Setia Jangan Murtad

Kita perlu menyadari bahwa Kekristenan adalah sebuah perjalanan iman: ada permulaan, pertengahan, dan akhir bersama Kristus. Namun sayangnya ada banyak orang yang tidak setia sampai akhir dan meninggalkan iman Kristen. Sebagian dulunya adalah orang yang rajin ibadah, bersaksi dan aktif dalam pelayanan. Dari luar terlihat tumbuh bersama orang percaya lainnya,  bagaikan padi dan ilalang, sehingga sulit terlihat perbedaannya. Namun perjalanan waktu membawa mereka tidak setia bahkan menyangkal dan meninggalkan iman Kristen.  Dulunya mereka sepertinya bagian dari kita, tetapi tidak bersungguh-sungguh dalam iman dan mereka meninggalkan kita, berarti mereka bukanlah Kristen sejati (1 Yoh 2:19).  Ini yang disebut murtad: menyangkal iman dengan sadar, yang  dulunya mengaku percaya dan beriman kemudian meninggalkan imannya. Firman Tuhan katakan orang yang murtad berarti mereka menyalibkan lagi Kristus dan mempermalukan Kristus di depan umum  (Ibr. 6:6).

Meski banyak alasan orang untuk murtad namun umumnya ada 2 penyebab: doktrin, dan gaya hidup. Jika orang tidak memahami doktrin Alkitab yang benar maka ia akan mudah diombang-ambingkan oleh ajaran lain. Ada orang yang  mempertanyakan doktrin Kekristenan namun tidak mendapatkan jawaban seperti yang ia mau, dan itu membuat ia tidak lagi mempercayai iman Kristen. Gaya hidup orang Kristen yang tidak tunduk kepada Kristus dan cenderung hidup mengikuti kesenangan dunia ini membuat  imannya tidak berakar pada Kristus. Orang yang tidak memelihara imannya,  yang tidak mengerjakan keselamatannya, dan hidup sembarangan, maka cepat atau lambat, ia akan menjauh dari Tuhan. Ketika ada badai topan datang maka cenderung menyalahkan Tuhan dan bisa jadi meninggalkan Kekristenan.  Jika ada tawaran menggiurkan dari dunia ini misalnya karir ataupun  jodoh tetapi mesti menyangkal iman maka ia pun akan murtad. 

Bagi saya, mereka yang murtad sebenarnya  menunjukkan mereka belumlah pernah menjadi orang Kristen sejati, Kristus belum sungguh hadir di dalam hati dan karakter mereka belum diubahkan oleh Kristus. Alkitab menyatakan bahwa tidak semua orang yang mengaku “Kristen” adalah pengikut Kristen yang sungguh-sungguh. Tuhan yang mengetahui hati kita akan menolak setiap kita yang tidak sungguh  dalam iman, meskipun kita sangat hebat dari penampakan luar. (Mat. 7:21-23). Saya percaya bahwa orang Kristen sejati akan terus menjaga hidupnya seturut Firman Tuhan meski apapun yang terjadi dan atau apapun tawaran menggiurkan dari dunia ini, ia tidak akan pernah meninggalkan imannya. Orang Kristen sejati tidak akan pernah murtad!

Memang betul keselamatan kita adalah anugerah dari Tuhan Yesus yang sudah menanggung semua hukuman dosa kita di kayu salib. Keselamatan  bukanlah anugerah murahan, tetapi menuntut totalitas perubahan karakter hidup kita yaitu pertobatan dari dosa kita, tunduk kepada Tuhan, dan hidup menghasilkan buah yang baik. Orang Kristen sejati mesti bertekun dalam iman meskipun sering kali kita mungkin jatuh bangun dalam iman. Kita bisa belajar dari kisah dua murid Tuhan Yesus yang pernah jatuh dalam dosa: hasilnya Yudas bunuh diri, tetapi Petrus bertobat dan kembali melayani Kristus menjadi penginjil yang hebat. Tentu kita tetap bisa bertahan dalam iman jika kita bersandar pada Tuhan. Allah selalu menjagai orang pilihanNya melalui hubungan pribadi dengan kita. Karena itulah kita mesti bertekun  dalam doa, membaca Firman Tuhan, dan beribadah.  Ini mesti terus berlangsung sepanjang hidup kita.  Ingatlah, kita telah beroleh bagian dalam Kristus asal kita terus bertahan setia sampai akhir (Ibr. 3:14).

~BT221016

Teologi Utang Piutang

Sastrawan Inggris, William Shakespeare dalam drama Hamlet punya ungkapan yang terkenal: “Janganlah menjadi pemberi utang dan jangan pula menjadi pengutang. Karena menjadi pemberi utang, kamu bisa kecewa kehilangan uangmu dan teman. Kalau jadi pengutang, kamu menunjukan kelemahanmu dalam mengurus dirimu.” Seringkali ungkapan ini nyata dalam kehidupan kita, khususnya dalam masalah pinjam meminjam uang atau utang piutang. Utang sudah menjadi gaya hidup orang kekinian namun seringkali berdampak  buruk kepada diri sendiri dan orang lain. Artikel singkat ini membahas bagaimana pandangan Alkitab terhadap utang-piutang.

Firman Tuhan tidaklah melarang atau menganggap kita berdosa karena berutang. Namun Alkitab mendorong kita sebisa mungkin untuk menghindari utang (Rom. 13:8) karena motif dan dampak negatifnya. Kita seringkali mengabaikan Tuhan dalam mengelola keuangan kita. Mengejar keinginan materi  menjadi awal terjebaknya kita dalam utang. Kebutuhan pokok kita adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal tetapi seringkali kita menginginkan lebih dari itu semua.  Apa yang tadinya keinginan semata  menjadi kebutuhan utama yang harus dimiliki dan akhirnya  kita membelinya meski itu berutang!.  Tentunya, selama kita membelanjakan uang lebih daripada pendapatan kita, kita akan terus terjerat dengan utang. Berutang membuat kita kehilangan martabat dan kebebasan serta terikat kepada pemberi utang. Orang yang berutang menjadi budak dan ekor dari orang yang mengutangi yang menjadi kepala (Ams. 22:7; Ula. 28:44). Banyak orang tidak lagi sukacita dalam pelayanan oleh karena keterikatan dan jerat utang. Tentunya kontribusi keuangan kepada pelayanan pun bisa berkurang.  Selain itu, asumsi dalam berutang adalah utang kita belanjakan hari ini dan kita berjanji akan bayar di kemudian hari. Seolah-olah hari esok ada di tangan kita, padahal kita tidak pernah tahu akan hari esok (Ams. 27:1).  

Selama kita bisa mengelola keuangan dengan bijaksana,  jumlah nilai aset dan pendapatan bisa melunasi utang, maka dalam hal yang sangat mendesak dan perlu, kita boleh saja berutang. Kita mesti sadar jika kita berutang maka kita mesti punya perencanaan yang jelas dan sanggup membayar utang seperti yang kita janjikan. Ingatlah,  utang adalah uang yang dipinjamkan,  bukanlah hadiah atau jackpot. Uang itu dimiliki oleh pemberi utang, yang sementara saja dipinjamkan kepada kita, dan kita mesti mengembalikan uang itu pada waktunya. Alkitab sangat jelas menyatakan apa yang kita pinjam .mesti dikembalikan (Kel. 22:14), bayarlah utang (Roma 13:7). Jika kita tidak membayar utang maka kita adalah orang fasik atau jahat. (Maz. 37:21).  

Bagi kita pemberi utang (kreditur), tujuan utama kita meminjamkan uang adalah menjadi berkat dan menolong orang lain yang membutuhkan pinjaman, bukan untuk menagih bunga atau keuntungan. Alkitab melarang kita mengambil bunga pinjaman kepada saudara dan orang miskin  (Kel. 22:25; Ula. 23:19). Namun utang yang bertujuan kepada komersial (meraih keuntungan), kita bisa menerapkan bunga pinjaman untuk menutupi penurunan nilai uang karena inflasi dan berbagi keuntungan. Uang 100 ribu sekarang bisa membeli pizza, tetapi mungkin 5 tahun kemudian hanya bisa membeli kerupuk.  Tuhan Yesus bahkan memberikan ilustrasi tentang talenta yang mendorong kita untuk mendapatkan bunga dari investasi atau modal kita. (Mat 25:27). 

Tuhan Yesus sudah membebaskan kita dari perbudakan dosa melalui kematianNya di kayu salib. Tentunya Iapun menginginkan  kita lepas dari jeratan utang. Sebisa mungkin kita mesti menghindari meminjam uang dari orang lain. Ketika kita bebas dari utang maka hidup kita terasa lebih ringan, lebih bebas, dan tidur lebih nyenyak.  Selanjutnya kita pun bisa lebih bermurah hati  menjadi berkat bagi orang lain.

~BT20220910.

JANGANLAH MEMBAWA KAMI KE DALAM PENCOBAAN

Judul ini adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam Matius 6:13. Bagian ini agak sulit dipahami karena memohon Allah untuk tidak menggiring  manusia untuk masuk ke dalam pencobaan. sementara di sisi lain, Yakobus 1:13 menyatakan “apabila seseorang dicobai, janganlah ia berkata: Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun”. Sepertinya dua perikop ini bertolak belakang. Bagaimana mungkin kita meminta Allah untuk tidak membawa kita dalam pencobaan, padahal Allah tidak pernah mencobai siapapun?

Untuk memahami perikop keduanya, kita mesti melihat bahasa asli kata “pencobaan,” yang berasal dari bahasa Yunani: peraismos. Kata ini bisa memiliki dua arti: (1) pencobaan dalam arti menggoda untuk berbuat salah atau dosa; (2) pengujian atau penderitaan. Kita tahu bahwa karakter Allah itu adalah kudus dan Diapun mengharapkan kekudusan dari kita. Oleh karena itu, Allah tidak akan pernah membawa kita ke dalam pencobaan yang mendorong kita untuk berdosa. Bahkan menurut Mazmur 23:3, Allah menuntun kita di jalan yang benar. Jika kita berpikir bahwa Allah mencobai kita untuk berbuat dosa, itu tidak benar karena bertentangan dengan karakter kekudusan Allah. Jadi pengertian dari kata “pencobaan” dalam Doa Bapa Kami bukanlah pencobaan dalam artian godaan untuk berbuat dosa, melainkan pencobaan dalam arti pengujian. Godaan berasal dari Iblis yang menginginkan kita jatuh dalam dosa, sementara pengujian berasal dari Allah untuk memperbaharui hidup kita supaya kita iman kita bertumbuh, berbuah matang, dan sempurna. 

