Kedaulatan Allah dan Kehendak Bebas Manusia

Banyak orang mempercayai bahwa hidupnya  sepenuhnya dikendalikan oleh takdir, keberuntungan, ataupun nasib. Takdir sering dianggap sebagai rangkaian peristiwa yang telah ditentukan sebelumnya oleh dewa atau Tuhan dan semuanya berada di luar kendali manusia. Kepercayaan pada takdir membuat  orang menjadi “pasrah” dan berpikiran bahwa “kita tidak dapat berbuat apapun untuk mengubah takdir” atau “apapun yang terjadi, terjadilah”. Itulah sebabnya banyak orang yang terjebak oleh kesalahan masa lalu, takut mengambil keputusan dalam hidupnya, takut akan masa depan yang gelap.

Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat dan manusia memiliki kehendak bebas. Kedaulatan Allah artinya Allah secara mutlak dan tak terbatas dalam mengendalikan dan mengarahkan segala sesuatu di alam semesta ini (Dan. 4:35).  Meskipun Allah berdaulat, Alkitab juga menegaskan manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab dalam menentukan tindakan atau jalannya sendiri (Ula. 30:19 ). Sejak awal umat manusia digambarkan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan. Ketika Allah menciptakan  Adam, Allah memberikan perintah kepadanya: Adam boleh makan buah dari setiap pohon di taman ini kecuali  pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, karena pada hari Adam memakannya, ia akan mati. Perintah ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kemampuan kepada Adam untuk memilih tindakannya dan ada tanggung jawab yang menyertainya.

Bagaimana  kedaulatan Tuhan dan kehendak bebas manusia bisa benar keduanya dan berjalan bersama  memang tidak mudah untuk dipahami. Terkadang orang mengambil salah satu dari dua ekstrem yang bertentangan dengan Alkitab. Di satu sisi, beberapa orang  menekankan kedaulatan Allah yang mengesampingkan pilihan manusia. Bagi mereka, manusia tidak lebih dari sekedar robot yang hanya melakukan apa yang telah diprogram secara kedaulatan Tuhan untuk mereka lakukan. Sementara di sisi ekstrim lainnya, sebagian orang menekankan kehendak bebas manusia yang sepenuhnya independen dari Allah dan menganggap Tuhan tidak memiliki kendali penuh dan pengetahuan atas segala sesuatu. 

Mustahil bagi kita untuk sepenuhnya memahami hubungan antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas serta tanggung jawab manusia.  Ini seperti dua sisi mata uang, yang harus berjalan bersama. Di satu sisi, Tuhan berdaulat sepenuhnya untuk membentuk dan mengarahkan kehendak manusia. Di sisi lain, manusia memiliki kehendak bebas dan sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka.  Kebebasan manusia terbatas dan manusia tidak berdaulat atas kehidupannya.  Hanya Allah yang berdaulat.

Alkitab tidak meminta kita untuk memilih antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Malah kita seharusnya merangkul keduanya. Allah adalah Raja yang berdaulat yang mengarahkan seluruh sejarah, namun Tuhan juga mengundang kita untuk membuat pilihan yang benar dalam mengikuti-Nya. Kebebasan sejati manusia  ditemukan bukan dalam melakukan apa pun yang kita inginkan, tetapi dalam menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah melalui kuasa Kristus.

~BT20260607

Israel Sejati Dalam Kristus

Setiap ada eskalasi konflik yang melibatkan Israel di Timur Tengah, orang Kristen kembali merenungkan hubungan antara Israel dan iman Kristen. Ini karena iman Kristen berasal dari Perjanjian Lama dan Baru yang narasinya dominan tentang orang Yahudi. Yesus adalah orang Yahudi, namun ironisnya mayoritas orang Yahudi tidak percaya kepada Yesus.

Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa di Taman Eden, Allah menjanjikan seorang Penebus yang akan datang ke dunia ini. Allah memilih bangsa yang akan melayani dan mempersiapkan datangnya sang Penebus itu.  Sekitar 2,000 tahun sebelum kedatangan Juruselamat, Allah datang kepada  Abraham dan membuat tiga janji kepada Abraham (Kej. 12:1-3, 13:15): (1) memberikan Abraham tanah untuk didiami; (2) menjadikan Abraham bangsa yang besar; (3) keturunannya akan memberkati semua orang

Allah telah memenuhi semua janji itu!  Itu memerlukan waktu hampir 2000 tahun untuk digenapi dan melalui berbagai dinamika hubungan putus sambung Allah dan umat pilihanNya yaitu keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub yang disebut Israel.  Sekitar tahun 1460 SM, bangsa  Israel kembali ke Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan kepada Abraham. Jumlah mereka ada sekitar 2 juta orang. Itu adalah jumlah bangsa yang besar. Ini adalah pemenuhan janji pertama dan kedua Allah.

Ketika Yesus hadir ke dunia ini, Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi hukum taurat (Mat 5:17) dan  Ia adalah Mesias (Mar 14:62). Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke surga adalah karya penggenapan janji Tuhan yang ketiga  kepada Abraham bahwa keturunannya (yaitu Yesus) menjadi berkat bagi semua orang yang percaya padaNya. Kematian Yesus menandai Perjanjian Baru antara Allah dan manusia bahwa Yesus menjadi jaminan bagi manusia berdosa untuk menerima janji keselamatan Allah.

Dalam Perjanjian Baru, “Israel” sejati sebagai umat pilihan Allah didefinisikan melalui Yesus. Alkitab menyatakan bahwa setiap orang percaya Kristus adalah umat pilihan Allah  (1 Pet. 2:9).  Jika kita percaya Kristus kita adalah keturunan Abraham, pewaris janji Allah (Gal. 3:29). Kalau di perjanjian lama: Israel terikat pada etnis dan garis keturunan Yahudi, namun dalam perjanjian Baru,  umat pilihan Allah mencakup semua orang yang ada di dalam Kristus, baik bangsa dan ras apapun.  Orang Israel sejati adalah orang yang memiliki iman dalam Kristus. 

Lalu bagaimana dengan orang Israel secara etnik? Allah tetap mengasihi orang Israel dan menginginkan semua orang Israel percaya Kristus. Dalam Roma 11, Paulus mengilustrasikan pohon zaitun Israel untuk menggambarkan umat pilihan Allah. Orang non-Yahudi yang percaya Kristus diibaratkan seperti ranting yang dicangkokkan ke pohon zaitun itu. Orang Yahudi yang tidak percaya Kristus dibersihkan dari pohon itu.  Namun, janji Tuhan bahwa jika ada orang Yahudi menjadi percaya kepada Kristus, maka Allah pun akan mencangkokkan mereka ke pohon zaitun itu, sebagai umat pilihan Allah.

~BT20260510

Kebangkitan Kristus dalam kehidupan sehari-hari

KuburNya sudah kosong! Ini adalah  catatan sejarah bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib, dikuburkan di sebuah makam dengan ditutup batu besar, diberi materai dan dijaga ketat oleh tentara Romawi, namun tiga hari kemudian terjadi keajaiban yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Tanpa disadari oleh tentara penjaga itu, batu besar penutup makam terguling, kain kafan rapi tertinggal di makam, namun jasad Yesus sudah tidak ada!. Malaikat menyatakan: Yesus sudah bangkit!!. Para rasul memberitakan bahwa mereka melihat dan berinteraksi dengan Yesus yang telah bangkit itu. Kebangkitan Kristus telah menginspirasi para murid Yesus untuk menjadi saksi Kristus dan memberitakan kebangkitanNya meski mereka harus menderita bahkan mati dipersekusi oleh orang-orang yang menyangkal kebangkitan Kristus, yaitu orang Yahudi dan tentara Romawi.

Kebenaran Kekristenan secara tegas adalah berdasarkan kebangkitan Kristus.  Kubur kosong itu telah membuktikan bahwa Yesus sudah menggenapi apa yang sudah dinubuatkan para nabi di Perjanjian Lama dan klaim Yesus  adalah Mesias (Mar. 14:62). Begitu pentingnya kebangkitan Kristus, sehingga Rasul Paulus menjelaskan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sia pula imanmu….kamu masih berada dalam dosa-dosamu” (1 Kor. 15:14, 17).

Kepercayaan akan kebangkitan Kristus bukanlah sekadar doktrin yang hanya kita dengar setiap tahun. Namun harus menjadi realitas hidup kita yang meresap dan mengubah kehidupan kita, sama seperti murid-murid Yesus dan jemaat mula-mula.  Kebangkitan Kristus memberi harapan yang dapat menopang kita di saat-saat sulit, penderitaan, dan bahkan kematian. Kebangkitan Kristus dari kubur yang gelap itu memberikan kita harapan bahwa kitapun bisa bangkit dan menang melawan kegelapan situasi hidup kita.  Kebangkitan juga meyakinkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kehidupan yang lebih penuh di dalam Kristus (1 Tes. 4:14). 

Kebangkitan Kristus memberikan jaminan bahwa tubuh kita akan dibangkitkan dan dimuliakan kelak. Ini  menunjukkan bahwa tubuh jasmani kita adalah ciptaan yang mulia. Kebangkitan Kristus mestinya mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan tubuh kita yang adalah juga bait Allah. Oleh karena itu, kita mesti menjaga kekudusan tubuh dan kesehatan kita.

Kebangkitan  Kristus juga memberikan makna dan tujuan baru bagi rutinitas kita sehari-hari. Mengetahui bahwa jerih payah kita di dalam Tuhan tidak sia-sia (1 Kor. 15:58), kita termotivasi untuk hidup dan bekerja untuk kemuliaan Allah.  Di dalam keluarga, tempat kerja, dan dimanapun kita berada, semoga kita menjadi orang yang membawa pengharapan kebangkitan Kristus.  Marilah kita menjalani kehidupan kita setiap hari dalam terang kebangkitan Kritus, hidup  sebagai orang-orang yang penuh harapan dan menjadi saksi kuasa Kristus yang telah bangkit. Selamat Paskah!

BT~20260405

Mengapa Kita Menyembah Tuhan?

Pernahkah kita bertanya kenapa sih Tuhan menginginkan kita untuk memuji dan menyembah Dia? Apakah Tuhan kurang percaya diri dengan keberadaanNya? Apakah Ia membutuhkan pengakuan dari manusia untuk meningkatkan harga diri-Nya? Bahkan salah satu tuduhan dari orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan adalah bahwa Dia itu narsis, gila hormat, egosentris dan sombong. Bagi mereka, Tuhan kok memaksa semua orang memuji-Nya dan menghukum jika tidak mau tunduk kepadaNya.

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta seluruh alam semesta ini. Karakter Tuhan itu adalah sempurna, kekal, tak terbatas, mandiri dan  tidak berkekurangan. Dia  tidak membutuhkan apa pun di luar Diri-Nya untuk mempertahankan eksistensi-Nya. (Kis. 17:24-25). Tuhan sesungguhnya tidak membutuhkan pujian dan penyembahan kita untuk mempertahankan statusNya. Kalaupun manusia menyembah-Nya, tidak ada yang ditambahkan kepada-Nya. Pun jika manusia menolak menyembah-Nya, tidak ada juga yang hilang dari-Nya. Lalu Mengapa Tuhan meminta manusia untuk menyembah-Nya? 

Manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki naluri untuk memuji dan menyembah (Wah. 4:11). Buktinya, kita suka menghargai dan memuji sesuatu yang bernilai, indah, bagus, dan menyenangkan. Selain itu kita juga suka menyembah dan memuliakan sesuatu di luar diri kita yang bisa kita jadikan pegangan spiritualitas kita. Orang primitif yang tinggal di hutan belantara sekalipun, akan menyembah sosok atau benda tertentu yang dianggap sakral sebagai pegangan hidupnya.  Apa yang diyakini seseorang tentang sosok sakral atau Tuhan akan menjadi landasan dari semua pemikiran dan perbuatannya dalam kehidupan ini.  Jika kita gagal menyembah Tuhan yang benar, maka kita akan menyembah sesuatu yang lainnya.

Sesungguhnya Tuhan menginginkan yang terbaik bagi ciptaan-Nya.  Segala hukum dan perintah Tuhan adalah semata untuk kebaikan manusia. Tuhan tahu bahwa sukacita kehidupan manusia tidak didapat dari keterikatan dengan dunia yang sementara dan fana ini.  Kebahagiaan manusia terletak pada pengenalan akan Tuhan dan memiliki hubungan pribadi dengan Dia. Dalam Ulangan 6:24, Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah kepadaNya supaya Ia memelihara hidup kita. Selain itu, jika kita merenungkan kasih, kebaikan, kemurahan pengampuan Tuhan kepada kita manusia berdosa ini, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak memuji dan menyembah Dia. Inilah ibadah kita yang sejati ketika kita memberikan memberikan penghormatan, pujian, ketundukan kepada Allah dan menyerahkan semua keberadaan hidup kita kepadaNya. Kesempatan untuk memuji Allah adalah sebuah hak istimewa dan Dia layak menerima pujian dan penyembahan kita!

~BT260117

ALLAH YANG KASIH DAN ADIL

Siapa sih yang tidak senang mendengar bahwa Allah itu penuh kasih dan menerima kita masuk ke rumahNya di surga.  Banyak orang yang mempercayai kepada Tuhan yang maha pengasih tanpa adanya keadilan dalam penghukuman atas dosa. Salah satunya adalah aliran Saksi Yehuwa. Mereka berkata: “Tidak mungkin Tuhan yang penuh kasih itu akan menghukum orang di neraka.”  Namun, pernahkah kita memikirkan seperti apa dunia ini jika benar bahwa  Tuhan itu penuh kasih tanpa keadilan dalam menghakimi kejahatan? Sepertinya orang-orang akan merasa bebas berbuat jahat tanpa adanya rasa takut karena tidak akan ada hukuman dari Tuhan.  Bisakah kita menerima bahwa penjahat perang seperti Hitler akan disambut di surga sama seperti Bunda Teresa yang menyelamatkan dan melayani korban perang sepanjang hidupnya? Tentu hati nurani kita berkata ini tidak benar dan tidak adil.

Di sisi lainnya, bagaimana jika Tuhan hanyalah Allah yang menunjukkan keadilanNya dalam menghakimi saja tanpa adanya kasih?  Pastilah tak seorang pun dari kita akan selamat dan bahagia karena kita sudah pasti dihukum dan mati oleh karena dosa kita setiap hari.

Benar Alkitab berkata, “Tuhan itu penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Maz. 145:8). Namun, kasih Tuhan bukanlah berarti Ia mengasihi segalanya. Ia mengasihi apa yang baik dan benar di mataNya. Sama seperti kita, jika kita mengasihi dan menyayangi sesuatu maka kita harus membenci apa yang menghancurkan rasa sayang kita. Suami yang mengasihi istri mesti membenci perselingkuhan karena perselingkuhan itu menghancurkan kasih dalam rumah tangga. Hal yang sama berlaku untuk Tuhan. Alkitab yang sama memberitahu kita bahwa Allah juga membenci kejahatan dan dosa (Maz. 5:5). Dosa adalah pemberontakan yang menghancurkan dan merusak apa yang Allah kasihi. Allah membenci dan menanggapi dosa dengan serius dengan menghakimi dan menghukum  setiap  dosa kita. Meskipun sekarang Ia sedang bersabar untuk memberi waktu agar orang-orang bertobat (2 Pet. 3:9). Yang pasti di akhir zaman, kita akan menghadapi pengadilan Allah dan ganjaran dosa kita dalam kekekalan.

Tuhan adalah hakim tertinggi, penuh kasih dan sangat adil. Dan penghakiman Allah bisa mengejutkan. Dari Alkitab kita membaca peristiwa di mana Allah menunjukkan keadilanNya dengan menghukum dosa seperti air bah zaman Nuh, malapetaka tulah di Mesir, pembuangan bangsa Israel, dan banyak lagi yang lain. Ia menghakimi karena keadilan-Nya menuntut agar Dia menghukum dosa, tetapi kasih-Nya memotivasi Allah untuk menawarkan cara mengampuni orang berdosa. Inilah kabar baik sebagai  inti iman Kristen:  bukan hanya Allah menghakimi dosa, tetapi Ia telah menyediakan jalan untuk menyelamatkan kita dari penghakimanNya.  Penghakiman terakhir Tuhan atas kejahatan umat manusia dicurahkan, bukan kepada kita, tetapi kepada diri-Nya sendiri dalam pribadi Yesus. Pada saat Yesus mati di kayu salib,  di situlah kasih dan keadilan Tuhan yang sempurna berpadu, menghasilkan kasih karunia kekal bagi mereka yang percaya kepada Yesus.

Tuhan itu adalah kasih sekaligus adil. KasihNya ditunjukkan melalui keadilanNya.  Alih-alih mempertanyakan  “Mengapa Tuhan mengadili dan menghakimi orang-orang yang katanya dikasihi-Nya?” mungkin kita seharusnya bertanya, “Supaya saya lepas dari penghakimanNya, apakah saya sudah menerima kasih Tuhan di kayu salib?

~BT 20250907

MENGAPA ALLAH TERKESAN DIAM SAJA?

Orang yang tidak percaya kepada Tuhan ataupun mereka yang meragukan keberadaan Tuhan sering mempertanyakan karakter Tuhan dengan mengajukan pertanyaan “Mengapa Tuhan tidak menunjukkan diri-Nya saja secara kasat mata agar orang tersadarkan bahwa Tuhan itu ada?”,  “Jika memang Tuhan itu ada dan Dia ingin kita menyembah-Nya, seharusnya dia tunjukkan tanda dan mukjizat agar semakin banyak orang percaya kepadaNya.”


Orang yang tidak percaya kepada Tuhan ataupun mereka yang meragukan keberadaan Tuhan sering mempertanyakan karakter Tuhan dengan mengajukan pertanyaan “Mengapa Tuhan diam saja dan tidak menunjukkan diri-Nya saja secara kasat mata agar orang tersadarkan bahwa Tuhan itu ada?”,  “Jika memang Tuhan itu ada dan Dia ingin kita menyembah-Nya, seharusnya dia tunjukkan tanda dan mukjizat agar semakin banyak orang percaya kepadaNya.”

Padahal seandainya pun Tuhan menunjukkan keberadaanNya dan berbicara secara langsung kepada manusia, tidaklah ada jaminan bahwa orang tersebut akan percaya dan beriman kepada Tuhan. Dalam Alkitab tercatat beberapa kali  penampakan Tuhan kepada manusia, berbicara dengan jelas,  melakukan mukjizat yang menakjubkan, namun manusia tetap memberontak kepada Tuhan. Lucifer, malaikat yang paling tinggi dan mengenal Allah secara dekat, dia memberontak kepada Allah dan menjadi Iblis. Orang Israel selama 40 tahun di padang gurun menuju Kanaan melihat dan merasakan kehadiran Tuhan setiap hari dalam tiang awan dan tiang api, dan diberkati Tuhan dengan makanan, tetapi mereka malah menyembah berhala patung lembu emas.  Yesus – Tuhan yang menjadi manusia – telah menunjukkan kuasa mukjizatNya dan banyak orang yang mengalami dan menyaksikan, namun Ia tetap ditolak banyak orang. 

Setelah zaman para rasul, memang Allah tidak lagi berbicara kepada manusia dengan suara yang jelas atau membuat diri-Nya nyata. Tentu Allah punya alasan mengapa demikian adanya. Kita perlu menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kita pahami mengenai Tuhan yang tidak terbatas, kekal dan maha kuasa itu. Jalan, rancangan, dan tindakan  Tuhan jauh lebih tinggi dari pikiran manusia yang terbatas (Yes. 55:9).  Allah juga menyatakan bahwa ada hal yang menjadi rahasiaNya dan  hal-hal yang terbuka dan dinyatakan kepada kita melalui Alkitab (Ula. 29:29).

Alkitab adalah catatan tentang Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Di dalamnya Allah memberikan informasi tentang diriNya, pekerjaanNya dan rencanaNya. Segala sesuatu yang kita butuhkan “untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16). Dan itu sudah cukup bagi manusia untuk mengimani yang tertulis di sana. Kita tidak memerlukan wahyu lain di luar Alkitab karena Alkitab sudah selesai, sempurna, dan cukup.

Akhirnya, meskipun kesannya Allah diam dan tidak menyatakan dirinya secara kasat mata kepada kita, Ia tetaplah Tuhan yang berdaulat atas semua ciptaanNya. KIta tentunya tidak bisa memahami semuanya namun sebagai orang percaya, kita akan hidup oleh iman. (Hab. 2:4).

~BT20250608

SAINS YANG MENINGGIKAN IMAN

Mungkin kita pernah mendapatkan pertanyaan  dari anak kita mengapa pelajaran ilmu pengetahuan alam (sains) sepertinya bertentangan dengan Alkitab dan iman Kristen? Misalnya teori penciptaan, asal usul manusia, dinosaurus, dll. Karena kebingungan, banyak orang menganggap bahwa sains dan iman adalah dua kutub yang berbeda, bertentangan, dan jangan dikaitkan.  Bahkan, seorang tokoh atheis, Richard Dawkins  mengatakan bahwa sains adalah  proses pencarian fakta sedangkan iman berdasarkan mitos dan tahayul. Menurutnya, iman dan sains itu bertentangan dan kita harus memilih salah satunya. Iapun mengolok orang Kristen sebagai orang bodoh dan sakit mental.

Sebenarnya iman dan sains tidaklah bertentangan, tidak terpisah satu sama lain dan saling berkaitan. Tetapi karena keberdosaan manusialah yang membuat keduanya terpisah, apalagi dosa menyangkal keberadaan Tuhan. Sains merupakan usaha manusia untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dan akurat melalui metode penelitian dan pengukuran terhadap objek  alam semesta  yang Tuhan ciptakan.  Lalu, manusia mengembangkan sains itu untuk kebaikan hidup manusia misalnya  mengatasi penyakit, menciptakan teknologi yang membuat hidup manusia lebih mudah dan nyaman. Namun kita mesti mengingat bahwa sains diformulasikan oleh manusia yang tidak sempurna, berdosa dan terbatas. Akibatnya, sains tidaklah selalu mutlak benar dan tidak dapat menjelaskan semua aspek kehidupan manusia. Apa yang dulunya sudah disepakati menjadi teori dalam sains, di kemudian hari bisa direvisi kembali. Sepanjang sejarah sains sudah terbukti bisa salah dalam banyak hal, misalnya dulu bumi dianggap sebagai poros tata surya, planet Pluto yang tidak lagi menjadi anggota tata surya kita. Artinya kita tidak bisa menggantungkan seluruh kehidupan kita kepada sains. 

