan orang Israel secara etnik? Allah tetap mengasihi orang Israel dan menginginkan semua orang Israel percaya Kristus. Dalam Roma 11, Paulus mengilustrasikan pohon zaitun Israel untuk menggambarkan umat pilihan Allah. Orang non-Yahudi yang percaya Kristus diibaratkan seperti ranting yang dicangkokkan ke pohon zaitun itu. Orang Yahudi yang tidak percaya Kristus dibersihkan dari pohon itu.  Namun, janji Tuhan bahwa jika ada orang Yahudi menjadi percaya kepada Kristus, maka Allah pun akan mencangkokkan mereka ke pohon zaitun itu, sebagai umat pilihan Allah.

~BT20260510

Kebangkitan Kristus dalam kehidupan sehari-hari

KuburNya sudah kosong! Ini adalah  catatan sejarah bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib, dikuburkan di sebuah makam dengan ditutup batu besar, diberi materai dan dijaga ketat oleh tentara Romawi, namun tiga hari kemudian terjadi keajaiban yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Tanpa disadari oleh tentara penjaga itu, batu besar penutup makam terguling, kain kafan rapi tertinggal di makam, namun jasad Yesus sudah tidak ada!. Malaikat menyatakan: Yesus sudah bangkit!!. Para rasul memberitakan bahwa mereka melihat dan berinteraksi dengan Yesus yang telah bangkit itu. Kebangkitan Kristus telah menginspirasi para murid Yesus untuk menjadi saksi Kristus dan memberitakan kebangkitanNya meski mereka harus menderita bahkan mati dipersekusi oleh orang-orang yang menyangkal kebangkitan Kristus, yaitu orang Yahudi dan tentara Romawi.

Kebenaran Kekristenan secara tegas adalah berdasarkan kebangkitan Kristus.  Kubur kosong itu telah membuktikan bahwa Yesus sudah menggenapi apa yang sudah dinubuatkan para nabi di Perjanjian Lama dan klaim Yesus  adalah Mesias (Mar. 14:62). Begitu pentingnya kebangkitan Kristus, sehingga Rasul Paulus menjelaskan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sia pula imanmu….kamu masih berada dalam dosa-dosamu” (1 Kor. 15:14, 17).

Kepercayaan akan kebangkitan Kristus bukanlah sekadar doktrin yang hanya kita dengar setiap tahun. Namun harus menjadi realitas hidup kita yang meresap dan mengubah kehidupan kita, sama seperti murid-murid Yesus dan jemaat mula-mula.  Kebangkitan Kristus memberi harapan yang dapat menopang kita di saat-saat sulit, penderitaan, dan bahkan kematian. Kebangkitan Kristus dari kubur yang gelap itu memberikan kita harapan bahwa kitapun bisa bangkit dan menang melawan kegelapan situasi hidup kita.  Kebangkitan juga meyakinkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kehidupan yang lebih penuh di dalam Kristus (1 Tes. 4:14). 

Kebangkitan Kristus memberikan jaminan bahwa tubuh kita akan dibangkitkan dan dimuliakan kelak. Ini  menunjukkan bahwa tubuh jasmani kita adalah ciptaan yang mulia. Kebangkitan Kristus mestinya mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan tubuh kita yang adalah juga bait Allah. Oleh karena itu, kita mesti menjaga kekudusan tubuh dan kesehatan kita.

Kebangkitan  Kristus juga memberikan makna dan tujuan baru bagi rutinitas kita sehari-hari. Mengetahui bahwa jerih payah kita di dalam Tuhan tidak sia-sia (1 Kor. 15:58), kita termotivasi untuk hidup dan bekerja untuk kemuliaan Allah.  Di dalam keluarga, tempat kerja, dan dimanapun kita berada, semoga kita menjadi orang yang membawa pengharapan kebangkitan Kristus.  Marilah kita menjalani kehidupan kita setiap hari dalam terang kebangkitan Kritus, hidup  sebagai orang-orang yang penuh harapan dan menjadi saksi kuasa Kristus yang telah bangkit. Selamat Paskah!

BT~20260405

Mengapa Kita Menyembah Tuhan?

Pernahkah kita bertanya kenapa sih Tuhan menginginkan kita untuk memuji dan menyembah Dia? Apakah Tuhan kurang percaya diri dengan keberadaanNya? Apakah Ia membutuhkan pengakuan dari manusia untuk meningkatkan harga diri-Nya? Bahkan salah satu tuduhan dari orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan adalah bahwa Dia itu narsis, gila hormat, egosentris dan sombong. Bagi mereka, Tuhan kok memaksa semua orang memuji-Nya dan menghukum jika tidak mau tunduk kepadaNya.

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta seluruh alam semesta ini. Karakter Tuhan itu adalah sempurna, kekal, tak terbatas, mandiri dan  tidak berkekurangan. Dia  tidak membutuhkan apa pun di luar Diri-Nya untuk mempertahankan eksistensi-Nya. (Kis. 17:24-25). Tuhan sesungguhnya tidak membutuhkan pujian dan penyembahan kita untuk mempertahankan statusNya. Kalaupun manusia menyembah-Nya, tidak ada yang ditambahkan kepada-Nya. Pun jika manusia menolak menyembah-Nya, tidak ada juga yang hilang dari-Nya. Lalu Mengapa Tuhan meminta manusia untuk menyembah-Nya? 

Manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki naluri untuk memuji dan menyembah (Wah. 4:11). Buktinya, kita suka menghargai dan memuji sesuatu yang bernilai, indah, bagus, dan menyenangkan. Selain itu kita juga suka menyembah dan memuliakan sesuatu di luar diri kita yang bisa kita jadikan pegangan spiritualitas kita. Orang primitif yang tinggal di hutan belantara sekalipun, akan menyembah sosok atau benda tertentu yang dianggap sakral sebagai pegangan hidupnya.  Apa yang diyakini seseorang tentang sosok sakral atau Tuhan akan menjadi landasan dari semua pemikiran dan perbuatannya dalam kehidupan ini.  Jika kita gagal menyembah Tuhan yang benar, maka kita akan menyembah sesuatu yang lainnya.

Sesungguhnya Tuhan menginginkan yang terbaik bagi ciptaan-Nya.  Segala hukum dan perintah Tuhan adalah semata untuk kebaikan manusia. Tuhan tahu bahwa sukacita kehidupan manusia tidak didapat dari keterikatan dengan dunia yang sementara dan fana ini.  Kebahagiaan manusia terletak pada pengenalan akan Tuhan dan memiliki hubungan pribadi dengan Dia. Dalam Ulangan 6:24, Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah kepadaNya supaya Ia memelihara hidup kita. Selain itu, jika kita merenungkan kasih, kebaikan, kemurahan pengampuan Tuhan kepada kita manusia berdosa ini, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak memuji dan menyembah Dia. Inilah ibadah kita yang sejati ketika kita memberikan memberikan penghormatan, pujian, ketundukan kepada Allah dan menyerahkan semua keberadaan hidup kita kepadaNya. Kesempatan untuk memuji Allah adalah sebuah hak istimewa dan Dia layak menerima pujian dan penyembahan kita!

~BT260117

ALLAH YANG KASIH DAN ADIL

Siapa sih yang tidak senang mendengar bahwa Allah itu penuh kasih dan menerima kita masuk ke rumahNya di surga.  Banyak orang yang mempercayai kepada Tuhan yang maha pengasih tanpa adanya keadilan dalam penghukuman atas dosa. Salah satunya adalah aliran Saksi Yehuwa. Mereka berkata: “Tidak mungkin Tuhan yang penuh kasih itu akan menghukum orang di neraka.”  Namun, pernahkah kita memikirkan seperti apa dunia ini jika benar bahwa  Tuhan itu penuh kasih tanpa keadilan dalam menghakimi kejahatan? Sepertinya orang-orang akan merasa bebas berbuat jahat tanpa adanya rasa takut karena tidak akan ada hukuman dari Tuhan.  Bisakah kita menerima bahwa penjahat perang seperti Hitler akan disambut di surga sama seperti Bunda Teresa yang menyelamatkan dan melayani korban perang sepanjang hidupnya? Tentu hati nurani kita berkata ini tidak benar dan tidak adil.

Di sisi lainnya, bagaimana jika Tuhan hanyalah Allah yang menunjukkan keadilanNya dalam menghakimi saja tanpa adanya kasih?  Pastilah tak seorang pun dari kita akan selamat dan bahagia karena kita sudah pasti dihukum dan mati oleh karena dosa kita setiap hari.

Benar Alkitab berkata, “Tuhan itu penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Maz. 145:8). Namun, kasih Tuhan bukanlah berarti Ia mengasihi segalanya. Ia mengasihi apa yang baik dan benar di mataNya. Sama seperti kita, jika kita mengasihi dan menyayangi sesuatu maka kita harus membenci apa yang menghancurkan rasa sayang kita. Suami yang mengasihi istri mesti membenci perselingkuhan karena perselingkuhan itu menghancurkan kasih dalam rumah tangga. Hal yang sama berlaku untuk Tuhan. Alkitab yang sama memberitahu kita bahwa Allah juga membenci kejahatan dan dosa (Maz. 5:5). Dosa adalah pemberontakan yang menghancurkan dan merusak apa yang Allah kasihi. Allah membenci dan menanggapi dosa dengan serius dengan menghakimi dan menghukum  setiap  dosa kita. Meskipun sekarang Ia sedang bersabar untuk memberi waktu agar orang-orang bertobat (2 Pet. 3:9). Yang pasti di akhir zaman, kita akan menghadapi pengadilan Allah dan ganjaran dosa kita dalam kekekalan.

Tuhan adalah hakim tertinggi, penuh kasih dan sangat adil. Dan penghakiman Allah bisa mengejutkan. Dari Alkitab kita membaca peristiwa di mana Allah menunjukkan keadilanNya dengan menghukum dosa seperti air bah zaman Nuh, malapetaka tulah di Mesir, pembuangan bangsa Israel, dan banyak lagi yang lain. Ia menghakimi karena keadilan-Nya menuntut agar Dia menghukum dosa, tetapi kasih-Nya memotivasi Allah untuk menawarkan cara mengampuni orang berdosa. Inilah kabar baik sebagai  inti iman Kristen:  bukan hanya Allah menghakimi dosa, tetapi Ia telah menyediakan jalan untuk menyelamatkan kita dari penghakimanNya.  Penghakiman terakhir Tuhan atas kejahatan umat manusia dicurahkan, bukan kepada kita, tetapi kepada diri-Nya sendiri dalam pribadi Yesus. Pada saat Yesus mati di kayu salib,  di situlah kasih dan keadilan Tuhan yang sempurna berpadu, menghasilkan kasih karunia kekal bagi mereka yang percaya kepada Yesus.