Kita perlu memahami meski  Allah tidak pernah menuntun kita untuk jatuh dalam dosa, namun Allah mengizinkan berbagai tantangan, kesulitan, persoalan, dan sakit penyakit dalam hidup kita. Sekalipun kita beriman kepada Allah, pastinya kita tidak akan pernah lepas dari ujian dan kesulitan hidup.  Allah tidak pernah berjanji bahwa hidup kita akan selalu mulus tanpa pencobaan.  Kita boleh saja berdoa agar segala persoalan hidup kita segera diangkat Tuhan. Namun kita perlu belajar dari doa Tuhan Yesus di Taman Getshemani di malam sebelum penyalibanNya.  Dalam status kemanusiaanNya, Tuhan Yesus menginginkan cawan penderitaan itu berlalu, tetapi akhirnya Ia tunduk kepada kehendak Bapa di surga. Tuhan Yesus setia melalui penderitaan bahkan mati di kayu salib. Jika memang Allah menghendaki kita menanggung dan melalui berbagai kesulitan hidup, maka kita bisa berdoa kepada Allah: “Janganlah membawa kami kepada pencobaan.” Doa ini menunjukkan pengakuan kita kepada Allah bahwa kita ini lemah dan kita bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kita memohon agar Allah memberi kita kekuatan supaya kita dapat menanggung pengujian iman, kita tidak lemah dan jatuh dalam  dosa dalam mengatasi pencobaan yang kita lalui. 

Ingatlah Allah itu menguji iman, namun Iblis menggoda supaya kita berdosa. Dalam setiap masalah dan kesulitan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, di saat yang sama Iblis menaburkan bibit godaan agar kita mulai meragukan penyertaan Tuhan,  menyalahkan orang lain dan keadaan bahkan Iblis menggoda kita untuk mengambil jalan pintas sebagai solusi persoalan hidup kita, meskipun itu berbuat dosa. Oleh karena itu, saat pengujian iman dan persoalan hidup hadir, marilah kita tunduk kepada Allah melalui doa dan perenungan Firman Tuhan. Bersama Allah,  kita akan meraih kemenangan dalam pergumulan hidup kita. 

~BT220807

KARUNIA BAHASA ROH

Di dalam perkembangan gereja masa kini, pembahasan tentang bahasa roh menjadi salah satu topik yang selalu hangat. Karunia bahasa roh adalah kemampuan berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari oleh penuturnya namun dapat dimengerti oleh pendengarnya. Berasal dari bahasa Yunani “glossolalia,” yang artinya menuturkan bahasa tertentu (bahasa yang dikenal). Ini adalah  karunia yang  diberikan oleh Roh Kudus untuk memberitakan injil ataupun membangun jemaat, dan bukan karena usaha kita dalam meniru dan berlatih. Dari beberapa kejadian bahasa roh di Alkitab, ada dua kategori: (1) bahasa asing bagi penutur, dikenal dan dimengerti pendengarnya; (2) bahasa asing bagi penutur dan pendengarnya, bisa jadi bahasa ketiga sehingga diperlukan penterjemah. Atau ucapan komat kamit yang tidak ada padanan dengan bahasa apapun di dunia ini. 

Kategori pertama adalah kejadian berbahasa roh di hari Pentakosta setelah Kristus naik ke surga (Kis. 2:1-4). Dalam perkumpulan orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai bahasa nasionalnya, murid-murid Yesus yang tidak pernah kursus bahasa asing itu, dengan kuasa Roh Kudus dapat berbicara berbagai bahasa asing supaya pengajaran tentang kabar keselamatan itu  dapat dimengerti oleh orang-orang asing keturunan Yahudi itu. Dan lihatlah hasil dari pekerjaan Roh Kudus itu, ada 3.000 jiwa baru yang percaya Yesus dan dibaptis!

Kategori kedua bahasa roh adalah yang terjadi di jemaat Korintus. Mereka adalah orang baru percaya, masih bayi dalam iman (1 Kor. 3:1), masih bergumul dalam perselisihan, berhala, dan percabulan.  Paulus melihat jemaat Korintus tidak bertumbuh dalam kasih, malah berdebat soal karunia Roh dan menimbulkan perpecahan.  Dalam 1 Kor. 12-14 Rasul Paulus menegur jemaat tentang penggunaan bahasa roh yang tidak benar dan bahkan ada anggapan bahasa roh adalah karunia Roh terbesar.  Ini juga fenomena yang terjadi di masa sekarang, bukan?  Paulus menyatakan bahasa roh akan bernilai jika orang lain mengerti apa yang kita ucapkan, lebih baik  jika itu diterjemahkan. Jika tidak ada menterjemahkan, lebih baik orang tersebut berbahasa roh secara pribadi kepada Tuhan dalam hati.  Ia bahkan menyatakan dalam persekutuan lebih baik mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti dan membangun daripada ribuan kata bahasa roh. (14:19). Sebab dalam persekutuan, Allah tidak menginginkan kebingungan dan kekacauan, tetapi damai sejahtera. Paulus juga menyatakan bahwa kasih tidak berkesudahan, bahasa roh, dan nubuatan akan berakhir (1 Kor. 13:8). Kasih Allah pada kita bersifat kekal. Mestinya, bagaimana kita mengasihi Allah dan orang lain menjadi tolok ukur pertumbuhan iman kita.

Bahasa roh bukanlah tanda wajib bagi orang Kristen pada saat dibaptis (mengaku percaya). Alkitab menyatakan bahwa setiap orang Kristen otomatis menerima Roh Kudus pada saat ia menerima dan percaya pada Kristus (Kis. 2:38; Gal. 3:2), karena ia dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bahasa roh juga bukan tanda “dipenuhi Roh Kudus”. Tiga hal tanda dipenuhi Roh Kudus: memuji Tuhan, mengucap syukur, rendah hati (Efe. 5:18-21). Tidak ada disebutkan bahasa roh. 

Kita tentu percaya bahwa Tuhan masih terus menunjukkan kuasaNya sepanjang zaman karena dunia ini adalah milikNya. Ia masih melakukan mukjizat termasuk menyembuhkan,, menampakkan diriNya dalam mimpi dan penglihatan, memampukan kita berbahasa roh, dan mukjizat lainnya. Tentu semuanya itu terjadi berdasarkan kehendakNya, waktuNya, dan untuk kemuliaan namaNya. Ada baiknya kita waspada dan selalu menguji segala sesuatunya berdasarkan Firman Tuhan karena Iblispun bisa dan sering meniru apapun yang Allah kerjakan untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. ~BT220605

Hidup Bukanlah Kesia-siaan

Rasanya mencari kebahagiaan adalah tujuan hidup bagi banyak orang. Kita sibuk bekerja, mengejar karir, investasi sana sini, dan memperoleh hasil yang gemilang baik berupa materi maupun kesuksesan lainnya. Namun ada banyak orang yang menyadari di pengujung hidupnya bahwa semua pencapaian gemilang itu tidak dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian batin. Di sisi lain, ada banyak orang yang merasa gagal dalam menggapai apa yang bisa membuat mereka bahagia. Akibatnya, kita bisa saja melihat hidup ini hanyalah kesulitan, masalah, dan penderitaan.  Jika kita hanya fokus kepada masalah hidup sendiri, kita bisa mengalami depresi, kehilangan akal sehat dan merasa tak ada alasan lagi untuk hidup. Lalu ketika kita mengalami salah satu dari kegemilangan atau kegagalan dalam hidup, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita mesti membenci hidup kita? Tentu tidak. 

Raja Salomo dalam Kitab Pengkhotbah memiliki pergulatan yang sama di pengujung hidupnya. Padahal sepanjang hidupnya, ia memiliki segala apa yang kita idamkan di zaman modern ini: kekayaan, kekuasaan, kesenangan, dan kebijaksanaan yang tiada tanding. Apa lagi sih yang kurang dalam hidupnya? Namun ia menyadari bahwa semua pencapaian dan kegemilangannya itu adalah sia-sia.  Ia telah menyaksikan bahwa apapun yang dikerjakan di bawah matahari ini adalah sia-sia (Pkh 1:14). Sepertinya Salomo begitu pesimis dengan hidup ini. Namun ia tahu bahwa di dalam Tuhanlah, manusia bisa menikmati hidupnya (Pkh 2:25; 12:13).

Salomo mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini singkat waktunya, kematian itu suatu yang pasti datang, kehampaan dan kesia-siaan tanpa Tuhan. Kita sudah belajar bahwa dosalah  yang membawa kesia-siaan dan kejahatan dalam kehidupan manusia. Kristus yang adalah Allah itu hadir ke dunia ini untuk menebus kesia-siaan hidup kita dan menjadikan kita ciptaan baru. Hidup kita jadi punya arti karena Kristus!  Jika kita sekarang masih hidup di dunia ini, itu karena anugerah Allah. Ia memiliki rencana yang baik buat kita asalkan kita mau hidup di dalam Tuhan.

Tujuan hidup orang percaya  bukanlah mencari kesenangan dunia ini, mengumpulkan banyak harta, popularitas,  atau bukan lari dari kesulitan dan penderitaan hidup. Kebahagiaan dan sukacita hidup kita berasal dari mengenal Allah, menjalani hidup bersama dengan Allah, dan menjadi terang di tengah dunia yang gelap ini. Praktisnya, kita selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita termasuk tentang cara hidup, keluarga, pekerjaan, bisnis, pelayanan, dan hal yang lainnya. Segala sesuatu dalam hidup kita tidak akan sia-sia jika apa yang kita pikirkan dan kerjakan melibatkan Tuhan dan membawa hubungan kita lebih dekat dengan Tuhan.

~BT20220522

MUDIK KE RUMAH YANG KEKAL

Hidup adalah sebuah perjalanan. Kita semua ada dalam suatu perjalanan hidup sejak kita lahir dan berakhir saat kita meninggalkan dunia ini. Perjalanan itu tidak selalu menyenangkan, ada jalan yang berliku-liku, bergelombang, berbatu dan tidak nyaman untuk dilalui.  Jalan hidup kita dipengaruhi oleh banyak hal, baik dari keputusan pribadi kita maupun banyak hal di luar kendali kita.  Kadang kita perlu berhenti di “rest area” untuk melihat kembali peta perjalanan hidup kita. Kita perlu merenungkan apakah ini jalan hidup yang dulunya saya harapkan? Lalu, kemanakah arah dari tujuan hidup saya?