Iman Kristen berdasarkan Alkitab. Namun, Alkitab bukanlah buku manual tentang sains dan teknologi. Kita mengimani bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Tuhan adalah Roh dan pribadi yang agung yang melebihi dimensi waktu, ruang, dan materi. Itulah sebabnya Ia dapat menciptakan alam semesta ini dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Namun, keagunganNya itu tidak membatasi cinta kasihNya kepada manusia yang Ia ciptakan. Tuhan menjadi manusia yaitu Yesus yang pernah hidup di dunia ini dan mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup berdamai dengan alam, orang lain dan penciptanya. Sains tidak akan pernah bisa memahami dimensi spiritualitas ini karena tidak dapat diobservasi dan diukur secara kasat mata. 

Alkitab mendeklarasikan bahwa sesungguhnya Tuhanlah pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah meminta manusia mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketika Allah memberi perintah tugas pertama kepada Adam dan Hawa: “penuhilah dan taklukkanlah bumi dan berkuasalah atas seisinya” (Kej. 1:28); dan juga pernyataan Daud: “Besar perbuatan Tuhan dan layak kita pelajari, teliti” (Maz 111:2). Ini adalah petunjuk kuat Allah memberi mandat kepada manusia untuk mengeksplorasi, menyelidiki dan mengembangkan apa yang telah Allah ciptakan. Jadi orang Kristen tidak perlu takut untuk mempelajari sains dengan tetap meninggikan Alkitab. Kebenaran Firman Tuhan akan tetap berdiri tegak menghadapi tantangan sains sampai kapanpun. 

Louis Pasteur (1822 -1895), seorang ilmuwan biologi dan kimia pernah berujar: semakin saya belajar sains, semakin saya kagum dengan karya Tuhan, dan sains bisa membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

~BT250302

FAKTA PENCIPTAAN DALAM KITAB KEJADIAN

Kitab Kejadian adalah kitab pertama dari Alkitab yang sangat mendasar yang diwahyukan oleh Tuhan kepada penulisnya, Nabi Musa. Di dalamnya diceritakan berbagai peristiwa mulai dari  penciptaan alam semesta, dunia termasuk manusia pertama Adam dan Hawa, jatuhnya manusia ke dalam dosa, sejarah kehidupan manusia generasi pertama, bencana air bah zaman Nuh, peristiwa tersebarnya manusia ke segala penjuru bumi akibat pembangunan Menara Babel. 

Banyak orang Kristen yang meragukan dan tidak mempercayai narasi kitab Kejadian khususnya Pasal 1 tentang penciptaaan sebagai peristiwa riil dan nyata. Beberapa ahli teologi menyatakan bahwa kitab Kejadian jangan dibaca secara literal (arti harfiah dan  terjemahan langsung) karena menurut mereka kitab itu ditulis dengan bahasa simbolik dan bukan menggambarkan peristiwa sebenarnya.  Sebagian orang  sulit menerima kebenaran Alkitab dalam penciptaan karena tidak sesuai dengan sains dan metode ilmiah. Teori sains sekuler yang paling terkenal tentang penciptaan adalah teori “Big Bang” (Ledakan Besar)  yang menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari materi yang  menggumpal dan meledak sekitar 14 milyar tahun lalu  dan membentuk planet bumi 4.5 milyar tahun yang lalu, dan diikuti evolusi biologis makhluk hidup menjadi manusia purba 200 ribu tahun yang lalu. Ada juga orang yang menganut paham teologi evolusi yang memadukan  teori sains ke dalam Alkitab. Agar Alkitab dapat diterima maka terjemahannya mesti sesuai dengan sains. Jadi menurut teori ini penciptaan oleh Tuhan itu bisa jadi secara evolusi  dalam jutaan atau milyaran tahun.

Pandangan ini tentu bertentangan dengan kitab Kejadian. Pasal 1 dengan jelas menyatakan pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi!. Inilah permulaan sejarah dunia ini! Dengan runut diceritakan satu persatu bagaimana Allah dengan FirmanNya dan kuasaNya menciptakan alam semesta ini dan segala isinya dalam waktu 6 hari ada pagi dan petang. Bukan 6 ribu, 6 juta, atau 6 milyar tahun. Lalu pada hari ketujuh Allah beristirahat. Siklus 6 hari kerja dan hari ke 7 istirahat inilah yang menjadi dasar perintah Hukum Taurat untuk beristirahat dan beribadah pada hari sabat. (Kel 20:8-11).

Setiap orang Kristen mesti mempercayai fakta penciptaan yang dinarasikan kitab Kejadian adalah kejadian yang benar terjadi, bukan cerita simbolik atau khayalan. Jikalau kita menolak mempercayai karya Allah dalam penciptaan dan menganggapnya sebagai dongeng dan mitos yang memiliki nilai religius, maka iman kita kepada Kristus akan sia-sia. Jika Pasal 1 Alkitab saja kita tolak, maka kita pun pasti akan menolak karya agung Allah lainnya di dalam Alkitab seperti kelahiran dari Perawan Maria, penyaliban Kristus, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke sorga. Padahal, Kristus datang ke dunia ini adalah pemenuhan janji Allah kepada manusia pertama Adam dan Hawa yang awalnya diciptakan sempurna namun mereka memberontak  dan jatuh ke dalam dosa sehingga kita pun semua menjadi manusia berdosa.

Apakah kita mengartikan Alkitab termasuk penciptaan akan seturut dengan pandangan dunia ini? Ataukah kita yang mesti  mengubah cara pandang kepada dunia ini berdasarkan Alkitab? Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan perjalanan iman kita. Karena dengan iman kita bisa mengerti bahwa alam semesta ini dijadikan oleh firman Allah (Ibr. 11:3).

~BT250119

Mukjizat Kelahiran Yesus

Kelahiran anak tentunya merupakan momen yang membahagiakan bagi orang tua dan keluarga.  Meskipun kita bisa kagum dengan proses kandungan dan kelahiran bayi, namun itu adalah proses alamiah yang Allah tentukan manusia bisa hadir ke dalam dunia ini. Itu bukanlah keajaiban ataupun mukjizat sebab peristiwa itu  biasa dan dapat berulang setiap hari. Sedangkan mukjizat di Alkitab adalah perbuatan Allah yang terjadi melampaui hukum logika dan ilmiah manusia  karena Allah ingin menunjukkan tanda, pesan, dan rencana untuk umatNya. Salah satu mukjizat yang ada di Alkitab adalah proses kandungan untuk kelahiran Yesus ke dalam dunia ini. Yesus lahir dari  proses mukjizat dalam kandungan perawan Maria. 

Banyak orang meragukan peristiwa ajaib ini  yang hanya tercatat sekali dalam sejarah dunia ini. Secara ilmiah dan logika, mestinya wanita hanya bisa mengandung karena  adanya hubungan seksual dengan pria. Lalu bagaimana dengan peristiwa mengandungnya Maria yang masih perawan itu?  Ketika malaikat Gabriel memberitakan kabar ajaib itu kepada Maria, dia pun keheranan bagaimana mungkin dia bisa mengandung jika dia masih perawan dan belum bersuami? (Luk. 1:34).  Pastinya Maria mengerti hukum alam atau pelajaran biologi  tentang proses kehamilan. Tetapi malaikat itu menjawab Maria bahwa Kuasa Roh Kudus akan menaungi Maria dan ia akan mengandung.  Tidak ada yang mustahil bagi Allah.  Jika Allah bisa menciptakan kehidupan alam semesta yang kompleks ini termasuk manusia, lalu mengapa kita sulit memahami bahwa Allah yang sama dapat membuat seorang gadis mengandung tanpa proses alami?  Nyatanya, sesuatu yang tidak normal terjadi, tidaklah berarti itu tidak mungkin terjadi.  Inilah mukjizat yang hanya Tuhan  bisa melakukannya.

Allah sudah merencanakan kelahiran juruselamat dari seorang perawan itu dalam Kejadian 3:15 ketika Allah berbicara kepada Iblis dan Hawa.  Allah menetapkan bahwa keturunan perempuan (bukan keturunan pria) itu akan meremukkan kuasa Iblis.  Yesaya juga bernubuat bahwa seorang perawan akan mengandung dan akan melahirkan Imanuel (Yes. 7:14). Bagaikan dejavu, malaikat mengulangi pernyataan Yesaya itu saat bertemu Yusuf dan meyakinkannya agar tetap menikahi Maria, tunangannya dan memberi nama bayi itu Yesus yang adalah Imanuel (Mat. 1:20-23).

Dalam pengakuan iman rasuli tahun 325, para bapa gereja juga menekankan betapa pentingnya pernyataan “lahir dari anak dara Maria” untuk membuktikan keunikan kelahiran Yesus. Karena Ia lahir dari kandungan Roh Kudus melalui perawan Maria, tidak melalui hubungan suami istri maka Yesus tidaklah mewarisi status keberdosaan manusia meski ibu yang melahirkannya adalah orang berdosa. Dalam statusNya sebagai manusia, Yesus lahir tak berdosa dan hidup di dunia ini tanpa melakukan dosa.  Yesus adalah pribadi yang suci, tak bercacat, dan sempurna untuk  menggantikan status manusia yang berdosa. Yesus mempersembahkan kesucian tubuh dan hidupNya sebagai penebusan dosa manusia.

~BT241201

Refleksi atas Reformasi Gereja

Tanggal 31 Oktober, sebagian besar orang tahunya adalah perayaan Halloween yang merupakan perayaan berhala. Bagi orang Kristen, itu adalah hari Reformasi Gereja, yang  berawal dari aksi Martin Luther yang memakukan 95 pasal Maklumat Protes atas Gereja Katolik Roma di pintu gereja Wittenberg, Jerman pada 31 Oktober 1517.  Mengingat Reformasi Gereja, kita dapat melihat Tuhan bekerja di dalam sejarah gerejaNya. Saat terjadi penyimpangan ajaran gereja, Allah turut bekerja melalui orang-orang pilihanNya untuk membawa orang Kristen kembali kepada ajaran murni Alkitab.

Setelah masa Para Rasul berakhir,  dalam 1000 tahun, Kekristenan ada dalam satu hirarki gereja yang berpusat di  Roma yaitu Gereja Katolik yang juga membawahi Gereja Orthodox Timur yang berpusat di Konstantinopel Turki. Pada masa ini ada banyak tradisi dan ajaran yang berkembang di gereja meskipun tidak berdasarkan Alkitab, misalnya: otoritas absolut pemimpin tertinggi gereja Paus, pemujaan terhadap Bunda Maria, pembaptisan anak sebagai anggota gereja, pengkultusan orang-orang kudus, dan lainnya. Perselisihan kedua pemimpin gereja dan perbedaan pandangan teologis dan tradisi gereja menyebabkan perpecahan gereja pada tahun 1054, gereja Orthodox Timur berpisah dari gereja Katolik Roma. 

Perpecahan ini tidak membuat Gereja Katolik merubah tradisinya. Malahan moralitas para pemimpin gereja menurun khususnya dalam hal keuangan. Puncaknya saat Paus Leo X menjual surat pengampunan dosa. Martin Luther menganggap ini suatu penyesatan dari iman Kristen. Ia yang adalah pendeta di Gereja Katolik Wittenberg, Jerman memulai gerakan protestan untuk menyerukan reformasi gereja Katolik kembali kepada ajaran Alkitab. Gerakan reformasi  ini meluas ke seluruh daratan Eropa. Selain Luther, ada banyak tokoh reformasi lainnya: John Calvin, Ulrich Zwingli, John Knox, Raja Henry VIII, dll.

Para reformator Gereja menyerukan doktrin 5 Sola untuk mereformasi gereja yang yaitu: (1) Sola Scriptura, “hanya Firman Tuhan” yang menjadi dasar ajaran dan praktek iman Kristen. (2) Sola Gratia, “hanya anugerah” Allah yang menyelamatkan kita orang berdosa, bukan amal saleh atau apapun pekerjaan baik kita. (3) Sola Fide, “hanya iman” dalam Kristus yang membawa kita kepada Tuhan.  (4) Sola Christus, “hanya Kristus” juru selamat, tidak ada yang lain. (5) Soli Deo Gloria, “hanya untuk kemuliaan Tuhan” adalah tujuan hidup orang Kristen.

Reformasi Gereja  menandai awal pergerakan baru untuk kembali kepada ajaran Alkitab yang murni seperti yang diajarkan oleh Para Rasul.  Namun ini tidak berarti bahwa gerakan reformasi ini sempurna. Berbagai latar belakang, kepentingan dan doktrin di antara reformator juga membawa perbedaan dalam mengaplikasi reformasi gereja. Konsekuensinya ada beberapa aliran gereja baru yang muncul di awal reformasi gereja, yaitu: pengikut Martin Luther memulai gereja Lutheran, pengikut John Calvin mendirikan gereja reformed, pengikut John Knox dengan gereja Presbyterian, dan Raja Inggris Henry VIII mendirikan Gereja Anglikan. Ini mengajarkan kita bahwa manusia tidaklah sempurna, dan tidak ada gereja yang sempurna, hanya Tuhan saja yang sempurna. 

Ketika gereja sudah dipengaruhi oleh ajaran yang menyimpang dari Alkitab,  terlibat intrik politik, uang, korupsi, maupun kepemimpinan yang otoriter maka orang Kristen yang masih setia kepada ajaran Alkitab harus bangkit dan menyerukan agar gereja kembali kepada ajaran Alkitab. Gereja mesti terus mengingat semangat reformasi  5 Sola. Para pemimpin reformasi gereja sudah membuktikan bahwa mereka rela menanggung semua konsekuensi sampai hukuman mati karena mereka percaya bahwa kebenaran Alkitab lebih berharga dari kenyamanan apapun yang bisa mereka dapatkan (Kis. 20:24).

Soli Deo Gloria!

~BT20241027

Menjadi Kristen Yang Berbudaya

Kita perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, kita adalah bagian dari sebuah kebudayaan dan tidak bisa menutup diri dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Kebudayaan ini bisa mencakup bahasa, identitas, adat istiadat, tradisi,maupun cara hidup.  Memang ada berbagai adat dan tradisi dari nenek moyang kita yang menjadi kontroversi dan bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Lalu  bagaimana kita menyikapi adat istiadat dan tradisi tersebut?   Apa kita mesti menolak semua tradisi itu?, atau apakah kita mesti menerima semua adat?, atau apakah kita bisa menyesuaikan adat dengan prinsip iman Kristen.Kita perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, kita adalah bagian dari sebuah kebudayaan dan tidak bisa menutup diri dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Kebudayaan ini bisa mencakup bahasa, identitas, adat istiadat, tradisi,maupun cara hidup.  Memang ada berbagai adat dan tradisi dari nenek moyang kita yang menjadi kontroversi dan bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Lalu  bagaimana kita menyikapi adat istiadat dan tradisi tersebut?   Apa kita mesti menolak semua tradisi itu?, atau apakah kita mesti menerima semua adat?, atau apakah kita bisa menyesuaikan adat dengan prinsip iman Kristen.

Singkatnya budaya adalah cara kita menyesuaikan diri  baik secara fisik maupun spiritual dengan lingkungan dan memperlakukan apa yang Tuhan telah ciptakan. Hasilnya muncullah berbagai banyak bahasa, kepercayaan, tradisi, adat yang mengatur kehidupan manusia di dalam satu komunitas. Peristiwa terpencarnya manusia dengan perbedaan bahasa ke segala penjuru dunia setelah runtuhnya menara Babel adalah bagian dari rancangan Allah menjadikan dunia yang penuh warna tradisi dan budaya.

Tidak ada salahnya untuk mengikuti dan menjalankan beberapa tradisi yang ada di sekitar kita. Beberapa tradisi yang baik  dapat memberi identitas yang unik kepada kita, memberi pengajaran moral, dan menjaga keharmonisan kehidupan dalam suatu komunitas. Alkitab tidaklah anti terhadap adat, tradisi, dan kebiasaan manusia. Allah kita adalah Tuhan yang berbudaya. Dalam berkomunikasi dan menunjukkan kehendakNya, Allah menggunakan bahasa, tradisi, dan cara yang dapat dimengerti manusia.  Bahkan, kedatangan Kristus ke dunia ini juga menunjukkan bagaimana Tuhan hadir di tengah kehidupan manusia ciptaannya dengan adat dan tradisi yang ada pada saat itu. Dalam status kemanusiaannya, Yesus bersuku bangsa Yahudi dan  hadir dalam berbagai kegiatan yang menjadi tradisi orang Yahudi. Melalui kehadiranNya terebut, Yesus mengajarkan orang Yahudi yang terlalu mengagungkan tradisi buatan manusia untuk  berfokus kepada Allah  dan menunjukkan bahwa Kerajaan Allah melebihi dari semua adat dan tradisi yang manusia ciptakan.

Rasul Paulus menerima dan menyesuaikan dirinya  dengan budaya bangsa lain demi mengabarkan Injil. (1 Kor. 9:19-23).  Tentu setiap tradisi budaya mesti dipertimbangkan untuk diterima atau ditolak dengan menggunakan standar Alkitab. Firman Tuhan bersifat kekal, benar, dan mengikat. Sedangkan tradisi adalah buatan manusia secara turun temurun yang bisa berubah atau tidak relevan lagi dengan kondisi zaman. Misalnya, orang Kristen mesti menolak tradisi persembahan kepada berhala (bertentangan Imamat 19:4, karena Tuhan tidak ada bandingannya), ritual berkaitan roh orang mati ( bertentangan Imamat 19:31, karena orang mati tidak ada urusan lagi dengan dunia ini), dan lainnya. Panggilan orang Kristen adalah meskipun kita hidup dengan tradisi dan budaya tertentu, namun kita mesti dapat mentransformasi dan menerangi budaya itu dengan berita Injil.

~BT20240915

KEMERDEKAAN SEJATI

Tanggal 17 Augustus selalu menjadi hari yang menyenangkan dan membanggakan kita sebagai bangsa Indonesia karena kita  memperingati kemerdekaan Indonesia. Kita patut bersyukur atas anugerah Tuhan terhadap bangsa Indonesia melalui perjuangan para pahlawan di masa lalu dan para founding fathers kita yang mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Kemerdekaan dari segala yang membatasi kehidupan manusia sudah menjadi keinginan dan dicari manusia sejak manusia ada. Alkitab banyak berbicara tentang pembebasan dan kemerdekaan sejak penciptaan manusia pertama. Adam dan Hawa ingin bebas dari  aturan yang Allah berikan untuk tidak makan buah pengetahuan dan ingin merdeka untuk mengikuti kemauan Iblis termasuk ingin menyerupai Allah (Kej 3:1-6).   Manusia ingin bebas dari kesulitan hidup, penderitaan, aturan, tanggung jawab dan merdeka melakukan apa yang kita inginkan. Banyak orang secara fisik merdeka atau bebas, tetapi tidak menyadari bahwa ia sebetulnya terpenjara dan terikat perbudakan spiritualitas yang menguasai dirinya yaitu dosa (Roma 3:23).  Dosalah yang membawa kita cenderung berbuat jahat, tidak bisa mengasihi Allah dan sesama.  Dosa juga membuat manusia terpisah dari Allah baik di dunia maupun akhirat.

Tetapi syukur kepada Allah karena 2.000 tahun yang lalu, Yesus Kristus memproklamasikan kemerdekaan manusia dari kuasa dan hukuman dosa, yaitu saat Yesus mati di kayu salib. Yesus memberikan kemerdekaan sejati bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. (Yoh 3:16). Inilah anugerah kemerdekaan terbesar dari Allah kepada manusia berdosa: Merdeka dari belenggu dosa dan hukuman  maut yang kekal, lalu mendapatkan anugerah pengampunan dosa dan hidup yang kekal bersama Kristus. Manusia yang terjajah oleh belenggu dosa perlu memproklamasikan kemerdekaannya di dalam Yesus Kristus!

Jika kita melihat salib, ingatlah bahwa Kristus sudah memerdekakan kita dari hukuman dosa dan maut. Kita dimerdekakan dari dosa dan sekarang kita menjadi hamba Allah  untuk menghasilkan buah (Rom 6:22). Allah menginginkan kita mengisi kemerdekaan itu dengan hidup melakukan perintah Tuhan yaitu terus berjuang melawan dosa, menyangkal diri, dan berbuat kebaikan untuk sesama termasuk menjadi warga negara yang baik.  Orang Kristen yang sudah merdeka oleh Kristus akan terlihat dari buah kesaksian hidup yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Jika kita melihat Sang Saka Merah Putih berkibar, kita perlu merasa bangga dan bersyukur bahwa bahwa kita sudah merdeka dari penjajahan. Ibu Pertiwi memanggil anak-anak Tuhan untuk menjadi saksi dan teladan yang baik di bumi nusantara yang kita cintai ini. Merdeka..!!!

~BT20240817

Mengapa Kita Eksis di Dunia

Tidak satupun dari kita yang punya andil untuk menghadirkan diri kita ke dunia ini. Kita pun tidak bisa meminta atau menolak untuk dilahirkan ke dunia ini. Dan dalam usia pertumbuhan kita, tiba-tiba saja kita menyadari bahwa kita ada sebagai pribadi manusia. Lalu kita mungkin bertanya mengapa dan untuk apa saya ada di dunia ini. Bagaimana saya harus hidup? Apa yang harus saya capai dalam hidup ini? Mengapa kita ada dilahirkan ke dunia ini jika bergumul dengan kesulitan dan masalah hidup bahkan kematian yang bisa datang setiap saat.

Pertanyaan tentang eksistensi manusia merupakan salah satu pergumulan manusia di sepanjang zaman. Beberapa  mungkin sudah menemukan jawabannya tetapi banyak orang yang masih bergumul untuk menemukan jawabannya. Kadang karena kita larut dengan kesibukan sehari-hari, kita tidak lagi memikirkan pertanyaan mengapa kita ada di dunia ini.  Padahal menemukan tujuan kita eksis di dunia ini akan mempengaruhi cara kita hidup termasuk apa yang membuat kita bersemangat saat bangun pagi dan melakukan aktivitas hidup.  Ada orang yang merasa hidup itu hanyalah kebetulan saja dan tidak ada nilai kekalnya. Kalau kita mati, ya seperti debu saja yang ditiup angin, hilang lenyap dan tak ada jejak.  Banyak juga yang beranggapan kita eksis di dunia ini hanya untuk mengejar kebahagiaan diri kita saja dan di luar dirinya tidak ada yang penting.

Jika kita ingin mengetahui mengapa kita hadir ke dalam dunia ini, kita mesti memulainya dari Tuhan. Kita dilahirkan oleh dan untuk tujuan Allah. Kitab Kejadian menceritakan bahwa Tuhan dengan sukacitaNya menciptakan manusia serupa gambaranNya  karena Dia ingin memiliki hubungan persahabatan dengan kita. Dalam Matius 22:36-40, Yesus menegaskan tujuan kita hidup adalah mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaan kita dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Jadi kita ada di dunia ini untuk kemuliaan Tuhan yang sebenarnya itu juga akan memberikan kesukaan bagi kita– tentu jika kita mengenal Allah secara pribadi. Kita mengenal Kristus saat kita sudah menyadari keberdosaan kita, meyakini Kristus sudah menebus dosa kita dan kita sedang hidup untuk Kristus.