Tuhan itu adalah kasih sekaligus adil. KasihNya ditunjukkan melalui keadilanNya.  Alih-alih mempertanyakan  “Mengapa Tuhan mengadili dan menghakimi orang-orang yang katanya dikasihi-Nya?” mungkin kita seharusnya bertanya, “Supaya saya lepas dari penghakimanNya, apakah saya sudah menerima kasih Tuhan di kayu salib?

~BT 20250907

MENGAPA ALLAH TERKESAN DIAM SAJA?

Orang yang tidak percaya kepada Tuhan ataupun mereka yang meragukan keberadaan Tuhan sering mempertanyakan karakter Tuhan dengan mengajukan pertanyaan “Mengapa Tuhan tidak menunjukkan diri-Nya saja secara kasat mata agar orang tersadarkan bahwa Tuhan itu ada?”,  “Jika memang Tuhan itu ada dan Dia ingin kita menyembah-Nya, seharusnya dia tunjukkan tanda dan mukjizat agar semakin banyak orang percaya kepadaNya.”


Orang yang tidak percaya kepada Tuhan ataupun mereka yang meragukan keberadaan Tuhan sering mempertanyakan karakter Tuhan dengan mengajukan pertanyaan “Mengapa Tuhan diam saja dan tidak menunjukkan diri-Nya saja secara kasat mata agar orang tersadarkan bahwa Tuhan itu ada?”,  “Jika memang Tuhan itu ada dan Dia ingin kita menyembah-Nya, seharusnya dia tunjukkan tanda dan mukjizat agar semakin banyak orang percaya kepadaNya.”

Padahal seandainya pun Tuhan menunjukkan keberadaanNya dan berbicara secara langsung kepada manusia, tidaklah ada jaminan bahwa orang tersebut akan percaya dan beriman kepada Tuhan. Dalam Alkitab tercatat beberapa kali  penampakan Tuhan kepada manusia, berbicara dengan jelas,  melakukan mukjizat yang menakjubkan, namun manusia tetap memberontak kepada Tuhan. Lucifer, malaikat yang paling tinggi dan mengenal Allah secara dekat, dia memberontak kepada Allah dan menjadi Iblis. Orang Israel selama 40 tahun di padang gurun menuju Kanaan melihat dan merasakan kehadiran Tuhan setiap hari dalam tiang awan dan tiang api, dan diberkati Tuhan dengan makanan, tetapi mereka malah menyembah berhala patung lembu emas.  Yesus – Tuhan yang menjadi manusia – telah menunjukkan kuasa mukjizatNya dan banyak orang yang mengalami dan menyaksikan, namun Ia tetap ditolak banyak orang. 

Setelah zaman para rasul, memang Allah tidak lagi berbicara kepada manusia dengan suara yang jelas atau membuat diri-Nya nyata. Tentu Allah punya alasan mengapa demikian adanya. Kita perlu menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kita pahami mengenai Tuhan yang tidak terbatas, kekal dan maha kuasa itu. Jalan, rancangan, dan tindakan  Tuhan jauh lebih tinggi dari pikiran manusia yang terbatas (Yes. 55:9).  Allah juga menyatakan bahwa ada hal yang menjadi rahasiaNya dan  hal-hal yang terbuka dan dinyatakan kepada kita melalui Alkitab (Ula. 29:29).

Alkitab adalah catatan tentang Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Di dalamnya Allah memberikan informasi tentang diriNya, pekerjaanNya dan rencanaNya. Segala sesuatu yang kita butuhkan “untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16). Dan itu sudah cukup bagi manusia untuk mengimani yang tertulis di sana. Kita tidak memerlukan wahyu lain di luar Alkitab karena Alkitab sudah selesai, sempurna, dan cukup.

Akhirnya, meskipun kesannya Allah diam dan tidak menyatakan dirinya secara kasat mata kepada kita, Ia tetaplah Tuhan yang berdaulat atas semua ciptaanNya. KIta tentunya tidak bisa memahami semuanya namun sebagai orang percaya, kita akan hidup oleh iman. (Hab. 2:4).

~BT20250608

SAINS YANG MENINGGIKAN IMAN

Mungkin kita pernah mendapatkan pertanyaan  dari anak kita mengapa pelajaran ilmu pengetahuan alam (sains) sepertinya bertentangan dengan Alkitab dan iman Kristen? Misalnya teori penciptaan, asal usul manusia, dinosaurus, dll. Karena kebingungan, banyak orang menganggap bahwa sains dan iman adalah dua kutub yang berbeda, bertentangan, dan jangan dikaitkan.  Bahkan, seorang tokoh atheis, Richard Dawkins  mengatakan bahwa sains adalah  proses pencarian fakta sedangkan iman berdasarkan mitos dan tahayul. Menurutnya, iman dan sains itu bertentangan dan kita harus memilih salah satunya. Iapun mengolok orang Kristen sebagai orang bodoh dan sakit mental.

Sebenarnya iman dan sains tidaklah bertentangan, tidak terpisah satu sama lain dan saling berkaitan. Tetapi karena keberdosaan manusialah yang membuat keduanya terpisah, apalagi dosa menyangkal keberadaan Tuhan. Sains merupakan usaha manusia untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dan akurat melalui metode penelitian dan pengukuran terhadap objek  alam semesta  yang Tuhan ciptakan.  Lalu, manusia mengembangkan sains itu untuk kebaikan hidup manusia misalnya  mengatasi penyakit, menciptakan teknologi yang membuat hidup manusia lebih mudah dan nyaman. Namun kita mesti mengingat bahwa sains diformulasikan oleh manusia yang tidak sempurna, berdosa dan terbatas. Akibatnya, sains tidaklah selalu mutlak benar dan tidak dapat menjelaskan semua aspek kehidupan manusia. Apa yang dulunya sudah disepakati menjadi teori dalam sains, di kemudian hari bisa direvisi kembali. Sepanjang sejarah sains sudah terbukti bisa salah dalam banyak hal, misalnya dulu bumi dianggap sebagai poros tata surya, planet Pluto yang tidak lagi menjadi anggota tata surya kita. Artinya kita tidak bisa menggantungkan seluruh kehidupan kita kepada sains. 

Iman Kristen berdasarkan Alkitab. Namun, Alkitab bukanlah buku manual tentang sains dan teknologi. Kita mengimani bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Tuhan adalah Roh dan pribadi yang agung yang melebihi dimensi waktu, ruang, dan materi. Itulah sebabnya Ia dapat menciptakan alam semesta ini dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Namun, keagunganNya itu tidak membatasi cinta kasihNya kepada manusia yang Ia ciptakan. Tuhan menjadi manusia yaitu Yesus yang pernah hidup di dunia ini dan mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup berdamai dengan alam, orang lain dan penciptanya. Sains tidak akan pernah bisa memahami dimensi spiritualitas ini karena tidak dapat diobservasi dan diukur secara kasat mata. 

Alkitab mendeklarasikan bahwa sesungguhnya Tuhanlah pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah meminta manusia mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketika Allah memberi perintah tugas pertama kepada Adam dan Hawa: “penuhilah dan taklukkanlah bumi dan berkuasalah atas seisinya” (Kej. 1:28); dan juga pernyataan Daud: “Besar perbuatan Tuhan dan layak kita pelajari, teliti” (Maz 111:2). Ini adalah petunjuk kuat Allah memberi mandat kepada manusia untuk mengeksplorasi, menyelidiki dan mengembangkan apa yang telah Allah ciptakan. Jadi orang Kristen tidak perlu takut untuk mempelajari sains dengan tetap meninggikan Alkitab. Kebenaran Firman Tuhan akan tetap berdiri tegak menghadapi tantangan sains sampai kapanpun. 

Louis Pasteur (1822 -1895), seorang ilmuwan biologi dan kimia pernah berujar: semakin saya belajar sains, semakin saya kagum dengan karya Tuhan, dan sains bisa membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

~BT250302

FAKTA PENCIPTAAN DALAM KITAB KEJADIAN

Kitab Kejadian adalah kitab pertama dari Alkitab yang sangat mendasar yang diwahyukan oleh Tuhan kepada penulisnya, Nabi Musa. Di dalamnya diceritakan berbagai peristiwa mulai dari  penciptaan alam semesta, dunia termasuk manusia pertama Adam dan Hawa, jatuhnya manusia ke dalam dosa, sejarah kehidupan manusia generasi pertama, bencana air bah zaman Nuh, peristiwa tersebarnya manusia ke segala penjuru bumi akibat pembangunan Menara Babel. 

Banyak orang Kristen yang meragukan dan tidak mempercayai narasi kitab Kejadian khususnya Pasal 1 tentang penciptaaan sebagai peristiwa riil dan nyata. Beberapa ahli teologi menyatakan bahwa kitab Kejadian jangan dibaca secara literal (arti harfiah dan  terjemahan langsung) karena menurut mereka kitab itu ditulis dengan bahasa simbolik dan bukan menggambarkan peristiwa sebenarnya.  Sebagian orang  sulit menerima kebenaran Alkitab dalam penciptaan karena tidak sesuai dengan sains dan metode ilmiah. Teori sains sekuler yang paling terkenal tentang penciptaan adalah teori “Big Bang” (Ledakan Besar)  yang menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari materi yang  menggumpal dan meledak sekitar 14 milyar tahun lalu  dan membentuk planet bumi 4.5 milyar tahun yang lalu, dan diikuti evolusi biologis makhluk hidup menjadi manusia purba 200 ribu tahun yang lalu. Ada juga orang yang menganut paham teologi evolusi yang memadukan  teori sains ke dalam Alkitab. Agar Alkitab dapat diterima maka terjemahannya mesti sesuai dengan sains. Jadi menurut teori ini penciptaan oleh Tuhan itu bisa jadi secara evolusi  dalam jutaan atau milyaran tahun.