Perjalanan hidup orang Kristen adalah menapaktilasi jejak yang telah dibuat oleh Kristus. Yesus dari surga singgah sebentar ke dunia ini, menyerahkan nyawaNya sebagai jalan pendamaian bagi kita. Setelah menggenapi karya keselamatan agung itu, Yesus mudik kembali ke surga. Ia sedang mempersiapkan tempat bagi kita di surga sebagai akhir destinasi hidup orang percaya. Kita mesti menyadari bahwa hidup kita di dunia ini bersifat sementara dan tidak akan tinggal di dunia ini selamanya. Ibarat dalam suatu perjalanan liburan, meski  kita melihat  dan menikmati pemandangan alam yang indah, taman bunga yang  semerbak, tempat makan yang enak,  dan penginapan yang nyaman,  namun kita tidak akan tinggal tetap di tempat rekreasi itu.  Karena itu bukan tempat kita berasal dan bukan rumah kita, makanya kita kembali ke rumah kita. Sebagai orang Kristen, kita tidak berasal dari dunia ini melainkan anak-anak Allah. Kita merantau sementara di dunia ini dan akan kembali ke tempat asal kita, yaitu warga kerajaan Sorga (Fil 3:20). Tujuan akhir perjalanan hidup kita adalah surga yang menjadi tempat sempurna dan kekal bagi kita untuk hidup bersama Tuhan dan orang yang kita kasihi. 

Dalam perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan tidak berjanji bahwa semua akan berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Jikalau Tuhan memberkati kita dengan berbagai kesuksesan materi, karir, keluarga, maka kita tentu saja boleh menikmati itu semua. Namun itu bukanlah tujuan perjalanan hidup kita. Kita mesti berpikir bahwa semua yang ada pada kita bersifat sementara dan kita mesti siap untuk meninggalkan semua itu pada waktunya Tuhan. Sebaliknya jikalau Tuhan mengijinkan kita mengalami kesusahan, penderitaan,  dan sakit, maka kita tidak menjadi lesu dan menyalahkan Tuhan. Percayalah, Tuhan ada bersama kita sepanjang perjalanan hidup kita, dalam segala keadaan. Ia sedang melatih,  membentuk kita menjadi pribadi tangguh supaya Ia bisa memakai kita menjadi berkat bagi dunia ini dan mempersiapkan kita memasuki hidup kekal bersamaNya di surga. Maka itu, marilah kita memikul salib, menyangkal diri, dan mengikut Kristus. Dengan identitas kita sebagai warga kerajaan surga,  Allah memanggil kita untuk hidup sebagai perantau di dunia ini dengan fokus hidup kita kepada hal surgawi bahwa kita sedang dalam perjalanan mudik ke rumah yang kekal bersama Kristus. ~BT220424

MENGAPA PERLU PENEBUSAN DOSA

Konsep penebusan dosa sering dipertanyakan banyak orang, mengapa mesti ada penebusan dosa? Jika memang Allah itu maha kasih, maka seharusnya mudah bagi Allah untuk sekedar mengampuni dan menerima manusia tanpa perlu adanya penebusan dosa. Kadang kita sering lupa bahwa karakter Allah bukan hanya kasih, tetapi juga adalah kudus dan adil. Dosa itu sangat bertentangan dengan kekudusan Allah, dan karena Allah itu adil, maka Allah murka akan  keberadaan dosa,  dan setiap dosa mesti dihukum. Kita semua adalah pendosa, dan upah dosa adalah kematian. Ini tidak enak didengar tapi begitulah kata Firman Tuhan dalam Roma 3:23 dan 6:23.  Sepanjang zaman, manusia mencari jalan pendamaian dan jalan keluar  atas rasa bersalah  dan dosa kepada Tuhan.  Misalnya  dengan cara hidup saleh, ibadah, persembahan uang dan materi, atau bahkan lari dan menyangkal keberadaan Tuhan. 

Saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mata mereka tercelik dan tersadar dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka,  lalu mereka  mencari jalan keluar dari rasa bersalah dan dosa dengan langsung menutupi diri mereka dengan cawat dari daun pohon ara dan bersembunyi dari Tuhan yang menciptakan mereka.  Pada momen itu,  Allah berinisiatif mencari Adam dan Hawa dan memakaikan kulit hewann untuk menutupi tubuh berdosa mereka.  Allah tidak langsung menghukum mati Adam dan Hawa, meski Allah bisa saja me-reset manusia dengan produk baru. Malah Allah membuat cara pendamaian dosa dengan penumpahan darah dari hewan yang tidak bersalah atas dosa itu. Allah membutuhkan pengorbanan darah untuk menghapus dosa manusia. Darah dianggap sebagai tanda hidup atau nyawa, dan pada saat darah itu dipersembahkan akan menjadi pendamaian agar hubungan manusia dan Allah bisa dipulihkan (Ima. 17:11). Pendamaian  atas dosa manusia ditegakkan saat  darah hewan kurban dicurahkan dan kematian hewan tersebut sebagai ganti kematian akibat dosa seseorang. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan orang Israel untuk mempersembahkan hewan dengan kualitas terbaik  di untuk disembelih di mezbah Bait Allah, sebagai cara mendapatkan pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah. 

Persembahan korban hewan hanyalah bersifat sementara dan tidak bisa menghapuskan dosa selamanya (Ibr. 10:1-4). Ritual pengorbanan hewan dalam Perjanjian Lama  adalah gambaran bahwa pada waktuNya, Allah yang penuh kasih itu akan menyediakan Anak Domba yang terbaik sebagai persembahan yang sempurna dan kekal dalam diri Yesus. Karena Yesus dilahirkan dari kandungan Roh Kudus, maka Yesus tidak membawa dosa alamiah seperti kita, sehingga Ia menjadi satu-satunya persembahan yang tak bercacat  untuk penebusan dosa manusia.  Keadilan Allah untuk menghukum dosa manusia sudah ditegakkan dan ditanggung saat Kristus menumpahkan darahNya dan menyerahkan nyawaNya di kayu salib. Pengorbanan Kristus di salib membebaskan kita dari kuasa dosa dan hukuman dosa yang seharusnya kita terima. Kita mendapatkan penebusan dosa melalui darah Kristus (Efe. 1:7). Inilah Perjanjian Baru yang Allah berikan kepada setiap orang yang mau percaya bahwa penebusan dosa, jalan pendamaian, dan keselamatan jiwa kita yang kekal hanya melalui Kristus saja. ~BT20220403

BERINVESTASI DENGAN HIKMAT

Sekarang ini ada begitu banyak promosi, tawaran, dan ajakan untuk menginvestasikan uang kita, mulai dari wujudnya yang terlihat sampai kepada yang tak telihat alias virtual. Banyaknya testimoni dari orang-orang yang sukses dalam berbagai investasi tersebut kadang membuat kita termotivasi untuk segera ikut berkecimpung. Namun, tak dapat dipungkiri juga bahwa lebih banyak orang yang mengalami kerugian dan kehilangan uang dalam tempo singkat  hanya karena mengejar kekayaan dengan cara instan atau berinvestasi di jalur yang salah. 

Berinvestasi adalah kegiatan menanamkan uang, aset, atau modal kepada pihak lain dengan harapan akan mendapat nilai lebih dan keuntungan di masa depan. Jenis investasi apapun, tentu semua ada resikonya. Dalam dunia yang penuh dosa dan tidak pasti ini, banyak hal di luar kendali kita. Uang yang kita investasikan di perusahaan, bisa jadi perusahaan itu merugi dan bangkrut. Bahkan, uang yang kita simpan di bawah bantalpun, bisa hilang karena ada pencuri. Oleh karena itu, mengelola keuangan termasuk investasi memerlukan hikmat Ilahi. 

Yang menarik, Alkitab sebenarnya mendorong kita untuk berinvestasi daripada menyimpan uang di bawah kasur. Dalam perumpamaan talenta  (Mat.25)  dan perumpamaan uang mina (Luk.19), Yesus memuji hamba  pertama dan kedua yang sukses melipatgandakan modal awal yang diberikan. Sebaliknya, Yesus mengkritik hamba ketiga yang tidak melipatgandakan modal, malah mengubur uangnya di tanah dan sapu tangan. Perumpamaan itu mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang setia dan bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas yang Tuhan berikan,  dengan menggunakan semua berkat yang Tuhan berikan dan melipatgandakannya untuk kemuliaan Tuhan.

Berinvestasi adalah salah satu cara kita melipatgandakan berkat Tuhan untuk mendukung kehidupan kita sekarang dan masa depan. Ada beberapa pedoman berinvestasi yang kita bisa kita jalankan berdasarkan Alkitab. (1) Sadar akan kemampuan kita dalam berinvestasi dengan memakai dana di luar kebutuhan utama kita.  Kita juga mesti mengerti benar produk atau tempat kita berinvestasi dengan segala resikonya. (2) berinvestasi dalam bisnis atau perusahaan yang memiliki nilai moralitas yang sama dengan Kekristenan.  Kita dapat berinvestasi pada perusahaan yang berdampak positif bagi banyak orang khususnya Kerajaan Allah.  Hendaknya kita menghindari berinvestasi kepada hal yang jahat dan merusak kehidupan manusia (bdk Ula. 23:18). Contohnya perusahaan judi dan kasino, alkohol, industri sex,  tembakau, senjata, dll.  (3) Bukan investasi spekulasi yang menawarkan “profit” kaya mendadak ataupun investasi yang mengutamakan faktor “lucky” (keberuntungan). Kita juga mesti menghindari skema investasi: “Zero-Sum Game” di mana selisih keuntungan dan kerugian adalah nol. Keuntungan yang kita dapatkan berasal dari kerugian orang lain. Kita tentunya tidak ingin bergembira di atas penderitaan orang lain, bukan? Ini akan menjebak kita kepada mentalitas “hasrat cepat kaya” tanpa kerja keras, cinta uang dan membawa ekses kepada dosa (1 Tim 6:9-10).

Apapun jenis investasi yang ingin kita lakukan, prinsip Alkitab tetap berlaku. Investasi bagi orang Kristen tidaklah melulu soal melipatgandakan uang, namun bagaimana kita memuliakan Tuhan yang sebenarnya adalah pemilik dari semua kekayaan kita. Berinvestasi adalah baik adanya selama kita menjalankannya bersama Tuhan demi masa depan kita, anak-anak kita, maupun berkat bagi sesama. Teruslah berkomunikasi dengan Tuhan supaya kita berhikmat dalam mengelola investasi kita

~BT20220306.

TEOLOGI UANG

Ada yang bilang: “uang bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang.” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang, justru kita membutuhkan uang dalam hidup kita sebagai alat tukar yang sah untuk membeli kebutuhan yang tidak bisa kita penuhi sendiri. Dengan uang, kita juga bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Namun di dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini, segala sesuatu yang awalnya baik bisa jadi disalahgunakan.  