~BT240505

MENGAPA TRAGEDI MENIMPA ORANG BAIK?

Kita merasa sedih dan terpukul jika ada tragedi, kecelakaan, atau penyakit kronis menimpa kita atau orang yang kita anggap baik. Mengapa tragedi bisa menimpa pada orang baik? Pertanyaan mendasar ini muncul karena dua alasan: pertama kita sering merasa lebih baik dan tidak sejahat orang lain, maka semestinya hal yang baik dan berkat datang kepada kita. Kedua, kita mempertanyakan keadilan Tuhan. Jika Allah itu adil,  mengapa Ia tidak campur tangan untuk mencegah tragedi terjadi pada orang baik? Sepantasnya orang baik itu mendapatkan imbalan berkat sedangkan orang jahat mendapatkan hukuman.  Tetapi, apa sih standar kita menilai seseorang itu baik?

Alkitab menyatakan bahwa dunia sudah jatuh dalam dosa. Dosa mengakibatkan semua manusia dan dunia ini tidak lagi sempurna. Roma 3:10-12  berkata “tidak ada seorangpun yang benar..tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”. Jadi kalau kita memakai ukuran Tuhan, sebenarnya kita adalah orang yang jahat dan berdosa. Kita melakukan dosa setiap hari melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Allah tidak menciptakan manusia seperti robot atau wayang, justru Allah memberi kita kehendak bebas. Karena itulah Allah mengijinkan konsekuensi dosa berjalan dalam dunia ini.  Semua kita mengalami akibat dari perbuatan dosa termasuk hal yang buruk bisa menimpa kita.  Terkadang tragedi yang kita alami adalah akibat langsung dari dosa kita, misalnya saat kita berkendaraan motor dan tidak sabar lalu kita menerobos lampu merah dan terjadilah kecelakaan. Di lain waktu, kita mengalami tragedi karena perbuatan dosa orang lain, misalnya kita bermotor sudah menaati rambu lalu lintas, tetapi ada supir mobil yang mabuk menabrak kita. Dan ada lagi tragedi menimpa kita bukan karena salah siapapun, tetapi karena kondisi alam. Misalnya saat kita berkendara, tiba tiba ada pohon tumbang menghantam kita.

Tentu dalam semua tragedi tersebut, kita mungkin bertanya mengapa semua ini terjadi? Mengapa hal buruk terjadi pada orang yang baik? Jawabannya karena dosa, tidak ada seorangpun baik di hadapan Allah.  Mengapa Tuhan tidak bertindak? Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi karena Ia punya alasan untuk kemuliaanNya dan kebaikan kita baik di dunia ini maupun kelak di surga.  Mungkin kita tidak pernah bisa tahu semua pikiran dan rancangan Allah tetapi Ia tetaplah Allah yang maha kuasa dan penuh kasih kepada kita. Daripada terus mempertanyakan mengapa tragedi terjadi pada kita atau pada orang yang kita anggap baik, lebih baik kita datang kepada Tuhan. Hubungan kita dengan Tuhanlah yang memberi kita damai sejahtera dan menyadarkan kita bahwa kita adalah orang berdosa yang pantas mendapat hukuman, namun diselamatkan karena Kristus sudah menebus dosa kita.

Bagi kita yang sedang mengalami tragedi berupa sakit penyakit, penderitaan, kehilangan orang terkasih, tentu itu tidak pernah mudah melaluinya. Proses pemulihan dari segala tragedi dan masa kelam kita itu merupakan perjalanan panjang dalam hidup kita. Semoga tragedi yang kita alami tidak akan membuat kita menjauh dari Tuhan tetapi  marilah kita bersandar kepada kasih Tuhan.

~BT240407

membangun spiritualitas melalui pemilu

Pemilu di Indonesia sebentar lagi akan digelar. Tentunya sesuatu yang wajar jika pembicaraan politik meningkat baik melalui media sosial maupun interaksi sehari-hari, khususnya mengenai siapa calon presiden yang akan memimpin bangsa ini 5 tahun mendatang. Banyak orang menjadi militan begitu semangat dan berapi-api mengungkapkan opini dan dukungan politiknya kepada kandidat tertentu. Dalam hal yang lebih serius, dampaknya sampai menciptakan mentalitas yang membelah: “antara saya melawan anda” dengan mereka yang berbeda pandangan dan pilihan dengan kita.  Opini sayalah yang paling benar karena didukung berbagai fakta dan opini anda adalah salah dan keliru.

Sebenarnya orang yang berbeda pandangan dengan kita bukanlah musuh yang mesti ditaklukkan supaya memiliki pandangan yang sama dengan kita. Ingatlah musuh utama kita adalah si Iblis yang berusaha membutakan, menipu, mengusik kedamaian, dan memecah persatuan kita. Kita tidak perlu terlalu terobsesi dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan sementara. Pemilu itu hanyalah rutinitas 5 tahunan, sedangkan kita adalah pribadi yang diciptakan Tuhan untuk hal yang kekal. Jika kita merasa kandidat tertentu  bertentangan dengan hati nurani dan prinsip yang kita pegang, tentu kita tidak perlu memilihnya. Namun kita juga tidak perlu marah, benci dan  membentuk opini yang belum tentu kebenarannya hanya karena kita tidak suka kepadanya.

Di dalam masa pemilu dengan diskusi politik semakin hangat ini, ada baiknya  kita merenungkan kehidupan pribadi kita: apakah hidup kita lebih bergantung kepada Tuhan atau kepada pemimpin negara?  Apakah kita bisa menjadi saksi Kristus yang memberi teladan kepada orang sekitar dalam menyuarakan aspirasi politik kita? Apakah kita sering berdoa untuk kondisi negeri ini? Orang Kristen mesti mengingat bahwa  Kekuasaan Tuhan tidak akan pernah diganti oleh pemerintahan manapun. Loyalitas paling utama kita adalah kepada Tuhan bukan kepada manusia maupun partai politik. Alkitab meminta kita mengusahakan kedamaian dan kesejahteraan negeri dimana kita tinggal (Yer. 29:7) dan berdoa bagi para pemerintah dan pembesar (1 Tim. 1-2) agar kita hidup tenang dan tenteram. Kita juga mesti menghindari saling serang dalam perdebatan politik, dan kita mesti belajar untuk rendah hati, lemah lembut, sabar, dan menjaga kesatuan (Efe. 4:1-3).

Marilah kita gunakan hak pilih kita dalam pemilu ini sebagai warga negara yang baik dan mensyukuri anugerah Tuhan karena kita hidup di negeri ini. Indonesia tetap ada dalam anugerah Tuhan meski siapapun yang Tuhan ijinkan untuk menjabat wakil rakyat maupun Presiden. Kita tidak perlu takut dengan hasil dari proses politik atau pemilu karena kita percaya tidak ada yang terjadi di luar kendali Tuhan dan Dia bekerja dalam segala hal termasuk kondisi negara ini pasca pemilu unutk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya (Rom. 8:28).

~BT20240204

RESOLUSI TAHUN BARU

Setiap tahun dan musim kehidupan adalah bukti kesetiaan dan kebaikan Tuhan kepada kita. Tahun 2023  yang berlalu tentu memiliki musim yang baik dan musim yang tidak baik, dengan segala campur aduk antara suka dan duka, keinginan yang tercapai maupun yang gagal, teman dan saudara yang bertambah atau meninggalkan kita. Saat semuanya itu berlalu, kita bisa mengatakan: “Terima kasih Tuhan.” Datangnya Tahun Baru 2024 membawa semangat dan pengharapan baru untuk melanjutkan kehidupan kita.

Banyak orang berefleksi tentang pencapaian tahun yang berlalu dan membuat resolusi untuk tahun yang baru. Resolusi adalah kebulatan tekad untuk  melaksanakan apa yang sudah ditetapkan seseorang dengan dirinya sendiri. Paling sering kita mendengar resolusi Tahun Baru berkaitan dengan kesehatan misalnya berhenti merokok, menjaga diet, dan olahraga. Resolusi keuangan misalnya lebih hemat belanja dan rajin menabung.  Resolusi rohani: rajin membaca Alkitab dan ikut ibadah di gereja. Tentunya masih banyak resolusi lainnya yang kita rancangkan untuk satu tahun ke depan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan resolusi itu. Justru resolusi adalah hal yang baik kita rencanakan karena akan memberi fokus dan prioritas kepada apa yang ingin kita capai. Dengan resolusi, kita berharap menjadi lebih baik secara pribadi maupun kehidupan.  Namun sebagai orang yang percaya pada Kristus, kita sebaiknya memeriksa apakah resolusi kita lebih dikuasai oleh hasrat keduniawian seperti materi, popularitas, dan reputasi lebih daripada hasrat kita kepada pencipta dan pemilik hidup kita?  Apa motivasi kita untuk diet dan olahraga? Apakah untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kita yang sehat atau kita ingin pujian orang atas tubuh kita? Apakah kita ingin terlihat rohani karena lebih sering ke gereja atau kita ingin mengenal Tuhan lebih dalam? Jika kita tidak memiliki motivasi yang benar, maka seiring berjalannya hari, resolusi akan cepat kendur dan mungkin di bulan Februari kita sudah lupa akan resolusi kita. Sama halnya jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri, maka kita sedang membawa keletihan kepada resolusi kita.

Jadikanlah Tuhan sebagai pusat dan motivasi resolusi Tahun Baru kita di tahun 2024. Filipi 4:13 menyatakan bahwa segala sesuatu dapat kutanggung di dalam Tuhan yang memberiku kekuatan. Secara alamiah manusia  tidak memiliki kekuatan dari dalam dirinya untuk berubah, karena itulah kita memerlukan kekuatan dari Tuhan untuk melakukan resolusi kita. Kita terus bersandar pada Tuhan untuk memberi semangat, kekuatan, dan ketekunan dalam kita melaksanakan resolusi kita. Percayalah bahwa kekuatan Tuhan ada bersama dengan kita untuk melakukan resolusi yang berkenan kepadaNya. Dan pada penghujung tahun ini kita akan melihat betapa indahnya kehidupan kita bersama dengan Tuhan.. Selamat tahun baru 2024!

~BT20240101

Berhikmat dalam Mendukung Pilpres

Adalah hal yang patut kita syukuri bahwa kita hidup di negeri demokrasi yang melibatkan partisipasi rakyatnya dalam memilih pemimpinnya yaitu presiden. Ikut dalam pemilu adalah hak istimewa bagi kita untuk ikut membentuk pemerintahan di mana Allah perintahkan kita untuk tunduk kepadanya (1 Pet. 2:13). Dalam pemilu tentu ada kontestasi kandidat yang akan memberi tantangan bagi kita untuk mempertimbangkan calon pemimpin yang akan kita pilih.

Alkitab mengatakan bahwa jika kita kekurangan hikmat (termasuk dalam memilih pemimpin), hendaklah kita meminta hikmat dari Allah dan Ia akan memberikannya kepada kita (Yak. 1:5). Sama seperti hal lainnya dalam memutuskan segala sesuatu, Allah menuntun kita kepada hikmat melalui FirmanNya (Alkitab), Roh Kudus (keyakinan kita dalam berdoa), dan gerejaNya (nasihat orang percaya lainnya). Meskipun demikian, tidak berarti bahwa semua orang percaya akan memilih kandidat yang sama. Banyak faktor yang mempengaruhi pertimbangan kita untuk memilih pemimpin.  Perbedaan budaya, motivasi, pengalaman maupun kepentingan di antara kita dapat mempengaruhi keputusan untuk memilih kandidat tertentu. Pengaruh dosa dalam kehidupan kita termasuk dalam dunia politik bisa menimbulkan perbedaan persepsi dan menghalangi kita untuk merasakan pimpinan Tuhan.  Kita semua bisa sepakat untuk beriman kepada Yesus, tetapi kita tidak mungkin selalu sepakat dalam  segala isu kehidupan lainnya termasuk dalam pemilu. Itu memang bawaan alamiah kita sebagai manusia.

Tuhan bukanlah partisan politik namun dengan kemahakuasaanNya, Ia telah menetapkan pemimpin suatu negeri (Rom. 13:1). Rakyat adalah instrumen alamiah dalam menggenapi keputusan Allah. Hal ini tidak mudah untuk kita mengerti karena keberadaan, kuasa dan rencana Allah di luar pemahaman kita. Siapakah yang dapat mengetahui pikiran dan rancangan Allah? (Yes 55:8-9). Yang pasti Tuhan dapat memakai  cara manusia (termasuk sistem demokrasi)  untuk menggenapi rencanaNya itu. Ini tidak berarti bahwa kita tidak peduli akan pilihan kita dan sembarangan saja  memilih calon pemimpin. Kita tetap memiliki tanggung jawab untuk memilih calon pemimpin yang memiliki standar yang baik misalnya kompetensi, moralitas, sejarah hidup, maupun visi dan misi ke depan.

Namun jika kandidat yang tidak kita dukung menjadi pemenang atau bahkan yang terpilih adalah kandidat yang kelihatannya buruk, kita tidak perlu panik dan takut. Suka tidak suka kepada presiden yang terpilih nantinya, kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah menempatkan dia dalam posisi itu dan kita diminta untuk mendoakan pemimpin kita (1 Tim. 2:1-2). Allah tetap berdaulat dan Ia akan tetap pegang kendali terhadap apapun hasil pemilu.  Ia sanggup mengubah apa yang awalnya kelihatan buruk untuk menjadi kemuliaan namaNya dan kebaikan umatNya. Orang percaya bertumbuh imannya dan berkembang pesat di abad pertama di bawah pemerintahan Kaisar Nero yang zalim. Ironisnya, di abad modern dengan kebebasan demokrasi dan pemimpin yang baik, malah banyak orang Kristen meninggalkan gereja.

Kita mungkin saja berbeda pandangan dalam memilih calon pemimpin negeri ini. Meski demikian, marilah kita saling menghormati dengan prinsip kasih yang utama. Ingatlah keselamatan dan sukacita kita tidaklah bersumber dari pemimpin negeri melainkan dari Tuhan yang berdaulat atas alam semesta ini. Presiden silih berganti, datang dan pergi, tetapi pemerintahan Allah tetap selama-lamanya. 

`~BT20231105

Misteri Tuhan Yang Tak Terselami

Salah satu Bapa gereja St. Agustinus pernah mengatakan, “Si comprehendis, non est Deus”, yang artinya jika engkau mengerti, itu bukanlah Tuhan. Menurutnya jika kita bisa mengerti semua tentang Tuhan, maka Dia bukan lagi Tuhan yang hebat dan ajaib karena Dia tidak lebih besar dan lebih hebat dari pemikiran manusia. Dan itu bukanlah Tuhan yang digambarkan dalam Alkitab.  

Alkitab banyak menceritakan tentang misteri Tuhan yang tidak terselami.  Sebuah misteri dalam teologi Kristen merujuk kepada sesuatu yang diyakini benar berdasarkan apa yang tertulis di Alkitab, namun keterbatasan pikiran manusia tidak dapat memahami sepenuhnya.  Beberapa contoh misteri adalah: Bagaimana bisa Allah tidak ada awal dan akhir? Bagaimana bisa enam hari Tuhan menciptakan alam semesta yang kompleks ini? Bagaimana mungkin Tuhan yang agung itu menjadi manusia dan bahkan mati untuk menebus dosa manusia yang jahat kepadaNya? Bagaimana menjelaskan Tuhan itu Satu adanya tetapi tiga pribadi yang berbeda? Dan masih banyak misteri lainnya. 

Tiada seorang pun di antara kita yang dapat memahami Tuhan secara mendalam dan sempurna. Ibaratkan ember tidak mungkin bisa menampung semua air di lautan, demikianlah sesuatu yang terbatas tidak mungkin bisa memahami hal yang tidak terbatas.  Kata-kata tidak akan pernah bisa cukup untuk menggambarkan keberadaan Tuhan. Jalan pikiran Allah tidak terselami, siapakah yang dapat mengerti? (Rom. 11:33), rancangan dan jalan pikiranNya setinggi langit (Yes. 55:8-9). Tuhan adalah pribadi yang kekal, tak terbatas, mandiri tidak bergantung pada apapun. Tuhan melakukan apa yang Ia kehendaki dan Dia tidak pernah minta nasehat dari manapun. Karena kedaulatanNya, Dia menentukan waktu dan tempat untuk semua peristiwa di dunia ini. Tuhan bekerja dalam cara yang misterius dan di luar pemikiran manusia. 

Meskipun Allah adalah pribadi yang begitu agung dan tak terselami namun Ia mengundang kita untuk mengenal dan berkomunikasi secara pribadi denganNya. Tuhan sudah menyingkapkan keberadaanNya kepada manusia melalui karya ciptaanNya di alam semesta ini, melalui tulisan yang diilhamiNya yaitu Alkitab, maupun melalui diri Yesus. Tujuan penyingkapan ini supaya manusia mengenal  perbuatan, karakter, bahkan pengampunan dari Tuhan. Jika kita serius mencari Dia, maka kita akan merasakan hal ini: Semakin kita mengenal Tuhan maka semakin kita sadar dan kagum betapa Tuhan itu begitu  luar biasa dan tak terselami. 

Tuhan memang memiliki rahasia yang tidak diceritakan kepada siapapun, namun Ia telah menyingkapkan apa yang perlu kita percayai (Ula. 29:29). Bagian kita adalah mengimani apa-apa yang terungkap dalam Alkitab. Untuk bagian yang tidak bisa kita pahami dan belum terungkap, kita serahkan kepada Tuhan. Ketidaksempurnaan kita dalam memahami misteri Allah seharusnya membawa kita kepada rasa hormat dan tunduk kepada Allah karena Dia maha kuasa dan berdaulat dan kita adalah manusia yang lemah.  Meski kita tidak bisa sempurna memahami Allah, tetapi itu sudah dapat memiliki arti dalam hidup kita. Allah ingin kita terus belajar tentang Dia sampai suatu saat kita bertemu muka dengan Dia Allah yang agung itu.

~BT20231001

Mengatasi Sifat Materialistis

Salah satu tantangan orang Kristen untuk hidup berkenan kepada Allah adalah sifat materialistis yang banyak menggoda kehidupan kita. Materialistis merupakan sikap mental yang menganggap harta, kemewahan, dan kenikmatan yang kita miliki bisa memberi kebahagian dan kesejahteraan hidup. Materialistis bukanlah hanya terjadi pada orang kaya, tetapi bisa juga pada orang miskin. Orang kaya: semakin banyak yang ia punya, semakin banyak ketidakpuasan. Orang miskin: merasa hidup tidak adil karena mereka punya sedikit dibandingkan orang lain. Mengapa orang selalu ingin lagi dan lagi dalam mengejar uang dan harta? Bisa saja karena kita terpengaruh oleh konsep yang salah tentang kebahagiaan. (1) banyak harta akan membuat saya bahagia dan tenang karena semua bisa saya beli. (2) kekayaan membuat  saya lebih eksis dan diakui orang. Apalagi di zaman media sosial sekarang:  ukuran kehidupan dan status sosial kita dilihat dari materi: berapa banyak uang yang kita punya, harta apa yang kita miliki,  jabatan dan posisi apa yang kita pegang. 

Alkitab tidaklah melarang kita untuk memiliki harta kekayaan atau keinginan kita untuk menikmati hidup dari hasil kerja keras kita. Tentu harta adalah salah satu bentuk berkat dari Tuhan kepada kita (Ula. 28:8). Namun Yesus pernah mengingatkan kekayaan yang berlimpah  akan menyulitkan kita untuk mengikut Tuhan. Ia memberi perumpamaan yang agak ekstrim: Akan lebih gampang unta lewat lubang jarum, daripada orang kaya masuk surga (Luk 18:25). Ada dua dampak buruk dari sikap materialistis yang kita punya: (1) mencintai materi daripada Tuhan.  Segala sesuatu yang menjadi idaman, keinginan, dan keterikatan batin kita melebihi kasih kita kepada Tuhan adalah dosa. (2) terpengaruh oleh tipu daya kekayaan. Kita berpikir bahwa kepuasan batin, kebahagiaan hidup, dan ketenangan jiwa akan kita peroleh jika kita memiliki harta kekayaan yang berlimpah. Sifat materialistis yang ingin memperoleh lebih banyak lagi dan tidak pernah merasa cukup akan membuat semua pikiran, tenaga, dan waktu kita terpusat pada bagaimana menghasilkan uang dan membeli harta yang banyak.  Karena mengejar kekayaan itu, kita seringkali menempuh segala cara tak peduli halal-haram yang penting kita bisa dapat uang. Selain itu kita sering mengorbankan banyak hal yang lebih penting dari kekayaan, misalnya: keluarga, hubungan dengan Tuhan. Akibatnya, kita menjadi lelah secara emosional dan mengalami kekosongan spiritualitas. 

Sebenarnya, kalau materi bisa memberi kebahagiaan, pastilah raja yang paling kaya itu, Salomo sudah menceritakannya kepada kita. Sebaliknya ia mengatakan: Siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Semua yang ada di kolong langit ini adalah sia-sia (Pkh. 2:11). Justru Salomo menemukan kunci kebahagiaan: takutkah akan Tuhan dan peganglah perintahNya (Pkh.12:13). Untuk mengatasi sifat materialistis dalam diri kita:  (1) sandarkan hidupmu kepada Tuhan karena Ia yang memelihara hidupmu; (2)  kembangkan rasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Alkitab mengatakan adalah suatu keuntungan bagi kita jika kita bisa merasa cukup. (1 Tim. 6:6);  (3)  mau berbagi dan memberi.

Yesus meminta kita untuk menjaga hati kita dari sifat materialistis, bahwa hidup dan kebahagiaan kita tidaklah bergantung pada kekayaan (Luk 12:15).  Uang, harta dan kekayaan  bisa berkurang dan hilang dalam sekejap. Karena itu janganlah menaruhkan hati dan kebahagiaan kita pada sesuatu yang sementara dan bisa lenyap, namun seharusnya kepada yang bersifat kekal. Hanya Kristus yang pasti,  tidak pernah hilang, dan kekal. Harta orang Kristen yang benar adalah Kristus! Di mana hartamu berada, disitulah hatimu berada!

~BT20230903

“POSITIVE THINKING” YANG NEGATIF

Kita sering mendengar ungkapan seperti ini bukan? “hati-hati dengan perkataanmu, sebab ucapan adalah doa,”  “awas lho kata-katamu punya kuasa berkat atau kuasa kutuk.” Seolah-olah kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan dan kuasa spiritual yang dapat berdampak dalam hidup kita. Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh ajaran “New Age Movement” tentang “positive thinking.” Pandangan ini mengajarkan adanya aura berkaitan dengan pikiran dan perkataan kita. Apa yang kita pikirkan dan fokuskan dapat membawa energi ke dalam otak kita dan itu dapat mengubah situasi hidup kita. Kalau kita berpikir positif dan berkata-kata yang optimis maka kita  akan menarik energi positif yang membawa  hasil yang baik, dan juga sebaliknya. Ada banyak seminar, buku,  pelatihan  motivasi dan meditasi (yoga) untuk membangkitkan kekuatan berpikir positif manusia.