Pandangan ini tentu bertentangan dengan kitab Kejadian. Pasal 1 dengan jelas menyatakan pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi!. Inilah permulaan sejarah dunia ini! Dengan runut diceritakan satu persatu bagaimana Allah dengan FirmanNya dan kuasaNya menciptakan alam semesta ini dan segala isinya dalam waktu 6 hari ada pagi dan petang. Bukan 6 ribu, 6 juta, atau 6 milyar tahun. Lalu pada hari ketujuh Allah beristirahat. Siklus 6 hari kerja dan hari ke 7 istirahat inilah yang menjadi dasar perintah Hukum Taurat untuk beristirahat dan beribadah pada hari sabat. (Kel 20:8-11).

Setiap orang Kristen mesti mempercayai fakta penciptaan yang dinarasikan kitab Kejadian adalah kejadian yang benar terjadi, bukan cerita simbolik atau khayalan. Jikalau kita menolak mempercayai karya Allah dalam penciptaan dan menganggapnya sebagai dongeng dan mitos yang memiliki nilai religius, maka iman kita kepada Kristus akan sia-sia. Jika Pasal 1 Alkitab saja kita tolak, maka kita pun pasti akan menolak karya agung Allah lainnya di dalam Alkitab seperti kelahiran dari Perawan Maria, penyaliban Kristus, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke sorga. Padahal, Kristus datang ke dunia ini adalah pemenuhan janji Allah kepada manusia pertama Adam dan Hawa yang awalnya diciptakan sempurna namun mereka memberontak  dan jatuh ke dalam dosa sehingga kita pun semua menjadi manusia berdosa.

Apakah kita mengartikan Alkitab termasuk penciptaan akan seturut dengan pandangan dunia ini? Ataukah kita yang mesti  mengubah cara pandang kepada dunia ini berdasarkan Alkitab? Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan perjalanan iman kita. Karena dengan iman kita bisa mengerti bahwa alam semesta ini dijadikan oleh firman Allah (Ibr. 11:3).

~BT250119

Mukjizat Kelahiran Yesus

Kelahiran anak tentunya merupakan momen yang membahagiakan bagi orang tua dan keluarga.  Meskipun kita bisa kagum dengan proses kandungan dan kelahiran bayi, namun itu adalah proses alamiah yang Allah tentukan manusia bisa hadir ke dalam dunia ini. Itu bukanlah keajaiban ataupun mukjizat sebab peristiwa itu  biasa dan dapat berulang setiap hari. Sedangkan mukjizat di Alkitab adalah perbuatan Allah yang terjadi melampaui hukum logika dan ilmiah manusia  karena Allah ingin menunjukkan tanda, pesan, dan rencana untuk umatNya. Salah satu mukjizat yang ada di Alkitab adalah proses kandungan untuk kelahiran Yesus ke dalam dunia ini. Yesus lahir dari  proses mukjizat dalam kandungan perawan Maria. 

Banyak orang meragukan peristiwa ajaib ini  yang hanya tercatat sekali dalam sejarah dunia ini. Secara ilmiah dan logika, mestinya wanita hanya bisa mengandung karena  adanya hubungan seksual dengan pria. Lalu bagaimana dengan peristiwa mengandungnya Maria yang masih perawan itu?  Ketika malaikat Gabriel memberitakan kabar ajaib itu kepada Maria, dia pun keheranan bagaimana mungkin dia bisa mengandung jika dia masih perawan dan belum bersuami? (Luk. 1:34).  Pastinya Maria mengerti hukum alam atau pelajaran biologi  tentang proses kehamilan. Tetapi malaikat itu menjawab Maria bahwa Kuasa Roh Kudus akan menaungi Maria dan ia akan mengandung.  Tidak ada yang mustahil bagi Allah.  Jika Allah bisa menciptakan kehidupan alam semesta yang kompleks ini termasuk manusia, lalu mengapa kita sulit memahami bahwa Allah yang sama dapat membuat seorang gadis mengandung tanpa proses alami?  Nyatanya, sesuatu yang tidak normal terjadi, tidaklah berarti itu tidak mungkin terjadi.  Inilah mukjizat yang hanya Tuhan  bisa melakukannya.

Allah sudah merencanakan kelahiran juruselamat dari seorang perawan itu dalam Kejadian 3:15 ketika Allah berbicara kepada Iblis dan Hawa.  Allah menetapkan bahwa keturunan perempuan (bukan keturunan pria) itu akan meremukkan kuasa Iblis.  Yesaya juga bernubuat bahwa seorang perawan akan mengandung dan akan melahirkan Imanuel (Yes. 7:14). Bagaikan dejavu, malaikat mengulangi pernyataan Yesaya itu saat bertemu Yusuf dan meyakinkannya agar tetap menikahi Maria, tunangannya dan memberi nama bayi itu Yesus yang adalah Imanuel (Mat. 1:20-23).

Dalam pengakuan iman rasuli tahun 325, para bapa gereja juga menekankan betapa pentingnya pernyataan “lahir dari anak dara Maria” untuk membuktikan keunikan kelahiran Yesus. Karena Ia lahir dari kandungan Roh Kudus melalui perawan Maria, tidak melalui hubungan suami istri maka Yesus tidaklah mewarisi status keberdosaan manusia meski ibu yang melahirkannya adalah orang berdosa. Dalam statusNya sebagai manusia, Yesus lahir tak berdosa dan hidup di dunia ini tanpa melakukan dosa.  Yesus adalah pribadi yang suci, tak bercacat, dan sempurna untuk  menggantikan status manusia yang berdosa. Yesus mempersembahkan kesucian tubuh dan hidupNya sebagai penebusan dosa manusia.

~BT241201

Refleksi atas Reformasi Gereja

Tanggal 31 Oktober, sebagian besar orang tahunya adalah perayaan Halloween yang merupakan perayaan berhala. Bagi orang Kristen, itu adalah hari Reformasi Gereja, yang  berawal dari aksi Martin Luther yang memakukan 95 pasal Maklumat Protes atas Gereja Katolik Roma di pintu gereja Wittenberg, Jerman pada 31 Oktober 1517.  Mengingat Reformasi Gereja, kita dapat melihat Tuhan bekerja di dalam sejarah gerejaNya. Saat terjadi penyimpangan ajaran gereja, Allah turut bekerja melalui orang-orang pilihanNya untuk membawa orang Kristen kembali kepada ajaran murni Alkitab.

Setelah masa Para Rasul berakhir,  dalam 1000 tahun, Kekristenan ada dalam satu hirarki gereja yang berpusat di  Roma yaitu Gereja Katolik yang juga membawahi Gereja Orthodox Timur yang berpusat di Konstantinopel Turki. Pada masa ini ada banyak tradisi dan ajaran yang berkembang di gereja meskipun tidak berdasarkan Alkitab, misalnya: otoritas absolut pemimpin tertinggi gereja Paus, pemujaan terhadap Bunda Maria, pembaptisan anak sebagai anggota gereja, pengkultusan orang-orang kudus, dan lainnya. Perselisihan kedua pemimpin gereja dan perbedaan pandangan teologis dan tradisi gereja menyebabkan perpecahan gereja pada tahun 1054, gereja Orthodox Timur berpisah dari gereja Katolik Roma. 

Perpecahan ini tidak membuat Gereja Katolik merubah tradisinya. Malahan moralitas para pemimpin gereja menurun khususnya dalam hal keuangan. Puncaknya saat Paus Leo X menjual surat pengampunan dosa. Martin Luther menganggap ini suatu penyesatan dari iman Kristen. Ia yang adalah pendeta di Gereja Katolik Wittenberg, Jerman memulai gerakan protestan untuk menyerukan reformasi gereja Katolik kembali kepada ajaran Alkitab. Gerakan reformasi  ini meluas ke seluruh daratan Eropa. Selain Luther, ada banyak tokoh reformasi lainnya: John Calvin, Ulrich Zwingli, John Knox, Raja Henry VIII, dll.

Para reformator Gereja menyerukan doktrin 5 Sola untuk mereformasi gereja yang yaitu: (1) Sola Scriptura, “hanya Firman Tuhan” yang menjadi dasar ajaran dan praktek iman Kristen. (2) Sola Gratia, “hanya anugerah” Allah yang menyelamatkan kita orang berdosa, bukan amal saleh atau apapun pekerjaan baik kita. (3) Sola Fide, “hanya iman” dalam Kristus yang membawa kita kepada Tuhan.  (4) Sola Christus, “hanya Kristus” juru selamat, tidak ada yang lain. (5) Soli Deo Gloria, “hanya untuk kemuliaan Tuhan” adalah tujuan hidup orang Kristen.

Reformasi Gereja  menandai awal pergerakan baru untuk kembali kepada ajaran Alkitab yang murni seperti yang diajarkan oleh Para Rasul.  Namun ini tidak berarti bahwa gerakan reformasi ini sempurna. Berbagai latar belakang, kepentingan dan doktrin di antara reformator juga membawa perbedaan dalam mengaplikasi reformasi gereja. Konsekuensinya ada beberapa aliran gereja baru yang muncul di awal reformasi gereja, yaitu: pengikut Martin Luther memulai gereja Lutheran, pengikut John Calvin mendirikan gereja reformed, pengikut John Knox dengan gereja Presbyterian, dan Raja Inggris Henry VIII mendirikan Gereja Anglikan. Ini mengajarkan kita bahwa manusia tidaklah sempurna, dan tidak ada gereja yang sempurna, hanya Tuhan saja yang sempurna. 

Ketika gereja sudah dipengaruhi oleh ajaran yang menyimpang dari Alkitab,  terlibat intrik politik, uang, korupsi, maupun kepemimpinan yang otoriter maka orang Kristen yang masih setia kepada ajaran Alkitab harus bangkit dan menyerukan agar gereja kembali kepada ajaran Alkitab. Gereja mesti terus mengingat semangat reformasi  5 Sola. Para pemimpin reformasi gereja sudah membuktikan bahwa mereka rela menanggung semua konsekuensi sampai hukuman mati karena mereka percaya bahwa kebenaran Alkitab lebih berharga dari kenyamanan apapun yang bisa mereka dapatkan (Kis. 20:24).

Soli Deo Gloria!