Topik uang banyak dibahas di Alkitab di dalam lebih dari 2000 ayat, dan bahkan perumpamaan dalam pengajaran Yesus lebih banyak menyinggung masalah uang.  Uang sejatinya  tidak jahat,  tetapi cinta uanglah yang menjadi akar segala kejahatan (1 Tim 6:10). Uang adalah  salah satu tanda berkat Tuhan kepada kita, tetapi jika kita sudah menempatkan uang di atas segalanya termasuk melebihi kasih kita kepada Tuhan  maka uang bisa menjadi bencana. Jika keinginan menjadi kaya  adalah  hal yang paling utama yang kita kejar dalam hidup ini, maka kita bisa terobsesi untuk mendapatkan uang yang banyak dan mungkin membawa kita terjerumus kepada kejahatan. Karena cinta uang, kita bisa dikuasai hasrat untuk mendapatkan uang dengan cara instan. Kita cenderung  mengabaikan standar moral Firman Tuhan demi mendapatkan uang dan materi.  Uang yang banyakpun  dapat membuat kita menjadi tamak, sombong, dan narsis. Pengelolaan uang yang sembrono membuat kita boros dan bisa terjerat dalam belenggu utang. Kadang kejahatan manusia tidak terbatas oleh karena cintanya kepada uang.

Oleh sebab itulah, ada baiknya  kita belajar sedikit tentang teologi uang. Hal ini  dapat mengubah pola pikir dan tindakan kita yang berkaitan dengan  uang. Beberapa prinsip dalam teologia uang: (1) Tuhan adalah pemberi berkat materi kepada kita (Fil 4:19), sehingga kepada Tuhanlah kita memohon dan menyerahkan segala aktivitas kita dalam mencari uang. (2) Tuhan adalah pemilik segalanya termasuk uang yang ada pada kita (Maz. 24:1) dan kita hanyalah pengelolanya. Oleh karena itu cara kita membelanjakan, menabung atau menginvestasikan uang mesti mengingat bahwa uang itu adalah titipan saja dan kita mesti bertanggung jawab kepada pemilik aslinya. (3) Semakin banyak uang yang kita miliki, mestinya kita semakin murah hati dalam memberi (Kis 20:35). (4) hidup kita tidak bergantung pada banyaknya uang (Luk 12:15). Uang bukanlah ukuran kebahagiaan hidup kita. Raja Salomo menemukan sumber kebahagiaan: takutkah akan Tuhan dan pegang perintahNya (Pengk 12:13).

Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus meminta kita untuk menjaga hati terhadap harta dan kekayaan karena di mana harta kita, disitulah hati kita berada. Harta orang Kristen yang sejati adalah Kristus,  kepadaNya kita menaruhkan hati dan tindakan kita termasuk soal uang. Marilah kita bekerja dengan rajin untuk mendapatkan uang, menabung dan menginvestasikan uang dengan bijaksana, membelanjakan uang dengan efisien, dan memberi sebagian uang kita dengan hati yang gembira  untuk mendukung pelayanan dan menolong orang lain. 

~BT220213

SEMUA AKAN BERLALU.

Untuk segala sesuatu di kolong langit ini ada masanya: ada permulaan dan ada akhirnya. Tahun lama sudah berlalu, sekarang masanya berganti kalender menjadi 2022. Ketika tahun baru datang, kita melihat ke depan dan merencanakan banyak hal untuk kita kerjakan setahun mendatang. Sebagian dari orang membuat resolusi atau komitmen. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa tidak ada jaminannya bahwa waktu akan terus bersama kita. Hidup kita di dunia ini sebentar, fana dan sementara saja. Adalah suatu keniscayaan bahwa kita hidup dalam satu momen saja setiap saat. Momen bahagia, kesedihan, dan kerumitan hidup semuanya bersifat sementara dan semuanya itu akan berlalu pada waktunya. Sama hal dengan apa yang Petrus katakan: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur (1 Pet 1:24).

Sayangnya kita cenderung memikirkan hal-hal yang bersifat sementara, seolah-olah hidup kita akan terus abadi di dunia ini. Kita mengejar apa yang terlihat yang kita pikir itu semua bisa memuaskan hidup kita: sukses, uang, popularitas, dan hal duniawi lainnya. Padahal apa yang terlihat bagi kita hanyalah sementara dan semuanya akan hilang atau kita tinggalkan.  Alkitab mengajarkan kita untuk memberi hati kita kepada apa yang tidak terlihat dan bersifat kekal (2 Kor 4:18).  

Tidak ada yang kekal dalam dunia yang kita hidupi ini. Semuanya berubah dan akan berlalu, hanya satu yang tak pernah berubah: Allah yang tak terlihat secara fisik itu bersifat kekal. Dia melampui dimensi waktu dan ruang. Tuhanlah yang memegang kendali dalam dunia yang Ia ciptakan ini.  Dia tahu apa yang sedang terjadi, dan Dia menolong kita melalui semuanya itu jika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya. Apapun rencana atau resolusi yang akan kita kerjakan dan kejar tahun ini, semoga itu bernilai kepada kekekalan dan Tuhan memampukan kita mewujudkannya untuk kemuliaanNya.

~BT20220108

Merenungkan Kado Natal

Dua minggu lalu, anak kami Aaron yang berusia 3 tahun menanyakan mengapa di rumah tidak ada pohon natal. Untuk memenuhi keinginan hatinya, kami mengambil kotak kardus berisikan pohon cemara yang tersimpan di dalam gudang. Lalu bersama-sama, kami merangkai pohon natal sampai berdiri tegak dan menghiasinya dengan berbagai ornamen natal. Si anak begitu senang melihat pohon natal sudah jadi dengan lampu yang berkelap kelip. Namun beberapa saat kemudian, ia terlihat sedih karena ia tidak melihat ada bungkusan kado di bawah pohon natal itu, seperti yang ia lihat di tv. Sejak itu ia selalu memohon agar kami  membeli Christmas gift (kado natal) untuk diletak di bawah pohon natal itu.

Permohonan lugu dari anak  kami tersebut membuat saya merenungkan tentang apakah kado natal yang terbaik? Saat bulan Desember tiba, kita melihat nuansa natal dengan berbagai pernak-pernik, musik, termasuk komersialisasinya hadir di berbagai tempat di seluruh dunia. Bahkan banyak orang dengan latar belakang non-Kristen juga ikut merayakan natal. Orang merencanakan banyak hal dalam merayakan natal: cuti dari kantor untuk liburan ke tempat wisata, pulang kampung bertemu keluarga asal, merayakan bersama teman dan bertukar kado natal, dan lainnya. Tentu itu hal yang baik saat kita menikmati kebersamaan bersama orang yang kita kasihi.

Namun sebagai orang percaya, kita mesti mengingat bahwa natal adalah tentang Yesus. Mungkin banyak orang tahunya cerita natal adalah tentang kelahiran seorang bayi, tetapi sesungguhnya di balik semua itu adalah tentang kematian.  Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia menghadapi kutukan  dosa: kematian dan hukuman kekal. Yesus adalah Tuhan yang mengambil rupa manusia, lahir ke dunia ini untuk memenuhi janji keselamatan yang Tuhan pernah janjikan (Kej 3:15). Yesus yang tiada berdosa itu menyerahkan diriNya di salibkan sebagai ganti hukuman dosa manusia, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya tidak mengalami kematian kekal melainkan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal bersama Kristus (Yoh 3:16). Ini adalah karunia yang luar biasa dan kado natal terbesar yang Allah berikan kepada kita.

Setelah kita menerima anugerah kado natal itu, maka kita juga mau mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Mungkin kita tidak mesti seperti orang Majus yang membawa semua perhiasan mahal kepada bayi Yesus, tetapi kita bisa mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan untuk menjadi saksiNya dalam  menceritakan kado natal yang Yesus berikan bagi dunia ini. Jika kitapun ingin berbagi rezeki dengan orang lain dalam bentuk bingkisan natal, maka kita akan lebih bersukacita  dalam membungkus kado natal itu dan  membagikannya karena kita tahu bahwa kita telah menerima kado natal yang kekal dari Kristus. Selamat Natal..!

~BT211219

Merohanikan Kegagalan

Kita terbiasa menghargai   orang lain yang berhasil, sukses, populer, punya jabatan, dan banyak uang. Slogan rohani seperti: “kita adalah pemenang”, “kita adalah kepala bukan ekor”, “bersama Tuhan kita raih kesuksesan” jamak kita dengar seolah menjadi ajaran bahwa tidak ada kegagalan, kekalahan, keterpurukan bagi orang Kristen. Namun realitanya: manusia tidak kebal dari kegagalan, bisa terjadi dan bagian dari hidup kita.  Bagi orang Kristen ada dua jenis kegagalan yang berbeda: Pertama, kegagalan dalam menaati Firman Tuhan dan berdosa. Kedua, kegagalan yang tidak berkaitan dengan hal rohani  dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya orang punya bisnis lalu bangkrut, orang yang salah dalam berinvestasi dan membawa kerugian, orang kehilangan pekerjaan dan belum mendapatkan yang baru, murid yang tidak lulus ujian, atlet yang kalah dalam pertandingan, dsb.  

Orang Kristen yang taat dan bersungguh dalam imanpun bisa mengalami kegagalan. Kita bisa mengalami kegagalan dalam rencana, harapan, impian yang kita ingin raih. Kegagalan bisa saja diakibatkan oleh  karena pilihan dan keputusan kita, kesempatan yang tidak memihak kita, atau hal lain di luar kendali kita karena kita adalah manusia yang terbatas. Tentu kita tidak bisa meremehkan kegagalan tersebut karena kalau kita tidak menanganinya dengan baik akan berdampak buruk kepada kehidupan kita: kepahitan, kekecewaan, putus asa, depresi, dan meninggalkan Tuhan!

Saya  sedikit “radikal” berpikir  bahwa kehendak Tuhan dalam hidup kita bisa juga termasuk kegagalan. Tuhan mengizinkan kita mengalami kegagalan karena Ia  mau mengajarkan sesuatu kepada kita yang tak bisa kita pelajari melalui kesuksesan. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu (termasuk kegagalan) untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28).   Kegagalan bagi orang Kristen bukanlah untuk menghancurkannya tetapi mengembangkannya!  Kita mungkin mengalami kebangkrutan, kerugian, kekalahan, dan merasa gagal dalam banyak hal, tetapi jika kita merespon kegalalan itu dengan iman dan ketergantungan kepada Tuhan maka kegagalan itu bisa jadi menjadi bagian yang sukses di mata Tuhan. Kesuksesan sejati tidaklah dilihat dari kekayaan materi, jabatan, maupun popularitas namun dari sisi spiritualitas, mengenal Tuhan lebih dalam, dan itu membuat kita adalah pribadi yang sukses.