Ajaran “positif thinking” sudah banyak merambat kepada ajaran gereja, dan sulit dibedakan karena prakteknya pikiran positif itu dibungkus di “dalam nama Yesus”. Kita diajarkan untuk berpikir positif, mengatakan hal-hal rohani, mengklaim berkat Tuhan, dan jika cukup  beriman maka harapan dan keinginan kita akan menjadi kenyataan. Tentu harapannya adalah secara fisik kita sehat, secara materi kita kaya, dan secara pribadi kita bahagia. Mereka menyalahgunakan ayat: Apa saja yang kamu minta dan doakan, ..hal itu akan diberikan padamu (Mar 11:24). Iman dianggap sebagai tombol untuk mengontrol Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan.  Seolah Tuhan itu adalah jin dalam botol yang jika kita bacakan mantra (doa) maka ia akan memenuhi permohonan kita. Kalau anda punya iman yang cukup, seharusnya hal buruk dan kesulitan tidak terjadi padamu dan anda akan sejahtera.  Supaya banyak jemaat datang ke gereja, maka pendeta mesti mengajarkan hal-hak positif yang membangkitkan gairah, semangat yang berapi-api dan memotivasi jemaat untuk mengejar impian dan keinginannya, dan mesti menghindari berbicara hal negatif misalnya dosa, neraka, dan penderitaan. Apa yang akan membuat jemaat betah (dan memberikan uangnya) di dalam gereja, maka ajarkan apa yang mereka mau dengar di telinga mereka.

Pikiran dan perkataan kita tidak memiliki daya magis atau spiritual, namun kata-kata (firman) Tuhanlah yang memiliki kuasa apapun yang Tuhan mau. Manusia tidak memiliki kontrol atas apapun dalam realitas hidupnya.  Berkat kita tidaklah bergantung kepada pikiran atau perkataan positif kita, tetapi bergantung pada kehendak dan waktunya Tuhan. Alkitab tidak pernah mengajarkan mengikut Yesus adalah hidup yang penuh dengan kelimpahan, kesehatan, kemakmuran. Yesus adalah model terbaik orang Kristen! Meskipun Ia memiliki segala kuasa dan kekayaan,  Ia tidak hidup dalam kelimpahan dan kemakmuran, bahkan sebaliknya Ia hidup penuh rintangan, menderita, bahkan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita orang berdosa. Jika kita membaca pahlawan iman dalam Ibrani 11, mereka dipuji karena imannya, bukan karena kuasa dari pikiran atau perkatan positif mereka.

Mari memikirkan Firman Tuhan dengan benar,  mengungkapkan  cinta kasih dan ketundukan kita kepada Allah. Kita mempercayai semua kebijaksanaan dan kebaikan Allah terlepas apapun jawaban doa dan situasi hidup kita. 

~BT20230806

Hidup Saleh dalam Dunia yang Cemar

Kita hidup di dunia yang  cemar akibat dari dosa. Jika kita melihat sekeliling kita, maka kita menyaksikan beberapa gaya hidup duniawi yang cemar itu.   Sekularisme – hidup yang tidak lagi percaya kepada Tuhan dan manusia hanya bergantung pada diri sendiri. Materialisme – kita menempatkan hal-hal materi termasuk uang, kekayaan, dan kesuksesan menjadi paling penting dan cenderung menjadi berhala modern bagi kita.  Seksualitas yang menyimpang – orang mengabaikan dan mencemarkan hukum Tuhan tentang hubungan seksual yang seharusnya dalam pernikahan saja. Gaya hidup ini menjadi trend yang cenderung semakin meningkat dan banyak orang mulai menerimanya sebagai perkembangan zaman. Bahkan fenomena ini juga terjadi di dalam gereja dan umat Tuhan di mana kita cenderung bersikap kompromi dan toleran terhadap cara pikir hidup duniawi yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

         Karena kita masih hidup di dunia ini dengan gaya hidupnya, tentunya tidak gampang untuk menjalani kehidupan kekristenan kita. Orang Kristen pun sebenarnya tidak kebal terhadap godaan gaya hidup duniawi. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa hidup saleh hidup di dunia yang fasik ini? Apakah kita mengambil sikap ikut arus demi kenyamanan hidup kita? Atau haruskah kita mengasingkan diri kita dari masyarakat supaya kita tidak tercemar?

         Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita adalah orang yang numpang lewat di dunia ini. Perjalanan kita adalah menuju negeri yang permanen di surga. Meskipun kita hidup di antara orang-orang fasik, kita diharapkan memiliki gaya  hidup yang berbeda dengan gaya hidup duniawi karena kita adalah warga surgawi. Kita mesti menjauhkan diri dari keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Pet. 2:11). Artinya kita mesti melawan godaan dosa. Ingatlah, dosa mungkin menarik dan terlihat baik pada saat itu, tetapi dosa juga merusak dan menghancurkan jiwa kita. Untuk melawan godaan dosa, manusiawi kita tidak kuat melawannya, maka kita berdoa meminta kekuatan Tuhan untuk menang atas godaan dosa. Kita juga mesti teratur merenungkan firman Tuhan setiap hari dan menggunakannya sebagai senjata untuk melawan godaan yang datang. Selain itu penting juga kita untuk menghindari situasi yang bisa membawa kita kedalam pencobaan. 

  Kita juga diminta untuk melakukan apa yang benar (1 Pet. 2:12) saat hidup dalam dunia yang fasik ini. Cara hidup kita harus meniru apa yang Yesus lakukan: Ia penuh kasih, mengampuni,  peduli dan membantu orang lain. Kehidupan rohani kita mesti menghasilkan buah yang enak dilihat dan dirasakan orang lain. Kehidupan saleh seperti ini bisa kita lakukan terhadap keluarga, rekan kerja, tetangga, atau teman sekelas kita. Dengan begitu, mereka akan melihat kebaikan dan kasih Tuhan melalui hidup kita. Semua tindakan saleh kita akan menjadi kesaksian Injil yang baik bagi orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan. 

~BT20230708

Pentakosta Sebagai Hari Panen jiwa

Dalam kalender gereja, minggu ini kita memperingati hari Pentakosta dalam konteks Perjanjian Baru yaitu pencurahan Roh Kudus sebagaimana dinarasikan dalam Kisah Para Rasul 2.  Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus menjanjikan Roh Kebenaran bagi murid-muridNya (Yoh. 14:16-17) dan  meminta para murid menunggu janji itu digenapi. Pencurahan Roh Kudus sebenarnya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yoel (Yoe. 2:28) sekitar 900 tahun sebelum penggenapannya, yaitu Roh Kudus turun pada para murid Tuhan Yesus pada hari Pentakosta, yang aslinya merupakan hari raya Yahudi. 

Kata “Pentakosta” berasal dari bahasa Yunani sebagai bahasa asli Perjanjian Baru yang artinya ke-limapuluh. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk merayakan “Hari Raya Tujuh Minggu” atau “Hari Raya Menuai”, yang dirayakan pada hari ke-limapuluh sesudah Hari Raya Paskah (Kel. 23:16; 34:22; Bil. 28:26), makanya dikenal juga sebagai Pentakosta. Pada hari raya ini, orang Yahudi mempersembahkan hasil panen ke bait Allah. Pentakosta juga menjadi peringatan hari di mana Allah memberikan dua loh batu Hukum Taurat kepada bangsa Israel melalui Musa di Gunung Sinai, lima puluh hari setelah orang Israel keluar dari Mesir (Kel. 19). Demi perayaan Pentakosta ini, orang Yahudi dari seluruh dunia hijrah ke Yerusalem membawa panen untuk dipersembahkan ke bait Allah sebagai ucapan syukur atas berkat Allah. Namun mereka belum percaya kepada Kristus sebagai juruselamat.

Jadi bukanlah suatu kebetulan jika Roh Kudus turun pada hari perayaan Pentakosta bagi orang Yahudi. Dalam rancangan Allah yang hebat itu, Allah menurunkan Roh Kudus dalam bentuk lidah api kepada 120 orang percaya, yang merupakan pengikut Kristus mula-mula. Manifestasi Roh Kudus pada murid-murid adalah karunia lidah yaitu karunia  berbahasa asing yang tidak pernah dipelajari oleh si pengucap tetapi merupakan bahasa lokal si pendengar dan tentunya dapat dipahami si pendengar. Banyak orang Yahudi dari luar Yerusalem takjub mendengar perbuatan ajaib Allah dalam bahasa lokal mereka sendiri. Ini bukanlah bahasa lidah yang dapat dipelajari, dibuat terasa asing di telinga, ditiru dan diulang-ulang dalam ibadah. Dalam Pentakosta itu, Roh Kudus berkarya dalam membuka hati orang yang belum percaya dan 3000 orang Yahudi menjadi percaya dan dibaptis (Kis. 2:41). Lalu orang percaya itu berkumpul dan bersekutu membentuk gereja mula mula. Ini adalah hari Minggu,  hari lahirnya gereja Perjanjian Baru yang percaya kepada karya keselamatan Kristus, bukan kepada kesalehan dan ritual. Setelah peristiwa ini, meski melalui penganiayaan, namun  Injil tersebar ke seluruh dunia.

Meski Pentakosta yang awalnya adalah tradisi Yahudi untuk merayakan panen, namun Allah mengubahnya menjadi hari “memanen” jiwa baru untuk percaya kepada Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Setiap orang Kristen yang sungguh percaya kepada Kristus pasti memiliki Roh Kudus. (Kis. 2:38). Dengan Roh Kudus kita semua dibangun untuk menghasilkan buah Roh dan menjadi saksi Kristus di manapun kita berada.

~BT20230528

Bekerja dengan Teologi Kerja

Kalau kita ditanya “apa sih tujuan kita bekerja”? Mungkin banyak dari kita menjawabnya “untuk mendapatkan uang demi membeli kebutuhan hidup.” Jika tujuan kita bekerja hanyalah alasan ekonomi semata maka tidaklah mengherankan jika banyak orang tidak happy dengan pekerjaannya sekarang di tengah tuntutan zaman yang serba hedonis. Namun kenapa kita tetap ada di sana? Ya bisa jadi karena tidak ada pilihan lain (mesti bekerja untuk mendapatkan uang) atau menunggu ada tawaran yang lebih baik. Makanya pekerjaan yang kita lakukan bisa terasa rutinitas, membosankan, melelahkan, bahkan stress. Dampaknya bisa menurunkan produktivitas kerja kita dan mengganggu hubungan interpersonal dengan atasan maupun rekan kerja. Untuk mengatasi itu,  kita bisa belajar apa yang Tuhan ajarkan kepada kita tentang teologi kerja.

Sesungguhnya bekerja adalah bagian dari rancangan Allah bagi manusia sejak semula. Kitab Kejadian menceritakan Allah bekerja untuk menciptakan alam semesta ini termasuk Adam dan Hawa. Setelah tercipta, perintah pertama Allah kepada manusia pertama adalah bekerja menjadi pengusaha taman (Kej. 2:15). Allah menciptakan manusia untuk berkarya dan bekerja.  Sayangnya kejatuhan Adam dalam dosa membuat dunia ini tidak lagi ideal seperti yang Allah rancangkan semula. Namun Allah tetap meminta manusia untuk bekerja karena itulah yang akan menopang kelangsungan hidup manusia. Dampak dosa dalam dunia kerja adalah tanah menjadi sulit diolah karena banyak semak duri (Kej 3:18). Itulah sebabnya usaha dan pekerjaan kita tidak pernah menjadi mudah, justru penuh tantangan, kesulitan, persaingan, dan tidak ada jaminan bahwa semua usaha kita membawa keberhasilan.

Dalam rancangan Allah, bekerja adalah panggilan mulia bagi orang Kristen. Melalui pekerjaan kita, Allah memberkati  kita untuk memenuhi kebutuhan dasar kita misalnya makanan dan tempat tinggal. Bekerja juga sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah atas anugerahnya misalnya kesehatan dan kecerdasan, lalu kita memakai semua itu dalam pekerjaan kita. Kita juga dapat menjadi garam dan terang yaitu saksi Kristus dengan menunjukkan karakter Kristus di tengah tekanan dan tantangan pekerjaan. Yesus pernah mengingatkan bekerja bukan hanya untuk makanan saja,  namun yang paling utama adalah bekerja dengan nilai-nilai surgawi karena kita sudah diselamatkan (Yoh 6:27). Bekerja bukan utamanya mengejar kesuksesan materi, namun bekerja dengan motivasi memenuhi panggilan Kristus menjadi berkat bagi keluarga, tempat pekerjaan, maupun bagi orang lain. 

Dengan mengingat panggilan Tuhan, mari kita bekerja lebih semangat esok hari, penuh gairah, dan  berusaha menjadi karyawan terbaik, manajer terbaik, bos terbaik, atau apapun yang kita kerjakan, lakukan yang terbaik. Semua pekerjaan yang kita lakukan adalah anugerah Tuhan dan berharga di mata Tuhan jika kita melakukan pekerjaan itu seperti untuk Tuhan (1 Kor. 10:31).

~BT20230430

Sejarah Israel dalam Karya Penebusan

Sejarah bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah begitu penting bagi kita untuk memahami kematian Kristus.  Untuk mengerti keberadaan bangsa Israel, maka kita perlu kembali kepada Perjanjian Allah dengan orang tua pertama kita: Adam dan Hawa saat mereka jatuh dalam dosa (Kej. 3:15).  Allah berjanji akan mendatangkan Mesias dari keturunan Adam yang akan mengalahkan kuasa Iblis dalam dosa dan kematian. 

Allah memanggil Abram untuk menjadi satu bangsa yang besar yang akan memberkati bangsa lain (Kej. 12:1-3). Melalui cucunya yaitu Yakub, Allah mengubah namanya dan keturunannya menjadi Israel.  Berkat yang besar dari bangsa Israel bagi dunia ini adalah  kedatangan Sang Mesias dalam menunaikan karya keselamatan manusia. Yesuslah yang menjadi alasan utama mengapa Allah memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihanNya. Ini adalah hak prerogatif Allah untuk memilih apa yang berkenan bagiNya. Firman Tuhan menjelaskan bahwa Israel adalah bangsa yang dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayanganNya (Ula. 7:6). 

Iblis tahu bahwa kuasanya akan dikalahkan Sang Mesias yang akan datang dari keturunan Abraham, Ishak, Yakub. Itulah sebabnya, selama ribuan tahun, Iblis dan para kroninya terus berupaya untuk menghancurkan umat Israel. Berbagai suku bangsa menyerang Israel bahkan sampai menawan bangsa Israel di Asyur dan Babilonia. Sejarah bangsa Israel menunjukkan bahwa mereka lebih sering memberontak daripada taat kepada Tuhan. Allah  tetap menjaga bangsa itu dengan mengangkat nabi, hakim, dan raja untuk memimpin Israel.  Allah juga sering menghukum bangsa Israel karena kedegilan dan dosa mereka, namun Allah membebaskan mereka dan membawa mereka pulang kembali ke Tanah Perjanjian Yerusalem. Ini semua Allah lakukan demi menunaikan janji kedatangan Sang Mesias.

Sebagai umat pilihanNya, Allah mengatur tata cara ibadah dan hidup orang Israel. Bangsa Israel mesti hidup kudus dan taat kepada Allah. Mereka mesti mempersembahkan darah dan nyawa binatang yang terbaik sebagai pembayaran hukuman dosa yang mereka lakukan.  Namun ibadah penyerahan hewan kurban ini tidak akan pernah dapat menghapuskan akar masalah perbudakan dosa dan kematian kekal. Ini adalah gambaran bahwa manusia membutuhkan darah yang kudus dan karya pembebasan dari Allah. Allah sendirilah yang menunaikan semua tuntutan dan janjiNya melalui darahNya sendiri yaitu Kristus mati di kayu salib. Segala apa yang Allah tuntut  dari umat Israel yaitu hidup kudus dan taat kepada Allah sudah dilaksanakan dan ditunjukkan Yesus selama hidup di dunia. Semua janji keselamatan Allah untuk manusia sudah diberikan melalui kematian Kristus di kayu salib. Rasul Paulus sendiri yang menyatakan ini (2 Kor. 1:20). Inilah perjanjian baru Allah dengan manusia yang percaya kepada Kristus. Bagi kita yang hidup dalam Yesus, kita juga adalah umat pilihan dan milik Allah yang juga bertugas untuk memberitakan berita baik keselamatan kepada dunia ini (1 Pet. 2:9).

~BT20230402

MEMBANGUN IMAN YANG BENAR

Setiap orang memiliki keyakinan atau “iman” dalam mempercayai sesuatu atau seseorang. Iman itu diperlukan untuk diyakini karena banyak hal dalam hidup yang belum pasti, tidak bisa terlihat, tidak diketahui atau dirasakan. Kalau sesuatu yang sudah pasti dan terlihat, orang tak perlu lagi membutuhkan iman. Keyakinan itu bisa dilatarbelakangi oleh nilai leluhur, agama, ilmu pengetahuan, dan logika. Bisa saja orang beriman kepada kejeniusan manusia,  benda keramat, atau kekuatan supranatural di luar diri manusia. Dalam dunia yang serba relatif ini, kita mungkin memahami iman seperti es krim: kita memilih apa yang kita suka, bukan apa yang benar. Seringkali iman didasarkan pada apa yang menjadi keinginan pribadi kita, meminta Tuhan untuk memberkati kita, mendatangkan kesejahteraan, dan mewujudkan mimpi kita. Banyak orang berprinsip bahwa iman adalah mempercayai hal yang tidak mungkin atau tidak bisa dipercaya. Bagaimana iman yang benar menurut Alkitab?

Menurut Ibrani 11:1,  iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.  Iman yang benar itu memiliki dasar dan bukti yang kuat, bukan sekedar keinginan atau angan-angan. Dasar iman kita adalah janji Allah kepada kita yang berharap kepadanya. Janji Allah utama dalam hidup kita adalah pengampunan dosa, penyertaan Tuhan, dan hidup yang kekal. Iman mempunyai kepastian dan bukti yang kita percayai dengan apa yang Allah telah kerjakan di dalam dunia ini. Bukti itu begitu banyak dan luar biasa. Contohnya: Allah menciptakan dunia ini, Dia melakukan berbagai mukjizat yang kadang bertentangan dengan hukum alam, Diapun sanggup mengubah apa yang kelihatan buruk menjadi sesuatu yang baik bagi manusia. Meski kita tidak melihatnya namun kita percaya bahwa seluruh narasi Alkitab adalah benar dan nyata. Jika pikiran kita tidak mempercayai apa yang tertulis dalam Alkitab maka kita tidak memiliki iman yang benar.

Dari mana datangnya iman? “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus,” (Roma 10:17). Kita mesti mendengar Firman, lalu Firman itu akan menimbulkan kepercayaan yaitu iman dalam hati. Telinga mendengar, hati percaya. Oleh karena itulah iman yang benar mesti dibangun oleh pengenalan dan hubungan yang erat antara kita dengan Allah. Orang yang benar beriman adalah orang yang memiliki waktu pribadi dengan Tuhan baik dalam doa maupun perenungan Firman Tuhan. Ingatlah iman orang Kristen berpusat pada Allah, kita mempercayai janji Allah meskipun keadaan kita terlihat sulit. Allah peduli akan hidup kita.

@BT20230312

Mewaspadai Scam Rohani di Media Sosial

Belakangan ini ribuan postingan di media sosial khususnya facebook yang menargetkan,  menarik emosional (perasaan) orang Kristen untuk meresponnya. Ada yang memakai gambar rohani, orang yang sakit, orang kelaparan, dan lainnya dan diberikan narasi tertentu untuk menarik simpati kita.  Para pembuat postingan itu memahami betul kalau postingan berbau “rohani”  maka kita akan susah untuk menolak dan mengabaikannya. Kita terdorong merespon postingan itu karena mungkin berharap berkat dan menolak mengabaikan postingan karena takut akan kutukan. Namun mohon maaf,  hampir  semua postingan  tersebut  adalah scam atau clickbait yang sering disebut “Like-Farming.” 

Singkatnya like-farming  adalah proses pengumpulan follower melalui postingan atau  konten yang berisikan berita atau informasi palsu untuk menggugah simpati kita lalu membujuk kita untuk memberikan respon “like”, “share,”  atau mengetik kata rohani seperti seperti: “Amen”, “Haleluyah,” Puji Tuhan”, dan lainnya. Begitu mendapatkan respon dari pembaca dan penonton maka follower bertambah dan algoritma facebooknya berubah menjadi terkenal dan viral, yang pada akhirnya dipergunakan untuk keuntungan pribadi pemilik postingan seperti membobol data pribadi dan keuangan. Yakinlah orang-orang itu (para scammer) sebetulnya tidak peduli dengan kerohanian kita, yang mereka peduli adalah bagaimana mendapat keuntungan dari kita.

Sayangnya banyak orang Kristen sering mengabaikan akal budi dan hikmatnya dalam menggunakan media sosial, termasuk dalam menjawab postingan scam “rohani.” Padahal Alkitab mengajarkan kita untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16),  dan menguji segala sesuatunya seperti orang Berea (Kis. 17:11). Beberapa hal yang bisa kita uji: (1) Apakah kita sudah mencari fakta dan kebenaran isi postingan itu? Kalau kita tidak yakin maka sebaiknya kita mengabaikannya saja. Jika kita men-share, me-like, dan menjawab postingan itu maka kita sudah turut menyebarkan kebohongan dan membantu secara tidak langsung para scammer dalam melakukan kejahatannya.

(2) Apakah ada bujukan, janji manis berkat, kesembuhan jika kita merespon dengan kata amin atau sejenisnya? Ingatlah Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup kita yang mudah sim-salabim untuk mendapat berkat atau kesembuhan seperti yang banyak diajarkan dalam Teologi Kemakmuran. Malahan Tuhan menjawab penderitaan hidup Rasul Paulus: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (1 Kor. 12:9-10). Sabarlah dalam penderitaan, bertekunlah dalam doa  (Rom. 12:12). Melalui penderitaan sekalipun, kita tetap bisa memuliakan Tuhan.

(3) Apakah ada paksaan, ketakutan, dan ancaman jika kita mengabaikannya? Jangan takut,  kita sudah ditebus oleh Kristus maka orang Kristen tidak akan kena kutuk (Rom 8:1). Percayalah tidak akan ada terjadi apa-apa dalam hidup kita, tidak akan ada kesialan atau kutukan jika kita mengabaikan postingan scam “rohani” tersebut. 

Sebelum kita memposting atau merespon apapun di dalam media sosial, ada baiknya kita menarik napas sejenak, merenungkan apakah yang akan kita posting itu benar, baik, dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. (Kol. 3:23).

~BT20230122

Ajarlah Kami Menghitung Hari!