~BT20241027

Menjadi Kristen Yang Berbudaya

Kita perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, kita adalah bagian dari sebuah kebudayaan dan tidak bisa menutup diri dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Kebudayaan ini bisa mencakup bahasa, identitas, adat istiadat, tradisi,maupun cara hidup.  Memang ada berbagai adat dan tradisi dari nenek moyang kita yang menjadi kontroversi dan bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Lalu  bagaimana kita menyikapi adat istiadat dan tradisi tersebut?   Apa kita mesti menolak semua tradisi itu?, atau apakah kita mesti menerima semua adat?, atau apakah kita bisa menyesuaikan adat dengan prinsip iman Kristen.Kita perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, kita adalah bagian dari sebuah kebudayaan dan tidak bisa menutup diri dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Kebudayaan ini bisa mencakup bahasa, identitas, adat istiadat, tradisi,maupun cara hidup.  Memang ada berbagai adat dan tradisi dari nenek moyang kita yang menjadi kontroversi dan bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Lalu  bagaimana kita menyikapi adat istiadat dan tradisi tersebut?   Apa kita mesti menolak semua tradisi itu?, atau apakah kita mesti menerima semua adat?, atau apakah kita bisa menyesuaikan adat dengan prinsip iman Kristen.

Singkatnya budaya adalah cara kita menyesuaikan diri  baik secara fisik maupun spiritual dengan lingkungan dan memperlakukan apa yang Tuhan telah ciptakan. Hasilnya muncullah berbagai banyak bahasa, kepercayaan, tradisi, adat yang mengatur kehidupan manusia di dalam satu komunitas. Peristiwa terpencarnya manusia dengan perbedaan bahasa ke segala penjuru dunia setelah runtuhnya menara Babel adalah bagian dari rancangan Allah menjadikan dunia yang penuh warna tradisi dan budaya.

Tidak ada salahnya untuk mengikuti dan menjalankan beberapa tradisi yang ada di sekitar kita. Beberapa tradisi yang baik  dapat memberi identitas yang unik kepada kita, memberi pengajaran moral, dan menjaga keharmonisan kehidupan dalam suatu komunitas. Alkitab tidaklah anti terhadap adat, tradisi, dan kebiasaan manusia. Allah kita adalah Tuhan yang berbudaya. Dalam berkomunikasi dan menunjukkan kehendakNya, Allah menggunakan bahasa, tradisi, dan cara yang dapat dimengerti manusia.  Bahkan, kedatangan Kristus ke dunia ini juga menunjukkan bagaimana Tuhan hadir di tengah kehidupan manusia ciptaannya dengan adat dan tradisi yang ada pada saat itu. Dalam status kemanusiaannya, Yesus bersuku bangsa Yahudi dan  hadir dalam berbagai kegiatan yang menjadi tradisi orang Yahudi. Melalui kehadiranNya terebut, Yesus mengajarkan orang Yahudi yang terlalu mengagungkan tradisi buatan manusia untuk  berfokus kepada Allah  dan menunjukkan bahwa Kerajaan Allah melebihi dari semua adat dan tradisi yang manusia ciptakan.

Rasul Paulus menerima dan menyesuaikan dirinya  dengan budaya bangsa lain demi mengabarkan Injil. (1 Kor. 9:19-23).  Tentu setiap tradisi budaya mesti dipertimbangkan untuk diterima atau ditolak dengan menggunakan standar Alkitab. Firman Tuhan bersifat kekal, benar, dan mengikat. Sedangkan tradisi adalah buatan manusia secara turun temurun yang bisa berubah atau tidak relevan lagi dengan kondisi zaman. Misalnya, orang Kristen mesti menolak tradisi persembahan kepada berhala (bertentangan Imamat 19:4, karena Tuhan tidak ada bandingannya), ritual berkaitan roh orang mati ( bertentangan Imamat 19:31, karena orang mati tidak ada urusan lagi dengan dunia ini), dan lainnya. Panggilan orang Kristen adalah meskipun kita hidup dengan tradisi dan budaya tertentu, namun kita mesti dapat mentransformasi dan menerangi budaya itu dengan berita Injil.

~BT20240915

KEMERDEKAAN SEJATI

Tanggal 17 Augustus selalu menjadi hari yang menyenangkan dan membanggakan kita sebagai bangsa Indonesia karena kita  memperingati kemerdekaan Indonesia. Kita patut bersyukur atas anugerah Tuhan terhadap bangsa Indonesia melalui perjuangan para pahlawan di masa lalu dan para founding fathers kita yang mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Kemerdekaan dari segala yang membatasi kehidupan manusia sudah menjadi keinginan dan dicari manusia sejak manusia ada. Alkitab banyak berbicara tentang pembebasan dan kemerdekaan sejak penciptaan manusia pertama. Adam dan Hawa ingin bebas dari  aturan yang Allah berikan untuk tidak makan buah pengetahuan dan ingin merdeka untuk mengikuti kemauan Iblis termasuk ingin menyerupai Allah (Kej 3:1-6).   Manusia ingin bebas dari kesulitan hidup, penderitaan, aturan, tanggung jawab dan merdeka melakukan apa yang kita inginkan. Banyak orang secara fisik merdeka atau bebas, tetapi tidak menyadari bahwa ia sebetulnya terpenjara dan terikat perbudakan spiritualitas yang menguasai dirinya yaitu dosa (Roma 3:23).  Dosalah yang membawa kita cenderung berbuat jahat, tidak bisa mengasihi Allah dan sesama.  Dosa juga membuat manusia terpisah dari Allah baik di dunia maupun akhirat.

Tetapi syukur kepada Allah karena 2.000 tahun yang lalu, Yesus Kristus memproklamasikan kemerdekaan manusia dari kuasa dan hukuman dosa, yaitu saat Yesus mati di kayu salib. Yesus memberikan kemerdekaan sejati bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. (Yoh 3:16). Inilah anugerah kemerdekaan terbesar dari Allah kepada manusia berdosa: Merdeka dari belenggu dosa dan hukuman  maut yang kekal, lalu mendapatkan anugerah pengampunan dosa dan hidup yang kekal bersama Kristus. Manusia yang terjajah oleh belenggu dosa perlu memproklamasikan kemerdekaannya di dalam Yesus Kristus!

Jika kita melihat salib, ingatlah bahwa Kristus sudah memerdekakan kita dari hukuman dosa dan maut. Kita dimerdekakan dari dosa dan sekarang kita menjadi hamba Allah  untuk menghasilkan buah (Rom 6:22). Allah menginginkan kita mengisi kemerdekaan itu dengan hidup melakukan perintah Tuhan yaitu terus berjuang melawan dosa, menyangkal diri, dan berbuat kebaikan untuk sesama termasuk menjadi warga negara yang baik.  Orang Kristen yang sudah merdeka oleh Kristus akan terlihat dari buah kesaksian hidup yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Jika kita melihat Sang Saka Merah Putih berkibar, kita perlu merasa bangga dan bersyukur bahwa bahwa kita sudah merdeka dari penjajahan. Ibu Pertiwi memanggil anak-anak Tuhan untuk menjadi saksi dan teladan yang baik di bumi nusantara yang kita cintai ini. Merdeka..!!!

~BT20240817

Mengapa Kita Eksis di Dunia

Tidak satupun dari kita yang punya andil untuk menghadirkan diri kita ke dunia ini. Kita pun tidak bisa meminta atau menolak untuk dilahirkan ke dunia ini. Dan dalam usia pertumbuhan kita, tiba-tiba saja kita menyadari bahwa kita ada sebagai pribadi manusia. Lalu kita mungkin bertanya mengapa dan untuk apa saya ada di dunia ini. Bagaimana saya harus hidup? Apa yang harus saya capai dalam hidup ini? Mengapa kita ada dilahirkan ke dunia ini jika bergumul dengan kesulitan dan masalah hidup bahkan kematian yang bisa datang setiap saat.

Pertanyaan tentang eksistensi manusia merupakan salah satu pergumulan manusia di sepanjang zaman. Beberapa  mungkin sudah menemukan jawabannya tetapi banyak orang yang masih bergumul untuk menemukan jawabannya. Kadang karena kita larut dengan kesibukan sehari-hari, kita tidak lagi memikirkan pertanyaan mengapa kita ada di dunia ini.  Padahal menemukan tujuan kita eksis di dunia ini akan mempengaruhi cara kita hidup termasuk apa yang membuat kita bersemangat saat bangun pagi dan melakukan aktivitas hidup.  Ada orang yang merasa hidup itu hanyalah kebetulan saja dan tidak ada nilai kekalnya. Kalau kita mati, ya seperti debu saja yang ditiup angin, hilang lenyap dan tak ada jejak.  Banyak juga yang beranggapan kita eksis di dunia ini hanya untuk mengejar kebahagiaan diri kita saja dan di luar dirinya tidak ada yang penting.

Jika kita ingin mengetahui mengapa kita hadir ke dalam dunia ini, kita mesti memulainya dari Tuhan. Kita dilahirkan oleh dan untuk tujuan Allah. Kitab Kejadian menceritakan bahwa Tuhan dengan sukacitaNya menciptakan manusia serupa gambaranNya  karena Dia ingin memiliki hubungan persahabatan dengan kita. Dalam Matius 22:36-40, Yesus menegaskan tujuan kita hidup adalah mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaan kita dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Jadi kita ada di dunia ini untuk kemuliaan Tuhan yang sebenarnya itu juga akan memberikan kesukaan bagi kita– tentu jika kita mengenal Allah secara pribadi. Kita mengenal Kristus saat kita sudah menyadari keberdosaan kita, meyakini Kristus sudah menebus dosa kita dan kita sedang hidup untuk Kristus.

~BT240505

MENGAPA TRAGEDI MENIMPA ORANG BAIK?

Kita merasa sedih dan terpukul jika ada tragedi, kecelakaan, atau penyakit kronis menimpa kita atau orang yang kita anggap baik. Mengapa tragedi bisa menimpa pada orang baik? Pertanyaan mendasar ini muncul karena dua alasan: pertama kita sering merasa lebih baik dan tidak sejahat orang lain, maka semestinya hal yang baik dan berkat datang kepada kita. Kedua, kita mempertanyakan keadilan Tuhan. Jika Allah itu adil,  mengapa Ia tidak campur tangan untuk mencegah tragedi terjadi pada orang baik? Sepantasnya orang baik itu mendapatkan imbalan berkat sedangkan orang jahat mendapatkan hukuman.  Tetapi, apa sih standar kita menilai seseorang itu baik?