Kita mesti dapat menerima kegagalan yang terjadi dalam hidup kita  meski itu bukan yang kita harapkan.  Yang membesarkan hati kita adalah Tuhan menerima kita apa adanya termasuk jika kita gagal. Kasih karunia Allah jauh lebih besar dari semua dosa, kelemahan, dan kegagalan kita. Janji Tuhan kepada kita: tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasihNya, termasuk kegagalan kita dalam hidup ini. Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah: (1) Bersyukurlah di dalam setiap keadaaan (1 Tes 5:18). Itulah kehendak Tuhan. Mungkin berat untuk berterimakasih saat kegagalan dan keterpurukan terjadi, tetapi kita bisa bersyukur untuk berkat Tuhan yang lain, terutama untuk keselamatan jiwa kita yang kekal karena Kristus telah menebus kita! Hati yang gembira adalah obat kepada kepahitan; (2) belajar dari kegagalan. Kita dapat belajar mengembangkan karakter Kristus dari kegagalan itu, mungkin juga kita perlu menganalisa atau mengubah rencana di masa depan; (3) Jangan menyerah. Kegagalan semestinya tidak mengakhiri keberadaaan kita. Tetap berpengharapan dan berjuang bersama Tuhan di arena kehidupan ini.

~BT20211003

September Ceria

Begitu memasuki bulan September, maka kita akan sering mendengar tentang ungkapan “September Ceria”, yang aslinya adalah sebuah lagu yang populer sejak tahun 1980an. Pencipta lagu ini, James Sundah menceritakan latar belakang lagu itu sebagai ungkapan sukacita karena di bulan sept-ember, musim hujan datang setelah musim kemarau yang panjang.  Saat mendengarkan lagu indah ini, ironisnya kita masih hidup dalam suasana pandemik Covid-19. Beberapa hari ini saya mendapatkan berita dukacita secara langsung maupun dari media sosial. Mungkin banyak di antara kita melalui hal yang berat: kita mengalami sakit penyakit, kita berduka karena kehilangan orang terkasih, keluarga kita mengalami guncangan ekonomi karena kita kehilangan pekerjaan ataupun bisnis yang drop bahkan bangkrut, kita mesti mengatur waktu bagaimana bekerja dan mengajar anak di rumah, dan masih panjang daftar penderitaan yang mesti kita hadapi akibat pandemik Covid-19 yang telah mengubah hidup kita secara drastis, dan kita belum tahu sampai kapan semua ini akan berlangsung.

Bagi banyak orang rasanya keceriaan dan sukacita tidak cocok dengan penderitaan. Salah satu mesti menghilangkan yang kedua. Namun Alkitab banyak mengajarkan bahwa sukacita dan penderitaan bisa berjalan beriringan. Orang Kristen dipanggil tidak hanya  percaya Kristus, namun juga menderita karena mengikut Kristus (Fil 1:29). Yesus mengingatkan bahwa hidup kita di dunia akan mengalami penderitaan  (Yoh 16:33). Kita diminta bersukacita ketika kita menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan dalam hidup kita. (Rom 5:3).

Sukacita dalam penderitaan itu  bukanlah membawa kita kepada dua kutub ekstrim yang salah: Makosisme yang menikmati rasa sakit untuk kesenangan, semakin sakit semakin senang ataupun Stoikisme yang pasrah karena penderitaan adalah takdir, yang penting kita berpikiran positif. Ini bisa membawa kita berpura-pura happy di hadapan orang lain padahal di dalam diri kita merasakan penderitaan. Ini bukanlah sukacita yang Alkitab ajarkan. 

Rasa sakit, dukacita, dan frustasi itu nyata adanya, tetapi kita memilih bertahan dan berjuang bersama Tuhan. Sama seperti seorang ibu yang akan melahirkan mesti mengalami kesakitan dan perjuangan yang berat tetapi si ibu tetap semangat berjuang dengan sukacita dalam kesakitannya karena ia tahu ia akan segera melihat bayinya lahir. Kita bersukacita saat mengalami penderitaan karena kita tahu penderitaan akan membuat kita lebih bergantung pada Tuhan, kita akan dibentuk memiliki karakter Kristus, dan pengharapan kita bersama dengan Kristus dalam kekekalan.  Tentu ketika kita menderita kita bisa meratap kepada Tuhan yang mengerti penderitaan kita karena Ia sendiri pernah menderita demi penebusan dosa kita. Tuhan  akan menghiburkan kita di manapun kita meratap termasuk di rumah sakit dan di pemakaman. 

Sukacita kita selalu bersandar pada Kristus, bukan pada perasaan emosional kita. Karena itu bersukacitalah jika kita menghadapi berbagai kesulitan dan  penderitaan. Kita hidup sementara di dunia ini dan kita tahu bahwa suatu hari nanti, semua sakit dan penderitaan kita akan berlalu. Selagi kita masih di sini, teruslah berjuang dalam hidup yang memuliakan Tuhan. September ceria milik kita bersama!

~BT20210905

Mempertanyakan Keselamatan Kekal

Sebagai bagian dari hidup manusia, setiap orang bisa memiliki keraguan dan mempertanyakan banyak hal. Setelah beberapa lama menjadi Kristen, kitapun bisa memiliki keraguan dalam hal kepastian iman dan  mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita beberapa pertanyaan: Benarkah saya sudah selamat? Apakah nanti saya akan bersama Kristus setelah kematian? Ada banyak alasan orang Kristen meragukan keselamatannya, di antaranya:  (1) Dosa; saat kita sering gagal menaati Firman Tuhan dan berdosa bisa jadi kita mulai meragukan apakah benar Tuhan masih mengampuni kita dan apakah kita masih selamat. (2) legalistik; kita berpikir bahwa keselamatan itu bergantung pada perbuatan baik, ibadah,  dan pelayanan kita. Saat kita tidak lagi memenuhi standar tersebut, kita merasa tidak selamat lagi. (3) iman yang tidak bertumbuh; kita mengaku sebagai Kristen tetapi tidak mengerti tentang keselamatan kekal dan menyepelekannya.

Meragukan keselamatan dalam Kristus yang akhirnya menolak karya penebusanNya tentu akan membawa penyesalan di kemudian hari. Itu adalah pekerjaan Iblis. Tetapi mempertanyakan  dalam hal menguji iman dan keselamatan  dapat menyadarkan kita ada hal yang perlu  dikoreksi dalam hidup kita. Karena ada orang yang merasa perjalanan imannya baik-baik saja padahal dia sudah jauh dari Tuhan. Atau ada yang berpikir ia berdosa dan merasa Allah tidak mungkin mengampuninya dan  ia tidak selamat lagi.  Karena itulah Alkitab mengajarkan kita untuk menguji (mempertanyakan) diri apakah kita masih tetap tegak dalam iman dan yakin bahwa Yesus ada di dalam kita (2 Kor 13:5). Rasul Paulus mengingatkan kita untuk mengecek apakah kita masih beriman pada Kristus? Pertanyaan ini sangatlah penting kita jawab karena ini akan menentukan dimana kita akan menghabiskan masa kekekalan kita setelah kematian.

Jika kita ingin yakin tentang jaminan keselamatan kita, maka kita perlu merenungkan hal berikut: (1) Apakah kita masih percaya bahwa Yesus adalah juruselamat kita?  Ingatlah, keselamatan kita sesungguhnya adalah anugerah Tuhan melalui pengorbanan  Yesus dan tidak bergantung pada perbuatan baik, ibadah, maupun pelayanan kita (Ef 2:8-9). Barangsiapa percaya kepada Yesus, ia memiliki jaminan hidup yang kekal (1 Yoh 5:11-12). Jelaslah bahwa keselamatan kita adalah berasal dari Tuhan, dan itu penuh kepastian dan kekal. (2) Apakah ada perubahan cara hidup kita yang menyerupai Kristus? Tentu ini proses yang panjang dalam hidup kita, ada pasang surut, jatuh bangun dalam dosa. Orang yang sungguh percaya Kristus bukanlah orang yang tidak bisa berdosa lagi. Bedanya, saat kita berdosa lagi, kita sungguh menyesali dan berupaya untuk meninggalkan dosa itu. Kita tahu menyakiti Allah namun Allah bersedia mengampuni dosa kita (1 Yoh 1:9). (3) Apakah kita masih berbuat baik kepada orang lain sebagai bukti iman kita? (sebab iman tanpa perbuatan baik adalah mati). Dari buah perbuatan baik kitalah terlihat kita hidup dalam Kristus (Mat 12:33). Jika kita dapat menjawab “ya”  pada pertanyaan di atas, maka yakinlah bahwa kita masih beriman pada Kristus dan jaminan keselamatanNya ada pada kita. 

@bagiterang.com/20210822

Tuhan dalam keseharian kita

Bagi banyak orang bahasa teologia itu terlalu tinggi dan mungkin sulit untuk dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan kita. Belum lagi hidup yang penuh tantangan dan kesulitannya, termasuk pandemik Covid-19 yang tak pernah kita tahu kapan bisa berakhir.  Dalam masa sulit sekarang ini, kita perlu belajar  melihat keberadaan Tuhan melalui kehidupan keseharian di sekitar kita. Tuhan Yesus seringkali juga menggunakan hal sederhana yang gampang ditemui di sekitar kita ketika Ia menyampaikan pesan Ilahi. Contohnya: burung di langit dan bunga bakung di ladang untuk mengajarkan kekuatiran; gadis bijaksana dan lampu mengajarkan kewaspadaan akan kedatangan Yesus kedua kalinya, dan lainnya. Pertanyaannya adalah bagaimana kita melihat keberadaan Tuhan dalam keseharian hidup kita? 

Menemukan Tuhan dalam keseharian tidaklah membutuhkan keahlian khusus atau gelar teologia sekalipun. Kita bisa bertemu Tuhan melalui ciptaanNya yang kita lihat setiap hari di sekitar kita. Keberadaan alam semesta ini dengan segala isinya mulai dari yang begitu besar seperti matahari sampai yang terkecil tak terlihat mata seperti molekul, semuanya diciptakan oleh Tuhan untuk menunjukkan keberadaan dan karakter Tuhan: keagungan, kecerdasan, kebaikan, bahkan rasa humorNya.  Kita semestinya kagum  dan hormat kepada Sang Pencipta yang menciptakan dan mengatur alam semesta yang begitu kompleks namun bisa berjalan teratur untuk kebaikan semua mahkluk hidup! Hal yang tidak terlihat dari Tuhan dapat kita lihat dan dimengerti dari segala yang diciptakan Tuhan (Roma 1:20). Langit menceritakan kemuliaan dan pekerjaan Tuhan (Maz 19:2). 

