Kedaulatan Allah dan Kehendak Bebas Manusia

Banyak orang mempercayai bahwa hidupnya sepenuhnya dikendalikan oleh takdir, keberuntungan, ataupun nasib. Takdir sering dianggap sebagai rangkaian peristiwa yang telah ditentukan sebelumnya oleh dewa atau Tuhan dan semuanya berada di luar kendali manusia. Kepercayaan pada takdir membuat orang menjadi “pasrah” dan berpikiran bahwa “kita tidak dapat berbuat apapun untuk mengubah takdir” atau “apapun yang terjadi, terjadilah”. Itulah sebabnya banyak orang yang terjebak oleh kesalahan masa lalu, takut mengambil keputusan dalam hidupnya, takut akan masa depan yang gelap.
Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat dan manusia memiliki kehendak bebas. Kedaulatan Allah artinya Allah secara mutlak dan tak terbatas dalam mengendalikan dan mengarahkan segala sesuatu di alam semesta ini (Dan. 4:35). Meskipun Allah berdaulat, Alkitab juga menegaskan manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab dalam menentukan tindakan atau jalannya sendiri (Ula. 30:19 ). Sejak awal umat manusia digambarkan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan. Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memberikan perintah kepadanya: Adam boleh makan buah dari setiap pohon di taman ini kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, karena pada hari Adam memakannya, ia akan mati. Perintah ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kemampuan kepada Adam untuk memilih tindakannya dan ada tanggung jawab yang menyertainya.
Bagaimana kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia bisa benar keduanya dan berjalan bersama memang tidak mudah untuk dipahami. Terkadang orang mengambil salah satu dari dua ekstrem yang bertentangan dengan Alkitab. Di satu sisi, beberapa orang menekankan kedaulatan Allah yang mengesampingkan pilihan manusia. Bagi mereka, manusia tidak lebih dari sekedar robot yang hanya melakukan apa yang telah diprogram secara kedaulatan Tuhan untuk mereka lakukan. Sementara di sisi ekstrim lainnya, sebagian orang menekankan kehendak bebas manusia yang sepenuhnya independen dari Allah dan menganggap Tuhan tidak memiliki kendali penuh dan pengetahuan atas segala sesuatu.
Mustahil bagi kita untuk sepenuhnya memahami hubungan antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas serta tanggung jawab manusia. Ini seperti dua sisi mata uang, yang harus berjalan bersama. Di satu sisi, Tuhan berdaulat sepenuhnya untuk membentuk dan mengarahkan kehendak manusia. Di sisi lain, manusia memiliki kehendak bebas dan sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka. Kebebasan manusia terbatas dan manusia tidak berdaulat atas kehidupannya. Hanya Allah yang berdaulat.
Alkitab tidak meminta kita untuk memilih antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Malah kita seharusnya merangkul keduanya. Allah adalah Raja yang berdaulat yang mengarahkan seluruh sejarah, namun Tuhan juga mengundang kita untuk membuat pilihan yang benar dalam mengikuti-Nya. Kebebasan sejati manusia ditemukan bukan dalam melakukan apa pun yang kita inginkan, tetapi dalam menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah melalui kuasa Kristus.
~BT20260607









Kita perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, kita adalah bagian dari sebuah kebudayaan dan tidak bisa menutup diri dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Kebudayaan ini bisa mencakup bahasa, identitas, adat istiadat, tradisi,maupun cara hidup. Memang ada berbagai adat dan tradisi dari nenek moyang kita yang menjadi kontroversi dan bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Lalu bagaimana kita menyikapi adat istiadat dan tradisi tersebut? Apa kita mesti menolak semua tradisi itu?, atau apakah kita mesti menerima semua adat?, atau apakah kita bisa menyesuaikan adat dengan prinsip iman Kristen.




Adalah hal yang patut kita syukuri bahwa kita hidup di negeri demokrasi yang melibatkan partisipasi rakyatnya dalam memilih pemimpinnya yaitu presiden. Ikut dalam pemilu adalah hak istimewa bagi kita untuk ikut membentuk pemerintahan di mana Allah perintahkan kita untuk tunduk kepadanya (1 Pet. 2:13). Dalam pemilu tentu ada kontestasi kandidat yang akan memberi tantangan bagi kita untuk mempertimbangkan calon pemimpin yang akan kita pilih.
Salah satu Bapa gereja St. Agustinus pernah mengatakan, “Si comprehendis, non est Deus”, yang artinya jika engkau mengerti, itu bukanlah Tuhan. Menurutnya jika kita bisa mengerti semua tentang Tuhan, maka Dia bukan lagi Tuhan yang hebat dan ajaib karena Dia tidak lebih besar dan lebih hebat dari pemikiran manusia. Dan itu bukanlah Tuhan yang digambarkan dalam Alkitab. 

Dalam kalender gereja, minggu ini kita memperingati hari Pentakosta dalam konteks Perjanjian Baru yaitu pencurahan Roh Kudus sebagaimana dinarasikan dalam Kisah Para Rasul 2. Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus menjanjikan Roh Kebenaran bagi murid-muridNya (Yoh. 14:16-17) dan meminta para murid menunggu janji itu digenapi. Pencurahan Roh Kudus sebenarnya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yoel (Yoe. 2:28) sekitar 900 tahun sebelum penggenapannya, yaitu Roh Kudus turun pada para murid Tuhan Yesus pada hari Pentakosta, yang aslinya merupakan hari raya Yahudi. 