Alkitab menyatakan bahwa dunia sudah jatuh dalam dosa. Dosa mengakibatkan semua manusia dan dunia ini tidak lagi sempurna. Roma 3:10-12  berkata “tidak ada seorangpun yang benar..tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”. Jadi kalau kita memakai ukuran Tuhan, sebenarnya kita adalah orang yang jahat dan berdosa. Kita melakukan dosa setiap hari melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Allah tidak menciptakan manusia seperti robot atau wayang, justru Allah memberi kita kehendak bebas. Karena itulah Allah mengijinkan konsekuensi dosa berjalan dalam dunia ini.  Semua kita mengalami akibat dari perbuatan dosa termasuk hal yang buruk bisa menimpa kita.  Terkadang tragedi yang kita alami adalah akibat langsung dari dosa kita, misalnya saat kita berkendaraan motor dan tidak sabar lalu kita menerobos lampu merah dan terjadilah kecelakaan. Di lain waktu, kita mengalami tragedi karena perbuatan dosa orang lain, misalnya kita bermotor sudah menaati rambu lalu lintas, tetapi ada supir mobil yang mabuk menabrak kita. Dan ada lagi tragedi menimpa kita bukan karena salah siapapun, tetapi karena kondisi alam. Misalnya saat kita berkendara, tiba tiba ada pohon tumbang menghantam kita.

Tentu dalam semua tragedi tersebut, kita mungkin bertanya mengapa semua ini terjadi? Mengapa hal buruk terjadi pada orang yang baik? Jawabannya karena dosa, tidak ada seorangpun baik di hadapan Allah.  Mengapa Tuhan tidak bertindak? Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi karena Ia punya alasan untuk kemuliaanNya dan kebaikan kita baik di dunia ini maupun kelak di surga.  Mungkin kita tidak pernah bisa tahu semua pikiran dan rancangan Allah tetapi Ia tetaplah Allah yang maha kuasa dan penuh kasih kepada kita. Daripada terus mempertanyakan mengapa tragedi terjadi pada kita atau pada orang yang kita anggap baik, lebih baik kita datang kepada Tuhan. Hubungan kita dengan Tuhanlah yang memberi kita damai sejahtera dan menyadarkan kita bahwa kita adalah orang berdosa yang pantas mendapat hukuman, namun diselamatkan karena Kristus sudah menebus dosa kita.

Bagi kita yang sedang mengalami tragedi berupa sakit penyakit, penderitaan, kehilangan orang terkasih, tentu itu tidak pernah mudah melaluinya. Proses pemulihan dari segala tragedi dan masa kelam kita itu merupakan perjalanan panjang dalam hidup kita. Semoga tragedi yang kita alami tidak akan membuat kita menjauh dari Tuhan tetapi  marilah kita bersandar kepada kasih Tuhan.

~BT240407

membangun spiritualitas melalui pemilu

Pemilu di Indonesia sebentar lagi akan digelar. Tentunya sesuatu yang wajar jika pembicaraan politik meningkat baik melalui media sosial maupun interaksi sehari-hari, khususnya mengenai siapa calon presiden yang akan memimpin bangsa ini 5 tahun mendatang. Banyak orang menjadi militan begitu semangat dan berapi-api mengungkapkan opini dan dukungan politiknya kepada kandidat tertentu. Dalam hal yang lebih serius, dampaknya sampai menciptakan mentalitas yang membelah: “antara saya melawan anda” dengan mereka yang berbeda pandangan dan pilihan dengan kita.  Opini sayalah yang paling benar karena didukung berbagai fakta dan opini anda adalah salah dan keliru.

Sebenarnya orang yang berbeda pandangan dengan kita bukanlah musuh yang mesti ditaklukkan supaya memiliki pandangan yang sama dengan kita. Ingatlah musuh utama kita adalah si Iblis yang berusaha membutakan, menipu, mengusik kedamaian, dan memecah persatuan kita. Kita tidak perlu terlalu terobsesi dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan sementara. Pemilu itu hanyalah rutinitas 5 tahunan, sedangkan kita adalah pribadi yang diciptakan Tuhan untuk hal yang kekal. Jika kita merasa kandidat tertentu  bertentangan dengan hati nurani dan prinsip yang kita pegang, tentu kita tidak perlu memilihnya. Namun kita juga tidak perlu marah, benci dan  membentuk opini yang belum tentu kebenarannya hanya karena kita tidak suka kepadanya.

Di dalam masa pemilu dengan diskusi politik semakin hangat ini, ada baiknya  kita merenungkan kehidupan pribadi kita: apakah hidup kita lebih bergantung kepada Tuhan atau kepada pemimpin negara?  Apakah kita bisa menjadi saksi Kristus yang memberi teladan kepada orang sekitar dalam menyuarakan aspirasi politik kita? Apakah kita sering berdoa untuk kondisi negeri ini? Orang Kristen mesti mengingat bahwa  Kekuasaan Tuhan tidak akan pernah diganti oleh pemerintahan manapun. Loyalitas paling utama kita adalah kepada Tuhan bukan kepada manusia maupun partai politik. Alkitab meminta kita mengusahakan kedamaian dan kesejahteraan negeri dimana kita tinggal (Yer. 29:7) dan berdoa bagi para pemerintah dan pembesar (1 Tim. 1-2) agar kita hidup tenang dan tenteram. Kita juga mesti menghindari saling serang dalam perdebatan politik, dan kita mesti belajar untuk rendah hati, lemah lembut, sabar, dan menjaga kesatuan (Efe. 4:1-3).

Marilah kita gunakan hak pilih kita dalam pemilu ini sebagai warga negara yang baik dan mensyukuri anugerah Tuhan karena kita hidup di negeri ini. Indonesia tetap ada dalam anugerah Tuhan meski siapapun yang Tuhan ijinkan untuk menjabat wakil rakyat maupun Presiden. Kita tidak perlu takut dengan hasil dari proses politik atau pemilu karena kita percaya tidak ada yang terjadi di luar kendali Tuhan dan Dia bekerja dalam segala hal termasuk kondisi negara ini pasca pemilu unutk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya (Rom. 8:28).

~BT20240204

RESOLUSI TAHUN BARU

Setiap tahun dan musim kehidupan adalah bukti kesetiaan dan kebaikan Tuhan kepada kita. Tahun 2023  yang berlalu tentu memiliki musim yang baik dan musim yang tidak baik, dengan segala campur aduk antara suka dan duka, keinginan yang tercapai maupun yang gagal, teman dan saudara yang bertambah atau meninggalkan kita. Saat semuanya itu berlalu, kita bisa mengatakan: “Terima kasih Tuhan.” Datangnya Tahun Baru 2024 membawa semangat dan pengharapan baru untuk melanjutkan kehidupan kita.

Banyak orang berefleksi tentang pencapaian tahun yang berlalu dan membuat resolusi untuk tahun yang baru. Resolusi adalah kebulatan tekad untuk  melaksanakan apa yang sudah ditetapkan seseorang dengan dirinya sendiri. Paling sering kita mendengar resolusi Tahun Baru berkaitan dengan kesehatan misalnya berhenti merokok, menjaga diet, dan olahraga. Resolusi keuangan misalnya lebih hemat belanja dan rajin menabung.  Resolusi rohani: rajin membaca Alkitab dan ikut ibadah di gereja. Tentunya masih banyak resolusi lainnya yang kita rancangkan untuk satu tahun ke depan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan resolusi itu. Justru resolusi adalah hal yang baik kita rencanakan karena akan memberi fokus dan prioritas kepada apa yang ingin kita capai. Dengan resolusi, kita berharap menjadi lebih baik secara pribadi maupun kehidupan.  Namun sebagai orang yang percaya pada Kristus, kita sebaiknya memeriksa apakah resolusi kita lebih dikuasai oleh hasrat keduniawian seperti materi, popularitas, dan reputasi lebih daripada hasrat kita kepada pencipta dan pemilik hidup kita?  Apa motivasi kita untuk diet dan olahraga? Apakah untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kita yang sehat atau kita ingin pujian orang atas tubuh kita? Apakah kita ingin terlihat rohani karena lebih sering ke gereja atau kita ingin mengenal Tuhan lebih dalam? Jika kita tidak memiliki motivasi yang benar, maka seiring berjalannya hari, resolusi akan cepat kendur dan mungkin di bulan Februari kita sudah lupa akan resolusi kita. Sama halnya jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri, maka kita sedang membawa keletihan kepada resolusi kita.

Jadikanlah Tuhan sebagai pusat dan motivasi resolusi Tahun Baru kita di tahun 2024. Filipi 4:13 menyatakan bahwa segala sesuatu dapat kutanggung di dalam Tuhan yang memberiku kekuatan. Secara alamiah manusia  tidak memiliki kekuatan dari dalam dirinya untuk berubah, karena itulah kita memerlukan kekuatan dari Tuhan untuk melakukan resolusi kita. Kita terus bersandar pada Tuhan untuk memberi semangat, kekuatan, dan ketekunan dalam kita melaksanakan resolusi kita. Percayalah bahwa kekuatan Tuhan ada bersama dengan kita untuk melakukan resolusi yang berkenan kepadaNya. Dan pada penghujung tahun ini kita akan melihat betapa indahnya kehidupan kita bersama dengan Tuhan.. Selamat tahun baru 2024!

~BT20240101

Berhikmat dalam Mendukung Pilpres

Adalah hal yang patut kita syukuri bahwa kita hidup di negeri demokrasi yang melibatkan partisipasi rakyatnya dalam memilih pemimpinnya yaitu presiden. Ikut dalam pemilu adalah hak istimewa bagi kita untuk ikut membentuk pemerintahan di mana Allah perintahkan kita untuk tunduk kepadanya (1 Pet. 2:13). Dalam pemilu tentu ada kontestasi kandidat yang akan memberi tantangan bagi kita untuk mempertimbangkan calon pemimpin yang akan kita pilih.

Alkitab mengatakan bahwa jika kita kekurangan hikmat (termasuk dalam memilih pemimpin), hendaklah kita meminta hikmat dari Allah dan Ia akan memberikannya kepada kita (Yak. 1:5). Sama seperti hal lainnya dalam memutuskan segala sesuatu, Allah menuntun kita kepada hikmat melalui FirmanNya (Alkitab), Roh Kudus (keyakinan kita dalam berdoa), dan gerejaNya (nasihat orang percaya lainnya). Meskipun demikian, tidak berarti bahwa semua orang percaya akan memilih kandidat yang sama. Banyak faktor yang mempengaruhi pertimbangan kita untuk memilih pemimpin.  Perbedaan budaya, motivasi, pengalaman maupun kepentingan di antara kita dapat mempengaruhi keputusan untuk memilih kandidat tertentu. Pengaruh dosa dalam kehidupan kita termasuk dalam dunia politik bisa menimbulkan perbedaan persepsi dan menghalangi kita untuk merasakan pimpinan Tuhan.  Kita semua bisa sepakat untuk beriman kepada Yesus, tetapi kita tidak mungkin selalu sepakat dalam  segala isu kehidupan lainnya termasuk dalam pemilu. Itu memang bawaan alamiah kita sebagai manusia.