Kita sering berpikir bahwa kehadiran Tuhan dalam hidup kita  hanya dalam momen yang dramatis dan luar biasa seperti mukjizat luput dari kecelakaan, sembuh dari penyakit,  doa yang dijawab, atau Tuhan hanya ada dalam ruang ibadah. Kita luput menyadari keberadaaan Tuhan dalam hal kecil dan sepele dalam hidup kita. Hari ini yang kita anggap biasa saja sama seperti kemarin, sesungguhanya adalah hari yang luar biasa. Cobalah kita pikirkan: pagi hari ketika kita bangun, kita melihat matahari terbit, sepanjang hari kita bisa beraktivitas, bisa makan, bekerja, bermain, bersosialisasi dengan orang lain, lalu kita kembali bisa tidur di malam hari. Semua itu bisa berlangsung karena Tuhan ada beserta kita.  Tuhan yang luar biasa itu ada di tengah kehidupan sehari-hari yang kita anggap biasa-biasa saja. Dia adalah Tuhan yang peduli dengan hidup kita dari hal yang terbesar sampai kepada hal yang terkecil. Ia tidak saja peduli dengan dengan pekerjaan dan bisnis kita di kantor, tetapi juga saat kita update status sosmed dan memasak di dapur. Tuhan selalu ingin terlibat di sana!

Kita dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita saat melihat dunia sekitar kita dengan kacamata Kristus.   Hanya Kristus yang dapat mengubah hati kita sehingga apapun yang kita lakukan bisa bernilai kesempatan bertemu dengan Tuhan. Kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dalam setiap momen dan menganggap semua aktivitas keseharian kita sebagai persembahan kepada Tuhan.  Kita akan bersukacita mengetahui bahwa Tuhan ada selalu bersama kita, kita tidak pernah sendiri dan  kasih Tuhan tetap ada sampai pada kekekalan.

@bagiterang.com/20210801

Dari birthday menuju deathday

Happy Birthday..! Kebanyakan orang bersukacita saat ulang tahun tiba dan merayakan dengan tiup lilin, makan cake, dan mendapatkan hadiah. Itu tidak salah dan baik selama perayaan itu berfokus kepada rasa syukur terhadap sang pemberi hidup kita.  Beberapa lainnya melalui birthday dengan kesedihan dan airmata karena kedukaan atau karena menghadapi krisis di tengah kehidupan. Saya tentu bersyukur berulang tahun namun hari-hari ini saya juga berduka mendengar beberapa teman telah dipanggil pulang oleh Tuhan dan di antaranya akibat Covid-19. Sungguh berat merayakan birthday dan di saat yang sama berduka untuk kematian (deathday). Rasanya hidup ini begitu sebentar, seperti rumput di pagi hari berbunga, dan di malam hari layu dan gugur.. 

Dalam buku harian Raja Salomo, raja yang memiliki hikmat dan kebijaksanaan yang melebihi kita semua, ia menuliskan bahwa hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran; lebih baik pergi ke rumah duka daripada menghadiri pesta (Pengkhotbah 7:1-2).   Ini dua even yang sangat kontras. Di satu even, hari kelahiran dipenuhi oleh kegembiraan dan pesta  dalam merayakan kehadiran seorang bayi. Sementara di even lainnya di hari kematian, saat kita ditinggalkan oleh orang terkasih, yang ada adalah tangis dan kesedihan. Bagaimana mungkin hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran? Bagaimana bisa menghadiri pemakaman lebih baik daripada menghadiri pesta?

Hari lahir kita adalah permulaan hidup kita di dunia ini. Kita memiliki  1001 pilihan dan punya kehendak bebas dalam kehidupan ini. Yang pasti bagaimana kita menghabiskan waktu hidup kita di dunia ini akan menentukan arah tujuan kita saat kematian.  Sebab dalam kematian kita hanya punya dua pilihan kekekalan: hidup bersama Kristus atau dihukum bersama Iblis.

Ini tidaklah berarti kita tidak boleh bergembira dan berpesta dalam beberapa momen hidup kita ini. Bahkan Tuhan Yesus ikut bergembira dalam menghadiri pesta. Hal positifnya, perayaan ulang tahun bisa menjadi momen untuk merenungkan perjalanan hidup kita. Sebagai  musafir, kita hidup sementara dan memiliki limit waktu di dunia ini,  bahkan Metusalah sebagai orang yang tertua yang pernah hidup, tidak melewati usia 970 tahun! Karena itulah  kita mesti mempersiapkan diri untuk menghadapi momen yang tak terelakkan itu yaitu hari kematian kita yang bisa datang kapan saja.

Dengan mengingat kematian, sesungguhnya kita akan lebih banyak belajar tentang kehidupan ini. Pergi ke tempat duka mengajarkan: bahwa ada kesudahannya bagi kita semua, karena itu kita mesti lebih bijaksana dalam hidup dan mempersiapkan hari kematian kita. Ingatlah bagi kita yang sungguh hidup dalam Kristus bahwa di hari kematian kita, kita akan hidup kekal bersama Kristus di surga.

Kita bersyukur bisa berulang tahun. Tak ada satupun kita yang tahu akan hari esok. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak lagi sisa waktu kita di dunia ini. Jika kita masih hidup hari ini,  maka itu untuk kemuliaan Tuhan.. Life is all about Him, not about me!

@bagiterang.com/210626

Toleransi Tanpa Kompromi

Sebagai orang Kristen yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk, tentunya kita seringkali menghadapi situasi yang menguji sikap toleransi kita kepada orang lain yang berbeda keyakinan. Sampai sejauh mana kita dapat berkompromi dalam hal toleransi beragama? Dulunya, definisi toleransi beragama adalah mengakui bahwa setiap individu memiliki  hak dan kebebasan untuk memegang dan mempraktekkan kepercayaannya tanpa kita perlu mempercayai hal yang sama. Namun dengan perkembangan teknologi dan media sosial seperti sekarang ini, sepertinya ada perubahan pengertian toleransi: tidak hanya menghormati keyakinan yang berbeda namun juga menerima keyakinan yang berbeda itu sebagai suatu kebenaran. Artinya, kebenaran itu bersifat relatif: jalan kamu benar, jalan saya benar, dan semua jalan itu benar adanya. Semua kepercayaan akan membawa jalan kepada Tuhan dan karena itu semua kepercayaan adalah kebenaran. Seseorang akan dianggap intoleran jika dia tidak setuju dengan pandangan ini. 

Alkitab mengajarkan tidak ada dua atau lebih banyak jalan kebenaran, melainkan hanya satu jalan kebenaran yang absolut: Yesus (Yoh 14:6). Manusia bisa mengenal Kebenaran (Yesus)  itu karena Ia yang mengundang kita (Mat 11:28), Kebenaran itu akan membebaskan manusia dari dosa (Yoh 8:32), dan Kebenaran itu menjamin kita untuk hidup yang kekal (1 Yoh 5:11). Ini adalah kebenaran sejati iman Kristen.  Jika kita sebagai orang Kristen mulai meragukan, mempertanyakan, mengkompromikan atau bahkan sudah tidak percaya kepada kebenaran absolut itu, maka kita sebaiknya menelaah kembali Alkitab.

Dengan klaim kebenaran itu, apakah orang Kristen bisa hidup damai dan  bertoleransi di tengah komunitas yang majemuk dan berbeda keyakinan? Ya bisa dong dan kita harus melakukannya setiap hari dengan dasar kasih. Toleransi dalam arti mengasihi dan menghormati orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita tetapi itu tidak berarti berkompromi bahwa kebenaran iman kita adalah relatif dibandingkan iman yang berbeda. Kita tidak mengkompromikan doktrin kebenaran iman kita hanya demi diterima orang lain, menyenangkan orang lain ataupun demi keharmonisan. Kebenaran itu bukanlah berdasarkan apa yang kita pikirkan, rasakan, inginkan, atau bahkan simpati kepada orang lain, tetapi berdasarkan Alkitab.

Meski kita seringkali mengalah untuk bertoleransi namun kadang kita tidak mendapatkan rasa respek yang sama dari orang lain. Tentu kita tidak perlu berkecil hati dan tetaplah mengasihi orang lain.  Ingatlah pesan dan janji Kristus kepada kita: berbahagialah kamu jika orang membenci kamu karena Kristus, sebab upahmu besar di sorga (Luk 6:22-23). Orang Kristen haruslah bertoleransi kepada orang yang berbeda keyakinan dan mengasihi mereka dengan kasih Tuhan Yesus yang sudah kita terima. Dengan begitu,  kita akan  membawa kemuliaan bagi Sang Kebenaran dan menjadi terang di tengah dunia ini.

@bagiterang.com/210531

MORALITAS ZAMAN MODERN

Kita hidup dalam era digital di mana kita dibanjiri oleh informasi, pandangan, dan tindakan dari berbagai arah. Media mendorong kita untuk mengekspresikan kita kepada dunia luar. Dampaknya, kadang kita sulit membedakan mana sensasi, mana realita, bahkan mengaburkan moral yang benar dan salah. Kita mulai bingung dengan standar moralitas. Apa yang dulunya tabu dan salah secara moral, sekarang malah kita dianggap salah jika kita menentangnya. 

Nabi Yesaya pernah meramalkan bahwa akan ada waktunya manusia menyatakan yang jahat itu baik, gelap itu terang, dan sebaliknya (Yes 5:20). Sepertinya kita melihat itu terjadi sekarang. Ukuran moralitas tentang apa yang benar dan salah menjadi relatif dan spekulatif, hasil dari logika manusia dan perkembangan teknologi. “Benar” atau “salah” ditentukan oleh pandangan mayoritas, jika banyak yang melakukan berarti itu benar.  Padahal, sesuatu yang bernilai moral nol, meski dikalikan jutaan orang melakukannya, hasilnya tetap nol, artinya tetap salah. Kadangkala moral itu ditentukan oleh perasaan atau cinta, artinya selama kita senang melakukannya dan dimotivasi cinta, berarti kita benar. Tragisnya,  karena cintanya Adolf Hitler kepada kaumnya Bangsa Arya, ia sudah membunuh jutaan orang Yahudi. Ada juga, moral ditentukan oleh hasil dan tujuan, bahasa baratnya: “the end justifies the means.” Selama bertujuan baik, apapun motif dan cara kita mencapainya, itu bisa dibenarkan. Dalam dunia medis, berapa banyak embrio bayi dibuang (dibunuh) dalam praktek IVF bayi tabung demi mendapatkan keturunan? Berapa banyak orang di-euthanasia demi meringankan sakit pasien dan keluarganya?  Terakhir, moral ditentukan oleh hukum adat atau negara, jika negara sudah melegalkan suatu tindakan, berarti itu benar secara moral. Meskipun beberapa negara sudah melegalkan homoseksual, poligami, aborsi, dan euthanasia, namun itu tetap salah menurut moral dari Alkitab.