Horee..Tahun Baru sudah datang lagi. Bagi sebagian orang, 1 Januari hanyalah sekedar pergantian kalender saja dan tidak ada hal yang istimewa. Bagi sebagian lainnya, tahun baru  adalah  momen istimewa karena bisa berlibur dan bereuni dengan keluarga besar. Bagi orang Kristen,  meski Alkitab tidak ada mengajarkan kita tentang merayakan Tahun Baru, namun kita boleh saja mengambil momen pergantian tahun untuk merenungkan perjalanan hidup kita. Musa memohon kepada Tuhan: ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Maz. 90:12). Paulus mengatakan, perhatikanlah bagaimana kamu hidup dan pergunakanlah waktu dengan arif (Efe 5: 15-16). Tahun baru adalah momen yang baik untuk memikirkan kedua perikop Alkitab ini.

Waktu hidup kita di dunia ini mempunyai awal dan akhir karena kita hidup dalam dunia yang fana. Tidak ada seorangpun yang dapat mengubah musim kehidupan tersebut, itu adalah ketetapan Ilahi. Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur.  Sayangnya, kita seringkali lupa akan kefanaan dunia ini dan berpikir bahwa kita akan hidup selamanya, dan terus mengejar kebahagiaan duniawi. Di sisi lain, banyak juga  orang yang tak memperdulikan betapa berharganya waktu hidup di dalam Tuhan sampai akhirnya kita tersentak dengan kefanaan dunia ini pada saat kita selamat dari kecelakaan tragis,  atau ada orang terdekat meninggal dunia, atau pada saat sakit kritis di usia lanjut. Saat itu terjadi, barulah kita menyadari betapa berharganya waktu sisa hidup kita.

Tiada seorangpun yang dapat menghitung lamanya waktu hidupnya di dunia ini. Semua jumlah hari, bulan, tahun hidup kita adalah rahasia Tuhan. Waktu dari skala yang kecil yaitu detik hingga pergantian tahun, semuanya adalah anugerah Tuhan.  Hidup kita sangat singkat dibandingkan dengan waktunya Tuhan yang kekal itu. Oleh sebab itu kita memohon agar Tuhan mengajarkan kita untuk menghitung hari-hari hidup kita supaya kita bisa mengerti apa yang penting dan berguna di mata Allah dari kehidupan kita yang singkat di dunia ini. Jika kita banyak membaca dan merenungkan Firman Tuhan maka kita bisa mengetahui kehendak Allah untuk kita lakukan dalam hidup kita yang bermuara pada bagaimana kita mengasihi Allah dan sesama manusia.

Penting untuk mengingat saat kita memasuki tahun baru bahwa waktu hidup  kita itu  singkat namun  sangat berharga. Marilah kita mempergunakan waktu dengan baik dan bijak, melakukan yang terbaik dalam kesempatan yang Tuhan berikan, dan tidak  suka menunda hal yang baik.  Kita dapat membuat pilihan dan melakukan apa  yang sesuai dengan Firman Tuhan demi kemuliaan namaNya.

Selamat Tahun Baru 2023!

@BT20230101

Inkarnasi Kristus

Di bulan Desember kita mungkin disibukkan berbagai acara  merayakan natal dan mempersiapkan liburan akhir tahun. Tapi berapa banyak di antara kita yang mengingat bahwa natal sesungguhnya adalah tentang Yesus yang berinkarnasi? Ups jangan tertukar istilah dengan reinkarnasi. Alkitab tidak mengajarkan reinkarnasi seperti ajaran lain yaitu kembalinya makhluk hidup ke dunia ini setelah kematian dalam bentuk atau pribadi yang lain. 

Sama seperti istilah “Trinitas,” istilah “inkarnasi”  tidak ada tertulis dalam Alkitab. Namun penggunaan istilah tertentu akan lebih menolong kita untuk mencernanya daripada kata-kata yang panjang. Singkatnya, inkarnasi artinya “menjadi daging”.  Doktrin inkarnasi menjelaskan bahwa Tuhan Yesus hadir ke dunia ini dalam bentuk fisik manusia untuk menunaikan misi penebusan dosa. Yesus merupakan pribadi kedua dalam Trinitas dan Ia adalah Tuhan yang kekal bersama Allah Bapa dan Roh Kudus. Dalam inkarnasinya, Yesus tidak pernah menanggalkan status ketuhanannya.  Yesus adalah satu Pribadi dengan dua sifat alamiah: 100% Tuhan dan 100% manusia.  Bagi orang tidak percaya, inkarnasi Yesus iIni jadi cemoohan: kok bisa Tuhan yang mulia itu menjadi manusia yang hina? Tapi memang demikianlah adanya: Tuhan kita itu rela dicemooh, diludahi, disiksa, bahkan dihukum mati, semuanya Ia tanggung karena Tuhan mengasihi kita! 

Secara ajaib di luar pemahaman manusia, “Firman itu menjadi manusia dan hidup di antara ciptaanNya” (Yoh 1:14). Tuhan Yesus sang Firman kekal itu menjadi manusia di dunia ini Proses kelahiranNya begitu ajaib. Ia dikandung oleh Roh Kudus dan lahir melalui perawan Maria. Kelahiran unik ini menjadikan Yesus tidak mewarisi sifat dosa dan Ia hidup tanpa dosa. Yesus adalah Pribadi yang kudus dan sempurna. Yesus tidak hanya memiliki tubuh manusia seutuhnya, namun Ia juga memiliki pikiran, hati dan kehendak manusia. Ia lapar, haus, marah, letih, dia mengalami pencobaan, menderita, dan mengalami kematian. 

Inkarnasi Yesus ini sulit dipercaya secara akal kita yang terbatas. Namun jika kita mau belajar memahami kekudusan Allah, kasih Allah, dan dosa manusia, maka kita akan mengerti dan berterima kasih bahwa inkarnasi adalah jalan permulaan bagi satu-satunya rencana agung Allah untuk menyelamatkan manusia berdosa. Ingatlah, Allah itu kudus dan adil, karena itu Allah akan menghukum setiap dosa kita. Hukuman ini tidaklah main-main bahkan sampai kepada kekekalan jiwa manusia di neraka. Darah binatang atau amal saleh kita tidak akan pernah menghapus hukuman dosa kita.  Hanya pribadi yang 100% Tuhan yang dapat memenuhi standar Allah untuk  pengampunan dosa.  Yesus pribadi dari surga yang kudus dan tak bercacat sehingga Ia dapat menanggung semua murka dan penghukuman dosa dari Allah di kayu salib.  Karena  efek dosa dan kematian berasal dari manusia, maka penebusan mesti melalui manusia. Itulah mengapa Yesus mesti berinkarnasi menjadi 100% manusia! Ia dapat merasakan ikatan dosa dalam diri kita, Ia rela berkorban untuk menggantikan kita dan menanggung  semua hukuman dosa kita.   Ini menjadi jaminan bagi setiap orang percaya kepada Yesus akan keselamatan dari hukuman dosa dan hidup yang kekal di surga.

~BT20221204

Setia Jangan Murtad

Kita perlu menyadari bahwa Kekristenan adalah sebuah perjalanan iman: ada permulaan, pertengahan, dan akhir bersama Kristus. Namun sayangnya ada banyak orang yang tidak setia sampai akhir dan meninggalkan iman Kristen. Sebagian dulunya adalah orang yang rajin ibadah, bersaksi dan aktif dalam pelayanan. Dari luar terlihat tumbuh bersama orang percaya lainnya,  bagaikan padi dan ilalang, sehingga sulit terlihat perbedaannya. Namun perjalanan waktu membawa mereka tidak setia bahkan menyangkal dan meninggalkan iman Kristen.  Dulunya mereka sepertinya bagian dari kita, tetapi tidak bersungguh-sungguh dalam iman dan mereka meninggalkan kita, berarti mereka bukanlah Kristen sejati (1 Yoh 2:19).  Ini yang disebut murtad: menyangkal iman dengan sadar, yang  dulunya mengaku percaya dan beriman kemudian meninggalkan imannya. Firman Tuhan katakan orang yang murtad berarti mereka menyalibkan lagi Kristus dan mempermalukan Kristus di depan umum  (Ibr. 6:6).

Meski banyak alasan orang untuk murtad namun umumnya ada 2 penyebab: doktrin, dan gaya hidup. Jika orang tidak memahami doktrin Alkitab yang benar maka ia akan mudah diombang-ambingkan oleh ajaran lain. Ada orang yang  mempertanyakan doktrin Kekristenan namun tidak mendapatkan jawaban seperti yang ia mau, dan itu membuat ia tidak lagi mempercayai iman Kristen. Gaya hidup orang Kristen yang tidak tunduk kepada Kristus dan cenderung hidup mengikuti kesenangan dunia ini membuat  imannya tidak berakar pada Kristus. Orang yang tidak memelihara imannya,  yang tidak mengerjakan keselamatannya, dan hidup sembarangan, maka cepat atau lambat, ia akan menjauh dari Tuhan. Ketika ada badai topan datang maka cenderung menyalahkan Tuhan dan bisa jadi meninggalkan Kekristenan.  Jika ada tawaran menggiurkan dari dunia ini misalnya karir ataupun  jodoh tetapi mesti menyangkal iman maka ia pun akan murtad. 

Bagi saya, mereka yang murtad sebenarnya  menunjukkan mereka belumlah pernah menjadi orang Kristen sejati, Kristus belum sungguh hadir di dalam hati dan karakter mereka belum diubahkan oleh Kristus. Alkitab menyatakan bahwa tidak semua orang yang mengaku “Kristen” adalah pengikut Kristen yang sungguh-sungguh. Tuhan yang mengetahui hati kita akan menolak setiap kita yang tidak sungguh  dalam iman, meskipun kita sangat hebat dari penampakan luar. (Mat. 7:21-23). Saya percaya bahwa orang Kristen sejati akan terus menjaga hidupnya seturut Firman Tuhan meski apapun yang terjadi dan atau apapun tawaran menggiurkan dari dunia ini, ia tidak akan pernah meninggalkan imannya. Orang Kristen sejati tidak akan pernah murtad!

Memang betul keselamatan kita adalah anugerah dari Tuhan Yesus yang sudah menanggung semua hukuman dosa kita di kayu salib. Keselamatan  bukanlah anugerah murahan, tetapi menuntut totalitas perubahan karakter hidup kita yaitu pertobatan dari dosa kita, tunduk kepada Tuhan, dan hidup menghasilkan buah yang baik. Orang Kristen sejati mesti bertekun dalam iman meskipun sering kali kita mungkin jatuh bangun dalam iman. Kita bisa belajar dari kisah dua murid Tuhan Yesus yang pernah jatuh dalam dosa: hasilnya Yudas bunuh diri, tetapi Petrus bertobat dan kembali melayani Kristus menjadi penginjil yang hebat. Tentu kita tetap bisa bertahan dalam iman jika kita bersandar pada Tuhan. Allah selalu menjagai orang pilihanNya melalui hubungan pribadi dengan kita. Karena itulah kita mesti bertekun  dalam doa, membaca Firman Tuhan, dan beribadah.  Ini mesti terus berlangsung sepanjang hidup kita.  Ingatlah, kita telah beroleh bagian dalam Kristus asal kita terus bertahan setia sampai akhir (Ibr. 3:14).

~BT221016

Teologi Utang Piutang

Sastrawan Inggris, William Shakespeare dalam drama Hamlet punya ungkapan yang terkenal: “Janganlah menjadi pemberi utang dan jangan pula menjadi pengutang. Karena menjadi pemberi utang, kamu bisa kecewa kehilangan uangmu dan teman. Kalau jadi pengutang, kamu menunjukan kelemahanmu dalam mengurus dirimu.” Seringkali ungkapan ini nyata dalam kehidupan kita, khususnya dalam masalah pinjam meminjam uang atau utang piutang. Utang sudah menjadi gaya hidup orang kekinian namun seringkali berdampak  buruk kepada diri sendiri dan orang lain. Artikel singkat ini membahas bagaimana pandangan Alkitab terhadap utang-piutang.

Firman Tuhan tidaklah melarang atau menganggap kita berdosa karena berutang. Namun Alkitab mendorong kita sebisa mungkin untuk menghindari utang (Rom. 13:8) karena motif dan dampak negatifnya. Kita seringkali mengabaikan Tuhan dalam mengelola keuangan kita. Mengejar keinginan materi  menjadi awal terjebaknya kita dalam utang. Kebutuhan pokok kita adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal tetapi seringkali kita menginginkan lebih dari itu semua.  Apa yang tadinya keinginan semata  menjadi kebutuhan utama yang harus dimiliki dan akhirnya  kita membelinya meski itu berutang!.  Tentunya, selama kita membelanjakan uang lebih daripada pendapatan kita, kita akan terus terjerat dengan utang. Berutang membuat kita kehilangan martabat dan kebebasan serta terikat kepada pemberi utang. Orang yang berutang menjadi budak dan ekor dari orang yang mengutangi yang menjadi kepala (Ams. 22:7; Ula. 28:44). Banyak orang tidak lagi sukacita dalam pelayanan oleh karena keterikatan dan jerat utang. Tentunya kontribusi keuangan kepada pelayanan pun bisa berkurang.  Selain itu, asumsi dalam berutang adalah utang kita belanjakan hari ini dan kita berjanji akan bayar di kemudian hari. Seolah-olah hari esok ada di tangan kita, padahal kita tidak pernah tahu akan hari esok (Ams. 27:1).  

Selama kita bisa mengelola keuangan dengan bijaksana,  jumlah nilai aset dan pendapatan bisa melunasi utang, maka dalam hal yang sangat mendesak dan perlu, kita boleh saja berutang. Kita mesti sadar jika kita berutang maka kita mesti punya perencanaan yang jelas dan sanggup membayar utang seperti yang kita janjikan. Ingatlah,  utang adalah uang yang dipinjamkan,  bukanlah hadiah atau jackpot. Uang itu dimiliki oleh pemberi utang, yang sementara saja dipinjamkan kepada kita, dan kita mesti mengembalikan uang itu pada waktunya. Alkitab sangat jelas menyatakan apa yang kita pinjam .mesti dikembalikan (Kel. 22:14), bayarlah utang (Roma 13:7). Jika kita tidak membayar utang maka kita adalah orang fasik atau jahat. (Maz. 37:21).  

Bagi kita pemberi utang (kreditur), tujuan utama kita meminjamkan uang adalah menjadi berkat dan menolong orang lain yang membutuhkan pinjaman, bukan untuk menagih bunga atau keuntungan. Alkitab melarang kita mengambil bunga pinjaman kepada saudara dan orang miskin  (Kel. 22:25; Ula. 23:19). Namun utang yang bertujuan kepada komersial (meraih keuntungan), kita bisa menerapkan bunga pinjaman untuk menutupi penurunan nilai uang karena inflasi dan berbagi keuntungan. Uang 100 ribu sekarang bisa membeli pizza, tetapi mungkin 5 tahun kemudian hanya bisa membeli kerupuk.  Tuhan Yesus bahkan memberikan ilustrasi tentang talenta yang mendorong kita untuk mendapatkan bunga dari investasi atau modal kita. (Mat 25:27). 

Tuhan Yesus sudah membebaskan kita dari perbudakan dosa melalui kematianNya di kayu salib. Tentunya Iapun menginginkan  kita lepas dari jeratan utang. Sebisa mungkin kita mesti menghindari meminjam uang dari orang lain. Ketika kita bebas dari utang maka hidup kita terasa lebih ringan, lebih bebas, dan tidur lebih nyenyak.  Selanjutnya kita pun bisa lebih bermurah hati  menjadi berkat bagi orang lain.

~BT20220910.

JANGANLAH MEMBAWA KAMI KE DALAM PENCOBAAN

Judul ini adalah bagian dari Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam Matius 6:13. Bagian ini agak sulit dipahami karena memohon Allah untuk tidak menggiring  manusia untuk masuk ke dalam pencobaan. sementara di sisi lain, Yakobus 1:13 menyatakan “apabila seseorang dicobai, janganlah ia berkata: Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun”. Sepertinya dua perikop ini bertolak belakang. Bagaimana mungkin kita meminta Allah untuk tidak membawa kita dalam pencobaan, padahal Allah tidak pernah mencobai siapapun?

Untuk memahami perikop keduanya, kita mesti melihat bahasa asli kata “pencobaan,” yang berasal dari bahasa Yunani: peraismos. Kata ini bisa memiliki dua arti: (1) pencobaan dalam arti menggoda untuk berbuat salah atau dosa; (2) pengujian atau penderitaan. Kita tahu bahwa karakter Allah itu adalah kudus dan Diapun mengharapkan kekudusan dari kita. Oleh karena itu, Allah tidak akan pernah membawa kita ke dalam pencobaan yang mendorong kita untuk berdosa. Bahkan menurut Mazmur 23:3, Allah menuntun kita di jalan yang benar. Jika kita berpikir bahwa Allah mencobai kita untuk berbuat dosa, itu tidak benar karena bertentangan dengan karakter kekudusan Allah. Jadi pengertian dari kata “pencobaan” dalam Doa Bapa Kami bukanlah pencobaan dalam artian godaan untuk berbuat dosa, melainkan pencobaan dalam arti pengujian. Godaan berasal dari Iblis yang menginginkan kita jatuh dalam dosa, sementara pengujian berasal dari Allah untuk memperbaharui hidup kita supaya kita iman kita bertumbuh, berbuah matang, dan sempurna. 

Kita perlu memahami meski  Allah tidak pernah menuntun kita untuk jatuh dalam dosa, namun Allah mengizinkan berbagai tantangan, kesulitan, persoalan, dan sakit penyakit dalam hidup kita. Sekalipun kita beriman kepada Allah, pastinya kita tidak akan pernah lepas dari ujian dan kesulitan hidup.  Allah tidak pernah berjanji bahwa hidup kita akan selalu mulus tanpa pencobaan.  Kita boleh saja berdoa agar segala persoalan hidup kita segera diangkat Tuhan. Namun kita perlu belajar dari doa Tuhan Yesus di Taman Getshemani di malam sebelum penyalibanNya.  Dalam status kemanusiaanNya, Tuhan Yesus menginginkan cawan penderitaan itu berlalu, tetapi akhirnya Ia tunduk kepada kehendak Bapa di surga. Tuhan Yesus setia melalui penderitaan bahkan mati di kayu salib. Jika memang Allah menghendaki kita menanggung dan melalui berbagai kesulitan hidup, maka kita bisa berdoa kepada Allah: “Janganlah membawa kami kepada pencobaan.” Doa ini menunjukkan pengakuan kita kepada Allah bahwa kita ini lemah dan kita bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kita memohon agar Allah memberi kita kekuatan supaya kita dapat menanggung pengujian iman, kita tidak lemah dan jatuh dalam  dosa dalam mengatasi pencobaan yang kita lalui. 

Ingatlah Allah itu menguji iman, namun Iblis menggoda supaya kita berdosa. Dalam setiap masalah dan kesulitan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, di saat yang sama Iblis menaburkan bibit godaan agar kita mulai meragukan penyertaan Tuhan,  menyalahkan orang lain dan keadaan bahkan Iblis menggoda kita untuk mengambil jalan pintas sebagai solusi persoalan hidup kita, meskipun itu berbuat dosa. Oleh karena itu, saat pengujian iman dan persoalan hidup hadir, marilah kita tunduk kepada Allah melalui doa dan perenungan Firman Tuhan. Bersama Allah,  kita akan meraih kemenangan dalam pergumulan hidup kita. 

~BT220807

KARUNIA BAHASA ROH

Di dalam perkembangan gereja masa kini, pembahasan tentang bahasa roh menjadi salah satu topik yang selalu hangat. Karunia bahasa roh adalah kemampuan berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari oleh penuturnya namun dapat dimengerti oleh pendengarnya. Berasal dari bahasa Yunani “glossolalia,” yang artinya menuturkan bahasa tertentu (bahasa yang dikenal). Ini adalah  karunia yang  diberikan oleh Roh Kudus untuk memberitakan injil ataupun membangun jemaat, dan bukan karena usaha kita dalam meniru dan berlatih. Dari beberapa kejadian bahasa roh di Alkitab, ada dua kategori: (1) bahasa asing bagi penutur, dikenal dan dimengerti pendengarnya; (2) bahasa asing bagi penutur dan pendengarnya, bisa jadi bahasa ketiga sehingga diperlukan penterjemah. Atau ucapan komat kamit yang tidak ada padanan dengan bahasa apapun di dunia ini. 

Kategori pertama adalah kejadian berbahasa roh di hari Pentakosta setelah Kristus naik ke surga (Kis. 2:1-4). Dalam perkumpulan orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai bahasa nasionalnya, murid-murid Yesus yang tidak pernah kursus bahasa asing itu, dengan kuasa Roh Kudus dapat berbicara berbagai bahasa asing supaya pengajaran tentang kabar keselamatan itu  dapat dimengerti oleh orang-orang asing keturunan Yahudi itu. Dan lihatlah hasil dari pekerjaan Roh Kudus itu, ada 3.000 jiwa baru yang percaya Yesus dan dibaptis!

Kategori kedua bahasa roh adalah yang terjadi di jemaat Korintus. Mereka adalah orang baru percaya, masih bayi dalam iman (1 Kor. 3:1), masih bergumul dalam perselisihan, berhala, dan percabulan.  Paulus melihat jemaat Korintus tidak bertumbuh dalam kasih, malah berdebat soal karunia Roh dan menimbulkan perpecahan.  Dalam 1 Kor. 12-14 Rasul Paulus menegur jemaat tentang penggunaan bahasa roh yang tidak benar dan bahkan ada anggapan bahasa roh adalah karunia Roh terbesar.  Ini juga fenomena yang terjadi di masa sekarang, bukan?  Paulus menyatakan bahasa roh akan bernilai jika orang lain mengerti apa yang kita ucapkan, lebih baik  jika itu diterjemahkan. Jika tidak ada menterjemahkan, lebih baik orang tersebut berbahasa roh secara pribadi kepada Tuhan dalam hati.  Ia bahkan menyatakan dalam persekutuan lebih baik mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti dan membangun daripada ribuan kata bahasa roh. (14:19). Sebab dalam persekutuan, Allah tidak menginginkan kebingungan dan kekacauan, tetapi damai sejahtera. Paulus juga menyatakan bahwa kasih tidak berkesudahan, bahasa roh, dan nubuatan akan berakhir (1 Kor. 13:8). Kasih Allah pada kita bersifat kekal. Mestinya, bagaimana kita mengasihi Allah dan orang lain menjadi tolok ukur pertumbuhan iman kita.

Bahasa roh bukanlah tanda wajib bagi orang Kristen pada saat dibaptis (mengaku percaya). Alkitab menyatakan bahwa setiap orang Kristen otomatis menerima Roh Kudus pada saat ia menerima dan percaya pada Kristus (Kis. 2:38; Gal. 3:2), karena ia dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bahasa roh juga bukan tanda “dipenuhi Roh Kudus”. Tiga hal tanda dipenuhi Roh Kudus: memuji Tuhan, mengucap syukur, rendah hati (Efe. 5:18-21). Tidak ada disebutkan bahasa roh. 