Tuhan bukanlah partisan politik namun dengan kemahakuasaanNya, Ia telah menetapkan pemimpin suatu negeri (Rom. 13:1). Rakyat adalah instrumen alamiah dalam menggenapi keputusan Allah. Hal ini tidak mudah untuk kita mengerti karena keberadaan, kuasa dan rencana Allah di luar pemahaman kita. Siapakah yang dapat mengetahui pikiran dan rancangan Allah? (Yes 55:8-9). Yang pasti Tuhan dapat memakai  cara manusia (termasuk sistem demokrasi)  untuk menggenapi rencanaNya itu. Ini tidak berarti bahwa kita tidak peduli akan pilihan kita dan sembarangan saja  memilih calon pemimpin. Kita tetap memiliki tanggung jawab untuk memilih calon pemimpin yang memiliki standar yang baik misalnya kompetensi, moralitas, sejarah hidup, maupun visi dan misi ke depan.

Namun jika kandidat yang tidak kita dukung menjadi pemenang atau bahkan yang terpilih adalah kandidat yang kelihatannya buruk, kita tidak perlu panik dan takut. Suka tidak suka kepada presiden yang terpilih nantinya, kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah menempatkan dia dalam posisi itu dan kita diminta untuk mendoakan pemimpin kita (1 Tim. 2:1-2). Allah tetap berdaulat dan Ia akan tetap pegang kendali terhadap apapun hasil pemilu.  Ia sanggup mengubah apa yang awalnya kelihatan buruk untuk menjadi kemuliaan namaNya dan kebaikan umatNya. Orang percaya bertumbuh imannya dan berkembang pesat di abad pertama di bawah pemerintahan Kaisar Nero yang zalim. Ironisnya, di abad modern dengan kebebasan demokrasi dan pemimpin yang baik, malah banyak orang Kristen meninggalkan gereja.

Kita mungkin saja berbeda pandangan dalam memilih calon pemimpin negeri ini. Meski demikian, marilah kita saling menghormati dengan prinsip kasih yang utama. Ingatlah keselamatan dan sukacita kita tidaklah bersumber dari pemimpin negeri melainkan dari Tuhan yang berdaulat atas alam semesta ini. Presiden silih berganti, datang dan pergi, tetapi pemerintahan Allah tetap selama-lamanya. 

`~BT20231105

Misteri Tuhan Yang Tak Terselami

Salah satu Bapa gereja St. Agustinus pernah mengatakan, “Si comprehendis, non est Deus”, yang artinya jika engkau mengerti, itu bukanlah Tuhan. Menurutnya jika kita bisa mengerti semua tentang Tuhan, maka Dia bukan lagi Tuhan yang hebat dan ajaib karena Dia tidak lebih besar dan lebih hebat dari pemikiran manusia. Dan itu bukanlah Tuhan yang digambarkan dalam Alkitab.  

Alkitab banyak menceritakan tentang misteri Tuhan yang tidak terselami.  Sebuah misteri dalam teologi Kristen merujuk kepada sesuatu yang diyakini benar berdasarkan apa yang tertulis di Alkitab, namun keterbatasan pikiran manusia tidak dapat memahami sepenuhnya.  Beberapa contoh misteri adalah: Bagaimana bisa Allah tidak ada awal dan akhir? Bagaimana bisa enam hari Tuhan menciptakan alam semesta yang kompleks ini? Bagaimana mungkin Tuhan yang agung itu menjadi manusia dan bahkan mati untuk menebus dosa manusia yang jahat kepadaNya? Bagaimana menjelaskan Tuhan itu Satu adanya tetapi tiga pribadi yang berbeda? Dan masih banyak misteri lainnya. 

Tiada seorang pun di antara kita yang dapat memahami Tuhan secara mendalam dan sempurna. Ibaratkan ember tidak mungkin bisa menampung semua air di lautan, demikianlah sesuatu yang terbatas tidak mungkin bisa memahami hal yang tidak terbatas.  Kata-kata tidak akan pernah bisa cukup untuk menggambarkan keberadaan Tuhan. Jalan pikiran Allah tidak terselami, siapakah yang dapat mengerti? (Rom. 11:33), rancangan dan jalan pikiranNya setinggi langit (Yes. 55:8-9). Tuhan adalah pribadi yang kekal, tak terbatas, mandiri tidak bergantung pada apapun. Tuhan melakukan apa yang Ia kehendaki dan Dia tidak pernah minta nasehat dari manapun. Karena kedaulatanNya, Dia menentukan waktu dan tempat untuk semua peristiwa di dunia ini. Tuhan bekerja dalam cara yang misterius dan di luar pemikiran manusia. 

Meskipun Allah adalah pribadi yang begitu agung dan tak terselami namun Ia mengundang kita untuk mengenal dan berkomunikasi secara pribadi denganNya. Tuhan sudah menyingkapkan keberadaanNya kepada manusia melalui karya ciptaanNya di alam semesta ini, melalui tulisan yang diilhamiNya yaitu Alkitab, maupun melalui diri Yesus. Tujuan penyingkapan ini supaya manusia mengenal  perbuatan, karakter, bahkan pengampunan dari Tuhan. Jika kita serius mencari Dia, maka kita akan merasakan hal ini: Semakin kita mengenal Tuhan maka semakin kita sadar dan kagum betapa Tuhan itu begitu  luar biasa dan tak terselami. 

Tuhan memang memiliki rahasia yang tidak diceritakan kepada siapapun, namun Ia telah menyingkapkan apa yang perlu kita percayai (Ula. 29:29). Bagian kita adalah mengimani apa-apa yang terungkap dalam Alkitab. Untuk bagian yang tidak bisa kita pahami dan belum terungkap, kita serahkan kepada Tuhan. Ketidaksempurnaan kita dalam memahami misteri Allah seharusnya membawa kita kepada rasa hormat dan tunduk kepada Allah karena Dia maha kuasa dan berdaulat dan kita adalah manusia yang lemah.  Meski kita tidak bisa sempurna memahami Allah, tetapi itu sudah dapat memiliki arti dalam hidup kita. Allah ingin kita terus belajar tentang Dia sampai suatu saat kita bertemu muka dengan Dia Allah yang agung itu.

~BT20231001

Mengatasi Sifat Materialistis

Salah satu tantangan orang Kristen untuk hidup berkenan kepada Allah adalah sifat materialistis yang banyak menggoda kehidupan kita. Materialistis merupakan sikap mental yang menganggap harta, kemewahan, dan kenikmatan yang kita miliki bisa memberi kebahagian dan kesejahteraan hidup. Materialistis bukanlah hanya terjadi pada orang kaya, tetapi bisa juga pada orang miskin. Orang kaya: semakin banyak yang ia punya, semakin banyak ketidakpuasan. Orang miskin: merasa hidup tidak adil karena mereka punya sedikit dibandingkan orang lain. Mengapa orang selalu ingin lagi dan lagi dalam mengejar uang dan harta? Bisa saja karena kita terpengaruh oleh konsep yang salah tentang kebahagiaan. (1) banyak harta akan membuat saya bahagia dan tenang karena semua bisa saya beli. (2) kekayaan membuat  saya lebih eksis dan diakui orang. Apalagi di zaman media sosial sekarang:  ukuran kehidupan dan status sosial kita dilihat dari materi: berapa banyak uang yang kita punya, harta apa yang kita miliki,  jabatan dan posisi apa yang kita pegang. 

Alkitab tidaklah melarang kita untuk memiliki harta kekayaan atau keinginan kita untuk menikmati hidup dari hasil kerja keras kita. Tentu harta adalah salah satu bentuk berkat dari Tuhan kepada kita (Ula. 28:8). Namun Yesus pernah mengingatkan kekayaan yang berlimpah  akan menyulitkan kita untuk mengikut Tuhan. Ia memberi perumpamaan yang agak ekstrim: Akan lebih gampang unta lewat lubang jarum, daripada orang kaya masuk surga (Luk 18:25). Ada dua dampak buruk dari sikap materialistis yang kita punya: (1) mencintai materi daripada Tuhan.  Segala sesuatu yang menjadi idaman, keinginan, dan keterikatan batin kita melebihi kasih kita kepada Tuhan adalah dosa. (2) terpengaruh oleh tipu daya kekayaan. Kita berpikir bahwa kepuasan batin, kebahagiaan hidup, dan ketenangan jiwa akan kita peroleh jika kita memiliki harta kekayaan yang berlimpah. Sifat materialistis yang ingin memperoleh lebih banyak lagi dan tidak pernah merasa cukup akan membuat semua pikiran, tenaga, dan waktu kita terpusat pada bagaimana menghasilkan uang dan membeli harta yang banyak.  Karena mengejar kekayaan itu, kita seringkali menempuh segala cara tak peduli halal-haram yang penting kita bisa dapat uang. Selain itu kita sering mengorbankan banyak hal yang lebih penting dari kekayaan, misalnya: keluarga, hubungan dengan Tuhan. Akibatnya, kita menjadi lelah secara emosional dan mengalami kekosongan spiritualitas. 

Sebenarnya, kalau materi bisa memberi kebahagiaan, pastilah raja yang paling kaya itu, Salomo sudah menceritakannya kepada kita. Sebaliknya ia mengatakan: Siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Semua yang ada di kolong langit ini adalah sia-sia (Pkh. 2:11). Justru Salomo menemukan kunci kebahagiaan: takutkah akan Tuhan dan peganglah perintahNya (Pkh.12:13). Untuk mengatasi sifat materialistis dalam diri kita:  (1) sandarkan hidupmu kepada Tuhan karena Ia yang memelihara hidupmu; (2)  kembangkan rasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Alkitab mengatakan adalah suatu keuntungan bagi kita jika kita bisa merasa cukup. (1 Tim. 6:6);  (3)  mau berbagi dan memberi.