Menurut Alkitab, manusia diciptakan dalam image Allah. Salah satu buktinya adalah Tuhan meng”instal”  hati nurani kepada setiap manusia sehingga kita menjadi makhluk hidup yang memiliki moral, bisa membedakan mana yang baik dan salah. Itulah sebabnya orang yang hidup dalam peradaban terpencil sekalipun bisa memiliki kesadaran moral: misalnya tidak membunuh, mencuri, berbohong, atau menanam pohon sebagai ganti yang ditebang. Melalui Alkitab, kita belajar tentang standar moral yang Allah tunjukkan kepada manusia, sampai kepada kehidupan Tuhan Yesus yang adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).   Moral di dalam Alkitab selalu menguji motif, cara, dan hasil. Motif kita adalah kasih, cara kita mesti benar di hadapan Tuhan, dan tujuan kita adalah kemuliaan Tuhan (aplikasi 1 Kor 10:31). Tuhan peduli dengan  apa dan bagaimana  yang kita lakukan sekarang, bukan sekedar pada hasil. Tindakan yang sesuai dengan standar Alkitab adalah benar meskipun hasilnya gagal. Sebaliknya tindakan yang bertentangan dengan standar Alkitab, akan tetap salah meski hasilnya sukses. Hasil dari tindakan kita, meski tidak mungkin kita tahu hasilnya segera, namun jika kita lakukan dengan standar Tuhan, maka kita percaya apapun hasilnya adalah bagian dari campur tangan Ilahi (Rom 8:28). 

Banyak orang menentang moralitas Kekristena karena kita merasa tidak nyaman dengan standar itu, merasa dikekang dan tidak bebas, dan menilai bahwa moralitas Alkitab tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Toh juga kalaupun moralitas itu kita langgar, tidak ada ganjaran hukuman langsung. Padahal sesungguhnya Tuhan itu penuh belas kasihan dan sabar kepada kita supaya kita bertobat dan berbalik kepadaNya, sampai pada waktunya Ia akan meminta pertanggungjawaban dari semua perbuatan kita.

@bagiterang020521

TAKUT AKAN TUHAN

Karakter Tuhan yang sering kita dengar adalah maha pengasih, penyayang, sabar, dan mengampuni. Sepertinya sisi karakter tersebut yang memang banyak diajarkan dan nyaman untuk kita percayai. Padahal di sisi lain, Tuhan juga memiliki karakter lain yang setara yaitu kudus dan adil. Jika kita ingin mengerti kedua sisi karakter Tuhan itu maka kita perlu belajar memiliki sikap “takut akan Tuhan”.  Sikap tersebut perlu dikembangkan dalam pribadi orang percaya dan gereja karena kita banyak kadang jatuh dalam dosa berkepanjangan dan gagal menyelesaikan perjalanan iman kita  karena kita tidak takut pada Tuhan.

Mungkin ada yang bergumam: Hmm, Takut akan Tuhan? Bukankah “takut” itu sesuatu yang negatif? Apakah Tuhan itu musuh sehingga kita mesti lari dan sembunyi dari Dia? Bukankah Tuhan tidak pernah memberi roh ketakutan pada kita? Sebetulnya takut akan Tuhan tidaklah sama seperti ketakutan kita saat nonton film horor, atau kita lari karena ketakutan pada ancaman. Justru takut akan Tuhan itu membuat kita tak bisa menjauh dari Tuhan, dan selalu datang kepadaNya. 

Orang percaya yang takut akan Tuhan memahami tiga hal, yaitu: (1) Keagungan Tuhan yang telah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya semestinya membuat kita kagum, gentar, dan hormat kepada Tuhan. Kita memuliakan dan mengutamakan Tuhan dalam hidup kita meskipun lingkungan sekitar tidak mendukung. (2) Kekudusan dan keadilan Tuhan mengingatkan kita untuk hidup kudus dan menjauhi dosa. KeadilanNya akan meminta pertanggungjawaban dari kita atas semua yang kita lakukan di dunia ini dan kita menerima upah sesuai perbuatan kita. Oleh karena itu kita semestinya  hidup berhati-hati dengan segala pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. (3) Kasih Tuhan yang memberikan nyawaNya sebagai tebusan dosa manusia. Kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan, namun kita mesti mengerjakan keselamatan kita  dengan takut dan gentar. Saat kita melihat salib, kita merenungkan bagaimana mungkin kita terus berdosa tanpa pernah mau bertobat? 

Takut akan Tuhan adalah kesadaran bahwa kita ada di dalam hadirat Tuhan dengan karakterNya kasih, kudus, dan adil. Kalau kita sadar bahwa Tuhan melihat dan tahu semua yang kita lakukan di dunia ini, maka itu seharusnya mengubah cara hidup kita. Sikap hormat kepada Tuhan akan membawa dampak dalam kehidupan kita yaitu melakukan perintahNya dan menjauhi apa yang Tuhan benci: dosa. Menariknya, ada banyak janji dan berkat Tuhan kepada orang yang takut akan Tuhan di antaranya: Tuhan menjaga dan meluputkan kita dari bahaya (Maz 34:8), memberi kita hikmat (Ams 1:7), kekayaan, kehormatan, dan kehidupan (Ams 22:4), dll. 

Raja Salomo telah melalui banyak hal dalam hidupnya baik itu kemewahan, kekuasaan, kebijaksanaan, termasuk kelemahan dan dosanya.  Di hari tuanya, ia menyadari dan menyimpulkan apa yang paling penting dalam kehidupan ini : takutlah akan Tuhan dan berpegang pada perintahNya, karena itulah kewajiban semua orang (Pkh 12:13).

@bagiterang.com/210321

Akuntabilitas Kepemimpinan Pelayanan

Dua minggu lalu  majalah Kristen www.christiantoday.com mempublikasikan laporan investigasi atas tuduhan perzinahan yang dilakukan oleh seorang pengkhotbah Kristen yang terkenal di dunia dan telah meninggal dunia tahun lalu.  Banyak orang tidak percaya dan kaget atas laporan yang membenarkan tuduhan itu: masa’ sih orang sekaliber, serohani, sebaik dia bisa jatuh dalam dosa perzinahan? Sebenarnya, tidak ada yang baru di bawah kolong langit ini. Kejatuhan para pemimpin rohani sudah terjadi sejak zaman kuno hingga sekarang. Ketika kita mendengar skandal dan dosa di dalam pelayanan, respon kita bisa sedih, kecewa, dan marah. Bagaimanapun, kita tidak seharusnya kepahitan dan kehilangan fokus iman kita: Yesus Kristus – yang adalah guru moral yang pernah hidup di dunia ini dengan tak berdosa dan menyerahkan nyawaNya bagi tebusan dosa manusia. Yesuslah pemimpin iman kita yang tertinggi.

Tentu kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa kelam dan mencegah supaya peristiwa serupa tidak terjadi lagi. Jika kita terlibat dalam pelayanan apapun, apalagi yang memegang kepemimpinan, maka kita harus sadar bahwa kita sedang membawa panji Kristus untuk berkibar di dunia ini. Iblis tentu tidak senang dan akan berusaha menjatuhkan kita supaya kita gagal dalam pelayanan dan hidup kita. Meskipun kita sudah ditebus oleh Kristus, semua kita yang masih hidup di dunia ini masih mungkin berbuat dosa. Para pemimpin pelayananpun tidak kebal terhadap godaan dan dosa: entah itu berupa uang, jabatan, maupun seks. 

Seringkali penyimpangan yang dilakukan pemimpin pelayanan terjadi karena dua hal yang jalan beriringan. Di satu sisi, popularitas dan kharisma dari pemimpin membuat para anggota (baik secara sukarela maupun terpaksa) menaruh rasa hormat, kagum, dan rasa percaya yang berlebihan hingga para anggota enggan untuk mengkritisi pemimpin meskipun melihat ada penyimpangan yang dilakukan para pemimpin. Di sisi lain, pemimpin bisa berpikiran karena mereka telah bekerja keras untuk melayani dan memajukan organisasi maka mereka mulai merasa besar, layak mendapatkan penghormatan, dan tidak pantas untuk dikritisi. Ini menyebabkan pemimpin tidak lagi merasa perlu menunjukkan akuntabilitas, integritas, dan transparansi dalam pelayanannya. Saat para pemimpin pelayanan mengeksklusifkan dirinya, selalu merasa benar dan mengharapkan semua orang mempercayai tindakannya meskipun menyimpang,  maka artinya dia menolak akuntabilitas dan dia sebenarnya tidak layak dalam kepemimpinan pelayanan.

Alkitab memperingatkan kita bahwa peperangan kita adalah melawan kekuatan Iblis (Ef 6:12) yang mengaum siap menerkam kita,  karena itulah kita mesti selalu waspada (1 Pet 5:8). Iblis bersiasat untuk cepat menghancurkan gereja dan pelayanannya, maka mereka menyerang para pemimpinnya. Karena itu para pemimpin pelayanan mesti terus waspada terhadap godaan Iblis dengan memegang teguh integritas dan akuntabilitas di hadapan Tuhan maupun manusia. Kita yang menjadi anggota, dapat terus mendukung pemimpin kita dengan mendoakan mereka dan juga dengan bijaksana menyampaikan pendapat jika ada hal yang menyimpang terjadi. Dengan demikian baik para pemimpin dan anggota saling menjaga satu sama lain dan mengingat bahwa yang kita layani adalah Kristus.

@bagiterang.com/210228

PENCIPTAAN: KARYA AGUNG TUHAN

Bumi tempat kita hidup ini mesti mengorbit sumber energi yang kita sebut matahari dengan jarak, kecepatan rotasi, dan sudut yang tepat dan akurat. Kalau terlalu dekat dan cepat, bumi akan terbakar, tetapi  jika terlalu jauh dan lambat, bumi akan membeku. Bulan yang menjadi pengekor setia bumi memiliki bentuk dan jarak yang memformulasi gaya gravitasi ideal di bumi, di mana semua mahkluk hidup bahkan aliran darah dalam tubuh kita ini bergantung pada gravitasi! Demikian juga konstelasi planet, bintang, galaksi di alam semesta ini begitu mengagumkan. Rasanya jika kita merenung sejenak, kita pasti bergumam tak mungkin semua ini hanya kebetulan terjadi,  pasti ada yang mendesain dan mengatur semua ini.