Kita tentu percaya bahwa Tuhan masih terus menunjukkan kuasaNya sepanjang zaman karena dunia ini adalah milikNya. Ia masih melakukan mukjizat termasuk menyembuhkan,, menampakkan diriNya dalam mimpi dan penglihatan, memampukan kita berbahasa roh, dan mukjizat lainnya. Tentu semuanya itu terjadi berdasarkan kehendakNya, waktuNya, dan untuk kemuliaan namaNya. Ada baiknya kita waspada dan selalu menguji segala sesuatunya berdasarkan Firman Tuhan karena Iblispun bisa dan sering meniru apapun yang Allah kerjakan untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. ~BT220605

Hidup Bukanlah Kesia-siaan

Rasanya mencari kebahagiaan adalah tujuan hidup bagi banyak orang. Kita sibuk bekerja, mengejar karir, investasi sana sini, dan memperoleh hasil yang gemilang baik berupa materi maupun kesuksesan lainnya. Namun ada banyak orang yang menyadari di pengujung hidupnya bahwa semua pencapaian gemilang itu tidak dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian batin. Di sisi lain, ada banyak orang yang merasa gagal dalam menggapai apa yang bisa membuat mereka bahagia. Akibatnya, kita bisa saja melihat hidup ini hanyalah kesulitan, masalah, dan penderitaan.  Jika kita hanya fokus kepada masalah hidup sendiri, kita bisa mengalami depresi, kehilangan akal sehat dan merasa tak ada alasan lagi untuk hidup. Lalu ketika kita mengalami salah satu dari kegemilangan atau kegagalan dalam hidup, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita mesti membenci hidup kita? Tentu tidak. 

Raja Salomo dalam Kitab Pengkhotbah memiliki pergulatan yang sama di pengujung hidupnya. Padahal sepanjang hidupnya, ia memiliki segala apa yang kita idamkan di zaman modern ini: kekayaan, kekuasaan, kesenangan, dan kebijaksanaan yang tiada tanding. Apa lagi sih yang kurang dalam hidupnya? Namun ia menyadari bahwa semua pencapaian dan kegemilangannya itu adalah sia-sia.  Ia telah menyaksikan bahwa apapun yang dikerjakan di bawah matahari ini adalah sia-sia (Pkh 1:14). Sepertinya Salomo begitu pesimis dengan hidup ini. Namun ia tahu bahwa di dalam Tuhanlah, manusia bisa menikmati hidupnya (Pkh 2:25; 12:13).

Salomo mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini singkat waktunya, kematian itu suatu yang pasti datang, kehampaan dan kesia-siaan tanpa Tuhan. Kita sudah belajar bahwa dosalah  yang membawa kesia-siaan dan kejahatan dalam kehidupan manusia. Kristus yang adalah Allah itu hadir ke dunia ini untuk menebus kesia-siaan hidup kita dan menjadikan kita ciptaan baru. Hidup kita jadi punya arti karena Kristus!  Jika kita sekarang masih hidup di dunia ini, itu karena anugerah Allah. Ia memiliki rencana yang baik buat kita asalkan kita mau hidup di dalam Tuhan.

Tujuan hidup orang percaya  bukanlah mencari kesenangan dunia ini, mengumpulkan banyak harta, popularitas,  atau bukan lari dari kesulitan dan penderitaan hidup. Kebahagiaan dan sukacita hidup kita berasal dari mengenal Allah, menjalani hidup bersama dengan Allah, dan menjadi terang di tengah dunia yang gelap ini. Praktisnya, kita selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita termasuk tentang cara hidup, keluarga, pekerjaan, bisnis, pelayanan, dan hal yang lainnya. Segala sesuatu dalam hidup kita tidak akan sia-sia jika apa yang kita pikirkan dan kerjakan melibatkan Tuhan dan membawa hubungan kita lebih dekat dengan Tuhan.

~BT20220522

MUDIK KE RUMAH YANG KEKAL

Hidup adalah sebuah perjalanan. Kita semua ada dalam suatu perjalanan hidup sejak kita lahir dan berakhir saat kita meninggalkan dunia ini. Perjalanan itu tidak selalu menyenangkan, ada jalan yang berliku-liku, bergelombang, berbatu dan tidak nyaman untuk dilalui.  Jalan hidup kita dipengaruhi oleh banyak hal, baik dari keputusan pribadi kita maupun banyak hal di luar kendali kita.  Kadang kita perlu berhenti di “rest area” untuk melihat kembali peta perjalanan hidup kita. Kita perlu merenungkan apakah ini jalan hidup yang dulunya saya harapkan? Lalu, kemanakah arah dari tujuan hidup saya?

Perjalanan hidup orang Kristen adalah menapaktilasi jejak yang telah dibuat oleh Kristus. Yesus dari surga singgah sebentar ke dunia ini, menyerahkan nyawaNya sebagai jalan pendamaian bagi kita. Setelah menggenapi karya keselamatan agung itu, Yesus mudik kembali ke surga. Ia sedang mempersiapkan tempat bagi kita di surga sebagai akhir destinasi hidup orang percaya. Kita mesti menyadari bahwa hidup kita di dunia ini bersifat sementara dan tidak akan tinggal di dunia ini selamanya. Ibarat dalam suatu perjalanan liburan, meski  kita melihat  dan menikmati pemandangan alam yang indah, taman bunga yang  semerbak, tempat makan yang enak,  dan penginapan yang nyaman,  namun kita tidak akan tinggal tetap di tempat rekreasi itu.  Karena itu bukan tempat kita berasal dan bukan rumah kita, makanya kita kembali ke rumah kita. Sebagai orang Kristen, kita tidak berasal dari dunia ini melainkan anak-anak Allah. Kita merantau sementara di dunia ini dan akan kembali ke tempat asal kita, yaitu warga kerajaan Sorga (Fil 3:20). Tujuan akhir perjalanan hidup kita adalah surga yang menjadi tempat sempurna dan kekal bagi kita untuk hidup bersama Tuhan dan orang yang kita kasihi. 

Dalam perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan tidak berjanji bahwa semua akan berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Jikalau Tuhan memberkati kita dengan berbagai kesuksesan materi, karir, keluarga, maka kita tentu saja boleh menikmati itu semua. Namun itu bukanlah tujuan perjalanan hidup kita. Kita mesti berpikir bahwa semua yang ada pada kita bersifat sementara dan kita mesti siap untuk meninggalkan semua itu pada waktunya Tuhan. Sebaliknya jikalau Tuhan mengijinkan kita mengalami kesusahan, penderitaan,  dan sakit, maka kita tidak menjadi lesu dan menyalahkan Tuhan. Percayalah, Tuhan ada bersama kita sepanjang perjalanan hidup kita, dalam segala keadaan. Ia sedang melatih,  membentuk kita menjadi pribadi tangguh supaya Ia bisa memakai kita menjadi berkat bagi dunia ini dan mempersiapkan kita memasuki hidup kekal bersamaNya di surga. Maka itu, marilah kita memikul salib, menyangkal diri, dan mengikut Kristus. Dengan identitas kita sebagai warga kerajaan surga,  Allah memanggil kita untuk hidup sebagai perantau di dunia ini dengan fokus hidup kita kepada hal surgawi bahwa kita sedang dalam perjalanan mudik ke rumah yang kekal bersama Kristus. ~BT220424

MENGAPA PERLU PENEBUSAN DOSA

Konsep penebusan dosa sering dipertanyakan banyak orang, mengapa mesti ada penebusan dosa? Jika memang Allah itu maha kasih, maka seharusnya mudah bagi Allah untuk sekedar mengampuni dan menerima manusia tanpa perlu adanya penebusan dosa. Kadang kita sering lupa bahwa karakter Allah bukan hanya kasih, tetapi juga adalah kudus dan adil. Dosa itu sangat bertentangan dengan kekudusan Allah, dan karena Allah itu adil, maka Allah murka akan  keberadaan dosa,  dan setiap dosa mesti dihukum. Kita semua adalah pendosa, dan upah dosa adalah kematian. Ini tidak enak didengar tapi begitulah kata Firman Tuhan dalam Roma 3:23 dan 6:23.  Sepanjang zaman, manusia mencari jalan pendamaian dan jalan keluar  atas rasa bersalah  dan dosa kepada Tuhan.  Misalnya  dengan cara hidup saleh, ibadah, persembahan uang dan materi, atau bahkan lari dan menyangkal keberadaan Tuhan. 

Saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mata mereka tercelik dan tersadar dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka,  lalu mereka  mencari jalan keluar dari rasa bersalah dan dosa dengan langsung menutupi diri mereka dengan cawat dari daun pohon ara dan bersembunyi dari Tuhan yang menciptakan mereka.  Pada momen itu,  Allah berinisiatif mencari Adam dan Hawa dan memakaikan kulit hewann untuk menutupi tubuh berdosa mereka.  Allah tidak langsung menghukum mati Adam dan Hawa, meski Allah bisa saja me-reset manusia dengan produk baru. Malah Allah membuat cara pendamaian dosa dengan penumpahan darah dari hewan yang tidak bersalah atas dosa itu. Allah membutuhkan pengorbanan darah untuk menghapus dosa manusia. Darah dianggap sebagai tanda hidup atau nyawa, dan pada saat darah itu dipersembahkan akan menjadi pendamaian agar hubungan manusia dan Allah bisa dipulihkan (Ima. 17:11). Pendamaian  atas dosa manusia ditegakkan saat  darah hewan kurban dicurahkan dan kematian hewan tersebut sebagai ganti kematian akibat dosa seseorang. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan orang Israel untuk mempersembahkan hewan dengan kualitas terbaik  di untuk disembelih di mezbah Bait Allah, sebagai cara mendapatkan pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah. 

Persembahan korban hewan hanyalah bersifat sementara dan tidak bisa menghapuskan dosa selamanya (Ibr. 10:1-4). Ritual pengorbanan hewan dalam Perjanjian Lama  adalah gambaran bahwa pada waktuNya, Allah yang penuh kasih itu akan menyediakan Anak Domba yang terbaik sebagai persembahan yang sempurna dan kekal dalam diri Yesus. Karena Yesus dilahirkan dari kandungan Roh Kudus, maka Yesus tidak membawa dosa alamiah seperti kita, sehingga Ia menjadi satu-satunya persembahan yang tak bercacat  untuk penebusan dosa manusia.  Keadilan Allah untuk menghukum dosa manusia sudah ditegakkan dan ditanggung saat Kristus menumpahkan darahNya dan menyerahkan nyawaNya di kayu salib. Pengorbanan Kristus di salib membebaskan kita dari kuasa dosa dan hukuman dosa yang seharusnya kita terima. Kita mendapatkan penebusan dosa melalui darah Kristus (Efe. 1:7). Inilah Perjanjian Baru yang Allah berikan kepada setiap orang yang mau percaya bahwa penebusan dosa, jalan pendamaian, dan keselamatan jiwa kita yang kekal hanya melalui Kristus saja. ~BT20220403

BERINVESTASI DENGAN HIKMAT

Sekarang ini ada begitu banyak promosi, tawaran, dan ajakan untuk menginvestasikan uang kita, mulai dari wujudnya yang terlihat sampai kepada yang tak telihat alias virtual. Banyaknya testimoni dari orang-orang yang sukses dalam berbagai investasi tersebut kadang membuat kita termotivasi untuk segera ikut berkecimpung. Namun, tak dapat dipungkiri juga bahwa lebih banyak orang yang mengalami kerugian dan kehilangan uang dalam tempo singkat  hanya karena mengejar kekayaan dengan cara instan atau berinvestasi di jalur yang salah. 

Berinvestasi adalah kegiatan menanamkan uang, aset, atau modal kepada pihak lain dengan harapan akan mendapat nilai lebih dan keuntungan di masa depan. Jenis investasi apapun, tentu semua ada resikonya. Dalam dunia yang penuh dosa dan tidak pasti ini, banyak hal di luar kendali kita. Uang yang kita investasikan di perusahaan, bisa jadi perusahaan itu merugi dan bangkrut. Bahkan, uang yang kita simpan di bawah bantalpun, bisa hilang karena ada pencuri. Oleh karena itu, mengelola keuangan termasuk investasi memerlukan hikmat Ilahi. 

Yang menarik, Alkitab sebenarnya mendorong kita untuk berinvestasi daripada menyimpan uang di bawah kasur. Dalam perumpamaan talenta  (Mat.25)  dan perumpamaan uang mina (Luk.19), Yesus memuji hamba  pertama dan kedua yang sukses melipatgandakan modal awal yang diberikan. Sebaliknya, Yesus mengkritik hamba ketiga yang tidak melipatgandakan modal, malah mengubur uangnya di tanah dan sapu tangan. Perumpamaan itu mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang setia dan bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas yang Tuhan berikan,  dengan menggunakan semua berkat yang Tuhan berikan dan melipatgandakannya untuk kemuliaan Tuhan.

Berinvestasi adalah salah satu cara kita melipatgandakan berkat Tuhan untuk mendukung kehidupan kita sekarang dan masa depan. Ada beberapa pedoman berinvestasi yang kita bisa kita jalankan berdasarkan Alkitab. (1) Sadar akan kemampuan kita dalam berinvestasi dengan memakai dana di luar kebutuhan utama kita.  Kita juga mesti mengerti benar produk atau tempat kita berinvestasi dengan segala resikonya. (2) berinvestasi dalam bisnis atau perusahaan yang memiliki nilai moralitas yang sama dengan Kekristenan.  Kita dapat berinvestasi pada perusahaan yang berdampak positif bagi banyak orang khususnya Kerajaan Allah.  Hendaknya kita menghindari berinvestasi kepada hal yang jahat dan merusak kehidupan manusia (bdk Ula. 23:18). Contohnya perusahaan judi dan kasino, alkohol, industri sex,  tembakau, senjata, dll.  (3) Bukan investasi spekulasi yang menawarkan “profit” kaya mendadak ataupun investasi yang mengutamakan faktor “lucky” (keberuntungan). Kita juga mesti menghindari skema investasi: “Zero-Sum Game” di mana selisih keuntungan dan kerugian adalah nol. Keuntungan yang kita dapatkan berasal dari kerugian orang lain. Kita tentunya tidak ingin bergembira di atas penderitaan orang lain, bukan? Ini akan menjebak kita kepada mentalitas “hasrat cepat kaya” tanpa kerja keras, cinta uang dan membawa ekses kepada dosa (1 Tim 6:9-10).

Apapun jenis investasi yang ingin kita lakukan, prinsip Alkitab tetap berlaku. Investasi bagi orang Kristen tidaklah melulu soal melipatgandakan uang, namun bagaimana kita memuliakan Tuhan yang sebenarnya adalah pemilik dari semua kekayaan kita. Berinvestasi adalah baik adanya selama kita menjalankannya bersama Tuhan demi masa depan kita, anak-anak kita, maupun berkat bagi sesama. Teruslah berkomunikasi dengan Tuhan supaya kita berhikmat dalam mengelola investasi kita

~BT20220306.

TEOLOGI UANG

Ada yang bilang: “uang bukan segalanya, tapi segalanya perlu uang.” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang, justru kita membutuhkan uang dalam hidup kita sebagai alat tukar yang sah untuk membeli kebutuhan yang tidak bisa kita penuhi sendiri. Dengan uang, kita juga bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Namun di dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini, segala sesuatu yang awalnya baik bisa jadi disalahgunakan.  

Topik uang banyak dibahas di Alkitab di dalam lebih dari 2000 ayat, dan bahkan perumpamaan dalam pengajaran Yesus lebih banyak menyinggung masalah uang.  Uang sejatinya  tidak jahat,  tetapi cinta uanglah yang menjadi akar segala kejahatan (1 Tim 6:10). Uang adalah  salah satu tanda berkat Tuhan kepada kita, tetapi jika kita sudah menempatkan uang di atas segalanya termasuk melebihi kasih kita kepada Tuhan  maka uang bisa menjadi bencana. Jika keinginan menjadi kaya  adalah  hal yang paling utama yang kita kejar dalam hidup ini, maka kita bisa terobsesi untuk mendapatkan uang yang banyak dan mungkin membawa kita terjerumus kepada kejahatan. Karena cinta uang, kita bisa dikuasai hasrat untuk mendapatkan uang dengan cara instan. Kita cenderung  mengabaikan standar moral Firman Tuhan demi mendapatkan uang dan materi.  Uang yang banyakpun  dapat membuat kita menjadi tamak, sombong, dan narsis. Pengelolaan uang yang sembrono membuat kita boros dan bisa terjerat dalam belenggu utang. Kadang kejahatan manusia tidak terbatas oleh karena cintanya kepada uang.

Oleh sebab itulah, ada baiknya  kita belajar sedikit tentang teologi uang. Hal ini  dapat mengubah pola pikir dan tindakan kita yang berkaitan dengan  uang. Beberapa prinsip dalam teologia uang: (1) Tuhan adalah pemberi berkat materi kepada kita (Fil 4:19), sehingga kepada Tuhanlah kita memohon dan menyerahkan segala aktivitas kita dalam mencari uang. (2) Tuhan adalah pemilik segalanya termasuk uang yang ada pada kita (Maz. 24:1) dan kita hanyalah pengelolanya. Oleh karena itu cara kita membelanjakan, menabung atau menginvestasikan uang mesti mengingat bahwa uang itu adalah titipan saja dan kita mesti bertanggung jawab kepada pemilik aslinya. (3) Semakin banyak uang yang kita miliki, mestinya kita semakin murah hati dalam memberi (Kis 20:35). (4) hidup kita tidak bergantung pada banyaknya uang (Luk 12:15). Uang bukanlah ukuran kebahagiaan hidup kita. Raja Salomo menemukan sumber kebahagiaan: takutkah akan Tuhan dan pegang perintahNya (Pengk 12:13).

Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus meminta kita untuk menjaga hati terhadap harta dan kekayaan karena di mana harta kita, disitulah hati kita berada. Harta orang Kristen yang sejati adalah Kristus,  kepadaNya kita menaruhkan hati dan tindakan kita termasuk soal uang. Marilah kita bekerja dengan rajin untuk mendapatkan uang, menabung dan menginvestasikan uang dengan bijaksana, membelanjakan uang dengan efisien, dan memberi sebagian uang kita dengan hati yang gembira  untuk mendukung pelayanan dan menolong orang lain. 

~BT220213

SEMUA AKAN BERLALU.

Untuk segala sesuatu di kolong langit ini ada masanya: ada permulaan dan ada akhirnya. Tahun lama sudah berlalu, sekarang masanya berganti kalender menjadi 2022. Ketika tahun baru datang, kita melihat ke depan dan merencanakan banyak hal untuk kita kerjakan setahun mendatang. Sebagian dari orang membuat resolusi atau komitmen. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa tidak ada jaminannya bahwa waktu akan terus bersama kita. Hidup kita di dunia ini sebentar, fana dan sementara saja. Adalah suatu keniscayaan bahwa kita hidup dalam satu momen saja setiap saat. Momen bahagia, kesedihan, dan kerumitan hidup semuanya bersifat sementara dan semuanya itu akan berlalu pada waktunya. Sama hal dengan apa yang Petrus katakan: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur (1 Pet 1:24).

Sayangnya kita cenderung memikirkan hal-hal yang bersifat sementara, seolah-olah hidup kita akan terus abadi di dunia ini. Kita mengejar apa yang terlihat yang kita pikir itu semua bisa memuaskan hidup kita: sukses, uang, popularitas, dan hal duniawi lainnya. Padahal apa yang terlihat bagi kita hanyalah sementara dan semuanya akan hilang atau kita tinggalkan.  Alkitab mengajarkan kita untuk memberi hati kita kepada apa yang tidak terlihat dan bersifat kekal (2 Kor 4:18).  

Tidak ada yang kekal dalam dunia yang kita hidupi ini. Semuanya berubah dan akan berlalu, hanya satu yang tak pernah berubah: Allah yang tak terlihat secara fisik itu bersifat kekal. Dia melampui dimensi waktu dan ruang. Tuhanlah yang memegang kendali dalam dunia yang Ia ciptakan ini.  Dia tahu apa yang sedang terjadi, dan Dia menolong kita melalui semuanya itu jika kita menyerahkan hidup kita kepadaNya. Apapun rencana atau resolusi yang akan kita kerjakan dan kejar tahun ini, semoga itu bernilai kepada kekekalan dan Tuhan memampukan kita mewujudkannya untuk kemuliaanNya.

~BT20220108

Merenungkan Kado Natal

Dua minggu lalu, anak kami Aaron yang berusia 3 tahun menanyakan mengapa di rumah tidak ada pohon natal. Untuk memenuhi keinginan hatinya, kami mengambil kotak kardus berisikan pohon cemara yang tersimpan di dalam gudang. Lalu bersama-sama, kami merangkai pohon natal sampai berdiri tegak dan menghiasinya dengan berbagai ornamen natal. Si anak begitu senang melihat pohon natal sudah jadi dengan lampu yang berkelap kelip. Namun beberapa saat kemudian, ia terlihat sedih karena ia tidak melihat ada bungkusan kado di bawah pohon natal itu, seperti yang ia lihat di tv. Sejak itu ia selalu memohon agar kami  membeli Christmas gift (kado natal) untuk diletak di bawah pohon natal itu.

Permohonan lugu dari anak  kami tersebut membuat saya merenungkan tentang apakah kado natal yang terbaik? Saat bulan Desember tiba, kita melihat nuansa natal dengan berbagai pernak-pernik, musik, termasuk komersialisasinya hadir di berbagai tempat di seluruh dunia. Bahkan banyak orang dengan latar belakang non-Kristen juga ikut merayakan natal. Orang merencanakan banyak hal dalam merayakan natal: cuti dari kantor untuk liburan ke tempat wisata, pulang kampung bertemu keluarga asal, merayakan bersama teman dan bertukar kado natal, dan lainnya. Tentu itu hal yang baik saat kita menikmati kebersamaan bersama orang yang kita kasihi.

Namun sebagai orang percaya, kita mesti mengingat bahwa natal adalah tentang Yesus. Mungkin banyak orang tahunya cerita natal adalah tentang kelahiran seorang bayi, tetapi sesungguhnya di balik semua itu adalah tentang kematian.  Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia menghadapi kutukan  dosa: kematian dan hukuman kekal. Yesus adalah Tuhan yang mengambil rupa manusia, lahir ke dunia ini untuk memenuhi janji keselamatan yang Tuhan pernah janjikan (Kej 3:15). Yesus yang tiada berdosa itu menyerahkan diriNya di salibkan sebagai ganti hukuman dosa manusia, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya tidak mengalami kematian kekal melainkan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal bersama Kristus (Yoh 3:16). Ini adalah karunia yang luar biasa dan kado natal terbesar yang Allah berikan kepada kita.