Yesus meminta kita untuk menjaga hati kita dari sifat materialistis, bahwa hidup dan kebahagiaan kita tidaklah bergantung pada kekayaan (Luk 12:15).  Uang, harta dan kekayaan  bisa berkurang dan hilang dalam sekejap. Karena itu janganlah menaruhkan hati dan kebahagiaan kita pada sesuatu yang sementara dan bisa lenyap, namun seharusnya kepada yang bersifat kekal. Hanya Kristus yang pasti,  tidak pernah hilang, dan kekal. Harta orang Kristen yang benar adalah Kristus! Di mana hartamu berada, disitulah hatimu berada!

~BT20230903

“POSITIVE THINKING” YANG NEGATIF

Kita sering mendengar ungkapan seperti ini bukan? “hati-hati dengan perkataanmu, sebab ucapan adalah doa,”  “awas lho kata-katamu punya kuasa berkat atau kuasa kutuk.” Seolah-olah kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan dan kuasa spiritual yang dapat berdampak dalam hidup kita. Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh ajaran “New Age Movement” tentang “positive thinking.” Pandangan ini mengajarkan adanya aura berkaitan dengan pikiran dan perkataan kita. Apa yang kita pikirkan dan fokuskan dapat membawa energi ke dalam otak kita dan itu dapat mengubah situasi hidup kita. Kalau kita berpikir positif dan berkata-kata yang optimis maka kita  akan menarik energi positif yang membawa  hasil yang baik, dan juga sebaliknya. Ada banyak seminar, buku,  pelatihan  motivasi dan meditasi (yoga) untuk membangkitkan kekuatan berpikir positif manusia.

Ajaran “positif thinking” sudah banyak merambat kepada ajaran gereja, dan sulit dibedakan karena prakteknya pikiran positif itu dibungkus di “dalam nama Yesus”. Kita diajarkan untuk berpikir positif, mengatakan hal-hal rohani, mengklaim berkat Tuhan, dan jika cukup  beriman maka harapan dan keinginan kita akan menjadi kenyataan. Tentu harapannya adalah secara fisik kita sehat, secara materi kita kaya, dan secara pribadi kita bahagia. Mereka menyalahgunakan ayat: Apa saja yang kamu minta dan doakan, ..hal itu akan diberikan padamu (Mar 11:24). Iman dianggap sebagai tombol untuk mengontrol Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan.  Seolah Tuhan itu adalah jin dalam botol yang jika kita bacakan mantra (doa) maka ia akan memenuhi permohonan kita. Kalau anda punya iman yang cukup, seharusnya hal buruk dan kesulitan tidak terjadi padamu dan anda akan sejahtera.  Supaya banyak jemaat datang ke gereja, maka pendeta mesti mengajarkan hal-hak positif yang membangkitkan gairah, semangat yang berapi-api dan memotivasi jemaat untuk mengejar impian dan keinginannya, dan mesti menghindari berbicara hal negatif misalnya dosa, neraka, dan penderitaan. Apa yang akan membuat jemaat betah (dan memberikan uangnya) di dalam gereja, maka ajarkan apa yang mereka mau dengar di telinga mereka.

Pikiran dan perkataan kita tidak memiliki daya magis atau spiritual, namun kata-kata (firman) Tuhanlah yang memiliki kuasa apapun yang Tuhan mau. Manusia tidak memiliki kontrol atas apapun dalam realitas hidupnya.  Berkat kita tidaklah bergantung kepada pikiran atau perkataan positif kita, tetapi bergantung pada kehendak dan waktunya Tuhan. Alkitab tidak pernah mengajarkan mengikut Yesus adalah hidup yang penuh dengan kelimpahan, kesehatan, kemakmuran. Yesus adalah model terbaik orang Kristen! Meskipun Ia memiliki segala kuasa dan kekayaan,  Ia tidak hidup dalam kelimpahan dan kemakmuran, bahkan sebaliknya Ia hidup penuh rintangan, menderita, bahkan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita orang berdosa. Jika kita membaca pahlawan iman dalam Ibrani 11, mereka dipuji karena imannya, bukan karena kuasa dari pikiran atau perkatan positif mereka.

Mari memikirkan Firman Tuhan dengan benar,  mengungkapkan  cinta kasih dan ketundukan kita kepada Allah. Kita mempercayai semua kebijaksanaan dan kebaikan Allah terlepas apapun jawaban doa dan situasi hidup kita. 

~BT20230806

Hidup Saleh dalam Dunia yang Cemar

Kita hidup di dunia yang  cemar akibat dari dosa. Jika kita melihat sekeliling kita, maka kita menyaksikan beberapa gaya hidup duniawi yang cemar itu.   Sekularisme – hidup yang tidak lagi percaya kepada Tuhan dan manusia hanya bergantung pada diri sendiri. Materialisme – kita menempatkan hal-hal materi termasuk uang, kekayaan, dan kesuksesan menjadi paling penting dan cenderung menjadi berhala modern bagi kita.  Seksualitas yang menyimpang – orang mengabaikan dan mencemarkan hukum Tuhan tentang hubungan seksual yang seharusnya dalam pernikahan saja. Gaya hidup ini menjadi trend yang cenderung semakin meningkat dan banyak orang mulai menerimanya sebagai perkembangan zaman. Bahkan fenomena ini juga terjadi di dalam gereja dan umat Tuhan di mana kita cenderung bersikap kompromi dan toleran terhadap cara pikir hidup duniawi yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

         Karena kita masih hidup di dunia ini dengan gaya hidupnya, tentunya tidak gampang untuk menjalani kehidupan kekristenan kita. Orang Kristen pun sebenarnya tidak kebal terhadap godaan gaya hidup duniawi. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa hidup saleh hidup di dunia yang fasik ini? Apakah kita mengambil sikap ikut arus demi kenyamanan hidup kita? Atau haruskah kita mengasingkan diri kita dari masyarakat supaya kita tidak tercemar?

         Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita adalah orang yang numpang lewat di dunia ini. Perjalanan kita adalah menuju negeri yang permanen di surga. Meskipun kita hidup di antara orang-orang fasik, kita diharapkan memiliki gaya  hidup yang berbeda dengan gaya hidup duniawi karena kita adalah warga surgawi. Kita mesti menjauhkan diri dari keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Pet. 2:11). Artinya kita mesti melawan godaan dosa. Ingatlah, dosa mungkin menarik dan terlihat baik pada saat itu, tetapi dosa juga merusak dan menghancurkan jiwa kita. Untuk melawan godaan dosa, manusiawi kita tidak kuat melawannya, maka kita berdoa meminta kekuatan Tuhan untuk menang atas godaan dosa. Kita juga mesti teratur merenungkan firman Tuhan setiap hari dan menggunakannya sebagai senjata untuk melawan godaan yang datang. Selain itu penting juga kita untuk menghindari situasi yang bisa membawa kita kedalam pencobaan. 

  Kita juga diminta untuk melakukan apa yang benar (1 Pet. 2:12) saat hidup dalam dunia yang fasik ini. Cara hidup kita harus meniru apa yang Yesus lakukan: Ia penuh kasih, mengampuni,  peduli dan membantu orang lain. Kehidupan rohani kita mesti menghasilkan buah yang enak dilihat dan dirasakan orang lain. Kehidupan saleh seperti ini bisa kita lakukan terhadap keluarga, rekan kerja, tetangga, atau teman sekelas kita. Dengan begitu, mereka akan melihat kebaikan dan kasih Tuhan melalui hidup kita. Semua tindakan saleh kita akan menjadi kesaksian Injil yang baik bagi orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan. 

~BT20230708

Pentakosta Sebagai Hari Panen jiwa

Dalam kalender gereja, minggu ini kita memperingati hari Pentakosta dalam konteks Perjanjian Baru yaitu pencurahan Roh Kudus sebagaimana dinarasikan dalam Kisah Para Rasul 2.  Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus menjanjikan Roh Kebenaran bagi murid-muridNya (Yoh. 14:16-17) dan  meminta para murid menunggu janji itu digenapi. Pencurahan Roh Kudus sebenarnya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yoel (Yoe. 2:28) sekitar 900 tahun sebelum penggenapannya, yaitu Roh Kudus turun pada para murid Tuhan Yesus pada hari Pentakosta, yang aslinya merupakan hari raya Yahudi. 

Kata “Pentakosta” berasal dari bahasa Yunani sebagai bahasa asli Perjanjian Baru yang artinya ke-limapuluh. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk merayakan “Hari Raya Tujuh Minggu” atau “Hari Raya Menuai”, yang dirayakan pada hari ke-limapuluh sesudah Hari Raya Paskah (Kel. 23:16; 34:22; Bil. 28:26), makanya dikenal juga sebagai Pentakosta. Pada hari raya ini, orang Yahudi mempersembahkan hasil panen ke bait Allah. Pentakosta juga menjadi peringatan hari di mana Allah memberikan dua loh batu Hukum Taurat kepada bangsa Israel melalui Musa di Gunung Sinai, lima puluh hari setelah orang Israel keluar dari Mesir (Kel. 19). Demi perayaan Pentakosta ini, orang Yahudi dari seluruh dunia hijrah ke Yerusalem membawa panen untuk dipersembahkan ke bait Allah sebagai ucapan syukur atas berkat Allah. Namun mereka belum percaya kepada Kristus sebagai juruselamat.

Jadi bukanlah suatu kebetulan jika Roh Kudus turun pada hari perayaan Pentakosta bagi orang Yahudi. Dalam rancangan Allah yang hebat itu, Allah menurunkan Roh Kudus dalam bentuk lidah api kepada 120 orang percaya, yang merupakan pengikut Kristus mula-mula. Manifestasi Roh Kudus pada murid-murid adalah karunia lidah yaitu karunia  berbahasa asing yang tidak pernah dipelajari oleh si pengucap tetapi merupakan bahasa lokal si pendengar dan tentunya dapat dipahami si pendengar. Banyak orang Yahudi dari luar Yerusalem takjub mendengar perbuatan ajaib Allah dalam bahasa lokal mereka sendiri. Ini bukanlah bahasa lidah yang dapat dipelajari, dibuat terasa asing di telinga, ditiru dan diulang-ulang dalam ibadah. Dalam Pentakosta itu, Roh Kudus berkarya dalam membuka hati orang yang belum percaya dan 3000 orang Yahudi menjadi percaya dan dibaptis (Kis. 2:41). Lalu orang percaya itu berkumpul dan bersekutu membentuk gereja mula mula. Ini adalah hari Minggu,  hari lahirnya gereja Perjanjian Baru yang percaya kepada karya keselamatan Kristus, bukan kepada kesalehan dan ritual. Setelah peristiwa ini, meski melalui penganiayaan, namun  Injil tersebar ke seluruh dunia.