Alkitab memproklamasikan: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kej. 1:1);  Enam hari lamanya Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya (Kel. 20:11); Langit menceritakan kemuliaan Allah dan pekerjaan tanganNya (Maz. 19:2)!  Ini adalah kebenaran iman orang Kristen yang benar sepanjang zaman. Namun sepertinya sekarang, ada banyak gereja dan orang Kristen mulai meragukan bahkan menolak kebenaran historis Penciptaan dalam Kitab Kejadian dan menganggap itu adalah puisi atau dongeng. Bisa jadi ini dipengaruhi oleh berbagai teori alternatif asal mula alam semesta yang dibuat untuk menihilkan keberadaan Tuhan yang mengajarkan etika dan moral spiritual. Salah satunya adalah Teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta ini tercipta dari gumpalan materi yang entah bagaimana asal mulanya meledak dahsyat sekitar 14 Milyar tahun lalu dan membentuk alam semesta ini. Sekitar 4 Milyar tahun lalu bumi mendingin dan muncul lautan dan kejatuhan batu meteor dari angkasa yang membawa unsur protein dan DNA. Singkat cerita, kehidupan bakteri muncul dari batuan di laut. Melalui evolusi yang menjelimet dan long time ago, bakteri berkembang menjadi mahkluk hidup seperti tumbuhan, binatang di laut, lalu mendarat jadi reptil, lalu jadi monyet, lalu katanya jadi manusia. Jadi menurut teori evolusi ini, sesungguhnya nenek moyang manusia, hewan dan tumbuhan adalah sama yaitu batu meteor! 🙂

Ini tentu berbeda dengan iman Kristen yang Alkitabiah. Tuhan itu bersifat kekal karena itu Tuhan tak memerlukan alasan apapun untuk keberadaanNya. Ia memiliki segala kuasa dan hikmat untuk menciptakan waktu, ruang, dan materi dari yang tidak ada menjadi ada. (Creatio Ex Nihilo). Tentu Tuhan dapat menciptakan alam semesta dalam 6 jam, atau 6 hari, atau tanpa waktu sekalipun!  Alam semesta dengan isinya yang begitu rumit tetapi semuanya ditata untuk bisa berkesinambungan mendukung kehidupan alam semesta ini. 

Orang Kristen mesti mengimani narasi historis Penciptaan dalam Kejadian 1. Tuhan adalah Pencipta dan Dialah pemilik hidup kita. Oleh karena itu, Tuhan layak menerima segala hormat, pujian, dan ketaatan kita.  Percaya kepada karya penebusan Kristus, berarti kita juga mesti percaya kepada karyaNya dalam penciptaan jagat raya ini. Jika kita percaya pada pasal pertama Alkitab, maka akan membawa kita percaya kepada lembaran akhir Alkitab tentang langit dan bumi baru yang kekal yang disediakan bagi mereka yang setia mengikut Kristus sampai kesudahannya.

@Bagiterang.com/210131

JOANNA : DOA YANG DIKABULKAN TUHAN

Minggu ini adalah hari-hari yang membahagiakan bagi keluarga kami. Akhirnya kami dikaruniai anak ke-4, bayi perempuan: Joanna Diaz Hasugian. Sebelumnya kami sudah memiliki 3 anak laki-laki: Andrew (10), Joel (8), Aaron (2). Meski kami tidak terobsesi untuk memiliki baby girl, tetapi ada kerinduan untuk punya bayi lagi. Tentu kami juga berhitung secara materi dan kesanggupan fisik kami jika kami ingin memiliki anak keempat. Kami menyadari bahwa setiap anak tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini, tetapi jika ia sudah lahir, maka kita sebagai orang tua mesti bertanggung jawab dan berjuang membesarkannya secara fisik dan spiritual. 

Akhirnya kami berdua sepakat  dan bersama anak-anak kami mendoakan anak keempat. Kami melibatkan anak-anak kami dalam berdoa ini karena kami mau mengajarkan kepada mereka bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang mendengar doa kami. Dalam doa pribadi, saya juga bergumul dengan Tuhan: “Tuhan, Engkau tahu doa kami, saya mempertaruhkan iman saya kepadaMu, kiranya engkau menjawab doa kami untuk bayi perempuan, supaya anak-anak kami mengerti bahwa Engkau adalah Tuhan yang menjawab doa kami.”

Kami senang pada bulan April lalu istri saya hamil lagi. Saya ingat satu ketika Andrew dengan kepolosan bertanya kepada saya: “Ayah, kita ‘kan berdoa untuk baby girl, bagaimana kalau nanti jadi baby boy”? Saya jawab: kalau jadi baby boy, ya gak apa-apa,  kita tetap puji Tuhan. Tetapi selama kita belum tahu jawabannya, kita boleh terus meminta kepada Tuhan baby girl. 

Beberapa bulan kemudian, setelah cek USG, dokter menginformasikan ke kami bahwa bayi itu kemungkinan cewek, kami senang sekali. Kami ceritakan kepada anak-anak kami bahwa bayi itu perempuan, merekapun senang dan kami menemukan namanya: Joanna, diambil dari Alkitab, sebagai perempuan yang disembuhkan Yesus, dan selanjutnya ia terus mengikut dan melayani Tuhan Yesus (Luk 8:3, 24:10).

Saat melahirkan di Rumah sakit, saya untuk keempat kalinya berdiri di samping istri saya, menyaksikan perjuangannya melahirkan bayi itu dengan segala kesakitannya. Saya hanya berusaha menguatkannya dan terus berdoa supaya bayi itu segera lahir. Saya percaya bahwa setiap ibu yang melahirkan, pasti menghadapi perjuangan yang berat, kadang sampai mempertaruhkan nyawanya. Makanya bagi para suami, marilah kita terus mengasihi istri kita dengan mengingat perjuangannya melahirkan anak-anak kita. 

Saya juga mengingat keluarga yang masih terus mendoakan keturunan ataupun yang menjalani hidup berdua saja sebagai suami istri. Saya tahu ini bukan perkara mudah untuk menjalaninya di tengah lingkungan yang sering bertanya: sudah berapa anaknya? Tetaplah mendoakannya kepada Tuhan (1 Tes 5:17), sambil terus mencari kehendak Tuhan dan taat kepada pimpinan  dalam kehidupan kita (1 Yoh 5:14).  Teruslah mengasihi istri dan suami dalam segala keadaan, karena inilah yang Tuhan inginkan dari kita semua: kita tetap mengucap syukur dan memuliakan Tuhan dalam segala keadaan (1 Tes 5:18).

@bagiterang.com210117

Mengapa Kita Mesti Belajar Teologi?

“Belajar teologi? Emangnya mau jadi pendeta?”,  “Kekristenan itu cara hidup, bukan doktrin, jadi  gak perlu belajar teologi”, “gak perlu belajar Alkitab, toh Roh Kudus akan mengurapi kita ketika kita memerlukan petunjuk”. Ini cara pandang yang perlu diluruskan. Sebetulnya, belajar teologi itu penting bagi kita orang percaya karena ini adalah amanat agung Kristus bagi setiap orang percaya: ..jadikanlah orang lain murid Kristus,…. ajarlah mereka (Mat 28:19-20); siap sedialah untuk menjawab siapapun tentang imanmu (1 Pet 3:15). Nah, bagaimana kita bisa mengajar orang lain kalau kita tidak terlebih dahulu  menguasai bahan ajar? Bagaimana kita bisa menjawab orang lain kalau kita tidak mengerti dan memahami iman kepercayaan kita?

Kadang kita memiliki pergumulan bagaimana membuat keputusan dalam berbagai isu dalam kehidupan kita yang semakin kompleks. Apa yang Alkitab ajarkan tentang hubungan suami istri, khususnya saat terjadi konflik? Bagaimana membesarkan anak di tengah tantangan LGBT dan internet?  Zaman dengan teknologi  terus berubah seiring waktu, dan banyak hal-hal baru yang muncul menimbulkan kontroversi dan menuntut penjelasan spiritual. Apa kata Alkitab tentang hal ini? Misalnya: apakah orang Kristen boleh melakukan bayi tabung (IVF), surrogate motherhood (pinjam rahim)?, dan banyak lainnya. Tentunya, kita tidak hanya jawab:  bacalah Alkitab dan kamu akan menemukan jawabannya.  Alkitab itu ada 66 buku, yang mana satu? rasanya akan menyita banyak waktu jika setiap menjawab pertanyaan doktrin Kekristenan kita mesti buka dari Kitab Kejadian. Apalagi Alkitab tidak menjelaskan secara eksplisit semua isu kehidupan ini. (Ula 29:29).

Karena itulah kita mesti belajar teologi termasuk  doktrin dan etika Kristen yang benar secara Alkitab. Tentunya, akan sangat menolong jika kita bisa belajar dari lembaga, institusi, sekolah, maupun perorangan yang telah lebih dulu belajar Alkitab dan mengimaninya dengan benar! Teologi itu sederhananya adalah ilmu tentang Tuhan, yaitu kita mengenal siapa Tuhan, apa yang Ia telah, sedang, akan kerjakan di dalam dunia yang Ia ciptakan ini dan hubunganNya dengan manusia. Ada banyak manfaat bagi kita dalam belajar teologi, di antaranya: (i) kita akan mengerti iman lebih dalam, semakin mempercayai Tuhan, dan semakin menyelaraskan hidup kita dengan Tuhan, (ii) menolong kita untuk mengkoreksi berbagai ajaran dan pandangan yang salah menurut Alkitab,  (iii) kita mendapatkan hikmat dari Ilahi, dan kita bisa mengambil keputusan yang bijaksana dan berkenan kepadaNya,  (iv) kita dapat memberikan pertanggung jawaban dan membela iman kita jika ada yang bertanya maupun menyangsikan klaim kebenaran iman Kristen, (v) kita dapat bersaksi, memberi masukan, dan mengajar orang lain.

Rasanya tidak mungkin kita dapat menyenangkan hati Tuhan tanpa belajar lebih dalam tentang Dia dan pekerjaanNya di dunia ini. Bisa jadi, semakin kita belajar tentang Ilahi, semakin kita tahu bahwa Dia begitu luas dan besar, tak pernah cukup waktu dan daya pikir  kita untuk menyelami Dia, tapi kita mau terus belajar.

@Bagiterang.com/210110

Tahun Baru 2021, Semangat Baru

Saat pergantian Tahun, banyak cara orang melaluinya. Ada yang merayakannya dengan kembang api yang konon adalah tradisi China untuk mengusir roh jahat dan mengharapkan kesejahteraan di tahun baru. Ada juga yang membuat resolusi (komitmen) yang konon adalah tradisi Babel kuno, orang-orang berjanji kepada Dewa dan jika  mereka menepati janji itu sepanjang tahun, maka Dewa akan memberkati mereka. Rasanya tak ada yang salah kita merayakan Tahun baru baik dengan kembang api maupun bikin resolusi tahun baru: mau diet, berhenti merokok, rajin olahraga, atau rutin baca Alkitab. Mari kita periksa pada bulan Februari, apa kita masih ingat resolusi kita hehehe..

Read more
1 2