Setelah kita menerima anugerah kado natal itu, maka kita juga mau mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan. Mungkin kita tidak mesti seperti orang Majus yang membawa semua perhiasan mahal kepada bayi Yesus, tetapi kita bisa mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan untuk menjadi saksiNya dalam  menceritakan kado natal yang Yesus berikan bagi dunia ini. Jika kitapun ingin berbagi rezeki dengan orang lain dalam bentuk bingkisan natal, maka kita akan lebih bersukacita  dalam membungkus kado natal itu dan  membagikannya karena kita tahu bahwa kita telah menerima kado natal yang kekal dari Kristus. Selamat Natal..!

~BT211219

Merohanikan Kegagalan

Kita terbiasa menghargai   orang lain yang berhasil, sukses, populer, punya jabatan, dan banyak uang. Slogan rohani seperti: “kita adalah pemenang”, “kita adalah kepala bukan ekor”, “bersama Tuhan kita raih kesuksesan” jamak kita dengar seolah menjadi ajaran bahwa tidak ada kegagalan, kekalahan, keterpurukan bagi orang Kristen. Namun realitanya: manusia tidak kebal dari kegagalan, bisa terjadi dan bagian dari hidup kita.  Bagi orang Kristen ada dua jenis kegagalan yang berbeda: Pertama, kegagalan dalam menaati Firman Tuhan dan berdosa. Kedua, kegagalan yang tidak berkaitan dengan hal rohani  dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya orang punya bisnis lalu bangkrut, orang yang salah dalam berinvestasi dan membawa kerugian, orang kehilangan pekerjaan dan belum mendapatkan yang baru, murid yang tidak lulus ujian, atlet yang kalah dalam pertandingan, dsb.  

Orang Kristen yang taat dan bersungguh dalam imanpun bisa mengalami kegagalan. Kita bisa mengalami kegagalan dalam rencana, harapan, impian yang kita ingin raih. Kegagalan bisa saja diakibatkan oleh  karena pilihan dan keputusan kita, kesempatan yang tidak memihak kita, atau hal lain di luar kendali kita karena kita adalah manusia yang terbatas. Tentu kita tidak bisa meremehkan kegagalan tersebut karena kalau kita tidak menanganinya dengan baik akan berdampak buruk kepada kehidupan kita: kepahitan, kekecewaan, putus asa, depresi, dan meninggalkan Tuhan!

Saya  sedikit “radikal” berpikir  bahwa kehendak Tuhan dalam hidup kita bisa juga termasuk kegagalan. Tuhan mengizinkan kita mengalami kegagalan karena Ia  mau mengajarkan sesuatu kepada kita yang tak bisa kita pelajari melalui kesuksesan. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu (termasuk kegagalan) untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28).   Kegagalan bagi orang Kristen bukanlah untuk menghancurkannya tetapi mengembangkannya!  Kita mungkin mengalami kebangkrutan, kerugian, kekalahan, dan merasa gagal dalam banyak hal, tetapi jika kita merespon kegalalan itu dengan iman dan ketergantungan kepada Tuhan maka kegagalan itu bisa jadi menjadi bagian yang sukses di mata Tuhan. Kesuksesan sejati tidaklah dilihat dari kekayaan materi, jabatan, maupun popularitas namun dari sisi spiritualitas, mengenal Tuhan lebih dalam, dan itu membuat kita adalah pribadi yang sukses.

Kita mesti dapat menerima kegagalan yang terjadi dalam hidup kita  meski itu bukan yang kita harapkan.  Yang membesarkan hati kita adalah Tuhan menerima kita apa adanya termasuk jika kita gagal. Kasih karunia Allah jauh lebih besar dari semua dosa, kelemahan, dan kegagalan kita. Janji Tuhan kepada kita: tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasihNya, termasuk kegagalan kita dalam hidup ini. Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah: (1) Bersyukurlah di dalam setiap keadaaan (1 Tes 5:18). Itulah kehendak Tuhan. Mungkin berat untuk berterimakasih saat kegagalan dan keterpurukan terjadi, tetapi kita bisa bersyukur untuk berkat Tuhan yang lain, terutama untuk keselamatan jiwa kita yang kekal karena Kristus telah menebus kita! Hati yang gembira adalah obat kepada kepahitan; (2) belajar dari kegagalan. Kita dapat belajar mengembangkan karakter Kristus dari kegagalan itu, mungkin juga kita perlu menganalisa atau mengubah rencana di masa depan; (3) Jangan menyerah. Kegagalan semestinya tidak mengakhiri keberadaaan kita. Tetap berpengharapan dan berjuang bersama Tuhan di arena kehidupan ini.

~BT20211003

September Ceria

Begitu memasuki bulan September, maka kita akan sering mendengar tentang ungkapan “September Ceria”, yang aslinya adalah sebuah lagu yang populer sejak tahun 1980an. Pencipta lagu ini, James Sundah menceritakan latar belakang lagu itu sebagai ungkapan sukacita karena di bulan sept-ember, musim hujan datang setelah musim kemarau yang panjang.  Saat mendengarkan lagu indah ini, ironisnya kita masih hidup dalam suasana pandemik Covid-19. Beberapa hari ini saya mendapatkan berita dukacita secara langsung maupun dari media sosial. Mungkin banyak di antara kita melalui hal yang berat: kita mengalami sakit penyakit, kita berduka karena kehilangan orang terkasih, keluarga kita mengalami guncangan ekonomi karena kita kehilangan pekerjaan ataupun bisnis yang drop bahkan bangkrut, kita mesti mengatur waktu bagaimana bekerja dan mengajar anak di rumah, dan masih panjang daftar penderitaan yang mesti kita hadapi akibat pandemik Covid-19 yang telah mengubah hidup kita secara drastis, dan kita belum tahu sampai kapan semua ini akan berlangsung.

Bagi banyak orang rasanya keceriaan dan sukacita tidak cocok dengan penderitaan. Salah satu mesti menghilangkan yang kedua. Namun Alkitab banyak mengajarkan bahwa sukacita dan penderitaan bisa berjalan beriringan. Orang Kristen dipanggil tidak hanya  percaya Kristus, namun juga menderita karena mengikut Kristus (Fil 1:29). Yesus mengingatkan bahwa hidup kita di dunia akan mengalami penderitaan  (Yoh 16:33). Kita diminta bersukacita ketika kita menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan dalam hidup kita. (Rom 5:3).

Sukacita dalam penderitaan itu  bukanlah membawa kita kepada dua kutub ekstrim yang salah: Makosisme yang menikmati rasa sakit untuk kesenangan, semakin sakit semakin senang ataupun Stoikisme yang pasrah karena penderitaan adalah takdir, yang penting kita berpikiran positif. Ini bisa membawa kita berpura-pura happy di hadapan orang lain padahal di dalam diri kita merasakan penderitaan. Ini bukanlah sukacita yang Alkitab ajarkan. 

Rasa sakit, dukacita, dan frustasi itu nyata adanya, tetapi kita memilih bertahan dan berjuang bersama Tuhan. Sama seperti seorang ibu yang akan melahirkan mesti mengalami kesakitan dan perjuangan yang berat tetapi si ibu tetap semangat berjuang dengan sukacita dalam kesakitannya karena ia tahu ia akan segera melihat bayinya lahir. Kita bersukacita saat mengalami penderitaan karena kita tahu penderitaan akan membuat kita lebih bergantung pada Tuhan, kita akan dibentuk memiliki karakter Kristus, dan pengharapan kita bersama dengan Kristus dalam kekekalan.  Tentu ketika kita menderita kita bisa meratap kepada Tuhan yang mengerti penderitaan kita karena Ia sendiri pernah menderita demi penebusan dosa kita. Tuhan  akan menghiburkan kita di manapun kita meratap termasuk di rumah sakit dan di pemakaman. 

Sukacita kita selalu bersandar pada Kristus, bukan pada perasaan emosional kita. Karena itu bersukacitalah jika kita menghadapi berbagai kesulitan dan  penderitaan. Kita hidup sementara di dunia ini dan kita tahu bahwa suatu hari nanti, semua sakit dan penderitaan kita akan berlalu. Selagi kita masih di sini, teruslah berjuang dalam hidup yang memuliakan Tuhan. September ceria milik kita bersama!

~BT20210905

Mempertanyakan Keselamatan Kekal

Sebagai bagian dari hidup manusia, setiap orang bisa memiliki keraguan dan mempertanyakan banyak hal. Setelah beberapa lama menjadi Kristen, kitapun bisa memiliki keraguan dalam hal kepastian iman dan  mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita beberapa pertanyaan: Benarkah saya sudah selamat? Apakah nanti saya akan bersama Kristus setelah kematian? Ada banyak alasan orang Kristen meragukan keselamatannya, di antaranya:  (1) Dosa; saat kita sering gagal menaati Firman Tuhan dan berdosa bisa jadi kita mulai meragukan apakah benar Tuhan masih mengampuni kita dan apakah kita masih selamat. (2) legalistik; kita berpikir bahwa keselamatan itu bergantung pada perbuatan baik, ibadah,  dan pelayanan kita. Saat kita tidak lagi memenuhi standar tersebut, kita merasa tidak selamat lagi. (3) iman yang tidak bertumbuh; kita mengaku sebagai Kristen tetapi tidak mengerti tentang keselamatan kekal dan menyepelekannya.

Meragukan keselamatan dalam Kristus yang akhirnya menolak karya penebusanNya tentu akan membawa penyesalan di kemudian hari. Itu adalah pekerjaan Iblis. Tetapi mempertanyakan  dalam hal menguji iman dan keselamatan  dapat menyadarkan kita ada hal yang perlu  dikoreksi dalam hidup kita. Karena ada orang yang merasa perjalanan imannya baik-baik saja padahal dia sudah jauh dari Tuhan. Atau ada yang berpikir ia berdosa dan merasa Allah tidak mungkin mengampuninya dan  ia tidak selamat lagi.  Karena itulah Alkitab mengajarkan kita untuk menguji (mempertanyakan) diri apakah kita masih tetap tegak dalam iman dan yakin bahwa Yesus ada di dalam kita (2 Kor 13:5). Rasul Paulus mengingatkan kita untuk mengecek apakah kita masih beriman pada Kristus? Pertanyaan ini sangatlah penting kita jawab karena ini akan menentukan dimana kita akan menghabiskan masa kekekalan kita setelah kematian.

Jika kita ingin yakin tentang jaminan keselamatan kita, maka kita perlu merenungkan hal berikut: (1) Apakah kita masih percaya bahwa Yesus adalah juruselamat kita?  Ingatlah, keselamatan kita sesungguhnya adalah anugerah Tuhan melalui pengorbanan  Yesus dan tidak bergantung pada perbuatan baik, ibadah, maupun pelayanan kita (Ef 2:8-9). Barangsiapa percaya kepada Yesus, ia memiliki jaminan hidup yang kekal (1 Yoh 5:11-12). Jelaslah bahwa keselamatan kita adalah berasal dari Tuhan, dan itu penuh kepastian dan kekal. (2) Apakah ada perubahan cara hidup kita yang menyerupai Kristus? Tentu ini proses yang panjang dalam hidup kita, ada pasang surut, jatuh bangun dalam dosa. Orang yang sungguh percaya Kristus bukanlah orang yang tidak bisa berdosa lagi. Bedanya, saat kita berdosa lagi, kita sungguh menyesali dan berupaya untuk meninggalkan dosa itu. Kita tahu menyakiti Allah namun Allah bersedia mengampuni dosa kita (1 Yoh 1:9). (3) Apakah kita masih berbuat baik kepada orang lain sebagai bukti iman kita? (sebab iman tanpa perbuatan baik adalah mati). Dari buah perbuatan baik kitalah terlihat kita hidup dalam Kristus (Mat 12:33). Jika kita dapat menjawab “ya”  pada pertanyaan di atas, maka yakinlah bahwa kita masih beriman pada Kristus dan jaminan keselamatanNya ada pada kita. 

@bagiterang.com/20210822

Tuhan dalam keseharian kita

Bagi banyak orang bahasa teologia itu terlalu tinggi dan mungkin sulit untuk dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan kita. Belum lagi hidup yang penuh tantangan dan kesulitannya, termasuk pandemik Covid-19 yang tak pernah kita tahu kapan bisa berakhir.  Dalam masa sulit sekarang ini, kita perlu belajar  melihat keberadaan Tuhan melalui kehidupan keseharian di sekitar kita. Tuhan Yesus seringkali juga menggunakan hal sederhana yang gampang ditemui di sekitar kita ketika Ia menyampaikan pesan Ilahi. Contohnya: burung di langit dan bunga bakung di ladang untuk mengajarkan kekuatiran; gadis bijaksana dan lampu mengajarkan kewaspadaan akan kedatangan Yesus kedua kalinya, dan lainnya. Pertanyaannya adalah bagaimana kita melihat keberadaan Tuhan dalam keseharian hidup kita? 

Menemukan Tuhan dalam keseharian tidaklah membutuhkan keahlian khusus atau gelar teologia sekalipun. Kita bisa bertemu Tuhan melalui ciptaanNya yang kita lihat setiap hari di sekitar kita. Keberadaan alam semesta ini dengan segala isinya mulai dari yang begitu besar seperti matahari sampai yang terkecil tak terlihat mata seperti molekul, semuanya diciptakan oleh Tuhan untuk menunjukkan keberadaan dan karakter Tuhan: keagungan, kecerdasan, kebaikan, bahkan rasa humorNya.  Kita semestinya kagum  dan hormat kepada Sang Pencipta yang menciptakan dan mengatur alam semesta yang begitu kompleks namun bisa berjalan teratur untuk kebaikan semua mahkluk hidup! Hal yang tidak terlihat dari Tuhan dapat kita lihat dan dimengerti dari segala yang diciptakan Tuhan (Roma 1:20). Langit menceritakan kemuliaan dan pekerjaan Tuhan (Maz 19:2). 

Kita sering berpikir bahwa kehadiran Tuhan dalam hidup kita  hanya dalam momen yang dramatis dan luar biasa seperti mukjizat luput dari kecelakaan, sembuh dari penyakit,  doa yang dijawab, atau Tuhan hanya ada dalam ruang ibadah. Kita luput menyadari keberadaaan Tuhan dalam hal kecil dan sepele dalam hidup kita. Hari ini yang kita anggap biasa saja sama seperti kemarin, sesungguhanya adalah hari yang luar biasa. Cobalah kita pikirkan: pagi hari ketika kita bangun, kita melihat matahari terbit, sepanjang hari kita bisa beraktivitas, bisa makan, bekerja, bermain, bersosialisasi dengan orang lain, lalu kita kembali bisa tidur di malam hari. Semua itu bisa berlangsung karena Tuhan ada beserta kita.  Tuhan yang luar biasa itu ada di tengah kehidupan sehari-hari yang kita anggap biasa-biasa saja. Dia adalah Tuhan yang peduli dengan hidup kita dari hal yang terbesar sampai kepada hal yang terkecil. Ia tidak saja peduli dengan dengan pekerjaan dan bisnis kita di kantor, tetapi juga saat kita update status sosmed dan memasak di dapur. Tuhan selalu ingin terlibat di sana!

Kita dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita saat melihat dunia sekitar kita dengan kacamata Kristus.   Hanya Kristus yang dapat mengubah hati kita sehingga apapun yang kita lakukan bisa bernilai kesempatan bertemu dengan Tuhan. Kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dalam setiap momen dan menganggap semua aktivitas keseharian kita sebagai persembahan kepada Tuhan.  Kita akan bersukacita mengetahui bahwa Tuhan ada selalu bersama kita, kita tidak pernah sendiri dan  kasih Tuhan tetap ada sampai pada kekekalan.

@bagiterang.com/20210801

Dari birthday menuju deathday

Happy Birthday..! Kebanyakan orang bersukacita saat ulang tahun tiba dan merayakan dengan tiup lilin, makan cake, dan mendapatkan hadiah. Itu tidak salah dan baik selama perayaan itu berfokus kepada rasa syukur terhadap sang pemberi hidup kita.  Beberapa lainnya melalui birthday dengan kesedihan dan airmata karena kedukaan atau karena menghadapi krisis di tengah kehidupan. Saya tentu bersyukur berulang tahun namun hari-hari ini saya juga berduka mendengar beberapa teman telah dipanggil pulang oleh Tuhan dan di antaranya akibat Covid-19. Sungguh berat merayakan birthday dan di saat yang sama berduka untuk kematian (deathday). Rasanya hidup ini begitu sebentar, seperti rumput di pagi hari berbunga, dan di malam hari layu dan gugur.. 

Dalam buku harian Raja Salomo, raja yang memiliki hikmat dan kebijaksanaan yang melebihi kita semua, ia menuliskan bahwa hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran; lebih baik pergi ke rumah duka daripada menghadiri pesta (Pengkhotbah 7:1-2).   Ini dua even yang sangat kontras. Di satu even, hari kelahiran dipenuhi oleh kegembiraan dan pesta  dalam merayakan kehadiran seorang bayi. Sementara di even lainnya di hari kematian, saat kita ditinggalkan oleh orang terkasih, yang ada adalah tangis dan kesedihan. Bagaimana mungkin hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran? Bagaimana bisa menghadiri pemakaman lebih baik daripada menghadiri pesta?

Hari lahir kita adalah permulaan hidup kita di dunia ini. Kita memiliki  1001 pilihan dan punya kehendak bebas dalam kehidupan ini. Yang pasti bagaimana kita menghabiskan waktu hidup kita di dunia ini akan menentukan arah tujuan kita saat kematian.  Sebab dalam kematian kita hanya punya dua pilihan kekekalan: hidup bersama Kristus atau dihukum bersama Iblis.

Ini tidaklah berarti kita tidak boleh bergembira dan berpesta dalam beberapa momen hidup kita ini. Bahkan Tuhan Yesus ikut bergembira dalam menghadiri pesta. Hal positifnya, perayaan ulang tahun bisa menjadi momen untuk merenungkan perjalanan hidup kita. Sebagai  musafir, kita hidup sementara dan memiliki limit waktu di dunia ini,  bahkan Metusalah sebagai orang yang tertua yang pernah hidup, tidak melewati usia 970 tahun! Karena itulah  kita mesti mempersiapkan diri untuk menghadapi momen yang tak terelakkan itu yaitu hari kematian kita yang bisa datang kapan saja.

Dengan mengingat kematian, sesungguhnya kita akan lebih banyak belajar tentang kehidupan ini. Pergi ke tempat duka mengajarkan: bahwa ada kesudahannya bagi kita semua, karena itu kita mesti lebih bijaksana dalam hidup dan mempersiapkan hari kematian kita. Ingatlah bagi kita yang sungguh hidup dalam Kristus bahwa di hari kematian kita, kita akan hidup kekal bersama Kristus di surga.

Kita bersyukur bisa berulang tahun. Tak ada satupun kita yang tahu akan hari esok. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak lagi sisa waktu kita di dunia ini. Jika kita masih hidup hari ini,  maka itu untuk kemuliaan Tuhan.. Life is all about Him, not about me!

@bagiterang.com/210626

Toleransi Tanpa Kompromi

Sebagai orang Kristen yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk, tentunya kita seringkali menghadapi situasi yang menguji sikap toleransi kita kepada orang lain yang berbeda keyakinan. Sampai sejauh mana kita dapat berkompromi dalam hal toleransi beragama? Dulunya, definisi toleransi beragama adalah mengakui bahwa setiap individu memiliki  hak dan kebebasan untuk memegang dan mempraktekkan kepercayaannya tanpa kita perlu mempercayai hal yang sama. Namun dengan perkembangan teknologi dan media sosial seperti sekarang ini, sepertinya ada perubahan pengertian toleransi: tidak hanya menghormati keyakinan yang berbeda namun juga menerima keyakinan yang berbeda itu sebagai suatu kebenaran. Artinya, kebenaran itu bersifat relatif: jalan kamu benar, jalan saya benar, dan semua jalan itu benar adanya. Semua kepercayaan akan membawa jalan kepada Tuhan dan karena itu semua kepercayaan adalah kebenaran. Seseorang akan dianggap intoleran jika dia tidak setuju dengan pandangan ini. 

Alkitab mengajarkan tidak ada dua atau lebih banyak jalan kebenaran, melainkan hanya satu jalan kebenaran yang absolut: Yesus (Yoh 14:6). Manusia bisa mengenal Kebenaran (Yesus)  itu karena Ia yang mengundang kita (Mat 11:28), Kebenaran itu akan membebaskan manusia dari dosa (Yoh 8:32), dan Kebenaran itu menjamin kita untuk hidup yang kekal (1 Yoh 5:11). Ini adalah kebenaran sejati iman Kristen.  Jika kita sebagai orang Kristen mulai meragukan, mempertanyakan, mengkompromikan atau bahkan sudah tidak percaya kepada kebenaran absolut itu, maka kita sebaiknya menelaah kembali Alkitab.

Dengan klaim kebenaran itu, apakah orang Kristen bisa hidup damai dan  bertoleransi di tengah komunitas yang majemuk dan berbeda keyakinan? Ya bisa dong dan kita harus melakukannya setiap hari dengan dasar kasih. Toleransi dalam arti mengasihi dan menghormati orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita tetapi itu tidak berarti berkompromi bahwa kebenaran iman kita adalah relatif dibandingkan iman yang berbeda. Kita tidak mengkompromikan doktrin kebenaran iman kita hanya demi diterima orang lain, menyenangkan orang lain ataupun demi keharmonisan. Kebenaran itu bukanlah berdasarkan apa yang kita pikirkan, rasakan, inginkan, atau bahkan simpati kepada orang lain, tetapi berdasarkan Alkitab.

Meski kita seringkali mengalah untuk bertoleransi namun kadang kita tidak mendapatkan rasa respek yang sama dari orang lain. Tentu kita tidak perlu berkecil hati dan tetaplah mengasihi orang lain.  Ingatlah pesan dan janji Kristus kepada kita: berbahagialah kamu jika orang membenci kamu karena Kristus, sebab upahmu besar di sorga (Luk 6:22-23). Orang Kristen haruslah bertoleransi kepada orang yang berbeda keyakinan dan mengasihi mereka dengan kasih Tuhan Yesus yang sudah kita terima. Dengan begitu,  kita akan  membawa kemuliaan bagi Sang Kebenaran dan menjadi terang di tengah dunia ini.

@bagiterang.com/210531

MORALITAS ZAMAN MODERN

Kita hidup dalam era digital di mana kita dibanjiri oleh informasi, pandangan, dan tindakan dari berbagai arah. Media mendorong kita untuk mengekspresikan kita kepada dunia luar. Dampaknya, kadang kita sulit membedakan mana sensasi, mana realita, bahkan mengaburkan moral yang benar dan salah. Kita mulai bingung dengan standar moralitas. Apa yang dulunya tabu dan salah secara moral, sekarang malah kita dianggap salah jika kita menentangnya. 