Meski Pentakosta yang awalnya adalah tradisi Yahudi untuk merayakan panen, namun Allah mengubahnya menjadi hari “memanen” jiwa baru untuk percaya kepada Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Setiap orang Kristen yang sungguh percaya kepada Kristus pasti memiliki Roh Kudus. (Kis. 2:38). Dengan Roh Kudus kita semua dibangun untuk menghasilkan buah Roh dan menjadi saksi Kristus di manapun kita berada.

~BT20230528

Bekerja dengan Teologi Kerja

Kalau kita ditanya “apa sih tujuan kita bekerja”? Mungkin banyak dari kita menjawabnya “untuk mendapatkan uang demi membeli kebutuhan hidup.” Jika tujuan kita bekerja hanyalah alasan ekonomi semata maka tidaklah mengherankan jika banyak orang tidak happy dengan pekerjaannya sekarang di tengah tuntutan zaman yang serba hedonis. Namun kenapa kita tetap ada di sana? Ya bisa jadi karena tidak ada pilihan lain (mesti bekerja untuk mendapatkan uang) atau menunggu ada tawaran yang lebih baik. Makanya pekerjaan yang kita lakukan bisa terasa rutinitas, membosankan, melelahkan, bahkan stress. Dampaknya bisa menurunkan produktivitas kerja kita dan mengganggu hubungan interpersonal dengan atasan maupun rekan kerja. Untuk mengatasi itu,  kita bisa belajar apa yang Tuhan ajarkan kepada kita tentang teologi kerja.

Sesungguhnya bekerja adalah bagian dari rancangan Allah bagi manusia sejak semula. Kitab Kejadian menceritakan Allah bekerja untuk menciptakan alam semesta ini termasuk Adam dan Hawa. Setelah tercipta, perintah pertama Allah kepada manusia pertama adalah bekerja menjadi pengusaha taman (Kej. 2:15). Allah menciptakan manusia untuk berkarya dan bekerja.  Sayangnya kejatuhan Adam dalam dosa membuat dunia ini tidak lagi ideal seperti yang Allah rancangkan semula. Namun Allah tetap meminta manusia untuk bekerja karena itulah yang akan menopang kelangsungan hidup manusia. Dampak dosa dalam dunia kerja adalah tanah menjadi sulit diolah karena banyak semak duri (Kej 3:18). Itulah sebabnya usaha dan pekerjaan kita tidak pernah menjadi mudah, justru penuh tantangan, kesulitan, persaingan, dan tidak ada jaminan bahwa semua usaha kita membawa keberhasilan.

Dalam rancangan Allah, bekerja adalah panggilan mulia bagi orang Kristen. Melalui pekerjaan kita, Allah memberkati  kita untuk memenuhi kebutuhan dasar kita misalnya makanan dan tempat tinggal. Bekerja juga sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah atas anugerahnya misalnya kesehatan dan kecerdasan, lalu kita memakai semua itu dalam pekerjaan kita. Kita juga dapat menjadi garam dan terang yaitu saksi Kristus dengan menunjukkan karakter Kristus di tengah tekanan dan tantangan pekerjaan. Yesus pernah mengingatkan bekerja bukan hanya untuk makanan saja,  namun yang paling utama adalah bekerja dengan nilai-nilai surgawi karena kita sudah diselamatkan (Yoh 6:27). Bekerja bukan utamanya mengejar kesuksesan materi, namun bekerja dengan motivasi memenuhi panggilan Kristus menjadi berkat bagi keluarga, tempat pekerjaan, maupun bagi orang lain. 

Dengan mengingat panggilan Tuhan, mari kita bekerja lebih semangat esok hari, penuh gairah, dan  berusaha menjadi karyawan terbaik, manajer terbaik, bos terbaik, atau apapun yang kita kerjakan, lakukan yang terbaik. Semua pekerjaan yang kita lakukan adalah anugerah Tuhan dan berharga di mata Tuhan jika kita melakukan pekerjaan itu seperti untuk Tuhan (1 Kor. 10:31).

~BT20230430

Sejarah Israel dalam Karya Penebusan

Sejarah bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah begitu penting bagi kita untuk memahami kematian Kristus.  Untuk mengerti keberadaan bangsa Israel, maka kita perlu kembali kepada Perjanjian Allah dengan orang tua pertama kita: Adam dan Hawa saat mereka jatuh dalam dosa (Kej. 3:15).  Allah berjanji akan mendatangkan Mesias dari keturunan Adam yang akan mengalahkan kuasa Iblis dalam dosa dan kematian. 

Allah memanggil Abram untuk menjadi satu bangsa yang besar yang akan memberkati bangsa lain (Kej. 12:1-3). Melalui cucunya yaitu Yakub, Allah mengubah namanya dan keturunannya menjadi Israel.  Berkat yang besar dari bangsa Israel bagi dunia ini adalah  kedatangan Sang Mesias dalam menunaikan karya keselamatan manusia. Yesuslah yang menjadi alasan utama mengapa Allah memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihanNya. Ini adalah hak prerogatif Allah untuk memilih apa yang berkenan bagiNya. Firman Tuhan menjelaskan bahwa Israel adalah bangsa yang dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayanganNya (Ula. 7:6). 

Iblis tahu bahwa kuasanya akan dikalahkan Sang Mesias yang akan datang dari keturunan Abraham, Ishak, Yakub. Itulah sebabnya, selama ribuan tahun, Iblis dan para kroninya terus berupaya untuk menghancurkan umat Israel. Berbagai suku bangsa menyerang Israel bahkan sampai menawan bangsa Israel di Asyur dan Babilonia. Sejarah bangsa Israel menunjukkan bahwa mereka lebih sering memberontak daripada taat kepada Tuhan. Allah  tetap menjaga bangsa itu dengan mengangkat nabi, hakim, dan raja untuk memimpin Israel.  Allah juga sering menghukum bangsa Israel karena kedegilan dan dosa mereka, namun Allah membebaskan mereka dan membawa mereka pulang kembali ke Tanah Perjanjian Yerusalem. Ini semua Allah lakukan demi menunaikan janji kedatangan Sang Mesias.

Sebagai umat pilihanNya, Allah mengatur tata cara ibadah dan hidup orang Israel. Bangsa Israel mesti hidup kudus dan taat kepada Allah. Mereka mesti mempersembahkan darah dan nyawa binatang yang terbaik sebagai pembayaran hukuman dosa yang mereka lakukan.  Namun ibadah penyerahan hewan kurban ini tidak akan pernah dapat menghapuskan akar masalah perbudakan dosa dan kematian kekal. Ini adalah gambaran bahwa manusia membutuhkan darah yang kudus dan karya pembebasan dari Allah. Allah sendirilah yang menunaikan semua tuntutan dan janjiNya melalui darahNya sendiri yaitu Kristus mati di kayu salib. Segala apa yang Allah tuntut  dari umat Israel yaitu hidup kudus dan taat kepada Allah sudah dilaksanakan dan ditunjukkan Yesus selama hidup di dunia. Semua janji keselamatan Allah untuk manusia sudah diberikan melalui kematian Kristus di kayu salib. Rasul Paulus sendiri yang menyatakan ini (2 Kor. 1:20). Inilah perjanjian baru Allah dengan manusia yang percaya kepada Kristus. Bagi kita yang hidup dalam Yesus, kita juga adalah umat pilihan dan milik Allah yang juga bertugas untuk memberitakan berita baik keselamatan kepada dunia ini (1 Pet. 2:9).

~BT20230402

MEMBANGUN IMAN YANG BENAR

Setiap orang memiliki keyakinan atau “iman” dalam mempercayai sesuatu atau seseorang. Iman itu diperlukan untuk diyakini karena banyak hal dalam hidup yang belum pasti, tidak bisa terlihat, tidak diketahui atau dirasakan. Kalau sesuatu yang sudah pasti dan terlihat, orang tak perlu lagi membutuhkan iman. Keyakinan itu bisa dilatarbelakangi oleh nilai leluhur, agama, ilmu pengetahuan, dan logika. Bisa saja orang beriman kepada kejeniusan manusia,  benda keramat, atau kekuatan supranatural di luar diri manusia. Dalam dunia yang serba relatif ini, kita mungkin memahami iman seperti es krim: kita memilih apa yang kita suka, bukan apa yang benar. Seringkali iman didasarkan pada apa yang menjadi keinginan pribadi kita, meminta Tuhan untuk memberkati kita, mendatangkan kesejahteraan, dan mewujudkan mimpi kita. Banyak orang berprinsip bahwa iman adalah mempercayai hal yang tidak mungkin atau tidak bisa dipercaya. Bagaimana iman yang benar menurut Alkitab?

Menurut Ibrani 11:1,  iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.  Iman yang benar itu memiliki dasar dan bukti yang kuat, bukan sekedar keinginan atau angan-angan. Dasar iman kita adalah janji Allah kepada kita yang berharap kepadanya. Janji Allah utama dalam hidup kita adalah pengampunan dosa, penyertaan Tuhan, dan hidup yang kekal. Iman mempunyai kepastian dan bukti yang kita percayai dengan apa yang Allah telah kerjakan di dalam dunia ini. Bukti itu begitu banyak dan luar biasa. Contohnya: Allah menciptakan dunia ini, Dia melakukan berbagai mukjizat yang kadang bertentangan dengan hukum alam, Diapun sanggup mengubah apa yang kelihatan buruk menjadi sesuatu yang baik bagi manusia. Meski kita tidak melihatnya namun kita percaya bahwa seluruh narasi Alkitab adalah benar dan nyata. Jika pikiran kita tidak mempercayai apa yang tertulis dalam Alkitab maka kita tidak memiliki iman yang benar.

Dari mana datangnya iman? “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus,” (Roma 10:17). Kita mesti mendengar Firman, lalu Firman itu akan menimbulkan kepercayaan yaitu iman dalam hati. Telinga mendengar, hati percaya. Oleh karena itulah iman yang benar mesti dibangun oleh pengenalan dan hubungan yang erat antara kita dengan Allah. Orang yang benar beriman adalah orang yang memiliki waktu pribadi dengan Tuhan baik dalam doa maupun perenungan Firman Tuhan. Ingatlah iman orang Kristen berpusat pada Allah, kita mempercayai janji Allah meskipun keadaan kita terlihat sulit. Allah peduli akan hidup kita.

@BT20230312

1 2 3