Nabi Yesaya pernah meramalkan bahwa akan ada waktunya manusia menyatakan yang jahat itu baik, gelap itu terang, dan sebaliknya (Yes 5:20). Sepertinya kita melihat itu terjadi sekarang. Ukuran moralitas tentang apa yang benar dan salah menjadi relatif dan spekulatif, hasil dari logika manusia dan perkembangan teknologi. “Benar” atau “salah” ditentukan oleh pandangan mayoritas, jika banyak yang melakukan berarti itu benar.  Padahal, sesuatu yang bernilai moral nol, meski dikalikan jutaan orang melakukannya, hasilnya tetap nol, artinya tetap salah. Kadangkala moral itu ditentukan oleh perasaan atau cinta, artinya selama kita senang melakukannya dan dimotivasi cinta, berarti kita benar. Tragisnya,  karena cintanya Adolf Hitler kepada kaumnya Bangsa Arya, ia sudah membunuh jutaan orang Yahudi. Ada juga, moral ditentukan oleh hasil dan tujuan, bahasa baratnya: “the end justifies the means.” Selama bertujuan baik, apapun motif dan cara kita mencapainya, itu bisa dibenarkan. Dalam dunia medis, berapa banyak embrio bayi dibuang (dibunuh) dalam praktek IVF bayi tabung demi mendapatkan keturunan? Berapa banyak orang di-euthanasia demi meringankan sakit pasien dan keluarganya?  Terakhir, moral ditentukan oleh hukum adat atau negara, jika negara sudah melegalkan suatu tindakan, berarti itu benar secara moral. Meskipun beberapa negara sudah melegalkan homoseksual, poligami, aborsi, dan euthanasia, namun itu tetap salah menurut moral dari Alkitab.

Menurut Alkitab, manusia diciptakan dalam image Allah. Salah satu buktinya adalah Tuhan meng”instal”  hati nurani kepada setiap manusia sehingga kita menjadi makhluk hidup yang memiliki moral, bisa membedakan mana yang baik dan salah. Itulah sebabnya orang yang hidup dalam peradaban terpencil sekalipun bisa memiliki kesadaran moral: misalnya tidak membunuh, mencuri, berbohong, atau menanam pohon sebagai ganti yang ditebang. Melalui Alkitab, kita belajar tentang standar moral yang Allah tunjukkan kepada manusia, sampai kepada kehidupan Tuhan Yesus yang adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).   Moral di dalam Alkitab selalu menguji motif, cara, dan hasil. Motif kita adalah kasih, cara kita mesti benar di hadapan Tuhan, dan tujuan kita adalah kemuliaan Tuhan (aplikasi 1 Kor 10:31). Tuhan peduli dengan  apa dan bagaimana  yang kita lakukan sekarang, bukan sekedar pada hasil. Tindakan yang sesuai dengan standar Alkitab adalah benar meskipun hasilnya gagal. Sebaliknya tindakan yang bertentangan dengan standar Alkitab, akan tetap salah meski hasilnya sukses. Hasil dari tindakan kita, meski tidak mungkin kita tahu hasilnya segera, namun jika kita lakukan dengan standar Tuhan, maka kita percaya apapun hasilnya adalah bagian dari campur tangan Ilahi (Rom 8:28). 

Banyak orang menentang moralitas Kekristena karena kita merasa tidak nyaman dengan standar itu, merasa dikekang dan tidak bebas, dan menilai bahwa moralitas Alkitab tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Toh juga kalaupun moralitas itu kita langgar, tidak ada ganjaran hukuman langsung. Padahal sesungguhnya Tuhan itu penuh belas kasihan dan sabar kepada kita supaya kita bertobat dan berbalik kepadaNya, sampai pada waktunya Ia akan meminta pertanggungjawaban dari semua perbuatan kita.

@bagiterang020521

TAKUT AKAN TUHAN

Karakter Tuhan yang sering kita dengar adalah maha pengasih, penyayang, sabar, dan mengampuni. Sepertinya sisi karakter tersebut yang memang banyak diajarkan dan nyaman untuk kita percayai. Padahal di sisi lain, Tuhan juga memiliki karakter lain yang setara yaitu kudus dan adil. Jika kita ingin mengerti kedua sisi karakter Tuhan itu maka kita perlu belajar memiliki sikap “takut akan Tuhan”.  Sikap tersebut perlu dikembangkan dalam pribadi orang percaya dan gereja karena kita banyak kadang jatuh dalam dosa berkepanjangan dan gagal menyelesaikan perjalanan iman kita  karena kita tidak takut pada Tuhan.

Mungkin ada yang bergumam: Hmm, Takut akan Tuhan? Bukankah “takut” itu sesuatu yang negatif? Apakah Tuhan itu musuh sehingga kita mesti lari dan sembunyi dari Dia? Bukankah Tuhan tidak pernah memberi roh ketakutan pada kita? Sebetulnya takut akan Tuhan tidaklah sama seperti ketakutan kita saat nonton film horor, atau kita lari karena ketakutan pada ancaman. Justru takut akan Tuhan itu membuat kita tak bisa menjauh dari Tuhan, dan selalu datang kepadaNya. 

Orang percaya yang takut akan Tuhan memahami tiga hal, yaitu: (1) Keagungan Tuhan yang telah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya semestinya membuat kita kagum, gentar, dan hormat kepada Tuhan. Kita memuliakan dan mengutamakan Tuhan dalam hidup kita meskipun lingkungan sekitar tidak mendukung. (2) Kekudusan dan keadilan Tuhan mengingatkan kita untuk hidup kudus dan menjauhi dosa. KeadilanNya akan meminta pertanggungjawaban dari kita atas semua yang kita lakukan di dunia ini dan kita menerima upah sesuai perbuatan kita. Oleh karena itu kita semestinya  hidup berhati-hati dengan segala pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. (3) Kasih Tuhan yang memberikan nyawaNya sebagai tebusan dosa manusia. Kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan, namun kita mesti mengerjakan keselamatan kita  dengan takut dan gentar. Saat kita melihat salib, kita merenungkan bagaimana mungkin kita terus berdosa tanpa pernah mau bertobat? 

Takut akan Tuhan adalah kesadaran bahwa kita ada di dalam hadirat Tuhan dengan karakterNya kasih, kudus, dan adil. Kalau kita sadar bahwa Tuhan melihat dan tahu semua yang kita lakukan di dunia ini, maka itu seharusnya mengubah cara hidup kita. Sikap hormat kepada Tuhan akan membawa dampak dalam kehidupan kita yaitu melakukan perintahNya dan menjauhi apa yang Tuhan benci: dosa. Menariknya, ada banyak janji dan berkat Tuhan kepada orang yang takut akan Tuhan di antaranya: Tuhan menjaga dan meluputkan kita dari bahaya (Maz 34:8), memberi kita hikmat (Ams 1:7), kekayaan, kehormatan, dan kehidupan (Ams 22:4), dll. 

Raja Salomo telah melalui banyak hal dalam hidupnya baik itu kemewahan, kekuasaan, kebijaksanaan, termasuk kelemahan dan dosanya.  Di hari tuanya, ia menyadari dan menyimpulkan apa yang paling penting dalam kehidupan ini : takutlah akan Tuhan dan berpegang pada perintahNya, karena itulah kewajiban semua orang (Pkh 12:13).

@bagiterang.com/210321

Akuntabilitas Kepemimpinan Pelayanan

Dua minggu lalu  majalah Kristen www.christiantoday.com mempublikasikan laporan investigasi atas tuduhan perzinahan yang dilakukan oleh seorang pengkhotbah Kristen yang terkenal di dunia dan telah meninggal dunia tahun lalu.  Banyak orang tidak percaya dan kaget atas laporan yang membenarkan tuduhan itu: masa’ sih orang sekaliber, serohani, sebaik dia bisa jatuh dalam dosa perzinahan? Sebenarnya, tidak ada yang baru di bawah kolong langit ini. Kejatuhan para pemimpin rohani sudah terjadi sejak zaman kuno hingga sekarang. Ketika kita mendengar skandal dan dosa di dalam pelayanan, respon kita bisa sedih, kecewa, dan marah. Bagaimanapun, kita tidak seharusnya kepahitan dan kehilangan fokus iman kita: Yesus Kristus – yang adalah guru moral yang pernah hidup di dunia ini dengan tak berdosa dan menyerahkan nyawaNya bagi tebusan dosa manusia. Yesuslah pemimpin iman kita yang tertinggi.

Tentu kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa kelam dan mencegah supaya peristiwa serupa tidak terjadi lagi. Jika kita terlibat dalam pelayanan apapun, apalagi yang memegang kepemimpinan, maka kita harus sadar bahwa kita sedang membawa panji Kristus untuk berkibar di dunia ini. Iblis tentu tidak senang dan akan berusaha menjatuhkan kita supaya kita gagal dalam pelayanan dan hidup kita. Meskipun kita sudah ditebus oleh Kristus, semua kita yang masih hidup di dunia ini masih mungkin berbuat dosa. Para pemimpin pelayananpun tidak kebal terhadap godaan dan dosa: entah itu berupa uang, jabatan, maupun seks. 

Seringkali penyimpangan yang dilakukan pemimpin pelayanan terjadi karena dua hal yang jalan beriringan. Di satu sisi, popularitas dan kharisma dari pemimpin membuat para anggota (baik secara sukarela maupun terpaksa) menaruh rasa hormat, kagum, dan rasa percaya yang berlebihan hingga para anggota enggan untuk mengkritisi pemimpin meskipun melihat ada penyimpangan yang dilakukan para pemimpin. Di sisi lain, pemimpin bisa berpikiran karena mereka telah bekerja keras untuk melayani dan memajukan organisasi maka mereka mulai merasa besar, layak mendapatkan penghormatan, dan tidak pantas untuk dikritisi. Ini menyebabkan pemimpin tidak lagi merasa perlu menunjukkan akuntabilitas, integritas, dan transparansi dalam pelayanannya. Saat para pemimpin pelayanan mengeksklusifkan dirinya, selalu merasa benar dan mengharapkan semua orang mempercayai tindakannya meskipun menyimpang,  maka artinya dia menolak akuntabilitas dan dia sebenarnya tidak layak dalam kepemimpinan pelayanan.

Alkitab memperingatkan kita bahwa peperangan kita adalah melawan kekuatan Iblis (Ef 6:12) yang mengaum siap menerkam kita,  karena itulah kita mesti selalu waspada (1 Pet 5:8). Iblis bersiasat untuk cepat menghancurkan gereja dan pelayanannya, maka mereka menyerang para pemimpinnya. Karena itu para pemimpin pelayanan mesti terus waspada terhadap godaan Iblis dengan memegang teguh integritas dan akuntabilitas di hadapan Tuhan maupun manusia. Kita yang menjadi anggota, dapat terus mendukung pemimpin kita dengan mendoakan mereka dan juga dengan bijaksana menyampaikan pendapat jika ada hal yang menyimpang terjadi. Dengan demikian baik para pemimpin dan anggota saling menjaga satu sama lain dan mengingat bahwa yang kita layani adalah Kristus.

@bagiterang.com/210228

PENCIPTAAN: KARYA AGUNG TUHAN

Bumi tempat kita hidup ini mesti mengorbit sumber energi yang kita sebut matahari dengan jarak, kecepatan rotasi, dan sudut yang tepat dan akurat. Kalau terlalu dekat dan cepat, bumi akan terbakar, tetapi  jika terlalu jauh dan lambat, bumi akan membeku. Bulan yang menjadi pengekor setia bumi memiliki bentuk dan jarak yang memformulasi gaya gravitasi ideal di bumi, di mana semua mahkluk hidup bahkan aliran darah dalam tubuh kita ini bergantung pada gravitasi! Demikian juga konstelasi planet, bintang, galaksi di alam semesta ini begitu mengagumkan. Rasanya jika kita merenung sejenak, kita pasti bergumam tak mungkin semua ini hanya kebetulan terjadi,  pasti ada yang mendesain dan mengatur semua ini.

Alkitab memproklamasikan: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kej. 1:1);  Enam hari lamanya Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya (Kel. 20:11); Langit menceritakan kemuliaan Allah dan pekerjaan tanganNya (Maz. 19:2)!  Ini adalah kebenaran iman orang Kristen yang benar sepanjang zaman. Namun sepertinya sekarang, ada banyak gereja dan orang Kristen mulai meragukan bahkan menolak kebenaran historis Penciptaan dalam Kitab Kejadian dan menganggap itu adalah puisi atau dongeng. Bisa jadi ini dipengaruhi oleh berbagai teori alternatif asal mula alam semesta yang dibuat untuk menihilkan keberadaan Tuhan yang mengajarkan etika dan moral spiritual. Salah satunya adalah Teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta ini tercipta dari gumpalan materi yang entah bagaimana asal mulanya meledak dahsyat sekitar 14 Milyar tahun lalu dan membentuk alam semesta ini. Sekitar 4 Milyar tahun lalu bumi mendingin dan muncul lautan dan kejatuhan batu meteor dari angkasa yang membawa unsur protein dan DNA. Singkat cerita, kehidupan bakteri muncul dari batuan di laut. Melalui evolusi yang menjelimet dan long time ago, bakteri berkembang menjadi mahkluk hidup seperti tumbuhan, binatang di laut, lalu mendarat jadi reptil, lalu jadi monyet, lalu katanya jadi manusia. Jadi menurut teori evolusi ini, sesungguhnya nenek moyang manusia, hewan dan tumbuhan adalah sama yaitu batu meteor! 🙂

Ini tentu berbeda dengan iman Kristen yang Alkitabiah. Tuhan itu bersifat kekal karena itu Tuhan tak memerlukan alasan apapun untuk keberadaanNya. Ia memiliki segala kuasa dan hikmat untuk menciptakan waktu, ruang, dan materi dari yang tidak ada menjadi ada. (Creatio Ex Nihilo). Tentu Tuhan dapat menciptakan alam semesta dalam 6 jam, atau 6 hari, atau tanpa waktu sekalipun!  Alam semesta dengan isinya yang begitu rumit tetapi semuanya ditata untuk bisa berkesinambungan mendukung kehidupan alam semesta ini. 

Orang Kristen mesti mengimani narasi historis Penciptaan dalam Kejadian 1. Tuhan adalah Pencipta dan Dialah pemilik hidup kita. Oleh karena itu, Tuhan layak menerima segala hormat, pujian, dan ketaatan kita.  Percaya kepada karya penebusan Kristus, berarti kita juga mesti percaya kepada karyaNya dalam penciptaan jagat raya ini. Jika kita percaya pada pasal pertama Alkitab, maka akan membawa kita percaya kepada lembaran akhir Alkitab tentang langit dan bumi baru yang kekal yang disediakan bagi mereka yang setia mengikut Kristus sampai kesudahannya.

@Bagiterang.com/210131

JOANNA : DOA YANG DIKABULKAN TUHAN

Minggu ini adalah hari-hari yang membahagiakan bagi keluarga kami. Akhirnya kami dikaruniai anak ke-4, bayi perempuan: Joanna Diaz Hasugian. Sebelumnya kami sudah memiliki 3 anak laki-laki: Andrew (10), Joel (8), Aaron (2). Meski kami tidak terobsesi untuk memiliki baby girl, tetapi ada kerinduan untuk punya bayi lagi. Tentu kami juga berhitung secara materi dan kesanggupan fisik kami jika kami ingin memiliki anak keempat. Kami menyadari bahwa setiap anak tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini, tetapi jika ia sudah lahir, maka kita sebagai orang tua mesti bertanggung jawab dan berjuang membesarkannya secara fisik dan spiritual. 

Akhirnya kami berdua sepakat  dan bersama anak-anak kami mendoakan anak keempat. Kami melibatkan anak-anak kami dalam berdoa ini karena kami mau mengajarkan kepada mereka bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang mendengar doa kami. Dalam doa pribadi, saya juga bergumul dengan Tuhan: “Tuhan, Engkau tahu doa kami, saya mempertaruhkan iman saya kepadaMu, kiranya engkau menjawab doa kami untuk bayi perempuan, supaya anak-anak kami mengerti bahwa Engkau adalah Tuhan yang menjawab doa kami.”

Kami senang pada bulan April lalu istri saya hamil lagi. Saya ingat satu ketika Andrew dengan kepolosan bertanya kepada saya: “Ayah, kita ‘kan berdoa untuk baby girl, bagaimana kalau nanti jadi baby boy”? Saya jawab: kalau jadi baby boy, ya gak apa-apa,  kita tetap puji Tuhan. Tetapi selama kita belum tahu jawabannya, kita boleh terus meminta kepada Tuhan baby girl. 

Beberapa bulan kemudian, setelah cek USG, dokter menginformasikan ke kami bahwa bayi itu kemungkinan cewek, kami senang sekali. Kami ceritakan kepada anak-anak kami bahwa bayi itu perempuan, merekapun senang dan kami menemukan namanya: Joanna, diambil dari Alkitab, sebagai perempuan yang disembuhkan Yesus, dan selanjutnya ia terus mengikut dan melayani Tuhan Yesus (Luk 8:3, 24:10).

Saat melahirkan di Rumah sakit, saya untuk keempat kalinya berdiri di samping istri saya, menyaksikan perjuangannya melahirkan bayi itu dengan segala kesakitannya. Saya hanya berusaha menguatkannya dan terus berdoa supaya bayi itu segera lahir. Saya percaya bahwa setiap ibu yang melahirkan, pasti menghadapi perjuangan yang berat, kadang sampai mempertaruhkan nyawanya. Makanya bagi para suami, marilah kita terus mengasihi istri kita dengan mengingat perjuangannya melahirkan anak-anak kita. 

Saya juga mengingat keluarga yang masih terus mendoakan keturunan ataupun yang menjalani hidup berdua saja sebagai suami istri. Saya tahu ini bukan perkara mudah untuk menjalaninya di tengah lingkungan yang sering bertanya: sudah berapa anaknya? Tetaplah mendoakannya kepada Tuhan (1 Tes 5:17), sambil terus mencari kehendak Tuhan dan taat kepada pimpinan  dalam kehidupan kita (1 Yoh 5:14).  Teruslah mengasihi istri dan suami dalam segala keadaan, karena inilah yang Tuhan inginkan dari kita semua: kita tetap mengucap syukur dan memuliakan Tuhan dalam segala keadaan (1 Tes 5:18).

@bagiterang.com210117

Mengapa Kita Mesti Belajar Teologi?

“Belajar teologi? Emangnya mau jadi pendeta?”,  “Kekristenan itu cara hidup, bukan doktrin, jadi  gak perlu belajar teologi”, “gak perlu belajar Alkitab, toh Roh Kudus akan mengurapi kita ketika kita memerlukan petunjuk”. Ini cara pandang yang perlu diluruskan. Sebetulnya, belajar teologi itu penting bagi kita orang percaya karena ini adalah amanat agung Kristus bagi setiap orang percaya: ..jadikanlah orang lain murid Kristus,…. ajarlah mereka (Mat 28:19-20); siap sedialah untuk menjawab siapapun tentang imanmu (1 Pet 3:15). Nah, bagaimana kita bisa mengajar orang lain kalau kita tidak terlebih dahulu  menguasai bahan ajar? Bagaimana kita bisa menjawab orang lain kalau kita tidak mengerti dan memahami iman kepercayaan kita?

Kadang kita memiliki pergumulan bagaimana membuat keputusan dalam berbagai isu dalam kehidupan kita yang semakin kompleks. Apa yang Alkitab ajarkan tentang hubungan suami istri, khususnya saat terjadi konflik? Bagaimana membesarkan anak di tengah tantangan LGBT dan internet?  Zaman dengan teknologi  terus berubah seiring waktu, dan banyak hal-hal baru yang muncul menimbulkan kontroversi dan menuntut penjelasan spiritual. Apa kata Alkitab tentang hal ini? Misalnya: apakah orang Kristen boleh melakukan bayi tabung (IVF), surrogate motherhood (pinjam rahim)?, dan banyak lainnya. Tentunya, kita tidak hanya jawab:  bacalah Alkitab dan kamu akan menemukan jawabannya.  Alkitab itu ada 66 buku, yang mana satu? rasanya akan menyita banyak waktu jika setiap menjawab pertanyaan doktrin Kekristenan kita mesti buka dari Kitab Kejadian. Apalagi Alkitab tidak menjelaskan secara eksplisit semua isu kehidupan ini. (Ula 29:29).

Karena itulah kita mesti belajar teologi termasuk  doktrin dan etika Kristen yang benar secara Alkitab. Tentunya, akan sangat menolong jika kita bisa belajar dari lembaga, institusi, sekolah, maupun perorangan yang telah lebih dulu belajar Alkitab dan mengimaninya dengan benar! Teologi itu sederhananya adalah ilmu tentang Tuhan, yaitu kita mengenal siapa Tuhan, apa yang Ia telah, sedang, akan kerjakan di dalam dunia yang Ia ciptakan ini dan hubunganNya dengan manusia. Ada banyak manfaat bagi kita dalam belajar teologi, di antaranya: (i) kita akan mengerti iman lebih dalam, semakin mempercayai Tuhan, dan semakin menyelaraskan hidup kita dengan Tuhan, (ii) menolong kita untuk mengkoreksi berbagai ajaran dan pandangan yang salah menurut Alkitab,  (iii) kita mendapatkan hikmat dari Ilahi, dan kita bisa mengambil keputusan yang bijaksana dan berkenan kepadaNya,  (iv) kita dapat memberikan pertanggung jawaban dan membela iman kita jika ada yang bertanya maupun menyangsikan klaim kebenaran iman Kristen, (v) kita dapat bersaksi, memberi masukan, dan mengajar orang lain.

Rasanya tidak mungkin kita dapat menyenangkan hati Tuhan tanpa belajar lebih dalam tentang Dia dan pekerjaanNya di dunia ini. Bisa jadi, semakin kita belajar tentang Ilahi, semakin kita tahu bahwa Dia begitu luas dan besar, tak pernah cukup waktu dan daya pikir  kita untuk menyelami Dia, tapi kita mau terus belajar.

@Bagiterang.com/210110

Tahun Baru 2021, Semangat Baru

Saat pergantian Tahun, banyak cara orang melaluinya. Ada yang merayakannya dengan kembang api yang konon adalah tradisi China untuk mengusir roh jahat dan mengharapkan kesejahteraan di tahun baru. Ada juga yang membuat resolusi (komitmen) yang konon adalah tradisi Babel kuno, orang-orang berjanji kepada Dewa dan jika  mereka menepati janji itu sepanjang tahun, maka Dewa akan memberkati mereka. Rasanya tak ada yang salah kita merayakan Tahun baru baik dengan kembang api maupun bikin resolusi tahun baru: mau diet, berhenti merokok, rajin olahraga, atau rutin baca Alkitab. Mari kita periksa pada bulan Februari, apa kita masih ingat resolusi kita hehehe..

Read more
1 2 3